Perjanjian Berdarah

Perjanjian Berdarah
Bagian 14


__ADS_3

...PERJANJIAN BERDARAH...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 14...


...------- o0o -------...


Rezky berusaha meronta, namun tubuhnya mendadak kaku tak bisa digerakkan.


Anehnya, walaupun tubuh Rezky telah dibawa oleh sosok wanita menyeramkan itu, di atas tempat tidur semula masih terbaring tubuh anak kecil itu. Tergeletak diam dalam kaku. Mulutnya terbuka disertai mata melotot seakan sedang memperlihatkan rasa takut yang teramat sangat.


Ardy baru tiba di halaman rumah sakit. Anak muda itu segera keluar dari dalam kendaraan dan langsung berlari tanpa menghiraukan pintu kendaraan masih terbuka.


Sosok wanita yang membawa Rezky berpapasan dengan Ardy. Anehnya, Ardy sama sekali tidak melihat mereka.


Lain pula dengan Rezky, anak itu melihat kakaknya yang sedang berlari dan berpapasan dengannya. Segera Rezky berteriak, “Kak Ardy! Toloooonngg ... !!! Kak Ardy ... !!!”


Ardy tidak melihat maupun mendengarnya. Anak muda itu tetap berlari menuju ruang perawatan adiknya.


Tiba-tiba sosok menyeramkan itu berhenti dan menengadah ke atas langit. Lalu tubuhnya melesat naik dan terbang membawa tubuh Rezky. Jeritan anak kecil itu mengalun memilukan. Sesaat kemudian lenyap ditelan kegelapan malam.


“Rezky!” teriak Ardy begitu melihat adiknya tergeletak kaku dengankondisi menyedihkan.


Ardy memburu tubuh adiknya.


“Rezky! Bangunlah, Dik! Bangun! Ini Kakak datang, Sayang!” teriak Ardy sambil mengguncang-guncangkan tubuh Rezky yang sudah tak bergerak.


Ardy merapatkan telinganya ke dada Rezky. Tak ada tanda-tanda kehidupan di sana, “Tidaaaaaakkk ... !!! Tidaaaakkk ... !!! Rezky!”


Dengan tubuh lemas, Ardy memeluk tubuh adiknya sambil menangis pilu, “Jangan mati adikku! Jangan mati! Jangan tinggalkan Kakak!”


Jeritan keras Ardy terdengar oleh penjaga rumah sakit yang sedang bertugas. Serentak tiga orang petugas keamanan berlari ke arah ruang perawatan Rezky. Mereka melihat sosok Ardy sedang meratapi adiknya.


"Ada apa, Dik?" tanya salah seorang petugas keamanan itu pada Ardy.


Sementara dua petugas lainnya memeriksa keadaan Rezky. Keduanya menggelengkan kepala pada rekannya yang bertanya pada Ardy tadi. Memberi isyarat bahwa Rezky telah ....

__ADS_1


"Adikku meninggal!" teriak Ardy kembali.


"Sabar ya, Dik. Sabar," ujar petugas keamanan itu menenangkan dan membimbing tubuh lemah anak muda itu duduk di atas kursi.


"Iblis itu telah membunuh adikku!" seru Ardy sambil menangis.


Ketiga petugas keamanan saling berpandangan mata mendengar ucapan Ardy barusan.


"Tenanglah, Dik. Relakan kepergian adikmu itu. Doakan saja demi ketenangan almarhum di alam sana," lanjut salah seorang petugas keamanan berusaha menghibur.


Ardy mulai tenang dan bisa menguasai diri. Sesekali dia menoleh memandangi jasad adiknya yang sudah terbujur kaku.


Perih sekali dirasa, melihat kondisi Rezky seperti itu. Mungkin dia merasa ketakutan sekali, melihat sesuatu yang sangat menyeramkan dan mengerikan.


Salah seorang petugas keamanan menyodorkan segelas air pada Ardy, "Minumlah dulu, Dik. Biar bisa lebih tenang."


Ardy menurut. Regukan demi regukan air yang membasahi tenggorokannya yang kering, sedikit bisa membantu menenangkan pikirannya yang sedang kalut.


Kita lihat bagaimana saat kejadian Rezky dibawa sosok wanita yang menyeramkan tadi.


