Perjanjian Berdarah

Perjanjian Berdarah
Bagian 35


__ADS_3

...PERJANJIAN BERDARAH...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 35...


...------- o0o -------...


Sementara jarum jam terus merambat mendekati pukul dua belas malam. Sebagian penghuni rumah sudah terlelap tidur. Terkecuali Nyonya Amanda dan Tuan Karyadi. Mereka berdua masih terjaga.


Nyonya Amanda terbaring di atas tidur, memperhatikan tingkah laku suaminya yang duduk bersila di lantai, sambil menghadapi bunga-bunga dan pedupaan.


Udara terasa dingin menusuk tulang. Berhembus melalui ventilasi jendela hingga menggerakan kain gorden. Melambai-lambai kian cepat seakan tengah memanggil tamu yang sedang ditunggu Tuan Karyadi.


Laki-laki tua itu merapal kalimat-kalimat dengan bahasa yang tak dimengerti. Tak lama kemudian, lantai pun berguncang.


Nyonya Amanda terkejut dan bangkit dari rebahan.


"Gempa bumi?" gumam Nyonya Amanda ketakutan. Dia segera turun dari tempat tidur, "Pa, ada gempa! Kita lari ke luar!"


Tuan Karyadi menoleh sesaat sambil terus merapalkan kalimat-kalimat anehnya.


"Papa, ada gempa!" seru Nyonya Amanda panik.


Tuan Karyadi menyeringai menatap istrinya. Pandangannya tajam menguliti setiap lekuk tubuh, dengan nafas semakin memburu.


"Papa?" Nyonya Amanda bergidik.


Wanita itu beringsut mundur ketakutan melihat tatapan mata suaminya yang mulai aneh.


Seringai mengerikan kembali hadir menyeruak di bibir Tuan Karyadi. Laki-laki itu berdiri dan melucuti pakaiannya satu persatu, sambil terus menatap Nyonya Amanda.


"Papa."


...------- o0o -------...


Sri Kemuning membuka matanya. Perempuan muda itu bangkit dari tempat tidurnya, sambil membelalakan matanya dengan lebar. Menyapu sesaat ke semua penjuru kamar. Hanya menemukan kegelapan dan sesosok tua Mbok Inah, ibunya, yang sedang tergolek tidur dengan pulas.


Perlahan dia melangkah keluar kamar. Berjalan limbung menuju sebuah tempat. Kamar Ardy.


Pintu kamar anak muda itu tak dikunci. Dengan leluasa, Sri memasukinya perlahan.


Lekat mata Sri memandang sosok Ardy yang sedang terbaring di atas tempat tidur. Senyum menggidikkan tersungging di bibirnya sambil leletkan lidah.


"Malam ini, aku akan mengambil anak ini sebagai tumbalku ... " gumam Sri dengan suara parau dan besar.

__ADS_1


Suara itu bukan suara Sri Kemuning. Tetapi suara makhluk berkepala anjing yang merasuk ke dalam tubuh Sri Kemuning.


Jemari lentik Sri bergerak perlahan membuka kancing baju Ardy.


Ardy terbangun di saat Sri tengah berusaha membuka bajunya.


"Sri ... Aaa ... paaa yang ... kaulakukan?" Nafas Ardy terengah.


Sri tersenyum menggoda.


"Tetaplah tenang dan berbaring di tempat tidurmu," bisik Sri menahan gerak tubuh Ardy yang hendak bangkit dari tidurnya.


Lalu perlahan perempuan muda itu menurunkan wajahnya dan ....


Tiba-tiba sontak dari luar jendela melayang seberkas sinar putih terang, melesat masuk ke dalam kamar Ardy dan menabrak tubuh Sri dengan hebat. Perempuan muda itu terpental ke belakang dan terjerembab di lantai dengan


keras.


Sri bangkit sambil menggeram persis seekor anjing yang marah. Matanya menyala merah membara.


"Keluar kamu dari tubuh perempuan itu, atau aku akan memaksamu kembali ke tempat asalmu!" bentak satu suara yang berasal dari sinar putih menggelegar.


Sri tertawa panjang.


"Iblis sesat pengecut! Jangan berlindung di balik tubuh perempuan tdak berdaya itu! Keluar!" suara dari sinar putih itu terdengar marah.


Sri Kemuning kembali tertawa keras.


Kemudian sinar putih itu segera bergerak cepat ke arah tubuh Sri dan membelitnya dengan kuat.


"Dengan cara seperti ini, kau akan membunuh tubuh perempuan ini, bodoh!" teriak Sri kesakitan.


