Perjanjian Berdarah

Perjanjian Berdarah
Bagian 7


__ADS_3

...PERJANJIAN BERDARAH...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 7...


...------- o0o -------...


Mbok Inah datang membawa air dingin untuk mengompres dahi Rezky. Seluruh badan anak itu terasa dingin.


“Dokter sebentar lagi datang, Ma. Papa juga sudah diberitahu,” ujar Ardy begitu muncul di pintu kamar.


Nyonya Amanda masih menangis.


Tidak berapa lama, dokter keluarga datang dengan kendaraan dinasnya. Dia langsung masuk ke dalam rumah dan memasuki kamar Rezky, diantar Mang Kurdi yang sudah sedari tadi menunggu di depan rumah.


“Nyonya, dokter Santoso sudah datang,” kata Mbok Inah begitu melihat sosok lelaki bertubuh tinggi dan kecil, dokter Santoso.


Dokter Santoso langsung memeriksa kondisi Rezky. Sementara Nyonya Amanda dan semua yang ada di dalam kamar, memperhatikan setiap gerak tangan dokter itu memeriksa bagian-bagian tubuh Rezky yang terbujur kaku. Semua diliputi rasa khawatir yang amat sangat. Terlebih lagi Nyonya Amanda.


“Bagaimana, Dok?” tanya Nyonya Amanda tidak sabar dengan pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter Santoso.


Begitu lamban, pikir wanita paruh baya itu.


“Sebentar, Nyonya,”jawab dokter berkacamata minus itu pelan.


Dokter Santoso mengambil sejenis cairan yang ada dalam sebuah botol lalu dituangkan pada gulungan kapas. Setelah itu didekatkan ke lubang hidung Rezky. Sebentar kemudian, Rezky mulai bergerak. Lalu tak berapa lama matanya terbuka. Sosok yang pertama kali dilihatnya adalah mamanya. “Ma, Eky takut,“ ujar Rezky lirih.


“Tenang, Sayang. Ada Mama di sini,” jawab Nyonya Amanda sambil memeluk Rezky dengan erat.


“Sebaiknya, putra Nyonya dibiarkan istirahat dulu. Nanti, kalau sudah pulih benar, baru boleh diajak bicara,” dokter Santoso memberi nasehat. “Lalu apa yang terjadi dengan anakku, Dok?” tanya Nyonya Amanda masih diliputi rasa cemas. Dokter Santoso menoleh sebentar pada Ardy yang masih berdiri di dekat pintu.


“Sepertinya putra Nyonya mengalami suatu kejadian yang cukup mengejutkan. Sehingga sampai shock berat.”


“Kejadian? Shock karena apa, Dok?”

__ADS_1


“Sebaiknya Nyonya bertanya langsung pada putra sulung Nyonya tentang kejadian yang baru saja mereka alami,” jawab dokter Santoso sambil kembali melirik Ardy. Nyonya Amanda menoleh ke arah anak sulungnya.


“Apa yang telah terjadi, Dy?”tanya Nyonya Amanda penasaran.


Ardy menghampiri mamanya. Kemudian dia menceritakan semua kejadian di depan lampu merah tadi. Dibenarkan Sarah dan Mang Sapri. “Orang gila? Apa maksudnya?” Nyonya Amanda semakin bingung dan penasaran.


“Anehnya orang gila itu berkata kalau kita harus menjaga Rezky dari iblis. Kan, benar-benar aneh, Ma?” lanjut Ardy.


Raut wajah Nyonya Amanda seketika berubah pucat pasi. Bibirnya bergetar. Seperti ada sesuatu yang dirasakan oleh wanita setengah baya ini. Tapi entahlah, apa yang dirasakan olehnya saat itu. Dokter Santoso membereskan peralatan medisnya. “Saya permisi dulu, Nyonya. Biarkan putra Nyonya beristirahat dulu, ya? Dan ini obat yang bisa membantu membuatnya tenang,” dokter Santoso memberikan secarik resep.


“Terima kasih, Dok.”


Dokter muda itu segera keluar, diantar oleh Mang Sapri. Nyonya Amanda termenung. Ada perasaan khawatir, bingung dan takut yang terpendam dalam hatinya.


Ardy bergegas keluar dari kamar Rezky diikuti Sarah, Nola dan Mbok Inah. Sementara Mang Kurdi sudah lama meninggalkan kamar itu.


“Ya, Tuhan. Petaka itu sudah tiba,“ gumam Nyonya Amanda setengah berbisik. Dipandangi putra bungsunya itu, “Maafkan Mama, Sayang. Mama tidak pernah berharap hal ini akan terjadi padamu.”


