Perjanjian Berdarah

Perjanjian Berdarah
Bagian 18


__ADS_3

...PERJANJIAN BERDARAH...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 18...


...------- o0o -------...


“Mbok, ini Ardy. Saya lagi ada di rumah sakit. Tolong jangan kasih tahu Nola dulu, ya? Kalau ... Rezky sudah ... meninggal dunia,“ kata Ardy dengan mata berkaca-kaca.


“Ya Allah! Den Rezky meninggal dunia? Tapi ... Tuan dan Nyonya .... “ sahut Mbok Inah tak meneruskan ucapannya.


“Saya sudah tahu semuanya, Mbok! Kita doakan, semoga semuanya baik-baik saja.” Ardy menutup pembicaraannya.


Dokter Santoso memperhatikan anak muda itu. “Bersabarlah, Dy! Tenangkan dirimu. Kita ambil hikmahnya atas kejadian ini.”


“Terima kasih, dok!”


“Jenazah adikmu sedang diurus. Sekarang siapkan dirimu untuk segera pulang. Saya yang akan urus semuanya di sini.”


Ardy melangkah lemah dibimbing dokter Santoso.


Seisi kediaman Tuan Karyadi sibuk mempersiapkan kedatangan jenazah Rezky dari rumah sakit. Nola yang kemudian mengetahui hal tersebut, langsung tak sadarkan diri.


Beberapa warga di sekitar tempat tinggal rumah kediaman keluarga Tuan Karyadi ikut membantu prosesi pemakaman. Sebagian di antara mereka ada yang merasa was-was dengan keadaan keluarga ini.


Ardy lebih memilih diam ketika ada beberapa sorot mata yang menatapnya aneh.


Sarah terpukul menerima kabar duka tentang keluarga Ardy. Terutama kematian Rezky. Gadis itu turut merasa sedih atas semua kejadian tersebut. Maka Sarah segera memutuskan untuk pulang dari sekolah lebih awal.


“Baiklah, Dy, aku pulang sekarang juga,” ujar Sarah melalui ponselnya.


Saat tiba di rumah, Sarah disambut oleh kakeknya, Mbah Suko, yang baru datang dari kampung.


“Kok, kamu pulang lebih awal, sih? Ada apa?” tanya Ibu Yolanda, ibunda Sarah.


“Ardy ... teman dekat Sarah sedang berduka dengan kematian adiknya, Rezky,” jawab Sarah sedih.


“Ya, Tuhan! Kasihan sekali anak itu,“ Ibu Yolanda bergumam.


“Sarah mau ke sana sekarang juga, Mah. Kasihan sekali Ardy. Mana papa dan mamanya sedang dirawat di rumah sakit, lagi?!”


“Masyaa Allah! Sakit apa?” tanya Mbah Suko ikut bicara.

__ADS_1


“Entahlah, Sarah sendiri tak tahu, Kek,” jawab Sarah sambil beranjak ke kamarnya berganti pakaian.


Sebentar kemudian, Sarah keluar lagi dengan busana berwarna serba hitam.


“Kakek mau ikut, ya?” Mbah Suko mengikuti langkah cucunya.


Sarah tersenyum hambar.


“Boleh, Kek. Lagian Sarah juga bermaksud mengajak Kakek, kok,” kata Sarah manja, “Tapi ... Kakek, kan, baru datang, apa tidak capek?”


“Walaupun Kakek sudah tua begini, tapi Kakek masih kuat, kok, Cu,” canda Mbah Suko kemudian.


Sarah tertawa kecil.


Lalu gadis itu menggandeng tangan kakeknya. Mereka berdua berangkat menuju kediaman keluarga Tuan Karyadi.


Singkat cerita, mereka berdua kini sudah berada di tempat tujuan. Sudah banyak orang berkumpul di sana.


Saat turun dari kendaraan dan melewati sepanjang kerumunan warga sekitar, samar-samar terdengar suara-suara sumbang yang membicarakan perihal keluarga Tuan Karyadi.


“Anaknya mati, pasti sengaja dijadikan korban untuk kekayaan yang telah diperoleh. Amit-amit!” ujar salah seorang warga.


“Lihat saja nanti. Setelah kematian anak bungsunya, pasti akan disusul dengan kematian anak keduanya,“ timpal warga lainnya.


Sarah hanya menggelengkan kepala saat mendengar pembicaraan tersebut. Sementara diam-diam Mbah Suko mendengarkannya sambil memperlambat jalannya.


“Ayolah, Kek, jangan dengarkan mereka!” seru Sarah sambil menarik lengan kakeknya.


