
...PERJANJIAN BERDARAH...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 25...
...------- o0o -------...
"Anak itu dalam bahaya ... "
"Bahaya bagaimana, Kek?" Sarah langsung memotong ucapan kakeknya.
"Entahlah, Kakek juga masih berusaha untuk memastikannya. Lagipula, ada sesuatu yang aneh yang Kakek lihat pada anak itu."
Sarah dan ibunya semakin penasaran.
"Apanya yang aneh, Kek?"
"Anak itu tampaknya sering melihat sesuatu yang tak bisa dilihat oleh orang lain."
"Maksud Kakek?"
"Apakah Ardy pernah bercerita kalau dia melihat sosok-sosok tertentu, Cu?"
Sarah berpikir dan berusaha mengingat, "Benar. Dulu Sarah sering menyaksikan tingkah Ardy yang aneh. Katanya, sih, dia melihat sosok orang gila. Semula Sarah mengira, Ardy hanya berhalusinasi. Tapi setelah mendengar ucapan Kakek tadi, rasanya benar juga bahwa Ardy ... memang sering melihat sosok yang dimaksud!"
"Memang benar apa yang dilihat oleh anak itu, Cu. Sosok itu tak lain adalah ... kakeknya Ardy sendiri, Ayah Karyadi, sekaligus mertua dari Kakekmu ini ... " lanjut Mbah Suko merasa yakin sekali kali ini.
"Untuk apa bapaknya Tuan Karyadi sering menampakan diri pada Ardy, Kek?" dalam hal ini Sarah agak kurang faham dan tak masuk logikanya.
"Kakek, kan, bilang ... sosok itu hanya jelmaan makhluk yang menyerupai kakeknya Ardy. Lagipula, dulu, bapaknya Karyadi bukanlah orang sembarangan."
Sarah dan ibunya tak bertanya kembali. Mereka tahu bahwa Mbah Suko memang memiliki ilmu kanuragan yang membuatnya mampu berkomunikasi dengan penghuni dimensi lain.
"Sebaiknya kita berdoa saja, semoga korban Tuan Karyadi tidak bertambah dan dia segera bertobat pada Tuhan," ujar Mbah Suko sambil memejamkan matanya dalam-dalam.
Sementara itu Ardy rupanya tengah berada di tempat kost Trio Cs; David, Jocky dan Boma. Anak muda itu sengaja berkunjung ke tempat mereka, sekedar untuk meringankan beban hatinya yang diliputi berbagai masalah di rumah akibat perlakuan Nyonya Amanda.
"Udah malam, Dy. Elo kagak takut kalo nanti pulang kemaleman bakalan diomelin nyokap elo?" tanya Jocky pada Ardy.
"Gak ada bedanya, Jok! Pulang atau kagak juga, bagi gue sama aja. Setiap hari Mama selalu saja mencari-cari kesalahan gue," jawab Ardy pelan.
"Ya, udah. Kalo gitu elo nginep aja di sini sama kita-kita. Noh, kandang ayam masih kosong. Pas buat elo!" timpal Boma.
David menyodok perut Boma dengan sikutnya. Tentu saja anak itu meringis kesakitan.
__ADS_1
"Kenapa, sih, elo? Sakit tahu!" seru Boma sambil pegangi perut gendutnya.
David melotot galak.
"Kira-kira, dong, kalo ngomong! Temen kita ini lagi sedih, tahu! Masa selo ngomong asal goblek aja, sih?" seru David pura-pura marah.
Padahal anak ini sekedar cari muka di depan Ardy. Supaya terkesan dengan harapan akan dibelikan makan untuk malam itu.
"Tahu nih si Gendut! Hati-hati elo kalo ngomong! Kalo elo mau, elo aja yang tidur di kandang ayam sono, gih! Sekalian kawinin tuh ayam-ayam Tante yang masih perawan! Dijamin telur-telur ayam itu bakalan gede-gede kayak elo sebagai bokapnya telur!" timpal Jocky mengejek.
"Sialan elu pada! Emangnya gue doyan kawin ama ayam? Jangan-jangan elo berdua yang suka kawin ama ayam?! Buktinya belakangan ini ayam Tante sering banget bertelur. Kurus-kurus lagi kayak elo berdua!" balas Boma tidak mau kalah.
Mendengar ejekan Boma ini, David dan Jocky kompak menjitaki kepalanya. Anak gendut itu kembali meringis kesakitan.