Tuan Karyadi dan Nyonya Amanda yang sedang bergumul hebat, tiba-tiba memekik keras. Tubuh laki-laki itu menegang dan kaku saat merasakan puncak permainan yang sedang mereka lakukan. Dari arah tulang belakangnya terasa ada yang bergerak mengalir dengan nikmat menuju panggul, lalu berkontraksi sesaat dengan otot-otot di seputar tungkai. Sesaat kemudian dari lubang kelelakiannya membuncah cairan putih dan kental laksana luapan magma dari bongkahan gunung merapi yang meletus.


Sisa muntahan tadi memercik mengenai perut Nyonya Amanda, melepuhkan kulit mulusnya disertai kepulan uap panas. Wanita paruh baya itu melengking kesakitan, lalu tergeletak tak sadarkan diri.


Sementara tubuh Tuan Karyadi terhempas ke atas karpet yang terbentang di lantai, menyusul kondisi istrinya, dalam keadaan pingsan dan tubuh yang penuh bekas luka cakaran kuku dan bekas gigitan.


Sri sudah lebih dulu mencapai puncaknya. Nafasnya memburu dan terjatuh dengan lemah.


Setelah sadar, perempuan yang telah lama menjanda itu akhirnya merasa malu sendiri. Dia segera membenahi lilitan kain yang sudah tak beraturan membelit area perutnya. Lalu bergegas meninggalkan tempat itu sebelum ada yang mengetahui apa yang telah diperbuatnya tadi.


Bayangan pergumulan hebat kedua majikannya masih terngiang jelas dalam benak. Mengundang rasa yang sudah sejak lama tak lagi dia nikmati.


Keesokan harinya suasana rumah gempar dengan kondisi Tuan Karyadi dan Nyonya Amanda yang ditemukan masih tergeletak di ruang tengah. Mbok Inah yang pertama kali melihat mereka berdua.


"Ya, Tuhan! Tuan ... Nyonya ... ada apa ini?" seru wanita tua itu terkejut dan sepontan memanggil anaknya, "Sri ... kemari! Cepat!"


Sri datang tergopoh-gopoh.

__ADS_1


"Panggil Mang Sapri dan Mang Kurdi! Cepat!" ujar Mbok Inah panik.


Sri tidak lekas menuruti perintah ibunya. Dia justru memandangi setiap jengkal tubuh Tuan Karyadi yang tergeletak di atas karpet dalam keadaan tel*njang dan penuh dengan bekas luka.


Sri teringat kejadian semalam.


"Sri ... kok malah bengong? Cepetan panggil Mang Sapri dan Mang Kurdi!" teriak Mbok Inah kesal.


Sri tersadar dari lamunannya. Perempuan itu cepat-cepat berlari mencari orang-orang yang dimaksud.


Dua orang laki-laki itu sedang mencuci kendaraan di depan garasi. Mereka berdua heran dengan kedatangan Sri yang tergopoh-gopoh.


"Ada apa, Sri? Pagi-pagi begini kayak lagi dikejar syetan saja?" tanya Mang Kurdi dengan logat khas daerahnya.


Sri menarik nafas sebentar.


“Tuan dan Nyonya ... ada di ruang tamu! Mereka berdua ... “ terbata-bata Sri berbicara.


“Iya, ada apa dengan Tuan dan Nyonya?” tanya Mang Sapri bingung.


“Mereka pingsan di ruang tamu!” jawab Sri akhirnya.


Mang Sapri dan Mang Kurdi terkejut.


“Apa? Pingsan?” tanya keduanya seraya berlarian ke dalam rumah diikuti oleh Sri.


Tiba di tempat, mereka melihat Nyonya Amanda dan Tuan Karyadi tergeletak tak sadarkan diri. Mbok Inah sudah menutupi tubuh keduanya dengan selimut.


“Bawa Tuan dan Nyonya ke kamar!” ujar Mbok Inah pada Mang Kurdi dan Mang Sapri panik.


Kedua pembantu laki-laki itu cepat-cepat menggotong tubuh Tuan Karyadi dan Nyonya Amanda ke dalam kamar. Lalu membaringkan mereka di atas tempat tidur.


Mbok Inah segera menghubungi dokter Santoso. Setelahnya, pembantu tua itu menuju kamar Ardy. Bermaksud membangunkan tuan mudanya, namun kamar itu dalam keadaan kosong.


“Ke mana Den Ardy?” tanya Mbok Inah pada Mang Sapri begitu menemui sopir keluarga majikannya.


“Lho, di kamarnya memang tak ada?” tanya balik Mang Sapri.

__ADS_1


“Kalaupun ada, aku tidak akan tanya kamu, Mang!”


...BERSAMBUNG...


__ADS_2