Perjanjian Berdarah

Perjanjian Berdarah
Bagian 11


__ADS_3

...PERJANJIAN BERDARAH...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 11...


...------- o0o -------...


"Sudahlah, tak perlu kita permasalahkan ini. Bukankah sekarang kita akan menjenguk Rezky?” kata Sarah sambil menatap sosok Boma yang berjalan sengaja diperlahankan.


Ardy membuang pandangannya ke arah lain. Dia pikir, Sarah tidak mempercayai apa yang telah dia lihat tadi. Menurut Sarah, dia tengah berhalusinasi.


Namun akhirnya, Ardy menuruti ajakan Sarah untuk segera menjenguk Rezky di rumah sakit.


Mobil jemputan sudah menunggu di depan gerbang sekolah. Tampak Nola duduk di depan sambil melambaikan tangannya ke arah mereka berdua.


“Lama amat, sih, Kak?” tanya Nola kesal.


“Maaf, tadi Kakak punya urusan dulu, sebentar. Sekarang kita jenguk Rezky, yuk? Mau ikut?”


“Bener, nih, Kak?”


“Tentu!” jawab Ardy disambut teriakan gembira Nola.


Sarah dan Ardy duduk di kursi belakang.


Tidak berapa lama, mobil pun segera melaju meninggalkan area sekolah.


Sementara itu Trio Cs memperhatikan laju kendaraan mewah yang membawa Ardy, Nola dan Sarah.


“Heh, elo berdua lihat gak tadi, kalo cewek itu ngelihatin gue? Kayaknya, sih, dia naksir berat sama gue,” seloroh Boma PD sekali.


“Gila lu! Ngaca, dong, kalo ngomong! Mana mungkin cewek secakep dia mau-maunya naksir kerbau bunting kayak elo?” ejek Jocky sengit.


“Eit, buktinya tadi dia ngelirik mulu ama gue?” Boma membela diri.


“Iya, sih, kita juga ngelihat. Tapi itu bukan berarti dia demen sama elo, Dut!” David menambahi.


“Halah! Bilang aja elo berdua sirik berat ama gue ditaksir cewek cakep itu. Ngkali aja dia tertarik ama bodi gue yang atletis,” ujar Boma bangga dengan tubuhnya yang gendut dan tambun.


“Preeettt!“ kompak David dan Jocky mencibir mual.


Boma tertawa cengengesan sendiri.


Beberapa waktu kemudian, mobil mewah milik keluarga Ardy sudah tiba di pelataran parkir rumah sakit tempat Rezky dirawat. Ketiga anak sekolah dan Mang Sapri segera turun dari dalam kendaraan.

__ADS_1


Mereka langsung menuju ruangan perawatan Rezky.


Saat tiba di ruangan yang dimaksud, mereka melihat sosok Rezky terbaring tak berdaya di atas tempat tidur.


Jika melihat fisik Rezky, anak itu sepertinya sehat. Namun ketika memandang raut wajahnya, siapa pun akan berpikir bahwa Rezky sedang dalam keadaan sakit.


“Kak Ardy,“ panggil Rezky lirih begitu melihat kedatangan kakaknya beserta Nola, Sarah dan Mang Sapri.


“Bagaimana keadaanmu, Dik?” tanya Ardy penuh sayang.


“Eky takut, Kak,” rengek Rezky hendak menangis pilu.


Ardy tersenyum, “Jangan takut adikku sayang! Ada Kakak di sini. Lihat, tuh, ada Kak Sarah, Kak Nola dan juga Mang Sapri ikut menjenguk kamu. Insyaa Allah, kami akan menjagamu, Dik,” ujar Ardy pelan.


Sarah dan Nola mendekati Rezky.


“Nanti, Mama dan Papa juga akan ke sini. Cepet sembuh ya, Dik Eky!” Sarah ikut berbicara.


“Tidak, Eky tidak mau Papa dan Mama datang ke sini!” seru Rezky tiba-tiba seperti ketakutan.


Ardy dan Sarah saling berpandangan heran.


“Kenapa, Sayang?” tanya Sarah lembut sambil membelai rambut Rezky.


“Jangan begitu, Dik Eky! Mama dan Papa juga sangat sama Eky. Mereka berdua begitu mengkhawatirkanmu.”


Rezky semakin ketakutan.