Sayang sekali, Rezky tidak mendengar ucapan mamanya barusan. Karena setelah diberi obat penenang, anak itu langsung tertidur pulas.


Ardy dan Sarah duduk termenung di ruang tamu.


“Sudahlah, Dy. Jangan menyalahkan diri kamu sendiri seperti itu. Kita sebagai umat manusia, tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi, bukan?” ujar Sarah menghibur.


“Betul, tapi yang aku herankan, orang gila itu—“ Ardy tidak meneruskan ucapannya.


“Mengapa? Ada apa dengan orang gila itu, Dy?”


“Ah, tidak. Itu hanya ucapan omong kosong orang gila saja!”jawab Ardy akhirnya.


Sebenarnya bukan itu yang dia herankan, melainkan saat orang gila itu lenyap begitu saja dari tempatnya berdiri. Bukankah itu sesuatu hal yang tidak mungkin?


“Jangan telalu dipikirkan. Ucapan orang gila di mana pun memang suka di luar nalar manusia normal. Itulah sebabnya, orang menamakannya orang gila. Tidak waras!” gumam Sarah merasa ikut sedih.


Ardy menganggukan kepala.

__ADS_1


Tiba-tiba Mang Sapri muncul dan menghampiri mereka berdua.


“Maaf, Den. Mungkin Non Sarah mau pulang sekarang? Biar saya yang antarkan,“ kata Mang Sapri merasa kurang enak karena telah mengganggu mereka.


“Oh, iya. Aku pulang dulu, deh, Dy! Aku khawatir, nanti Mama mencariku. Kalau ada apa-apa atau kamu butuh bantuan, hubungi aku, ya?” Sarah bangkit dari tempat duduknya.


“Oke, makasih, Sar.”


“Daaahh. “


Ardy membalas lambaian tangan Sarah.


Di depan pekarangan rumah, Sarah berpapasan dengan Tuan Karyadi yang baru saja tiba dari tempat kerjanya.


“Selamat sore, Om!” sapa Sarah. Lelaki perlente itu tersenyum. “Siang.! Temannya Ardy?” tanya Tuan Karyadi sambil memperhatikan wajah dan tubuh Sarah dengan saksama.


“Iya, Om,” jawab Sarah merasa risih dengan tatapan mata Tuan Karyadi tersebut.


Gadis itu cepat-cepat berlalu dan segera masuk ke dalam mobil. Sementara Tuan Karyadi masih juga berdiri di tempatnya sambil memperhatikan gadis cantik itu, sampai mobil yang dikemudikan Mang Sapri menghilang di depan pintu gerbang.


Tuan Karyadi segera masuk ke dalam rumah, lalu langsung menuju kamar Rezky.


“Kenapa Rezky, Ma?” tanya Tuan Karyadi pada istrinya yang masih berada di dalam kamar anak bungsunya.


Nyonya Amanda menoleh dan langsung menghambur memeluk suaminya. Wanita paruh baya itu menangis dipelukan Tuan Karyadi.


“Tenang saja, Ma. Ada apa ini?” tanya Tuan Karyadi sambil berusaha melepaskan pelukan istrinya.


Lalu menghampiri sosok Rezky yang terbaring pulas di bawah pengaruh obat penenang yang diberikan dokter Santoso tadi. Dirabanya dahi serta badan Rezky.


“Kok, panas? Sudah panggil dokter Santoso?” tanya Tuan Karyadi.


Nyonya Amanda ikut meraba dahi dan badan Rezky, “Ya, Tuhan. Barusan tidak apa-apa, kok. Kenapa sekarang jadi panas begini?” Nyonya Amanda panik.


Tiba-tiba Rezky membuka matanya dan langsung menatap tajam papanya, Tuan Karyadi. Sorot mata anak itu seperti ketakutan dan memohon iba pada papanya. Tuan Karyadi membuang pandangannya dari tatapan Rezky. Bibir anak itu bergetar seperti hendak berucap, namun tak sepatahkata pun yang keluar dari mulutnya. Hanya beberapa kali helaan nafas yang memburu seperti tengah kelelahan yang tiada tara.

__ADS_1


“Panggilkan si Kurdi, Ma! Suruh dia siapkan mobil. Kita harus bawa Rezky ke rumah sakit, segera!” seru Tuan Karyadi mencoba menenangkan diri dari sinar mata Rezky yang terus menerus memandanginya, tanpa berkedip sekalipun.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2