
...PERJANJIAN BERDARAH...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 15...
...------- o0o -------...
“Ke mana Den Ardy?” tanya Mbok Inah pada Mang Sapri begitu menemui sopir keluarga majikannya.
“Lho, di kamarnya memang tak ada?” tanya balik Mang Sapri.
“Kalaupun ada, aku tidak akan tanya kamu, Mang!”
Mang Sapri bergegas menuju garasi, diikuti oleh Mbok Inah dan Sri. “Mobil Mercedez tak ada di dalam garasi. Mungkin tadi malam Den Ardy keluar dan belum pulang?”
“Aduh, ke mana lagi Den Ardy itu? Padahal tak biasanya Den Ardy keluar malam-malam. Apalagi sampai tak pulang begini,“ kata Mbok Inah kebingungan.
“Bagaimana dengan Non Nola?” tanya Sri ikut bingung.
Mbok Inah seperti diingatkan. Maka pembantu tua itu pun lekas berlari, tertatih-tatih menuju kamar Nola. Rupanya gadis itu masih tertidur nyenyak.
Mbok Inah segera membangunkannya.
“Non, bangun! Sudah pagi!” ujar Mbok Inah sambil menepuk-nepuk kaki Nola.
Gadis itu membuka mata. “Sudah pagi ya, Mbok?”
Mbok Inah menganggukkan kepala.
“Tuan dan Nyonya ... “ Mbok Inah ragu untuk memberitahukan keadaan kedua orangtua Nola.
Gadis itu menatap Mbok Inah dengan rasa heran.
“Ada apa dengan Mama dan Papa?” tanya Nola merasa tak enak melihat Mbok Inah --terlihat-- seperti berat untuk berbicara.
Setelah agak lama terdiam, akhirnya Mbok Inah berucap juga. “Tuan dan Nyonya ... Mbok temukan dalam keadaan pingsan, Non.”
“Mama! Papa!” seru Nola terkejut sambil turun dari tempat tidurnya.
Di kamar kedua orangtuanya, Nola menangis histeris melihat kondisi mereka.
“Kenapa Mama dan Papa?” tanya Nola pada Sri yang masih berada di dalam kamar.
__ADS_1
Sri menggelengkan kepala. “Saya tidak tahu, Non. Begitu ditemukan pagi ini, Tuan dan Nyonya dalam keadaan pingsan di ruang tengah.”
“Kak Ardy mana?” tanya Nola kembali.
Mbok Inah melirik anaknya, Sri.
“Den Ardy tidak ada di kamarnya, Non. Tadi malam mungkin keluar dan belum pulang sampai saat ini,” jawab Mbok Inah.
“Keluar? Tidak biasanya Kakak keluar malam-malam ... apalagi sampai tidak pulang seperti itu,“ gumam Nola dengan mata berkaca-kaca.
Dari luar terdengar deru suara mobil.
“Mungkin itu Kak Ardy!” pikir Nola seraya menghambur keluar kamar.
Bukan. Itu dokter Santoso. Laki-laki berkacamata tersebut keluar dari kendaraannya dan segera masuk ke dalam rumah.
“Selamat pagi, dok!” sapa Mbok Inah.
“Selamat pagi!” jawab dokter Santoso pelan dan langsung menuju kamar tidur Tuan Karyadi dan Nyonya Amanda.
Dokter Santoso mengeluarkan peralatan medisnya. Dia tertegun saat memeriksa kondisi tubuh Tuan Karyadi dan Nyonya Amanda. Lalu menatap satu per satu, semua orang yang berada di dalam kamar tersebut. Sorot matanya lama tertuju pada Mbok Inah.
“Mbok tetap di sini. Yang lainnya, silakan keluar dulu dari kamar,” kata dokter Santoso.
Nola mendekati sosok dokter muda tersebut.
“Maaf, Dik. Kondisi kedua orangtua Adik ini tidak layak untuk dilihat semua orang. Jadi demi kelancaran pemeriksaan, saya harap Adik bisa memahaminya,” ucap dokter Santoso meminta pengertian dari Nola.
Gadis itu tidak bisa menjawab. Akhirnya dia pun ikut keluar bersama Sri dan yang lainnya.
“Kunci pintunya, Mbok!” perintah dokter Santoso pada Mbok Inah.
Perempuan tua itu menurut.
Kemudian, laki-laki itu pun membuka seluruh kain penutup tubuh Tuan Karyadi dan Nyonya Amanda. Mbok Inah merasa agak risih melihat kondisi tubuh kedua majikannya itu. Lalu segera berbalik arah membelakangi mereka.
