
...PERJANJIAN BERDARAH...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 12...
...------- o0o -------...
Rezky menangis memanggil kakaknya.
“Jangan takut, Sayang. Ada Kakak di sini,” ujar Ardy sambil kembali memeluk sang adik.
Sarah menggelengkan kepala. Benar-benar aneh, pikir gadis itu.
Dari balik pintu, muncul suster perawat.
“Maaf, Adik-Adik! Saatnya pemeriksaan!” kata perawat itu membuat Ardy dan Rezky melepaskan pelukan.
“Bagaimana keadaan adik saya, Sus?” tanya Ardy pada suster perawat.
“Kondisinya baik-baik saja. Namun sudah seminggu adik kecil ini susah disuruh makan. Terpaksa kami memberikan suntikan vitamin untuk menjaga staminanya. Kami sedang berusaha memeriksa penyebab sakit adik ini. Permisi ya, Dik,“ suster perawat memeriksa kondisi Rezky.
“Sebaiknya Adik-Adik ini membiarkan adik kecil ini istirahat ya,” sambung suster setelah selesai dengan tugasnya.
“Tapi—“
“Besok Adik-Adik bisa kembali kemari, kok!”
Ardy mengangkat bahu.
Setelah mencium kening Rezky, Ardy bergegas keluar ruangan diikuti oleh Sarah, Nola dan Mang Sapri.
“Kak, jangan tinggalkan Eky!”
Ardy menoleh memandangi Rezky yang mulai terisak. Iba sekali melihat kondisi adiknya yang satu itu dan ingin kembali masuk memeluknya, namun tatapan mata suster perawat itu mengurungkan niatnya untuk kembali menghampiri Rezky.
Terpaksa mereka berempat segera tinggalkan tempat itu. Dari dalam ruangan, terdengar tangisan Rezky yang mengiba.
Sepeninggal mereka, suster perawat balik memandangi Rezky yang sedang menangis. Pandangan mata suster menyorotkan sinar menggidikkan. Seulas senyum tersungging di bibirnya. Senyum yang mengandung sebuah ancaman.
Rezky berhenti menangis dan beringsut menjauh.
Wajah anak itu kembali memucat seperti tak ada darah setetes pun yang mengalir di sana.
__ADS_1
Rezky ketakutan.
“Jangan dekati Eky!” pekik Rezky dengan keras.
Suster itu terus mendekati Rezky sambil tersenyum menggidikkan. Perlahan jemarinya mengembang dengan ujung kuku yang mengeras, lalu perlahan terangkat ke depan mengarah pada bagian leher Rezky.
Tiba-tiba dia mengayunkan tangannya ke samping, menyapu silang wajah Rezky dari kejauhan. Tidak mengenai sasaran, namun mampu menghasilkan sekelebat hawa dingin yang menerpa dan mengakibatkan Rezky jatuh tak sadarkan diri.
Suster itu menyeringai memperlihatkan barisan giginya yang bertaring. Hitam dan runcing. Setelah itu, lalu dia tinggalkan sosok Rezky dan berlalu dari ruangan tersebut.
Ardy beserta Sarah, Nola dan Mang Sapri tiba di pelataran parkir rumah sakit.
“Mang, biar saya saja, deh, yang bawa mobilnya,” kata Ardy meminta kunci kendaraan pada Mang Sapri.
Mang Sapri terkejut.
“Jangan, Den! Nanti kalau Tuan tahu, saya bisa dimarahi,” jawab Mang Sapri ragu.
“Biar nanti saya yang akan jelaskan sama Papa,” Ardy memaksa, “sini kuncinya, Mang!”
Dengan berat hati dan ragu, Mang Sapri menyerahkan kunci mobil ke tangan Ardy.
Ardy membuka pintu mobil diikuti Sarah yang duduk di sebelahnya. Semenatara Mang Sapri dan Nola duduk di kursi belakang. Sebentar kemudian, kendaraan itu pun melaju meninggalkan rumah sakit.
Hujan yang turun sejak sore tadi, membuat warga yang biasa duduk nongkrong di sepanjang jalanan, enggan keluar menampakan diri. Mereka lebih betah berkumpul bersama keluarga sambil menikmati berbagai tayangan televisi.
Saat laju kendaraan berbelok menuju rumah Sarah, tiba-tiba seseorang melintas di depan kendaraan menyeberangi jalanan. Spontanitas, Ardy menginjak pedal rem dalam-dalam. Menimbulkan jerit ban yang beradu dengan permukaan aspal yang basah dan licin tergenang air hujan. Seisi kendaraan berseru kaget.
