Perjanjian Berdarah

Perjanjian Berdarah
Bagian 10


__ADS_3

...PERJANJIAN BERDARAH...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 10...


...------- o0o -------...


“Kamu tidak memahami perasaanku, Sar. Aku merasa sangat bersalah atas kejadian yang menimpa adikku itu. Seandainya saja waktu itu aku tak membuka kaca jendela mobil, mungkin Rezky tidak akan mengalami kejadian itu,“ desah Ardy menyesali diri.


“Jangan begitu, Dy! Kita harus percaya bahwa semuanya terjadi atas kehendak Tuhan. Tak ada seorang pun yang bisa mengetahui apa yang bakal terjadi pada dirinya kelak, termasuk kamu dan aku. Bahkan semua orang,” Sarah merasa kasihan dengan yang dirasakan sahabatnya itu.


“Tuhan tidak adil!”


“Jangan salahkan Tuhan, Dy! Aku yakin Tuhan memberikan cobaan seperti ini, pasti ada hikmah yang terkandung di balik kejadian yang tak kita harapkan itu.”


Ardy menunduk malu atas ucapannya tadi. Gemuruh yang terasa dalam hati membuatnya tak sadar mengucapkan kata-kata yang tak pantas pada Tuhan.


“Terima kasih, Sarah, atas nasehatmu,” Ardy memejamkan matanya sesaat, “maafkanlah hambaMu ini, ya Allah Tuhanku.”


Sarah tersenyum.


“Sore nanti kita jenguk Rezky, yuk!” ajak Sarah kemudian.


Berharap keceriaan Ardy kembali lagi setelah bertemu adiknya, Rezky.


Anak muda itu hanya menganggukan kepala.


“Habiskan makanan ini dulu ya. Hhhmm ... sebentar lagi masuk kelas, nih,” ujar Sarah melihat jam mungil di pegelangan tangannya.


“Habiskan saja, deh! Aku sudah kenyang. Lagian kamu pesan terlalu banyak, sih,” jawab Ardy bersungut-sungut.


“Maaf ya, tadinya aku pikir ingin lihat nafsu makan kamu kembali, Dy. Ternyata ... ya sudahlah. Yuk, kita ke kelas,” Sarah beranjak dari tempat duduknya, diikuti Ardy.


Beberapa pasang mata milik Trio Ngocol memperhatikan kedua anak muda itu. Apalagi Boma, matanya jelalatan memandangi sisa makanan yang masih banyak di atas meja bekas Ardy dan Sarah tadi.


“Ketahuan ama si Camay, bisa rusuh lu, Dut!” David mengingatkan.


“Ketahuan apaan?”


“Elo merhatiin badan semok si Sarah itu, kan?”


“Enak aja! Orang gue lagi ngincer makanan itu,“ sanggah Boma sambil leletkan lidah.


“Elo juga tadi ikutan melototin si Sarah, kan?” yang ini suara Jocky sambil menunjuk muka si David yang sedari tadi baru ngedip sekali sejak pertama kali Sarah meninggalkan kantin.


“Idih ... gua, kan, gak punya bokin di mari, Cuy! Jadi, aman-aman aja, tuh, kalo gue mau lihat cewek-cewek mana pun!” David membela diri.


“Emang dasarnya aja elo itu kagak laku, Vid!” ejek Boma sambil pelototin David.

__ADS_1


“Udahan, yuk! Bel udah berkoar, noh!” Aditya menengahi.


Soalnya anak itu takut ikut terkena semprotan Boma. Kan, dia juga punya bokin, Vivi.


“Kalo elu pengen masuk kelas, ya udah masuk aja sono! Gue, sih, ogah! Sekarang, kan, pelajarannya Mr. Ciming,“ David mencibir.


Yang dimaksud David, tentunya Mr. Ciming yang lagaknya lebih cocok jadi karyawan salon ketimbang seorang guru sekolah.


“Gue juga gak ikutan! Soalnya kalo lagi ngajar, matanya ngelirikin gue mulu!” timpal Boma ikut-ikutan.


“Dia naksir ama elo ngkali, Dut?”


“Amit-amit, deh!”


“Terserah elu berdua, dah! Gue mau belajar dan gue dateng ke sini juga mau sekolah,” ujar Jocky sambil beranjak meninggalkan dua temannya itu, diikuti Aditya dan Imenk.


David dan Boma melongo mendengar ucapan Jocky barusan. Tidak seperti biasanya anak yang satu itu bertingkah demikian. Biasanya, sih, justru dia yang paling ngocol nomor dua setelah si David.


