Perjanjian Berdarah

Perjanjian Berdarah
Bagian 31


__ADS_3

...PERJANJIAN BERDARAH...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 31...


...------- o0o -------...


"Pergilah dulu ke kamar dan kunci! Kita selesaikan masalah ini lain waktu! Ini bukan saat yang tepat untuk saling berbicara!" Ardy menuntun papanya agar duduk dan menjauh dari tempat Nyonya Amanda berdiri.


Wanita paruh baya itu sedikit melunak. Dia bergegas meninggalkan suaminya dan Ardy di ruang tengah dengan isak tangis yang pecah setelah sekian lama ditahan.


"Awas kamu!" ancam Tuan Karyadi tak henti-hentinya menatap murka sosok Nyonya Amanda sampai hilang di balik daun pintu kamar yang tertutup dengan keras.


"Sudahlah, Pa! Tenangkan dulu diri Papa!" Ardy masih memegangi bahu Tuan Karyadi agar tak bangkit dan berlari mengejar Nyonya Amanda.


Laki-laki setengah tua itu menurut sambil pejamkan mata.


"Papa mau minum?" tanya Ardy beberapa saat setelah tarikan nafas papanya mulai teratur.


Tuan Karyadi mengangguk pelan.


Ardy menyapu pandangannya ke arah dapur dan ruang belakang, tempat tidur Mbok Inah dan Mbak Sri berada.


"Mbok ... ! Mbok Inah ... !" panggil Ardy tanpa mau beranjak meninggalkan sosok Tuan Karyadi. Khawatir dia akan kembali menghampiri Nyonya Amanda di kamar.


Tak berapa lama muncul sosok Sri berjalan tergopoh-gopoh dengan wajah menunduk.


"Ada yang bisa saya bantu, Den?" tanya Sri tak berani menatap Ardy dan Tuan Karyadi.


"Aku memanggil Mbok Inah, bukan kamu, Mbak," ujar Ardy heran.


Sri mengangkat wajahnya sesaat, "Ibu sudah tidur di kamar. Kalau ada yang bisa dilakukan, biar saya saja yang kerjakan, Den!"


Tuan Karyadi menatap pembantu mudanya itu dengan seksama.


"Ya, sudah. Tolong ambilkan air putih untuk Papa, ya, Mbak," Ardy merasa ada gelagat yang tak wajar melihat tatapan mata Tuan Karyadi terhadap Sri, "cepetan, Mbak!"


"Baik, Den!" jawab Sri bergegas pergi ke dapur dan tak lama kembali lagi dengan segelas air putih di dalam gelas.


Ardy segera mengambil gelas yang disodorkan Sri lalu memberikannya pada Tuan Karyadi, "Minumlah, Pa! Biar lebih tenang."


"Terima kasih, Nak," balas Tuan Karyadi seraya mereguk habis isi gelas dengan cepat.


"Mau tambah lagi, Pa?"

__ADS_1


"Sudah cukup!"


Mata laki-laki itu terus menatap sosok Sri yang masih berada dekat mereka.


"Kamu pergilah tidur, Mbak. Sekalian, tolong panggilkan Mang Sapri ke sini, segera, ya!" Ardy tak menginginkan lebih lama keberadaan Sri di ruangan itu, melihat arah tatapan mata Tuan Karyadi tak bergeming padanya.


"Baik, Den!" jawab Sri singkat dan langsung berlalu dari sana tanpa berani berucap apapun.


"Untuk apa kamu panggil si Sapri, Dy?" tanya Tuan Karyadi setelah Sri pergi.


"Lebih baik kita keluar mencari sedikit udara segar, Pa," jawab Ardy sambil berpikir bahwa antara papanya dengan Sri memang sudah lama terjalin sebuah hubungan khusus, begitu menurut mamanya tadi.


Entah sudah sampai sejauh mana dan berapa lama. Untuk sementara, dia hanya fokus ingin membawa Tuan Karyadi keluar. Sangat riskan sekali membiarkan papanya tinggal sendiri di rumah dalam kondisi yang sedang panas seperti itu. Bisa saja pertengkaran papa dengan mamanya berlanjut atau bahkan ... sesuatu akan terjadi kembali dengan Sri, pembantu muda yang masih sintal itu.


Terus terang saja, Ardy merasa perih sekali mendengar kata-kata mamanya tadi. Bukan yang pertama kali, mama berbicara seperti itu. Menyebutnya sebagai seorang anak haram. Ditambah pula dengan sikap papa yang seakan-akan tengah menyembunyikan sesuatu di balik ucapannya tadi.