Ardy mengelus dadanya dengan bunyi jantung yang berdegup kencang. Aliran darahnya seperti terhenti seketika.
“Ada apa, Dy?” tanya Sarah yang juga merasa kaget dan terengah dengan nafas yang belum teratur.
Ardy memandang ke depan sambil menunjuk jalan.
“Ada apa, sih, Den?” Mang Sapri ikut bertanya penasaran.
Matanya ikut menoleh ke arah yang ditunjuk Ardy.
“Ada orang tertabrak! Di depan sana! Lelaki kumal itu!” seru Ardy terbata-bata.
Mang Sapri segera turun dan memeriksa sekeliling kendaraan. Namun dia tak menemukan apapun di sana. Hanya kegelapan yang ada.
“Tidak ada apa-apa, Den!” teriak Mang Sapri dari luar kendaraan.
__ADS_1
Ardy penasaran.
Dia ikut memeriksa, bahkan sampai jongkok melihat-lihat bagian bawah kendaraan. Hasilnya tetap sama sebagaimana yang diucapkan Mang Sapri tadi.
“Aneh, tadi aku benar-benar melihat orang aneh itu menyeberangi jalan secara tiba-tiba, lalu tertabrak. Tapi ... ya Tuhan! Kejadian apalagi yang sedang kualami ini? Apakah aku sudah gila?” tanya Ardy kebingungan.
Mang Sapri menghela nafas melihat anak majikannya itu.
“Mungkin tadi Aden melamun,” ujar Mang Sapri sambil menepuk-tepuk pundak Ardy.
“Sumpah, Mang! Saya tadi melihat ada ... ya, Allah!” tiba-tiba Ardy teringat sesuatu, “laki-laki yang menyeberang jalan itu tadi ... laki-laki kumal dan gila itu, Mang!”
Sarah ikut keluar dari dalam kendaraan dan terkejut mendengar ucapan Ardy barusan. Terlebih lagi Mang Sapri.
“Mungkin kamu perlu istirahat, Dy! Kamu terlalu banyak tertekan. Sehingga kembali berhalusinasi,“ ujar Sarah.
Ardy balik menatap Sarah.
“Berhalusinasi? Kamu tidak percaya sama aku, Sarah! Tadi aku benar-benar melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!” seru Ardy keras, “aku yakin ini bukan halusinasi, Sarah! Ini sebuah peringatan!”
Sarah tersenyum dan berusaha menenangkan sahabatnya itu.
“Peringatan? Peringatan apa, Den?” tanya Mang Sapri semakin heran dengan kata-kata anak majikannya itu.
Ardy membalikan badan. Menatap Mang Sapri dengan sorot mata tajam.
“Saya yakin! Benar-benar yakin! Laki-laki kumal yang dianggap gila itu, pasti sedang berusaha memperingatkan kita. Atau setidaknya dia ingin memberitahu sesuatu pada kita. Khususnya ... saya! Bukti dari keyakinan saya itu adalah ternyata hanya saya yang bisa melihat wujud laki-laki itu!”
“Iya, tapi peringatan tentang apa, Ardy?” tanya Sarah kembali.
“Itulah yang tidak aku mengerti, Sarah. Tapi ... apa kalian ingat, ucapan laki-laki itu saat kejadian di lampu merah beberapa hari yang lalu?”
Sarah dan Mang Sapri menggelengkan kepala.
“Dia mengatakan kalau kita harus menjaga Rezky dari iblis sesat itu!” ujar Ardy mengingat-ingat.
Sarah dan Mang Sapri memang pernah mendengar kata-kata itu. Itu pun dari mulut Ardy sendiri, bukan orang lain atau bahkan laki-laki yang dimaksud Ardy tersbut.
“Oke, aku percaya sama kamu, Dy!” ujar Sarah menengahi, “begini saja, deh. Aku mempunyai seorang kakek yang tinggal di sebuah kampung. Beliau memiliki keahlian khusus dalam hal-hal semacam ini. Dan, kebetulan sekali kakekku itu akan datang besok ke rumahku!”
“Sekarang kita pulang dan istirahat. Besok kita sama-sama menjenguk Rezky bersama kakekku. Bagaimana?” Lanjut Sarah membuat Ardy agak sedikit tenang.
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1