
Pagi hari mereka diwarnai dengan dengkuran halus dari dua manusia yang saling berpelukan diatas ranjang.
Wajah penat tapi bahagia terpancar dari keduanya.
Sampai akhirnya Kabir terbangun, dan bersandar di kepala ranjang.
Lelaki itu tersenyum, wanitanya begitu damai.
Kabir segera mengabadikan moment itu, dan tepat saat mengambil gambar ada sebuah pesan masuk.
Dari Alan.
Jangan kemanapun, aku akan kesana.... tolong katakan pada istrimu akan ada terapi...
Setelah membaca itu, Kabir membalasnya dengan iyaan saja.
Kabir segera bangkit dan mandi.
Memakai baju kasual, lelaki itu segera menghubungi pihak pelayanan kamar melalui intercom yang ada.
Memesan sarapan dengan ekstra susu didalamnya.
Setelahnya dia membangunkan sang istri yang masih saja terlelap.
"Darl.... wake up"
"Emmmbbb...."
"Ayo sarapan, Alan sebentar lagi datang"
"Untuk apa?"
"Akan ada terapi..."
"Tapi aku lelah..."
"Sabar ya... setelah berlatih kita jalan jalan, bagaimana?"
"Emmb..."
"Ayo bangun..."
"Apa tak bisa aku berlatih sendiri?"
"Kenapa?"
"Sebenarnya aku risih saat bersama Alan"
"Apa dia melakukan hal kurang ajar?"
"Tidak, tapi.... kamu tahu bukan, aku tak pernah bersentuhan dengan lelaki lain selain kamu... dan teknik akupuntur itu mengharuskan dia memegang pahaku"
"Hei.... tak apa... aku ada... dan ini demi kebaikanmu..."
"Tak ada pilihan lain...?"
"No... jadi mandilah, dan ayo sarapan"
"Hmm... "
"Apa mau aku gendong dan aku mandikan sekalian, seperti dulu"
"No!"
Shofia segera menyibak selimut yang menutupi badannya dan memakai kimononya.
Shofia dengan pelan segera berjalan kearah kamar mandi dan mandi disana.
Lama tak merasakan air yang mengalir seperti ini.
Setelah mandi, Shofia memilih memakai hotpant dan kemeja oversize putih miliknya.
Menguncir asal rambut panjangnya, Shofia segera keluar.
Kabir sudah siap dengan sarananya dibalkon.
"Kabir...."
"Hei... ayo makan..."
"Iya..."
Mereka berdua memulai sarapan mereka dengan memakan roti isi dan sedikit mengobrol hal random.
Sampai ponsel Kabir berbunyi, Alangkah menelpon.
"Hallo. ..."
"Cepat turun, bawa istrimu dipantai"
"Biarkan aku menghabiskan sarapanku lebih dahulu"
"Oke... dan cobalah tak usah memakai kursi roda... wanita itu kuat!"
__ADS_1
"Iya, aku tahu "
Kabir segera menutup panggilannya dan meneruskan meminum secangkir kopinya.
"Alan sudah datang?"
"Iya... emm... kalau berjalan kepantai apa kamu bisa?"
"Mungkin bisa...."
"Apa aku gendong saja?"
"Aku bisa jalan... kamu tak usah khawatir seperti itu"
"Baiklah...."
Shofia tersenyum dan segera berdiri, dan disusul oleh Kabir yang juga berdiri.
Kabir menggandeng tangan kiri Shofia dan berjalan bersama.
Mereka tampak serasi. Shofia terus saja tersenyum. Dia bahagia akhirnya mereka dapat bergandengan lagi.
Shofia dan Kabir berjalan pelan dan semakin lama semakin cepat, karena kaki Shofia semakin terbiasa. Hanya saat menuruni tangga, Shofia sedikit terhuyung.
Sampai dipantai, mereka melihat Alan yang memakai celana cargo serta kemeja pantai berwarna merah.
Lelaki itu sedang duduk diatas pasir pantai yang putih, ditanganinya ada sebotol beer yang sudah habis setengahnya.
"Sudah lama?"
"Lumayan "
"Kenapa kamu minum alkohol? "
"Karena memikirkan orang yang kusukai"
"Kenapa kamu pikirkan?"
"Dia sudah milik orang lain"
Tatapan Alan itu membuat bulu kuduk Shofia berdiri. Ada tatapan sendu dan kesedihan dimata itu tapi juga ada sebuah amarah yang terpendam.
Dan tatapan itu tak tertuju pada Shofia tapi ke Kabir. Lelaki itu begitu perasa?
"Baiklah, itu masalahmu... jadi kenapa kamu kemari"
"Melihat perkembangannya dan juga menanyakan kapan kalian pulang ke Amerika? "
"Entahlah... mungkin besok..."
