Perjanjian Berdarah

Perjanjian Berdarah
Bagian 21


__ADS_3

...PERJANJIAN BERDARAH...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 21...


...------- o0o -------...


“Apa yang sedang kamu lakukan, Mbak?” Ardy membuka matanya dan repleks mendorong wajah Sri agar menjauh.


Sri terkejut.


“Maaf, Den! Saya ... saya .... “ perempuan muda itu merasa malu sendiri.


Sri bergegas keluar kamar tanpa mengucapkan sepatahkata pun. Dengan kondisi tubuhnya yang masih lemah, Ardy mengurungkan niatnya untuk mengejar. Apalagi melihat kondisi pakaian bagian bawahnya sedikit terbuka. Dia segera membetulkan posisi resleting celana yang tersingkap.


Ardy memutuskan hari itu tidak akan masuk kuliah. Dia memilih beristirahat di kamar Mang Sapri untuk seharian itu.


Sementara Sri merasa malu dengan sikapnya tadi. Dia pikir, tidak sepantasnya dia melakukan hal seperti itu.


Kebetulan Tuan Karyadi baru pulang dalam keadaan mabuk berat. Langkahnya sempoyongan dan sesekali hampir terjatuh.


Sri datang membantu memapah Tuan Karyadi masuk ke dalam kamarnya. Bau alkohol tercium menyengat dari mulut tua lelaki itu.


Perlahan Tuan Karyadi dibaringkan di atas tempat tidur. Saat hendak berlalu, Sri ditahan majikannya. “Temani saya di sini, Sri,” ujar Tuan Karyadi sambil menarik lengan perempuan tersebut.


Sri tertarik dan terjatuh menimpa Tuan Karyadi.


Sri terdiam dan bingung.


Dengan cepat, Tuan Karyadi membalikan badannya menindih tubuh Sri.


“Kamu cantik sekali, Sri.“


Lelaki tua itu mulai menciumi wajah serta leher Sri dengan buas. Semula Sri hendak menolak, namun hasratnya yang sempat padam saat bersama Ardy tadi, kini bangkit kembali.


Perlakuan Tuan Karyadi pun dibalasnya.


“Aaarrrgghh!”


------- o0o -------


Tuan Karyadi melenguh sambil pejamkan mata. Sebentar kemudian, tubuh tuanya terbanting ke samping dengan penuh rasa puas. Sementara Sri masih tergolek dengan nafas memburu dan peluh yang membanjiri.


Masih didera rasa lelah, perlahan Sri turun dari atas tempat tidur. Dilihatnya Tuan Karyadi sudah terlelap. Sri menutupi tubuh majikannya dengan selimut tebal, lalu segera mengenakan kembali busananya yang berserakan.


Dengan langkah lemah, perempuan itu meninggalkan kamar majikannya. Di saat itulah, secara tidak sengaja, dia berpapasan dengan sosok Mang Kurdi.


Laki-laki itu menatap Sri dengan sorot mata penuh kecurigaan.


“Apa yang kamu lakukan dengan Tuan Karyadi, Sri?” tanya Mang Kurdi menyelidik.


Sri tak menjawab, dia lebih memilih pergi ke dapur sambil merapikan kembali pakaiannya yang masih berantakan, diikuti oleh Mang Kurdi.

__ADS_1


“Ngapain, sih, Mang Kurdi ngikutin aku?”


 Agak risih Sri diikuti Mang Kurdi seperti itu.


“Kamu belum menjawab pertanyaanku, Sri?” Mang Kurdi tersenyum sinis, “apa yang kamu lakukan di kamar Tuan tadi?”


“Kaukira aku sudah melakukan apa, Mang?” jawab Sri tanpa berani menatap mata Mang Kurdi yang terus menyelidik, “aku membereskan kamar Tuan. Tak ada yang lain.“


Mang Kurdi kembali tersenyum sinis.


“Jangan dikira aku bodoh, Sri! Aku bisa menduga apa yang telah kamu lakukan dengan Tuan di kamar tadi,“ ujar Mang Kurdi memancing.


Sri terkejut, tapi tak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya terdiam sambil menyibukkan diri.


“Jangan khawatir, Sri. Aku bersedia merahasiakan semua, asalkan ... kamu juga mau berbagi denganku,” ujar Mang Kurdi penuh kelicikan.


Lagi-lagi Sri terkejut.


“Tidak sekarang! Aku masih capek!” jawab Sri ketus.


Mang Kurdi mendekati Sri. “Sekarang atau nanti sama saja, Sri! Beri aku sekarang atau kamu akan menanggung malu di depan ibumu!”


