
...PERJANJIAN BERDARAH...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 29...
...------- o0o -------...
"Apakah Papa pikir selama ini Ardy tidak tahu apa yang Papa lakukan di luaran sana dengan alasan urusan bisnis itu, Pa?"
Tuan Karyadi menekan telapak tangannya di pundak Ardy.
"Maksudmu apa, Dy?"
"Papa jangan pura-pura bingung, aku tahu Papa bisa menjawabnya dengan jujur. Tapi ada alasan lain yang sengaja Papa sembunyikan dari aku, kan, Pa?"
"Jangan-jangan anak ini sudah mengetahui perihal pesugihan yang aku lakukan itu?" tanya Tuan Karyadi dalam Hati.
"Papa sama sekali tidak mengerti, Dy?" Tuan Karyadi pura-pura tidak tahu.
Ardy menghentakan kakinya, "Tidak mengerti? Ardy sudah besar dan dewasa, Pa! Ingat itu! Ardy sudah paham mana suara Papa yang jujur dan tidak. Kalau pun Papa tidak mengatakan secara langsung, tapi ... sikap Papa itulah yang selama ini kami maknai, Pa!"
"Papa benar-benar tidak paham maksudmu."
Ardy menggaruk kepalanya menahan rasa jengkel yang kian memuncak. Anak muda itu berdiri dari duduknya.
"Lihat selagi almarhumah Nola masih hidup. Sekarang ... bagaimana dengan Mama?" Ardy menaikan tensi suaranya, "apa yang Papa lakukan selama ini? Apa tanggung jawab Papa melihat kehidupan mereka yang semakin di luar kendali Papa sebagai sosok seorang pemimpin keluarga?"
"Papa sudah sering menasihati Nola dan Mama kamu, Dy. Tapi ... mereka sendiri yang tidak mau mendengarkan kata-kata Papa," Tuan Karyadi berusaha membela diri tapi sekaligus lega karena perkiraan tentang rahasia pesugihannya masih belum diketahui anak-istri serta pekerja di rumah.
Ardy menatap mata Tuan Karyadi, "Itu karena Papa sendiri sama-sama memiliki kehidupan pribadi di luaran sana, Pa. Bermain-main dalam kesenangan semu dengan perbuatan-perbuatan yang dilarang Tuhan. Papa sudah melupakan Tuhan!"
"Ardy ... !" telapak tangan Tuan Karyadi berayun dengan cepat dan siap mendarat dengan keras di wajah Ardy, namun keburu sadar dan menahannya seketika.
Ardy tersenyum kecut.
"Apa? Papa mau menamparku, kan? Lakukanlah sebagaimana yang selama ini sering aku terima dari Mama. Silakan! Aku tak akan membalas, Pa!" Ardy mendekatkan wajahnya, menantang.
__ADS_1
Tuan Karyadi segera menurunkan tangannya.
"Kenapa? Papa tak mau menyakiti fisikku, tapi sikap Papa selama ini justru telah banyak menyiksa apa yang ada di dalam ini, Pa!" Ardy menunjuk dadanya sendiri.
"Maafkan Papa, Dy." Tuan Karyadi menunduk.
Raut mukanya mendadak murung. Namun bukan itu sebenarnya yang ada di balik tempurung kepala tua itu, dia khawatir anak itu akan lari dari rumah di saat jiwanya sudah dipesan oleh makhluk berkepala anjing tersebut dikemudian waktu.
Tuan Karyadi memeluk tubuh Ardy dengan erat sambil menangis dalam kepura-puraan, "Maafkan Papa, Dy! Ini semua salah Papa yang terlalu sibuk dengan urusan sendiri hingga melupakan kalian semua!"
"Setidaknya jangan sampai kamu pergi dariku sampai Mbah Jerangkong menjemputmu nanti, Nak! Karena kehadiranmu sangat aku butuhkan demi kelangsungan hidupku dan semua kekayaan yang ada ... "
Ardy membalas pelukan orangtua yang selama ini dia cintai. Anak muda itu tidak tahu apa sebenarnya yang sedang direncanakan oleh orang yang selama ini dianggap sebagai papanya tersebut.
"Kembalilah seperti kehidupan kita yang dulu, Pa. Aku sangat merindukannya ... " ujar Ardy disertai isak tangis yang sudah tak dapat lagi dibendung.