"Boleh, aku besok ada menyinggung penting dan juga istriku ini memiliki jadwal yang padat"
Kabir mengatakan kalimat itu dengan usapan kecil di puncak kepala Shofia.
Shofia tersenyum. Dan sekilas wanita itu melihat kearah Alan. Shofia merasakannya lagi, tatapan tenang itu begitu cukup mengerikan. Ada apa ini?
"Jangan bermesraan didepanku! Shofia, apa kamu memiliki keluhan?"
"Tidak, hanya saat menuruni tangga sedikit tak nyaman"
"Tak apa, kamu butuh proses untuk itu... lalu, saat berjalan biasa dengan kecepatan biasa bisa?"
"Bisa..."
"Jadi tak ada masalah... baguslah..."
"Alan..."
Shofia memanggil nama Alan dengan pelan. Dia memanggil lelaki itu dengan perasaan yang tak nyaman.
"Ada apa? "
"Kenapa kamu akan kembali ke Amerika?"
"Apa kamu percaya kalau aku akan mengejar orang yang aku sukai"
"Aku percaya"
"Itu alasanku. .. jangan kau tanya siapa yang aku suka!"
"Itu privasimu "
"Bagus... kalian berjalan-jalanlah, puas puaskan hari bersama kalian...."
"Ya, tentu..."
Dan lagi, Shofia merasakan perasaan yang aneh. Ada hal yang tak dapat diungkapkan oleh shofia.
"Sayang, kamu punya rencana akan kemana?"
"Emmmbbb. ... kekamar saja, aku ingin bersamamu "
"Baiklah. .... tapi, apa kamu tak ingin melihat matahari terbenam?"
__ADS_1
"Dikamar ada balkon yang menghadap pantai bukan?"
"Oh iya... kalau begitu mari kekamar...."
"Iya..."
"Alan... kami masuk dahulu... kamu cepatlah pulang, persiapkan dirimu"
"Ya.... kau juga harus bersiap, besok hari yang melelahkan "
"Iya..."
Shofia merasakan itu lagi, ada suatu perasaan yang tak dapat diungkapkan oleh Shofia .
Tapi Shofia mencoba untuk menepis semua hal negatif yang ada dipikirannya.
"Kenapa diam saja?"
"Emmb... Kabir.. apa Alan selalu bersikap seperti itu padamu atau orang lain"
"Bersikap seperti apa?"
"Ya, seperti tadi...."
"Emmb... entahlah, aku juga tak tahu... mau berkeliling pantai?"
"Tak usah... kekamar saja, berbulan madu"
Kabir tersenyum. Istrinya begitu paham dengan keinginan terpendam sang suami.
"Baiklah...."
"Tapi.. aku mau es krim itu"
Shofia menunjuk kearah penjual es yang menggunakan food car, poster didepan mobil penjual itu mampu membuat Shofia melelehkan air liur.
"Ayo kesana.."
"Emmmbbb. ...."
Kabir segera menyuruh Shofia duduk ditempat yang disediakan dan Kabir segera memesan es krim rasa vanili-coklat, dan es krim coklat.
Setelah pesanan mereka tersedia, Kabir segera duduk didepan Shofia dan menyerahkan es krim rasa vanili-coklat kepada Shofia.
Shofia dengan senang hati menerima es krim itu dan memakannya.
Tapi saat pertengahan memakan es krim dia menginginkan Burger yang dijual di food car lain.
"Sayang..."
"Ada apa?"
"Aku ingin Burger itu"
"Emmb. .. baiklah, aku akan membelikannya untukmu "
"Terima kasih... jangan lupa kentang ukuran besar serta soda"
"Apa kamu mampu menghabiskannya? "
"Bisa..."
"Baiklah. ... tunggu disini"
"Oke.... "
Kabir segera berdiri lagi dan berjalan kearah mobil bercat merah dengan poster Burger didepannya.
Kabir memesan makanan yang dipesan oleh Shofia dan menunggunya sebentar.
"Tuan, ini pesanan anda, Burger, kentang ukuran besar dan cola..."
"Terima kasih "
Kabir memberikan beberapa lembar euro pada penjual itu dan lantas segera pergi untuk menemui Shofia yang duduk dibangku.
"Ini... makanlah..."
"Terima kasih "
"Emmb. ..."
Shofia dengan lahab menghabiskan semuanya. Dan itu membuat Kabir tersenyum serta bergidik ngeri melihat nafsu makan Shofia yang lumayan besar.
"Aku kenyang. ."
"Bagaimana tak kenyang kalau porsi makanmu saja dua kali lipat dari biasanya"
"Ini untuk menyiapkan energi kalau kamu ajak melembur"
"Hahahaha. ... baiklah, makanlah yang banyak. ..."
"Iya...."
__ADS_1
********