Perempuan yang dikuasai iblis berkepala anjing itu tidak berdaya melawan belitan sinar putih tersebut.


Darah segar mengalir dari mulut dan hidung Sri. Tubuhnya bergetar dan perlahan memucat.


"Jangan bunuh Mbak Sri!" teriak Ardy melihat wajah Sri semakin membiru.


Anak muda itu berusaha bangkit namun mendadak sekujur tubuhnya terasa kaku dan tak bertenaga. Dia hanya bisa berteriak meminta menghentikan semua itu.


"Tubuh dan akal manusia dipengaruhi oleh hati manusianya itu sendiri. Maka sudah tentu kau berlindung di sana, kan?" suara yang berasal dari sinar putih itu memekakan telinga.


Ardy sampai menutup telinganya. Suara hentakan itu seperti akan memecah


seisi kepala.

__ADS_1


Kemudian sinar putih menyilaukan itu melepaskan belitannya di tubuh Sri Kemuning, lalu bergerak melesat ke dalam rongga mulut Sri yang terbuka. Berlari di dalam tenggorokan.


Sri menjerit kesakitan. Darah segar kembali memuncrat melalui mulut dan hidungnya.


"Ampuuunn ... !!! Panas ... !!!" teriak Sri memilukan dan bergerak limbung, lalu jatuh bergulingan ke sana ke mari, "hentikan! Hentikan! Panaaasss ... !!!"


Darah dari mulut dn hidungnya semakin banyak keluar membasahi lantai. Anehnya, darah tersebut mengepulkan uap.


Diakhiri lolongan keras menyakitkan, sinar putih itu melesat ke luar dari mulut Sri sambil menarik sesosok tubuh makhluk berkepala anjing.


BRAK! BRAK!


Sosok makhluk mengerikan itu jatuh menabrak daun pintu kamar hingga tanggal dari tempatnya. Tubuhnya menggelepar kesakitan, menatap tajam ke arah sinar putih yang perlahan berubah wujud menjadi sosok seorang manusia. Laki-laki tua berpakaian kumal.


Ardy menatap lekat sosok tersebut tanpa mau berkedip.


"Dia ... ? Ternyata ... dia lagi?" gumam Ardy dengan kondisi tubuh yang lemah tak berdaya.


Iblis berkepala anjing itu terkapar di lantai sambil mengerang kesakitan. Sementara Sri masih tergeletak tak sadarkan diri.


"Ampunilah aku, wahai manusia sakti!" ujar iblis berkepala anjing itu menghiba sambil menyembah sosok laki-laki berpakaian kumal tadi.


"Iblis sesat! Tempatmu bukan di sini! Tuhan menghukummu dan semua keturunanmu untuk tidak pernah memiliki tempat di muka bumi ini! Sudah sepantasnya aku pun tak akan mengampunimu sampai kapan pun!" seru laki-laki


itu, "sekarang aku akan bakar muka anjingmu itu dengan ayat-ayat suci! Agar mukamu yang buruk itu semakin tak berbentuk!"


"Jangan! Jangan lakukan itu!" sergah makhluk berkepala anjing itu kembali menghiba, "aku akan pergi dari sekarang juga! Aku tidak akan mengganggu keluargamu lagi!"


Sosok laki-laki berpakaian kumal itu berpikir sejenak.


"Pergilah! Jangan pernah kembali lagi!" kata laki-laki itu akhirnya, "sekali lagi kau ganggu cucuku, maka kau tak akan pernah kuampuni!"


"Baiklah! Aku tidak akan mengganggu keturunanmu lagi. Aku pergi," kata iblis berkepala anjing itu sambil melayang menembus dinding kamar.


Setelah makhluk itu lenyap, laki-laki berpakaian kumal itu segera mendekati Ardy yang masih terbaring tak berdaya. Dia tersenyum dan membelai rambut Ardy penuh kasih.


"Alhamdulillah, kau selamat, Cucuku. Aku tidak datang terlambat, kan?" tanya laki-laki itu ramah.


Ardy tercekat, "Kau sering menemuiku, siapakah sebenarnya kau ini? Sekarang kau memanggilku dengan sebutan cucu, apakah ... "


"Aku adalah kakekmu. Ayahnya Karyadi yang telah kau anggap sebagai ayahmu sendiri, Nak," laki-laki itu kembali tersenyum, "mungkin kau pernah mendengar cerita tentangku dari seseorang, kan? Orang itu tak lain adalah ... ayahmu sendiri. Namanya Matsuko Hardjo, atau biasa dipanggil Mbah Suko."


"Mbah Suko?"


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2