
...PERJANJIAN BERDARAH...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 8...
...------- o0o -------...
“Panggilkan si Kurdi, Ma! Suruh dia siapkan mobil. Kita harus bawa Rezky ke rumah sakit, segera!” seru Tuan Karyadi mencoba menenangkan diri dari sinar mata Rezky yang terus menerus memandanginya, tanpa berkedip sekalipun.
Nyonya Amanda Amanda berusaha bangkit dengan susah payah, namun kembali jatuh terduduk di samping tempat tidur Rezky.
“Kamu kenapa, Ma?” tanya Tuan Karyadi begitu melihat kondisi istrinya yang lemah.
“Tak usah pikirkan aku dulu, Pa. Sekarang lebih baik bawa anak kita ke rumah sakit. Biar aku di rumah beristirahat,“ jawab Nyonya Amanda sambil meringis memijiti kepalanya yang tiba-tiba merasa sakit.
Tuan Karyadi segera menghambur keluar kamar mencari sosok Mang Kurdi, namun hanya menemui Ardy yang masih duduk termenung di ruang tengah.
“Ada apa, Pa?” tanya Ardy kaget begitu melihat raut wajah papanya panik.
“Bilang sama Mang Kurdi, siapkan mobil! Kita harus membawa Rezky ke rumah sakit sekarang juga!”
Ardy langsung memburu keluar mencari Mang Kurdi. Kebetulan sosok yang dicari tersebut sedang membersihkan halaman rumah. “Mang, kata Papa siapkan mobil sekarang juga.”
“Mau kemana, Den?”
“Rezky harus segera di bawa ke rumah sakit!”
“Ya, Tuhan!” seru Mang Kurdi seraya melemparkan gagang sapu lalu berlari secepat kilat ke garasi belakang.
Sebentar kemudian, laki-laki tua itu sudah kembali dengan mobil jaguar model terbaru. Terparkir dengan gagah di halaman depan rumah.
Ardy keluar dari dalam rumah sambil menggendong sosok Rezky di pangkuannya. Nyonya Amanda mengikuti langkah kaki suaminya dengan susah payah.
“Mama mau ikut?” tanya Tuan Karyadi memperhatikan istrinya. “Maafkan aku, Pa. Rasanya aku tak bisa ikut mengantar Rezky ke rumah sakit. Aku merasa lemes dan tak kuat lagi berjalan,“ ujar Nyonya Amanda pelan.
__ADS_1
“Lho, bukankah sebaiknya Mama diperiksa juga nanti di rumah sakit?” Tuan Karyadi membantu istrinya duduk di sofa ruang tengah.
“Tidak usah, Pa. Aku hanya ingin istirahat. Bawalah Rezky ke rumah sakit, segera, Pa. Jangan pedulikan aku,“ pinta Nyonya Amanda kembali. Tuan Karyadi tidak bisa mengelak. Setelah mengecup kening istrinya, lelaki perlente itu segera keluar dan langsung memasuki badan kendaraan mewahnya.
Nyonya Amanda hanya duduk termenung memandangi laju kendaraan yang membawa anak serta suaminya.
Jarum jam terus berputar mengitari angka. Malam pun berjalan tak terasa. Sementara keadaan di luar kian menggulita. Memaksa lampu-lampu bertahan dalam nyala.
Sejenak Nyonya Amanda melirik jam antik raksasa yang terpajang di ruang tengah, hampir menunjukan pukul setengah sepuluh malam. Namun suami dan anak-anaknya belum kunjung kembali dari rumah sakit.
“Mbok Inah,“ panggil Nyonya Amanda pada pembantu tuanya.
Sebentar kemudian Mbok Inah muncul. “Ada apa, Nya?” tanya Mbok Inah.
“Bantu aku ke kamar, ya?” kata Nyonya Amanda.
Pembantu tua itu segera membantu majikannya berdiri dan berjalan terseok menuju kamar tidurnya.
“Nyonya dari siang tadi belum makan. Saya antarkan makan malam ke kamar, ya, Nya?” ujar Mbok Inah sesampainya di kamar dan membantu Nyonya Amanda duduk di atas tempat tidur.
“Tidak usahlah, Mbok. Aku tak lapar,” jawab Nyonya Amanda seraya membaringkan tubuhnya.
Pukul sebelas malam, barulah Tuan Karyadi beserta Ardy dan Nola pulang dari rumah sakit.
