
...PERJANJIAN BERDARAH...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 38...
...------- o0o -------...
Mbah Suko segera menarik tubuh Ardy untuk segera keluar menjauhi bangunan rumah yang mulai retak dan sebagian dinding langitnya berjatuhan.
"Papa dan Mamamu telah meninggal, Ardy! Kita keluar sekarang juga sebelum tertimbun reruntuhan bangunan!" teriak Mbah Suko menarik paksa Ardy yang meronta hendak menggapai kedua orang yang telah membesarkannya itu.
"Mama! Papa!"
Terpaksa Ardy mengikuti tarikan Mbah Suko dan ikut berlari menyelamatkan diri.
"Ada gempa, Den?" tanya Mang Sapri kaget begitu berada di luar rumah bersama Mbok Inah dan Sri Kemuning.
Tanah di sekitar bangunan megah itu terus bergetar hebat dan terbelah, seakan hendak menelan bulat-bulat semua yang ada di atas permukaannya.
Perlahan rumah besar dan mewah itu hancur. Ambruk dengan suara menggelegar menghantam bumi.
Kejadian tersebut benar-benar di luar nalar manusia. Yang lebih mengheran, tidak ada seorang warga sekitar pun yang mendengar suara-suara gaduh dan melihat kejadian itu.
Malam kembali sunyi begitu seluruh bangunan amblas ditelan retakan bumi. Ardy, Mbah Suko, Mbok Inah, Sri dan Mang Sapri terpana. Hanya mampu melihat tanpa bisa berkata-kata.
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Yah?" tanya Ardy begitu semuanya telah usai terjadi.
"Kita ke rumah anakku saja. Tanah ini sudah tidak bisa ditempati lagi, karena sudah mengandung kutukan yang mengerikan!" jawab Mbah Suko.
Mbok Inah yang sedari tadi hanya diam, tiba-tiba menoleh heran ke arah Mbah Suko.
"Ada apa, Mbok?" tanya Ardy begitu melihat tatapan mata tua wanita itu ke arah Mbah Suko, ayahnya.
"Apa hubungan Den Ardy dengan orang tua itu?" tanya Mbok Inah.
__ADS_1
Ardy dan Mbah Suko saling berpandangan sesaat, "Ceritanya panjang, Mbok. Nanti, deh, kapan-kapan saya ceritakan sama Mbok."
"Kau ayah kandungnya Den Ardy, kan?" tanya Mbok Inah pada Mbah Suko kembali.
Sri dan Mang Sapri ikut terheran-heran.
Ardy tersenyum, "Ya, beliau memang Ayah saya, Mbok."
"Ya, Tuhan ... " seru Mang Sapri mengejutkan semuanya.
"Ada apa, Mang? Mau ikut tanya juga tentang saya dan beliau?" Ardy mengusap dadanya yang masih terkaget-kaget.
Mang Sapri menunjukan jarinya ke arah reruntuhan bangunan, "Bukan, Den! Maksudnya itu ... "
Semua mata mengikuti arah telunjuk Mang Sapri pada sisa reruntuhan bangunan yang telah hancur dan mulai mengobarkan api.
"Hhhmm ... " Mbah Suko bergumam, "rupanya Iblis itu benar-benar tak akan menyisakan harta terlarang yang telah mereka berikan pada Karyadi!"
Api semakin membesar melahap seisi bangunan. Termasuk jasad Tuan Karyadi dan Nyonya Amanda yang masih tergeletak di antara reruntuhan bangunan itu.
Mang Sapri, Mbok Inah dan Sri Kemuning mengikuti dari belakang, meninggalkan tempat yang masih menebarkan aura yang menyeramkan tersebut.
Sementara itu peristiwa aneh lainnya juga terjadi di semua tempat usaha dan aset kekayaan milik Tuan Karyadi. Dalam waktu bersamaan, seluruh gedung kantor dan bangunan lainnya tiba-tiba diamuk si jago merah hingga habis tak tersisa.
Harta warisan Tuan Karyadi dari iblis sesat itu telah meninggalkan mimpi buruk. Termasuk satu di antaranya yang masih tersembunyi. Tak ada seorang pun yang mengetahui bahwa di dalam rahim seorang Sri Kemuning, tertanam benih manusia warisan Tuan Karyadi yang masih tersisa. Suatu saat, benih itu akan menciptakan teror dan petaka yang lebih mengerikan.
Sri bersikeras untuk tidak akan menggugurkan kandungannya, dengan alasan tak ingin menambah beban dosa yang telah diperbuat.
"Sri akui, ini memang anak hasil perbuatan Tuan Karyadi dulu pada Sri, Bu," ucap Sri suatu ketika saat didesak perihal kehamilannya yang mulai tampak membuncit.
"Mengapa dulu kamu tak berterus terang sama Ibu, Ndok? Setidaknya bayi itu ... " Mbok Inah tidak meneruskan ucapannya.
"Digugurkan maksudnya, Bu?" tanya Sri sambil menggelengkan kepala, "tidak, Bu. Sri tidak akan pernah mau menggugurkan kandungan ini. Sri tidak ingin menambah dosa."
Mbok Inah terdiam pasrah.
__ADS_1
"Sri akan tetap menjaganya, melahirkan serta merawat bayi ini hingga dewasa."
Padahal anak yang berada dalam kandungan Sri bersiap-siap menuntut balas, pada orang-orang yang telah mengalahkan iblis itu. Dan membuat Tuan Karyadi menderita, di bawah kekuasaan iblis berkepala anjing yang telah memperbudaknya.
Iblis memang tidak akan pernah berhenti untuk menggoda umat manusia hingga akhir dunia.
TAMAT
Bonus tambahan :
"Papah!"
Satu suara memanggil Tuan Karyadi di sebuah ruangan yang dipenuhi oleh makhluk-makhluk mengerikan, begitu Tuan Karyadi dan Nyonya Amanda tiba di sebuah tempat asing, busuk dan lembab.
"Rezky? Nola?" seru Tuan Karyadi berbarengan dengan Nyonya Amanda.
Mereka berdua tidak mampu berjalan cepat karena kedua kakinya dirantai kuat dan diberi beban berat.
"Rezky! Nola!" teriak Nyonya Amanda memanggil kedua anaknya yang menjadi mainan makhluk-makhluk durjana itu.
"Diam! Tempatmu bukan di sini. Tapi di tempat lain bersama dengan anak-anak buahku!" bentak satu suara menggelegar sambil menarik paksa Nyonya Amanda ke sebuah tempat.
"Papah ... tolong!"
"Mamah!"
Tuan Karyadi tak mampu menolong istrinya yang diseret dengan kasar oleh makhluk-makhluk itu, menjauh darinya.
Sementara dari balik sebuah tempat jauh lainnya yang gelap, sesosok mata mengawasi mereka. Dari bayang kegelapan yang ada, tampak sosok itu berwujud seorang laki-laki tua berpakaian kumal, berjongkok dengan penuh waspada memperhatikan tempat sekitar.
Kemudian dia melesat pergi dan menghilang ditelan pekat yang menyelimuti area itu, bersama sapuan angin dingin yang menusuk tulang-belulang.
(Terima kasih kepada rekan-rekan yang selama ini telah berkenan mengikuti cerita ini dari awal hingga akhir. Silakan ambil sisi positifnya dan jauhi kesan negatifnya. Cerita ini bersifat fiktif belaka)
...T A M A T...
__ADS_1