
...PERJANJIAN BERDARAH...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 36...
...------- o0o -------...
"Aku adalah kakekmu. Ayahnya Karyadi yang telah kau anggap sebagai ayahmu sendiri, Nak," laki-laki itu kembali tersenyum, "mungkin kau pernah mendengar cerita tentangku dari seseorang, kan? Orang itu tak lain adalah ... ayahmu sendiri. Namanya Matsuko Hardjo, atau biasa dipanggil Mbah Suko."
"Mbah Suko?"
"Ya, semua apa yang telah dia katakan itu benar adanya. Kau dan aku telah mengalami hidup seperti ini karena ulah Karyadi yang telah bersekutu dengan iblis sesat itu," ujar laki-laki berpakaian kumal yang mengaku sebagai kakek Ardy ini sambil mencubit hidung cucunya.
"Kakek ... " sahut Ardy sambil memeluk kakeknya dengan perasaan bahagia dan rindu teramat dalam.
Orang tua itu menyambutnya dengan hangat.
"Kakek, kan, sudah lama meninggal. Mengapa Ardy masih bisa merasakan kalau Kakek ini masih hidup dan bisa bersentuhan?" tanya Ardy heran.
Orang tua itu kembali tersenyum.
"Ketahuilah, Cu, sebenarnya jasad kakekmu itu telah lama membusuk. Aku hanyalah sama-sama makhluk Tuhan yang sudah lama mengenal dan bersemayam di dalam tubuh kakekmu semasa hidup dulu. Aku bukanlah kakekmu yang sebenarnya, tapi rasa yang pernah kakekmu rasakan dulu, sama juga seperti yang aku rasakan saat ini. Kau bagai cucuku sendiri."
"Aku tak paham, Kek."
"Tanyalah nanti sama ayahmu sendiri. Dia lebih tahu tentang ayahmu dulu semasa hidup."
"Ayahku?"
"Ya, Mbah Suko! Aku hanya meminjam jasadnya sementara ... "
"Maksud Kakek?" Ardy semakin tak mengerti.
Kakek Ardy tersenyum.
Perlahan terjadi perubahan pada sosok tua berpakaian kumal itu. Wajah yang semula kelihatan tua kumal, kemudian berubah menjadi satu sosok laki-laki yang sudah dikenal Ardy sebelumnya, yaitu ... wajah Mbah Suko.
Sementara dari tubuh Mbah Suko keluar asap putih dan perlahan membentuk sesosok tubuh manusia berbentuk laki-laki berpakaian kumal tadi.
"Ayah ... " seru Ardy hendak memeluk kembali tubuh Mbah Suko penuh rasa bahagia.
"Eits ... " Mbah Suko menahan tubuh Ardy yang akan memeluknya.
__ADS_1
"Kenapa, Yah?"
Orang tua itu tertawa kecut, "Aku tak mau berpelukan dengan laki-laki yang tak menggunakan apa pun di tubuhnya."
Kakek Ardy tergelak di belakang mereka.
Ardy terkejut dan baru menyadari kondisi tubuhnya yang masih polos setelah semua pakaiannya direnggut Sri tadi.
"Maafkan aku, Anakku. Maafkanlah ... " Mbah Suko akhirnya memeluk Ardy setelah kembali mengenakan pakaiannya.
Kakek Ardy tersenyum bahagia melihat cucu dan menantunya telah bertemu dalam kebahagiaan dan kedamaian.
Ardy melepaskan pelukannya dan balik menatap sang kakek. Tangan anak muda itu bermaksud menggapai sosok orang tua berpakaian kumal itu.
"Percuma saja, Cu. Dalam wujud Kakek yang sekarang ini, kamu tidak akan bisa menyentuh Kakek," kata Kakek Ardy membuat anak muda itu mengurungkan niatnya.
"Kenapa, Kek?"
"Karena aku harus meraga sukma terlebih dahulu dengan tubuh manusia. Wujud Kakek tidak seperti manusia seperti kalian."
"Ardy semakin tak mengerti."
Sang Kakek tersenyum, "Belajarlah pada Ayahmu. Dia nanti yang akan mengajarimu ... "
"Sekarang aku harus pergi. Dan kau ... " Kakek Ardy menunjuk Mbah Suko, "jaga cucuku dengan taruhan nyawamu sendiri. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan dia, aku akan datang kembali membuat perhitungan denganmu, Suko!"
"Saya akan menjaganya dengan baik, Pak," jawab Mbah Suko.
Kakek Ardy melambaikan tangan pada mereka berdua, kemudian perlahan menghilang tak berbekas.