Sedangkan dokter Santoso tampak biasa-biasa saja. Ekspresi wajah dokter muda itu tak menampakkan perubahan apa pun melihat tubuh Nyonya Amanda.
Setelah menggunakan sarung tangan plastik, dokter Santoso meneliti luka-luka yang ada di sekujur tubuh kedua pasangan suami-istri tersebut, termasuk ujung kuku jemari tangan Nyonya Amanda yang penuh dengan darah mengering. Lalu beralih ke bagian d*da. Darah segar masih mengalir dari luka yang menganga. Di samping itu, terdapat pula luka bekas gigitan yang sudah membiru.
Dokter Santoso merasa sangat heran. Apalagi setelah memeriksa rongga mulut dan gigi Tuan Karyadi yang berwarna merah penuh darah.
Laki-laki muda itu menoleh ke arah Mbok Inah. Wanita tua tersebut rupanya tidak sedang memperhatikannya. Dia masih berdiri membelakangi.
__ADS_1
“Mbok ... “ panggil dokter Santoso.
“Ya, dokter!” Mbok Inah membalikan badan.
“Apakah semalam Pak Karyadi dan Ibu Amanda mempunyai masalah keluarga? Atau ... terjadi perselisihan, mungkin?”
Mbok Inah berpikir sejenak.
“Rasanya tidak, dok! Selama ini saya perhatikan Tuan dan Nyonya ... baik-baik saja. Mereka selalu terlihat rukun,” tutur Mbok Inah menjelaskan.
Dokter Santoso mengangguk-angguk.
“Begitu, ya? Baik, sekarang bisa tolong bantu saya?” tanya dokter Santoso perlahan.
“Bantu apa, dok?”
“Bersihkan kuku jemari Nyonya Amanda,” kata dokter itu sambil memberikan kapas yang telah dibubuhi sedikit cairan alkohol.
Mbok Inah menerimanya dengan tangan gemetar.
Dokter muda itu kembali memeriksa tubuh Nyonya Amanda. Kali ini perhatiannya tertuju pada luka melepuh di kulit perut. Seperti bekas terkena siraman air panas. Di sana terdapat sisa cairan putih dan kental.
Dengan menggunakan pinset steril dan kapas, dokter Santoso meneliti cairan tersebut. “Hhmmm ...." gumamnya perlahan.
Diperiksanya pula bagian vital Tuan Karyadi Tidak terdapat luka apa pun. Namun setelah memeriksa organ kewanitaan Nyonya Amanda, dokter itu tertegun. Di sana terdapat luka yang mengeluarkan cairan berwarna kehitaman dan mengeluarkan aroma busuk yang menusuk hidung.
Mbok Inah terkesima melihat pemandangan yang sangat tak lazim tersebut.
“Seumur hidup, baru kali pertama aku menemukan hal semacam ini. Sangat aneh,“ gumam dokter Santoso kembali.
Setelah menutup tubuh kedua suami-istri itu, kemudian dokter Santoso segera menghubungi rumah sakit. "Tolong kirim segera satu unit ambulance ke rumah jalan Sekardayu nomor empat belas. Status emergensi!”
Terdengar jawaban dari seberang sana. Lalu setelah beberapa saat berbicara, Dokter Santoso menutup pesawat teleponnya.
“Saya harus membawa Pak Karyadi dan Ibu Amanda ke rumah sakit sekarang juga. Luka-lukanya perlu penanganan intensif dari tim medis,” kata dokter Santoso pada Mbok Inah.
“Tapi keluarga majikan saya belum tahu tentang hal ini, dok!” Mbok Inah bingung.
“Ke mana anak sulung majikanmu?” tanya dokter Santoso heran.
“Itulah dia, dok. Den Ardy semalam tidak ada di rumah. Entahlah, kami semua tidak ada yang tahu,” jawab Mbok Inah setengah bingung.
Dokter Santoso manggut-manggut. Kepalanya dipenuhi berbagai pertanyaan. Namun yang membuat dokter ini bingung adalah kondisi Tuan Karyadi dan Nyonya Amanda yang belum diketahui penyebabnya.
__ADS_1
“Begini saja, kedua majikanmu ini akan saya bawa ke rumah sakit. Nanti kalau anak sulung majikanmu datang, bilang saja bahwa kedua orangtuanya dibawa ke rumah sakit. Bagaimana?” tanya dokter Santoso pada Mbok Inah yang masih diliputi perasaan bingung.
...BERSAMBUNG...