Ardy hanya tersenyum melihat kelakuan ketiga temannya tersebut.
"Sudah, ah! Jangan pada bercanda mulu. Nanti ribut beneran lagi," Ardy menengahi, "gue mau cabut aja, deh! Udah malem, nih!"
"Kagak nginep lo, Dy?" tanya David sok banget.
"Terima kasih, deh! Gue ngerasa gak enak hati aja. Takut ada apa-apa di rumah. Yuk, ah, gue pulang dulu!" Ardy bangkit dari tempat duduknya dan melangkah ke luar kamar.
"Jok ... " panggil David setengah berbisik.
Ujung mata David menunjuk-nunjuk sosok Ardy yang sudah mulai menjauh.
"Apaan, sih? Kagak ngarti gue!" Jocky menyerah setelah berkali-kali berusaha menebak arti lirikan ujung mata David.
"Payah lu, ah!"
"Iya, apaan, dong?"
"Buruan makan malem kita kabur!"
Jocky terkekeh dan baru memahami.
"Sotoy lu, ah!"
"Lagian elo gak bilang!"
"Ya, elonya bego!"
"Elo juga!"
"Si Gendut tuh ... bloon!" tuding David pada Boma.
__ADS_1
"Kok, jadi gue?" Boma melongo.
"Kan, elo yang paling doyan kemek, Cuy! Masa, sih, kudu gue kasih kode juga? Gak peka lu, ah!"
Boma menggaruk kepalanya.
Ardy segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan ketiga temannya yang hanya bisa melongo bengong mirip sapi ompong.
Hati Ardy benar-benar merasa tak enak. Entah apa yang terjadi.
Mobil dipacu dengan kecepatan tinggi. Seakan tengah berlomba dengan kendaraan yang sedang melaju di jalan raya.
Yang ada dalam pikirannya hanya ingin cepat-cepat tiba di rumah. Dia ingat kejadian beberapa tahun yang lalu saat Rezky tengah terbaring sakit. Perasaan itu pula yang menghinggapinya hingga petaka itu pun datang.
Laju kendaraan perlahan melambat. Di tengah perjalanan, Ardy melihat ada sebuah mobil yang terbalik, kecelakaan.
Anak muda itu segera menghentikan kendaraannya dan keluar untuk melihat. Banyak orang-orang yang berkerumun di sekitar lokasi kejadian.
Ardy merasa mengenali mobil tersebut. Mendadak hatinya dihinggapi perasaan yang sama seperti tadi. Sambil berusaha menyusup di antara kerumunan, dia ingin memastikan bahwa apa yang dilihat itu tidak benar. Paling
tidak, tak ada hubungannya dengan apa yang sedang dipikirkan.
Sesosok tubuh tergeletak di dalam kendaraan yang terbalik itu penuh dengan lumuran darah. Ardy berusaha mendekat untuk memastikan di antara keremangan cahaya lampu jalanan yang remang.
Dia terkejut setelah mengenali sosok tersebut.
"Nola!" teriak Ardy membuat orang-orang yang ada di tempat itu menoleh ke arahnya.
Anak muda itu menghambur mendekat dan berusaha membuka pintu kendaraan yang ringsek.
"Bantu saya buka pintu ini!" teriak Ardy pada orang-orang di sana.
Beberapa orang ikut membantu membuka pintu kendaraan yang sulit sekali dibuka. Akhirnya dengan susah payah, mereka berhasil membuka dengan paksa. Dibantu beberapa tenaga laki-laki, Ardy berhasil mengeluarkan tubuh Nola yang terjepit di antara kursi depan dan kemudi. Tubuh gadis itu penuh darah dengan luka yang sangat mengerikan. Ususnya terburai dari lobang perut yang menganga.
Ardy menjerit-jerit histeris.
"Nola!"
Seperti orang kesurupan, Ardy memeluk tubuh adiknya itu sambil menangis histeris. Tubuh Nola diam tak bergerak.
Perlahan, jeritan Ardy melemah sampai akhirnya terjatuh pingsan. Beberapa orang menahan tubuh Ardy dan membawanya ke tempat yang aman, tak jauh dari lokasi kecelakaan.
Sementara Nola terkapar di aspal dalam keadaan sudah meninggal dunia. Mata gadis itu melotot dan lidah terjulur ke luar. Keadaannya benar-benar mengerikan.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1