Tuan Karyadi mengangguk, "Ya, Papa berjanji! Papa akan berusaha untuk memperbaiki kesalahan yang sudah terjadi. Asalkan kamu mau membantu Papa mewujudkan semua itu."
"Tentu, Pa. Dengan senang hati."
Tuan Karyadi melepaskan pelukannya.
Ardy mengangguk perlahan.
"Semoga hal yang sama juga dilakukan oleh Mama, ya, Pa!"
"Kita doakan saja, Dy! Papa sayang sama kamu," ujar Tuan Karyadi.
Setelah mendekap kembali sesaat, Tuan Karyadi bergegas ke kamar tidurnya menemui Nyonya Amanda, meninggalkan sosok Ardy yang masih berdiri mematung di ruang tengah.
Anak muda itu terlihat sangat lelah setelah semalaman diinterogasi di kantor polisi sekaligus mengurusi jenazah Nola, sampai turut pula mengantarnya ke pekuburan.
Acara pemakaman Nola dan Mang Kurdi diwarnai dengan isak tangis para warga yang ikut mengantar dan hadir di sana. Desas-desus pun mulai terdengar.
Kabar tentang Tuan Karyadi yang menjalani pesugihan mulai tersebar di masyarakat sekitar. Namun tak ada Satupun yang berani berbicara sembarangan ataupun sekedar menunjukan rasa benci mereka pada sosok laki-laki kaya raya itu. Mereka takut akan dijadikan tumbal.
Keluarga Sarah dan Mbah Suko juga ikut hadir dalam acara tersebut.
__ADS_1
"Aku turut berduka cita atas kejadian yang menimpa adikmu, Nola, Dy ... " Sarah mendekati Ardy usai para pelayat meninggalkan area pemakaman.
Ardy melirik sekilas pada Sarah yang berdiri persis di sampingnya.
"Terima kasih, Sar!" jawab Ardy masih larut dalam kesedihan, "tapi ... tanpa bermaksud apa-apa, aku mohon tinggalkan aku sendiri di sini beberapa saat. Aku ingin sendiri ... "
Sarah menatap kakeknya, Mbah Suko, mendengar ucapan Ardy itu.
Mbah Suko menyilangkan jari telunjuk tepat dibibir tuanya, meminta Sarah agar tidak lagi mengajak Ardy berbicara. Tapi gadis itu masih ragu. Dia ingin sekali menyampaikan permintaan kakeknya agar Ardy berkenan datang ke rumahnya dan berbicara banyak dengan Mbah Suko yang tak lain adalah ayah kandung Ardy sendiri.
"Kalau kamu butuh seseorang untuk berbicara, datang saja ke rumah, ya, Dy! Kebetulan kakekku ingin ngobrol sama kamu ... " ujar Sarah sesaat sebelum dia meninggalkan sosok Ardy yang masih terdiam dengan isaknya.
"Maaf, sudah aku bilang ... aku ingin sendiri dulu, Sar!" tegas Ardy tanpa menoleh sedikit pun pada Sarah.
"Baiklah, Om! Aku tunggu di luar komplek pemakaman ini, ya?" Sarah melangkahkan kakinya.
"Om ... ?!" gumam Ardy bingung, "maksudnya apa Sarah memanggilku dengan sebutan itu?Tak mungkin kata itu dia tujukan pada kakeknya. Bukankah dia datang ke sini hanya ditemani ibunya serta Mbah Suko?"
"Sar ... " Ardy berseru.
Sarah menghentikan langkahnya disusul ibu serta kakeknya.
"Ada apa, Dy? Kamu mau ... "
"Kamu memanggilku dengan sebutan 'Om'-kah?"
Sarah terkejut. Gadis itu mendadak gelagapan.
"Oh, tidak. Tadi aku lagi nelpon sama Oom aku yang ada di luar komplek ... " terpaksa Sarah berbohong demi menutupi keteledorannya tadi.
Ardy memicingkan kelopak matanya, "Oom kamu? Bukankah kamu hanya datang bertiga dengan ibu dan kakekmu, Sar?"
Ibu Sarah dan Mbah Suko saling berpandangan mata.
"Ah, lupakanlah, Dy! Nanti kita bahas lagi saat kamu datang ke rumahku, ya?!"
Sarah cepat-cepat menarik lengan ibu dan kakeknya agar segera meninggalkan Ardy sebelum anak muda itu bertanya lebih lanjut.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...