“Jangan begitu, Dik Eky! Mama dan Papa juga sangat sama Eky. Mereka berdua begitu mengkhawatirkanmu.”


Rezky semakin ketakutan.


“Pokoknya tidak! Mama dan Papa tidak sayang Eky!” Eky menangis pilu, “kalau Mama dan Papa sayang sama Eky, mengapa mereka membiarkan Eky berada di sini?” teriak Rezky semakin keras.


Ardy segera memeluk adik bungsunya itu. Dia memaklumi kalau Rezky masih anak-anak.


Mang Sapri menitikan air mata melihat derita yang dialami oleh anak majikannya. Sementara Nola hanya terdiam membisu.


Rezky balas memeluk kakaknya, Ardy, dengan erat. Seakan tak ingin terlepas dan berpisah.


“Kakak jangan tinggalkan Eky di sini ya? Kakak temani Eku di sini! Eky takut sekali, Kak!” jerit Rezky pilu mempererat pelukannya.


Ardy mengusap kepala Eky penuh sayang. Membiarkan adiknya itu menangis dan menumpahkan semua yang terkandung di dalam hatinya. Mungkin dengan cara itu akan sedikit membantu Rezky tenang kembali.


“Nanti sore Kakak harus kembali pulang ke rumah. Tapi Kakak janji, besok akan datang lagi menjenguk Eky ya?” bisik Ardy pelan.

__ADS_1


“Tidak! Kakak harus temani Eky terus!”


Ardy berpindah mengelus lembut punggung adiknya. Air matanya tak kuasa dibendung dan tumpah mengalir dengan deras membasahi pakaian Rezky.


Secara tidak sengaja mata Ardy melirik ke arah luar jendela ruangan. Tanpa sengaja, sudut pandangnya terbentur pada sosok lelaki berkumal yang sedang berdiri di bawah rimbunan pohon.


“Ya Tuhan! Laki-laki itu ... “ gumam Ardy terkejut.


Sarah, Nola dan Mang Sapri serempak mengikuti arah ke mana Ardy memandang.


“Laki-laki siapa, Dy?” tanya Sarah sambil mencari-cari sosok yang dimaksud Ardy barusan.


Ardy tidak menjawab. Dia segera menghambur keluar setelah melepas paksa pelukan Rezky di tubuhnya.


Rezky berteriak memanggil kakaknya. Namun Ardy tetap berlari keluar ruangan menuju sosok di mana laki-laki kumal tadi berada.


Sarah, Nola dan Mang Sapri memperhatikan tingkah laku Ardy dari balik jendela.


“Sial! Ke mana perginya laki-laki gila tadi? Tadi dia ada di sini!” geram Ardy mencari-cari.


Namun laki-laki yang dimaksud tidak ada di tempatnya.


“Hey, kalau kamu manusia, tunjukan dirimu dan hadapi aku! Jangan mengganggu adikku!” teriak Ardy seperti sedang kerasukan syetan.


Tidak ada jawaban. Tidak ada siapa-siapa terkecuali anak muda itu sendiri yang ada di sana.


“Ardy, ada apa dengan dia? Apa yang dia lakukan di sana?” tanya Sarah bingung.


Ditunggu beberapa saat, laki-laki kumal itu tak kunjung menampakan dirinya. Ardy kembali masuk ke ruangan Rezky dengan nafas memburu.


“Ada apa, Den?” tanya Mang Sapri begitu Ardy kembali berada di dalam kamar rawat adiknya.


“Apa kalian tidak lihat, tadi? Laki-laki kumal dan gila itu ada di luar sana!”


“Laki-laki yang mana, Den?”


“Orang gila yang mengganggu Rezky di depan lampu merah itu!”


“Laki-laki kumal dan gila? Tidak ada siapa-siapa di sana,“ jawab Sarah dan Mang Sapri bersamaan.


“Tidak melihat? Gila! Tadi aku benar-benar melihat dia ada di luar sana! Tepat di bawah pohon itu!” seru Ardy sambil menunjuk ke luar jendela.


“Mungkin kamu berhalusinasi, Dy?” timpal Sarah ragu.


“Berhalusinasi? Dua kali aku melihat ada orang-orang aneh hari ini! Apakah itu yang dinamakan halusinasi? Gila!” seru Ardy kesal.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2