Perjanjian Berdarah

Perjanjian Berdarah
Bagian 28


__ADS_3

...PERJANJIAN BERDARAH...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 28...


...------- o0o -------...


Perempuan muda itu kembali menuju kamar majikan laki-lakinya. Tampak sosok Tuan Karyadi tengah duduk bersila di sisi bawah tempat tidur dengan mata terpejam, sambil merapalkan mantera dengan bahasa yang tak dimengerti.


"Mbah Jerangkong! Aku sudah melaksanakan semua titahmu, kini apalagi yang harus kulakukan?" tanya Tuan Karyadi entah pada siapa, begitu Sri sudah berdiri persis di sampingnya dengan kondisi tubuh tanpa terhalang sehelai benang pun juga.


Mendadak dalam keremangan cahaya kamar, muncul sesosok tubuh besar dan tinggi di hadapan Tuan Karyadi.


Sosok itu berwujud manusia berkepala anjing dengan bulu-bulu lebat menyeramkan di sekujur tubuhnya.


Sosok itu tertawa buas.


"Bagus! Bagus! Kau memang pengikutku yang setia, Karyadi!" ujar sosok menyeramkan itu dengan suara bergema menggidikan.


"Terima kasih, Mbah! Aku akan selalu memberikan apapun yang Mbah minta. Asalkan ... Mbah juga berkenan memberikan kekayaan yang berlimpah padaku," jawab Tuan Karyadi dengan mata masih terpejam.


Sosok itu kembali tertawa.


"Tentu saja ... dan asal kauketahui saja, aku baru saja membawa anak perempuanmu sebagai imbalan atas harta kekayaan yang telah kuberikan itu. Tapi aku masih menginginkan tumbal lainnya, Karyadi!"


Tuan Karyadi tersentak namun tak berani membuka matanya sebelum ada perintah apapun.


"Tumbal lain, Mbah? Bukankah Mbah sudah mengambil anak perempuanku?" suara Tuan Karyadi sedikit tercekat karena harus kembali kehilangan salah satu keturunannya.


"Itu masih belum cukup, Karyadi!" bentak sosok makhluk menyeramkan itu menggelegar.


Tuan Karyadi tersurut takut, "Maafkan aku, Mbah. Maafkan atas kelancanganku barusan!"


Makhluk itu tertawa.


"Aku masih menginginkan dua korban lagi dari keluargamu!"


Kembali Tuan Karyadi tercekat.


"Mengapa harus secepat itu Mbah meminta korban lagi? Apakah anak perempuanku dan pekerja rumahku barusan tidak cukup, Mbah?" tanya Tuan Karyadi dengan rasa was-was.


"Jangan berani membantah perintahku, Karyadi! Apapun yang kuingin harus kauberikan!" bentak makhluk itu kembali dengan gegelar suaranya memenuhi ruang kamar, "kalau tidak, kausendiri yang akan menjadi tumbalku, Manusia Bodoh!"


Tuan Karyadi ketakutan.


"Ampun, Mbah! Maafkan aku," suara Tuan Karyadi hampir tak terdengar didera rasa takut yang luar biasa, "baiklah, apa yang selanjutnya Mbah inginkan? Asal jangan aku yang Mbah jadikan tumbal itu, Mbah!"


Tawa itu kembali bergema. Lebih keras dari sebelumnya.


"Aku menginginkan anak lelaki itu, Karyadi!"


Tuan Karyadi mengernyitkan dahinya, "Anak lelaki yang mana, Mbah? Bukankah anak lelakiku sudah Mbah ambil dulu?"

__ADS_1


"Bodoh! Anak lelaki yang selama ini tinggal bersamamu!"


"Ardy ... ?"


"Siapa lagi?"


"Tapi ... dia bukan anakku, Mbah! Dia anak adik perempuanku yang lama telah meninggal dunia."


"Kalau aku yang meminta, terus kauberhak menawar ... begitukah, Karyadi?"


"Maafkan aku, Mbah! Akan kuberikan siapapun yang Mbah inginkan. Termasuk ... ibu kandungku sendiri dulu, kan, Mbah?"


Makhluk itu tertawa, "Kau masih ingat saja, Karyadi? Hahaha!"


"Tentu saja akan selalu kuingat, Mbah!"


"Lalu ... bagaimana dengan anak laki-laki itu?"


"Ambillah kalau memang Mbah menginginkannya? Tapi ... " Tuan Karyadi agak sedikit ragu.


"Ada apa? Kau mau menawar kembali?"


"Tidak! Tapi maksudku--"


"Apa?!"


"Mbah suka pada laki-laki juga? Eh ... "


"Jahanam!" bentak makhluk itu dengan nada besar mengejutkan membuat nyali Tuan Karyadi semakin menciut, "kau pikir yang bercinta denganmu tadi itu aku, hah?! Emangnya eike ini makhluk homreng?! Idih ... gak cucok, deh!"