Ardy langsung masuk ke dalam kamarnya, disusul Nola dan Tuan Karyadi sendiri. Agaknya mereka merasa sangat lelah sekali setelah seharian menunggui Rezky.
“Bagaimana Rezky, Pa?” tanya Nyonya Amanda begitu suaminya sudah berada di kamar.
“Rezky harus dirawat. Dokter masih menganalisa penyakitnya,” jawab Tuan Karyadi singkat.
“Kira-kira sakit apa, ya, Pa?” tanya Nyonya Amanda kembali. Hati wanita ini benar-benar cemas.
“Entahlah, besok Papa akan ke rumah sakit lagi. Mungkin dokter itu sudah dapat mengatasinya,” ujar Tuan Karyadi sambil mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Lalu, lelaki setengah tua itu membaringkan tubuh di samping istrinya.
“Oh, iya. Tadi ... Mbok Inah bicara sama Mama, dia ingin anaknya kerja di sini. Menurut Papa, bagaimana?”
__ADS_1
“Terserahlah. Kalau dia memang perlu, semua terserah Mama saja,” jawab Tuan Karyadi setengah malas untuk berbicara.
Lelaki itu pandangi raut wajah istrinya yang masih kelihatan cantik. Tidak dipungkiri, semasa mudanya, wanita itu menjadi incaran banyak laki-laki. Tuan Karyadi salah satu di antaranya.
Perlahan, Tuan Karyadi merapatkan diri ke tubuh istrinya. Lalu menyusul jemari tangannya bergerak menjalar ke dada sang istri yang masih tampak membusung indah. Meremas dengan lembut dengan ujung kelima jemari. Empuk terasa membangkitkan hasrat kelelakiannya.
Nyonya Amanda masih terdiam. Tidak memberikan reaksi apapun.
Dengan desis nafas yang mulai memanas, Tuan Karyadi bangkit mendaratkan cium di sekitar leher putih berjenjang istrinya. Kemudian beranjak menaiki bibir merah pucat dan ranum dengan lidah yang terjulur. Menari-nari sesaat sambil mempermainkan ujung lidah, membasahi permukaan bibir Nyonya Amanda yang kering.
Di saat yang sama, laki-laki itu bergerak lincah menarik lepas gaun istrinya di bagian dada.
“Maafkan Mama, Pa. Mama merasa sangat lemas hari ini,” ujar Nyonya Amanda seraya mendorong tubuh suaminya ke samping. Tuan Karyadi mendengkus kecewa. Hasrat yang semula menggebu, sirna seketika.
“Maafkan Mama, ya, Pa?” Nyonya Amanda menyesali diri.
Tuan Karyadi tak menjawab. Lelaki itu membalikan badan, membelakangi istrinya.
Suasana pun hening ditelan malam. Kedua suami istri itu belum juga bisa memejamkan matanya. Masing-masing sibuk dengan isi kepalanya sendiri. Nyonya Amanda teringat Rezky yang kini terbaring di rumah sakit. Sementara dirinya pun kini didera penyakit yang belum diketahui penyebabnya.
Lain halnya dengan Tuan Karyadi, otak laki-laki itu malah teringat pada sosok gadis cantik yang tadi siang dia temui di depan rumah.
Sarah ....
Entahlah, dia merasa ada perasaan lain saat bertemu dengan teman anaknya tersebut. Atau mungkin saja pikiran itu timbul akibat rasa kecewa pada istrinya barusan?
Bukan itu.
Seandainya saja di rumah itu ada wanita lain yang masih muda selain istrinya, mungkin Tuan Karyadi ....
“Persetan!” maki laki-laki itu dalam hati.
Menjelang dini hari, barulah keduanya dapat memejamkan mata dalam kelelapan.
Seminggu sudah Rezky dirawat di rumah sakit, selama itu pula dokter yang menanganinya belum bisa menyimpulkan sakit apa yang diderita anak itu. Hasil pemeriksaan menyatakan bahwa Rezky dalam keadaan sehat dan normal. Namun kenyataannya, dari hari ke hari, kondisinya semakin lemah tak berdaya. Wajahnya memucat seperti tak ada asupan darah yang mengalir dalam tubuh.
__ADS_1
Di saat kesehatan Rezky semakin memburuk, keadaan Nyonya Amanda justru makin membaik. Tubuhnya berangsur-angsur pulih seperti sedia kala.
...BERSAMBUNG...