Sri tak kuasa menolak ketika Mang Kurdi mulai mendekap tubuhnya dari belakang. Laki-laki tua itu menciumi leher serta pundaknya dengan kasar.


Terpaksa Sri mengalah, daripada Mang Kurdi menceritakan perihal yang dilakukannya dengan Tuan Karyadi tadi pada Mbok Inah, ibunya.


Hanya sesaat.


“Aauugghh ... “ Mang Kurdi meraung sambil pejamkan mata.


“Kali ini aku kalah, Sri! Tapi aku belum puas! Nanti ... aku akan meminta jatah penuhku! Tunggu saja!” ujar Mang Kurdi dengan perasaan malu tinggalkan Sri yang tersenyum mengejek.


“Sudah bau tanah masih saja sok perkasa!” sahut Sri seraya membersihkan jemarinya yang lengket dan licin.


Setelah membenahi bajunya yang terbuka, Sri melanjutkan pekerjaannya di dapur.


------- o0o -------


Petang harinya ....


Tuan Karyadi tengah asyik membaca koran di ruang keluarga. Nyonya Amanda belum pulang dengan urusannya. Sementara Ardy dan Nola pun sedang tidak berada di rumah.


Jarum jam sudah menunjukan angka tujuh. Para pembantu sudah berada di kamarnya masing-masing. Sehingga yang ada di ruangan itu hanya Tuan Karyadi seorang.


Tiba-tiba bel rumah berbunyi. Tuan Karyadi bergegas membuka pintu. Tampak seorang gadis cantik sedang berdiri di depan pintu.


“Selamat malam, Om.”


“Iya, selamat malam.”


“Saya Sarah, temannya Ardy, Om.”


Tuan Karyadi tersenyum, “Iya, saya ingat. Yang waktu ketemu di—“

__ADS_1


“Depan rumah ini dulu, Om.”


“Ya, itu maksud saya.”


“Ardy-nya ada, Om?”


Kembali laki-laki tua itu tersenyum. Kali ini aromanya agak berbeda.


“Ardy?” Sempat berpikir sebentar. “Oohh ... ada. Di kamarnya. Mungkin sedang belajar.”


Entah apa maksud Tuan Karyadi berbohong. Padahal jelas Ardy sedang tidak ada di rumah.


“Aku mau ketemu Ardy, sekarang, Om.“


“Masuk saja dulu. Nanti saya panggilkan." Tuan Karyadi mempersilakan Sarah masuk ke dalam rumah.


Gadis itu masuk dan menunggu di ruang tamu diikuti Tuan Karyadi. Laki-laki itu turut duduk di sana sambil membaca koran. Sesekali matanya melirik pada Sarah yang duduk tak begitu jauh.


“Ardy-nya mana, Om?” tanya Sarah merasa tak enak menyadari gerak-geriknya diperhatikan sedari tadi.


Tuan Karyadi meletakkan surat kabar di atas meja.


“Tunggu saja. Sebentar lagi juga pasti keluar dari kamar. Dia tadi berpesan, kalau ada temannya disuruh tunggu dulu di sini,” jawab Tuan Karyadi beringsut mendekati Sarah.


Gadis itu menggeser menjauh.


“Om mau apa?” Sarah mulai ketakutan dengan sikap papanya Ardy ini.


Tiba-tiba Tuan Karyadi mencekal lengan Sarah seraya membekap mulutnya. Gadis itu spontan meronta.


“Temani saya di sini, ya? Saya lagi kesepian. Di sini tak ada siapa-siapa, kok,” ujar Tuan Karyadi sambil menindih tubuh Sarah dengan kuat.


Sarah meronta sekuat tenaga. Namun jeritannya tertahan di kerongkongan.


BRET!


Busana Sarah direnggut dengan paksa.


Tuan Karyadi mulai menjamah Sarah dengan kasar.


“Diamlah!” bentak Tuan Karyadi, “kamu mungkin sudah merasakannya dengan anak keparat itu, 'kan?”


Sarah tak bisa mengeluarkan suaranya.


“Bukankah lebih enak kalau bermain dengan papanya sendiri? Hah?!”


Sarah berusaha melepaskan himpitan Tuan Karyadi. Tapi tenaga laki-laki itu jauh lebih besar. Namun sebelum niatnya kesampaian, tiba-tiba dari arah belakang Tuan Karyadi ....


BUK!


Ada suara keras mengenai tengkuk laki-laki itu. Telak dan langsung membuatnya jatuh tersungkur, tak sadarkan diri.


Sarah memekik ketakutan. Dia beringsut mundur menjauhi sosok Tuan Karyadi yang tergeletak pingsan.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2