"Ada anak buahku yang perempuan menyukaimu dan anak laki-laki itu, Karyadi! Sedangkan aku ... hanya pernah ikut menikmati istrimu yang sudah mulai tua tapi masih ranum itu, Karyadi! Hahaha!"


'Setan lu! Ternyata elu doyan bini gue juga!' kata Tuan Karyadi dalam hati.


"Lalu ... satu korban yang Mbah inginkan itu ... siapa lagi, Mbah?" tanya Tuan Karyadi di antara rasa takutnya.


"Korban yang mana, ya?"


"Kan, tadi Mbah menginginkan dua korban lagi. Yang satu itu, kan, si Ardy. Terus ... satunya lagi siapa?" ada rasa kesal juga yang terselip di hati Tuan Karyadi.


"Ternyata penyakit pikun juga diderita makhluk beginian. Sial!"


Makhluk itu tertawa, "Aku menginginkan benih yang telah kautanam di dalam rahim perempuan yang telah kaugauli itu, Karyadi."


"Perempuan?" Tuan Karyadi berpikir, "perempuan yang mana, ya, Mbah? Banyak sekali perempuan-perempuan yang telah aku gauli selama ini. Ataukah ... istriku sedang mengandung anakku lagi?"


"Bodoh! Yang aku maksud ... perempuan yang yang baru saja kausetubuhi, Karyadi!"


Tuan Karyadi terkejut dan menoleh pada Sri yang masih berdiri mematung di sampingnya dengan tatapan kosong.


"Sri Kemuning?"


"Sri Kemuningkah namanya?"

__ADS_1


"Memang namanya seperti itu, Mbah."


"Nama yang mirip dengan nama warteg."


"Maksud Mbah?"


Iblis bermuka anjing itu tertawa terbahak-bahak. Merasa senang telah mempermainkan manusia yang beriman rendah dan rela menjadi pengikutnya itu.


...------- o0o -------...


Keesokan harinya, seisi rumah gempar dengan kematian Mang Kurdi yang tampak tak wajar. Ditambah lagi dengan berita tentang Nola yang disampaikan oleh pihak kepolisian setempat. Pagi-pagi sudah menyambangi kediaman rumah Tuan Karyadi.


Nyonya Amanda yang baru saja tiba di rumah, langsung shock berat begitu menerima kabar tersebut. Berulang kali wanita paruh baya itu jatuh pingsan. Di sisi lain, hanya Tuan Karyadi yang terlihat tenang dan tak banyak bicara.


"Dari mana saja kamu semalaman, Dy?" selidik Tuan Karyadi pada Ardy seusai prosesi pemakaman Nola usai.


Ardy melirik wajah Tuan Karyadi sesaat. Anak muda itu menyeka butiran air mata yang tergenang di pelupuk mata.


"Aku dari rumah kawan, Pa," jawab Ardy menceritakan awal mula menemukan adiknya, Nola, mengalami kecelakaan sampai tiba di rumah bersama dengan petugas kepolisian, "dari semalam malah belum tidur sama sekali, Pa."


Tuan Karyadi menatap tajam Ardy, "Akhir-akhir ini, kamu jarang ada di rumah. Kenapa? Apa karena Mamamu penyebabnya?"


Ardy menggelengkan kepala.


"Aku sudah terbiasa dengan sikap Mama, Pa. Lagipula .... "


"Lagipula apa?"


Ardy tersenyum kecut, "Bukankah Papa sendiri sekarang jarang ada di rumah?"


Tuan Karyadi membuang pandangannya ke lain arah.


"Papa, kan, ada urusan pekerjaan. Apalagi sekarang bisnis Papa semakin maju pesat. Semua itu dilakukan untuk kalian semua. Mamamu, kamu dan .... "


"Bagaimana dengan Nola?"


"Maksudmu?"


Sekali lagi Ardy tersenyum hambar, "Membiarkan Nola dengan kehidupannya sendiri sampai kejadian itu merenggut nyawanya."


Tuan Karyadi menepuk bahu Ardy, "Urusan kematian, itu sudah menjadi kehendak Yang Maha Kuasa, Nak. Kalau memang Dia sudah harus mengambil kembali apa yang Dia miliki, kita sebagai makhluk-Nya, bisa berbuat apa?"


Ardy menggelengkan kepalanya kembali.


"Bukan itu titik masalahnya, Pa?"


"Apalagi?"


"Apakah Papa pikir selama ini Ardy tidak tahu apa yang Papa lakukan di luaran sana dengan alasan urusan bisnis itu, Pa?"


Tuan Karyadi menekan telapak tangannya di pundak Ardy.


"Maksudmu apa, Dy?"

__ADS_1


"Papa jangan pura-pura bingung, aku tahu Papa bisa menjawabnya dengan jujur. Tapi ada alasan lain yang sengaja Papa sembunyikan dari aku, kan, Pa?"


...BERSAMBUNG...


__ADS_2