Entahlah ....


"Maafkan Mamamu, Dy. Papa pikir, dia tak bermaksud berkata seperti itu," Tuan Karyadi memulai pembicaraan saat sudah berada di sebuah cafe, "mungkin karena terlalu banyak memikirkan Rezky dan Nola."


Ardy mereguk minumannya sebelum merespon, "Benarkah apa yang dikatakan Mama itu, Pa? Ardy ini bukan anak kandung Papa dan Mana?"


Tuan Karyadi menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokan.


"Tidak benar, Dy! Kamu ini anak kandung Papa dan Mama. Jangan pedulikan ucapan dia tadi, ya?"


"Tapi ... kata-kata Mama itu keingetan terus, Pa," gumam Ardy, "Ardy yakin, Mama berkata seperti itu pasti tidak tanpa alasan, kan? Apalagi itu terjadi bukan pertama kali."


"Sudahlah! Abaikan saja dia, Dy! Sekarang fokus saja sama kehidupan dan kuliahmu. Sebentar lagi kamu wisuda, kan?" Tuan Karyadi mencoba mengalihkan pembicaraan.


Tiba-tiba Ardy menatap wajah papanya, "Kehidupan?"


"Ya, kehidupan kamu kelak. Masa depanmu!"


"Bukan itu maksudnya, Pa."


"Lalu?"


Semakin tajam tatapan Ardy menelusuri setiap kedip mata papanya.


"Kehidupan Papa ... "


"Yang mana maksudnya? Bisnis, keluarga, atau ... "


"Hubungan Papa dengan Mbak Sri!"

__ADS_1


Tuan Karyadi tertegun. Laki-laki setengah tua pura-pura mengambil gelas minum dan memainkannya beberapa saat.


"Kenapa Papa diam? Benarkah apa yang diucapkan Mama tadi bahwa Papa punya hubungan khusus dengan Mbak Sri?" tanya Ardy kembali.


Tuan Karyadi menggigiti bibir, "Tidak! Itu sama sekali tidak benar, Dy! Mamamu bohong! Mungkin dia ... "


"Semakin banyak Papa berbohong, semakin kelihatan keanehan sikap yang Papa perlihatkan."


"Ummhh ... beneran! Papa tidak bohong. Coba saja kamu tanya sama si Sri atau yang lainnya, mungkin?" Tuan Karyadi masih mempermainkan gelas di tangannya.


Ardy menggelengkan kepala.


"Terserah ... kalau Papa tidak mau berterus terang sama Ardy, mungkin suatu saat nanti akan tahu dengan cara lain."


"Sudahlah, Dy! Kita datang ke sini untuk mencari ketenangan, kan? Ngapain disibukan dengan hal-hal semacam itu? Ayolah, Nak!"


Kembali Ardy menggelengkan kepala.


"Selama Papa tak mau berkata jujur, Ardy tak akan bisa tenang, Pa. Itu artinya, janji Papa untuk memperbaiki keluarga masih belum bisa dipenuhi ... " Ardy bermaksud beranjak dari tempat duduknya, tapi keburu ditahan Tuan Karyadi.


"Duduklah dulu. Jangan pergi ke mana-mana. Papa masih belum selesai bicara."


Ardy menurut.


"Baiklah, Papa akan berkata jujur," lanjut Tuan Karyadi kemudian, "Papa dan si Sri ... memang pernah melakukan hal terlarang."


Ardy mengernyitkan keningnya.


"Berapa lama?"


"Ya, lumayan cukup lama. Walaupun sudah agak tua, Papa, kan, masih perkasa, Dy. Apalagi Papa selalu minum obat."


"Bukan itu maksudnya, Pa. Berapa kali Papa melakukannya?"


Tuan Karyadi mengekeh, "Oh, salah, ya?"


"Seriuslah, Pa!"


"Ya, Papa serius. Sangat serius."


"Lalu?"


Tuan Karyadi menarik nafas panjang, "Hanya sekali dan itu pun karena Papa kesepian."


"Kesepian? Mama bilang Papa juga sering main-main dengan perempuan lain di tengah kesibukan Papa di luaran sana, betulkah itu, Pa? Itu yang dinamakan kesepian?" suara Ardy sedikit keras.

__ADS_1


Tuan Karyadi menatap mata Ardy dalam-dalam, "Kamu masih muda, Dy. Belum paham tentang kehidupan rumah tangga. Apa yang Papa rasakan selama ini, belum bisa kamu mengerti."


...BERSAMBUNG...


__ADS_2