Perjanjian Berdarah

Perjanjian Berdarah
Bagian 16


__ADS_3

...PERJANJIAN BERDARAH...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 16...


...------- o0o -------...


Dokter Santoso manggut-manggut. Kepalanya dipenuhi berbagai pertanyaan. Namun yang membuat dokter ini bingung adalah kondisi Tuan Karyadi dan Nyonya Amanda yang belum diketahui penyebabnya.


“Begini saja, kedua majikanmu ini akan saya bawa ke rumah sakit. Nanti kalau anak sulung majikanmu datang, bilang saja bahwa kedua orangtuanya di bawa ke rumah sakit. Bagaimana?” tanya dokter Santoso pada Mbok Inah yang masih diliputi perasaan bingung.


Setelah beberapa saat berpikir, barulah pembantu tua itu menyanggupi.


Dokter Santoso segera membenahi peralatan kerjanya dan bergegas keluar kamar. Lalu duduk di ruang tamu menunggu mobil ambulance datang.


“Dokter mau minum apa?” tanya Mbok Inah.


“Tidak, terima kasih. Tapi ... hhmmm ... air putih saja,” jawa dokter Santoso akhirnya.


Mbok Inah bergegas menuju dapur. Di sana ada Sri yang sedang mencuci alat masak. Begitu melihat ibunya datang, Sri menghentikan pekerjaannya.


“Bagaimana, Mak? Apakah Tuan dan Nyonya sudah sadar?” tanya Sri heran melihat wajah ibunya murung.


Mbok Inah menatap anaknya.


“Entahlah, Sri. Dokter tidak bilang apa-apa. Dia sendiri tampaknya bingung dengan yang terjadi pada Tuan dan Nyonya,“ jawab Mbok Inah sambil menuang air ke dalam gelas.


Sri penasaran.


“Dokter tanya apa sama Emak?”


Mbok Inah melirik.


“Dia hanya tanya ... mungkin selama ini kita pernah melihat Tuan dan Nyonya ribut atau apalah ... ! Sampai mereka mempunyai luka-luka seperti itu. Tahu, deh, Emak bingung,” Mbok Inah mengangkat gelas berisi air minum untuk dokter Santoso, namun tiba-tiba ditahan Sri.


“Biar sama Sri saja, deh, Mak! Sini, Sri bawain,” ujar Sri mengambil alih gelas yang sudah siap dibawa Mbok Inah menuju ruang depan.


Mbok Inah memberikannya dengan heran.


Kemudian Sri membawa gelas tersebut ke ruang tamu. Di sana dokter Santoso sedang duduk sambil mencatat sesuatu di atas selembar kertas.


Sri memperhatikannya sejenak.


Janda tanpa anak itu memandangi dokter muda itu dari kejauhan.


Begitu melihat kedatangan Sri, dokter Santoso tersenyum ramah.


“Ini airnya, dok,” kata Sri pelan namun matanya tak lepas menatap wajah dokter Santoso.


“Terima kasih,” jawab dokter itu kembali tersenyum.

__ADS_1


Sri tidak langsung pergi dari ruang tamu. Dia malah mendekati sosok dokter itu.


“Kira-kira menurut dokter, penyakit Tuan dan Nyonya itu apa ya, dok?” tanya Sri sekedar alasan untuk tetap bertahan berada di tempat.


Dokter Santoso menarik nafas sebentar sebelum menjawab pertanyaan pembantu muda itu.


“Saya belum bisa menyimpulkan apa pun. Mungkin di rumah sakit nanti kami akan memeriksanya dengan lebih teliti dan berusaha mencari tahu penyebabnya.”


Sri tampak akan mengatakan sesuatu namun agak bingung bercampur rasa malu.


“Ada apa? Tampaknya kamu hendak mengatakan sesuatu,” tanya dokter Santoso memperhatikan raut wajah Sri yang lumayan menarik.


“Tapi ... janji ya, dok? Apa yang akan saya katakan ini tidak akan dibicarakan dengan oranglain. Cukup hanya dokter dan saya yang tahu,” ujar Sri ragu-ragu.


Dokter Santoso mengernyitkan alisnya, “Apa yang kamu ketahui tentang kedua majikanmu itu?”


“Dokter harus janji dulu!” Sri menegaskan.


Dokter Santoso menganggukan kepala pelan, “Baik, saya berjanji!”


Sri tersenyum.


Sebelum bicara, dia memperhatikan keadaan sekeliling ruangan untuk memastikan bahwa tak ada oranglain di tempat itu terkecuali mereka berdua.