"Ardy masih belum mengerti tentang apa yang tadi Kakek bicarakan, Yah," Ardy berpikir keras.
"Yang mana?" tanya Mbah Suko ikut berpikir.
"Sosok Kakek tapi beliau bukan Kakekku yang sebenarnya. Maksudnya bagaimana, sih, Yah?"
"Ooohh ... itu!" Mbah Suko tersenyum, "dia khodam Kakekmu dulu."
"Khodam? Apa pula itu, Yah?"
"Khodam itu sejenis jin yang mendekati manusia sejak lahir hingga meninggal. Makanya makhluk yang satu itu mengenal betul sosok yang selalu dia dampingi seumur hidupnya."
Ardy berpikir kembali, "Maksud Ayah, setiap manusia memiliki jin pendamping?"
__ADS_1
"Betul. Kau, aku, Kakekmu, Karyadi dan semua manusia pada umumnya."
"Apakah jin khodam itu baik?"
"Sebagai makhluk Tuhan, sebagaimana manusia pada umumnya, kaum mereka juga ada yang baik dan ada pula yang buruk. Tergantung bagaimana perilaku kita semasa hidup, tentu jin yang mendampingi juga akan meniru hal yang sama."
"Lalu bagaimana dengan sosok mahkluk yang tadi merasuki tubuh Mbak Sri?"
"Itu makhluk jin juga, tapi dari golongan yang jahat. Tugasnya sama seperti syethan, yaitu untuk menyesatkan umat manusia. Kuntilanak, pocong, genderuwo, wewe gombel dan lain-lainnya adalah sama-sama makhluk jin dari bangsa yang berbeda. Tidak ada istilah hantu dalam agama, yang ada adalah jin."
"Lalu bagaimana dengan cerita tentang orang yang sudah meninggal dunia, lalu hidup kembali dalam rupa hantu bergentayangan, Yah?"
"Itu kerjaan jin Qarin. Tugasnya sama-sama membuat manusia tersesat dalam hidupnya. Jauh dari Tuhan dan agama. Tak ada manusia yang sudah meninggal bisa hidup kembali, semua sudah berada di alamnya sendiri. Tak akan mungkin bisa berinteraksi dengan manusia. Namun jikalau ada yang mengaku-ngaku sebagai perwujudan dari orang yang telah meninggal, sudah dipastikan dia hanya bermaksud membuat umat manusia takut terhadap kaum mereka, bukan terhadap Tuhan."
Ardy menganggukan kepala, "Lalu Mbak Sri?"
Ardy tidak meneruskan ucapannya begitu melihat dan menyadari sosok Sri masih tergeletak di lantai dengan kondisinya yang tak sepatutnya dilihat.
Mbah Suko segera menutup tubuh polos Sri dengan selembar selimut. Lalu orang tua itu segera merapal kalimat-kalimat suci di samping tubuh perempuan itu.
Tak berapa lama, Sri membuka matanya.
"Di mana aku?" tanya Sri bangkit dan berusaha menutupi sekujur tubuhnya dengan kain selimut.
"Pergilah ke kamarmu dan kenakan kembali pakaianmu, Nak," ujar Mbah Suko seraya membuang arah pandangannya dari tubuh Sri.
"Mengapa aku ada di sini, Den?" tanya Sri heran sambil memandang Ardy dengan rasa malu yang tiba-tiba menggayuti hati.
"Saya tak tahu, Mbak!" jawab Ardy sama-sama memandang arah lain, namun kepalanya masih teringat dengan jelas bagaimana awalnya dia terbangun dan mendapati perempuan itu tengah berusaha membuka semua pakaiannya. Hingga ....
"Pergilah ... " perintah Mbah Suko meminta Sri segera keluar dari kamar anaknya.
Sri menurut.
Sementara itu kita lihat apa yang terjadi saat iblis berkepala anjing itu pergi, setelah kalah bertarung dengan Kakek Ardy dan Mbah Suko. Makhluk itu tidak benar-benar pergi, dia menyelinap masuk ke dalam kamar Tuan Karyadi dan Nyonya Amanda.
Dengan kedua bola mata menyala merah, mahkluk itu menatap Tuan Karyadi yang sedang bergumul hebat dengan istrinya.
"Apa maumu? Mengapa datang menggangguku, ******?" tanya Tuan Karyadi menghentikan kegiatannya dan menoleh garang ke arah makhluk tadi, "apakah kau berhasil mengambil anak muda itu?"
Makhluk berkepala anjing itu menggeram sambil menggelengkan kepala.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1