Di dalam rumah, Sarah dan Mbah Suko disambut Ardy. Anak muda itu kelihatan pucat pasi. Seperti tiada gairah hidup. Sarah mencoba menenangkannya.


Mbah Suko dan Sarah melihat jenazah Rezky yang terbaring kaku. Jasadnya ditutupi dengan selembar kain berwarna putih. Sarah tak kuasa melihat wajah Rezky yang pucat seakan tak berdarah.


Ketika Mbah Suko membuka kain penutup wajah jenazah Rezky, Sarah menangis pilu sambil menutup muka. Namun lain halnya dengan ekspresi Mbah Suko, kakek Sarah ini justru terkejut.


Bagi orang yang memiliki ilmu kebathinan seperti Mbah Suko ini, dia mampu melihat hal-hal yang tidak dapat dilakukan dengan mata biasa.


Bagi orang awam, jenazah Rezky tak ubahnya seperti jasad manusia yang sudah tak bernyawa lainnya. Akan tetapi, di mata Mbah Suko, sosok yang ada di depan matanya adalah berupa batang pohon pisang yang panjangnya serupa dengan tinggi badan Rezky.


“Astaghfirullah!” gumam Mbah Suko.


Sambil berkomat-kamit, Mbah Suko membacakan ayat-ayat suci mendoakan Rezky. Setelah selesai, kain penutup wajah Rezky ditutup kembali.


Sebentar kemudian, Mbah Suko memandang ke segala penjuru rumah. Lalu matanya tertuju pada sebuah sudut ruangan. Di sana terlihat ada sesosok bayangan anak kecil menyerupai Rezky.

__ADS_1


Anak itu sedang menangis dan menjerit-jerit memanggil Ardy meminta tolong.


Tentu saja Ardy tak bisa melihat ataupun mendengar.


Hal yang membuat amarah Mbah Suko bangkit adalah ada satu sosok lain yang menyeramkan di samping bayangan Rezky. Sosok makhluk menyeramkan dan sedang memegang Rezky sambil tertawa terbahak-bahak.


Mata makhluk itu tiba-tiba melotot ke arah Mbah Suko.


“Tua bangka, aku tahu kaubisa melihat wujudku! Jangan coba-coba berbuat macam-macam, kalau tak ingin orang-orang di rumah ini mati ketakutan melihat wujudku yang asli!” ujar makhluk itu mengancam.


Rezky menjerit memilukan.


Mbah Suko hanya bisa diam dengan d*da bergemuruh menahan amarah.


“Iblis jahanam!” rutuk Mbah Suko tak sadar.


Sarah yang berada di samping kakeknya itu langsung menoleh, heran.


“Apa yang Kakek bilang barusan, Kek?” tanya Sarah.


Mbah Suko melirik sebentar. Dia baru tersadar.


“Tidak! Tak ada apa-apa,“ jawab Mbah Suko, “Kakek hanya berdoa.”


Keheningan pun segera menghampiri mereka di antara isak tangis kerumunan orang-orang di sekitar jenazah Rezky yang sedang membacakan ayat-ayat suci Tuhan.


Menjelang sore, jenazah Rezky segera dikebumikan. Ardy tidak bisa menahan tangisnya saat jasad Rezky mulai dimasukan ke dalam liang lahat. Gema firman Tuhan pun turut mengiringi prosesi tersebut.


Sarah pegangi bahu Ardy. Seakan ingin mengungkapkan bahwa dia pun merasakan hal yang sama.


Sedikit demi sedikit, liang lahat diuruk dengan tanah. Menutupi seluruh jasad Rezky yang terbaring di dalam lubang sempit. Sampai kemudian tanah menggunung bertaburan bunga yang disemaikan peziarah yang hadir.


“Mari kita doakan semoga arwahnya diterima dan mendapat tempat yang layak di sisi-Nya. Aamiin.“ seorang pemimpin doa menutup rangkaian prosesi pemakaman.


Satu persatu warga yang ikut menghantarkan, meninggalkan area pemakaman. Ardy sekeluarga dan Sarah juga Mbah Suko masih berada di samping makam.


“Sudahlah, Dy! Relakan kepergian adikmu ini, ya?” kata Sarah menghibur.


“Dia masih kecil, Sar! Mengapa tidak aku saja yang Tuhan panggil terlebih dahulu?” seru Ardy sambil menangis.


“Jangan bicara seperti itu, Dy! Sudah kehendak Tuhan untuk memanggil adikmu terlebih dahulu. Lebih baik kita relakan dan doakan saja,“ ujar Sarah kembali.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2