“Begini, dok!” Sri mulai bercerita, “semalam, tanpa sengaja, saya melihat Tuan dan Nyonya ... melakukan hubungan intim di sini. Di ruangan ini.”


“Oh ya?”


“Ya, persis ... di tempat yang saat ini sedang di duduki sama dokter ... “


“Saya melihat ... mereka melakukannya dengan cara yang tidak wajar!” sambung Sri seraya membuka sedikit belahan pakaian di bagian d*da.


“Maksudmu?” tanya dokter Santoso penasaran.


“Saya melihat ... Tuan mengigit pay*dara Nyonya hingga berdarah. Begitu juga dengan Nyonya, dia mencakari sekujur tubuh Tuan. Pokoknya ... sangat tidak wajar, saya pikir!”


Sri menggeser tubuhnya lebih dekat ke posisi dokter Santoso.


“Namun, saya perhatikan tampaknya mereka berdua tidak merasa kesakitan. Justru, sangat menikmatinya. Saya kira ... mereka semalam sedang kerasukan ... “ Sri menghentikan ucapannya.


“Kerasukan?” dokter Santoso tertegun mendengar cerita Sri tadi.


Sri tidak turut menceritakan apa yang dia lakukan semalam.


“Apakah kamu mengetahui perihal kehidupan majikanmu sehari-hari?” tanya dokter Santoso kembali.


“Tidak, saya baru beberapa hari bekerja di sini ... “ jawab Sri sambil kembali menggeser tubuhnya mendekati sosok laki-laki muda itu.


“Bukan. Maksud saya ... kehidupan s*ksual mereka ... “ dokter Santoso semakin dibuat penasaran.


Sri tampak bingung.

__ADS_1


“S*ksual? Apa itu, dok?”


“Maksudnya ... kehidupan dalam melakukan hubungan suami istri. Apakah mereka sering menggunakan suplemen tertentu untuk menambah stamina hubungan intim? Mungkin mereka pernah menyuruhmu membelikan obat-obatan tertentu? Eh ... kamu sudah menikah, 'kan?” tanya dokter Santoso seperti tengah menyelidik.


Mata dokter ini nanar memperhatikan belahan d*da Sri yang sengaja terbuka separuh.


Sri tertunduk dengan wajah merona merah.


“Saya janda, dok!” jawab Sri malu.


“Oh, maaf. Saya tak bermaksud lancang untuk .... “


“Tak apa-apa, dok.”


Dokter Santoso minum air yang tadi dibawakan Sri. Duduknya mulai tak nyaman. Sesekali laki-laki itu membetulkan posisi celananya.


“Oh ya, tadi kamu belum menjawab pertanyaan saya tentang obat-obatan itu.”


“Saya tak tahu, dok. Bukankah itu sangat pribadi, dok?” tanya Sri polos.


“Memang. Namun diusia seperti mereka, kadang sangat membutuhkan obat-obatan sejenis itu,” kata dokter Santoso berpikir.


Sri terdiam.


“Oh iya, siapa namamu?” tanya dokter Santoso pandangi wajah Sri, terutama bagian d*danya yang turun naik seiring helaan nafas.


“Sri. Sri Kemuning,” jawab perempuan muda itu singkat.


“Nama yang bagus. Sesuai dengan orangnya,“ puji dokter Santoso tanpa sadar.


“Dokter bisa saja,” jawab Sri tersipu.


Wajah perempuan muda itu memerah kembali.


Percakapan terhenti, begitu terdengar jeritan sirine di depan rumah. Dokter Santoso bergegas keluar. Dua orang petugas rumah sakit menyalami dokter itu.


“Selamat pagi, dok!” sahut keduanya begitu melihat dokter Santoso berdiri menyambut.


“Ya, pagi! Bawa pasien yang ada di kamar itu ke unit gawat darurat!”


“Baik, dok!”


Kedua petugas itu segera masuk ke dalam kamar. Memindahkan tubuh mereka ke atas tandu lalu membawanya ke dalam mobil ambulance.


Sebentar kemudian mobil ambulance itu pun melaju sambil meraung-raung di sepanjang perjalanan.


Mang Sapri, Mang Kurdi, Mbok Inah, Sri dan Nola hanya bisa memandangi dengan pilu.


“Ya, Tuhan, ke mana Den Ardy pergi? Sudah siang begini masih belum kembali?” kata Mbok Inah dalam hati.


“Non Nola tidak sekolah?” tanya Mbok Inah melihat anak gadis itu termenung.

__ADS_1


Nola mengangkat bahunya. “Entahlah, Mbok. Sepertinya Nola tidak sekolah hari ini. Kak Ardy 'kan, belum pulang.”


...BERSAMBUNG...


__ADS_2