“Kenapa, sih, dia?” tanya Boma heran.


“Mana gue tahu? Bodo, ah!” umpat David.


“Vid.“


“Hhmmm!”


“Hhmmm!”


“Jawab, dong!”


“Hhmmm!”


“Kenal gak?”


“Hhmmm!”


“Bangke juga, nih, anak! Ditanya serius malah ngeledekin gue!”


“Kenapa, Dut? Elo naksir?”


“Siapa? Cewek itu? Kagak!” jawab Boma gelagapan, “gue cuma tahu ama cowoknya yang tadi ama dia!”


“Terus elo naksir juga ama cowoknya!”


“Dih, amit-amit sembilan bulan, deh!”


“Ada apa, sih, lu? Tumben pengen kenal ama anak kelas lain?”


“Bukan begitu, Vid. Gue denger, kalo dia itu ... maksud gue, bokapnya dia.“

__ADS_1


“Jangan percaya ama gosip, Dut! Dosa, tahu!” semprot David sambil mengunyah makanan yang entah dia dapat dari mana, “dia anak orang kaya dan terhormat, Dut! Bokapnya punya tujuh perusahaan besar!”


“Namanya Ardy, kan? Kata orang, sih, dia itu bukan—“


“Kata orang lagi! Udah, jangan ngomongin orang, deh. Mendingan elo ngomongin kegantengan gue aja!” seloroh David sok.


“Huh, pede lu!”


Kedua anak itu berada di dalam kantin sampai bubaran sekolah. Bel tanda usai pelajaran terakhir sekolah berbunyi. Semua murid-murid bersiap-siap pulang.


Tidak berapa lama dari dalam kelas berhamburan anak-anak sekolah. Termasuk Ardy dan Sarah yang keluar berdampingan, berjalan menuju pintu gerbang sekolah.


Pada saat itu kebetulan seorang siswa gendut menabrak Ardy dari belakang sehingga anak itu jatuh tersungkur.


“Kenapa, Dy?” tanya Sarah kaget melihat Ardy terjatuh.


Ardy bangkit dibantu Sarah.


“Sorry, friend! Gak sengaja!” kata siswa yang menabraknya tadi sambil berlalu dengan cepat dari tempat itu.


Ardy terus memandangi wajah siswa itu sampai hilang di balik pintu gerbang sekolah.


“Ada apa, sih, Dy? Kamu nyari siapa?” tanya Sarah heran melihat Ardy melotot ke arah pintu gerbang.


Ardy berbalik memandang Sarah, “Kamu tidak lihat? Aku tadi ditabrak sama anak gendut! Dia cuma bilang maaf, lalu pergi seenaknya begitu saja,” seru Ardy emosi.


Sarah makin bingung.


“Anak gendut? Ditabrak? Aneh!”


“Kamu tidak lihat tadi?”


“Tidak, kalau yang kamu maksud, anak gendut yang menabrak kamu tadi itu dia,“ Sarah menunjuk sosok Boma yang sedang berjalan beriringan dengan Cs-nya, David dan Jocky, “itu tidak mungkin! Soalnya, dia itu dari tadi ada di sana.”


“Lagipula, dari tadi kamu jalan berdampingan sama aku. Kalau beneran ada yang menabrakmu, aku pasti lihat siapa orangnya, kan?” lanjut Sarah panjang lebar.


Sekarang balik Ardy yang merasa heran. Tadi dia benar-benar ditabrak oleh sosok siswa yang berbadan gendut. Tapi kalau yang dimaksud Sarah itu Boma, sudah tentu bukan dia orangnya.


“Aneh, apakah tadi cuma halusinasi belaka ya? Tapi suara dia meminta maaf tadi, begitu nyata aku dengar. Aku ... aku ... yakin ini nyata, Sarah!” Ardy berusaha meyakinkan Sarah.


Gadis itu memandang mata sahabatnya dengan lembut. Ada rasa kasih yang terpancar di mata Sarah.


“Kasihan sekali kamu, Ardy. Begitu beratkah apa yang kamu rasakan dengan kejadian yang menimpa adikmu itu? Sampai-sampai kamu ... “ kata Sarah dalam hati.


“Kenapa kamu memandangiku seperti itu, Sar? Kamu tidak percaya sama aku?”


Gadis itu melirik Boma dan dua temannya yang kebetulan lewat di samping mereka. Hal yang sama juga begitu, Trio Ngocol turut melirik ke arah Sarah dan Ardy.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2