Perjanjian Berdarah

Perjanjian Berdarah
Bagian 33


__ADS_3

...PERJANJIAN BERDARAH...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 33...


...------- o0o -------...


Gadis itu memandangi wajah Ardy dengan seksama. Sebentar kemudian, dia memeluk erat tubuh Ardy.


"Sarah ... ? Ada apa ini?" Ardy semakin bingung dibuatnya dengan sikap sahabatnya itu.


Sarah semakin mempererat pelukannya.


"Ya, Tuhan! Mengapa aku dan dia harus ditakdirkan terlahir sebagai saudara? Padahal aku sangat mencintai laki-laki ini ... "gumam Sarah lirih.


"Aku sangat mengkhawatirkanmu, Dy!" ujar Sarah setelah melepaskan pelukannya dan lekat memandangi kedua mata Ardy.


Perlahan tangan gadis itu terangkat menuju wajah Ardy dan membelai lembut pipi anak muda itu perlahan. Lalu, segera mendekatkan wajahnya untuk mengecup bibir Ardy.


"Sarah ... " Ardy bingung namun membiarkan gadis itu menarik turun pelan kepalanya agar bisa sejajar.


Tiba-tiba terdengar suara mendehem dari dalam rumah.


"Ehemmm ... "


Ardy segera menarik lepas tarikan jemari tangan Sarah dan sedikit menjauhkan jaraknya dengan jantung masih berdetak kencang.


Sarah terdiam. Mungkin kecewa atau entahlah.


"Sarah, bawa masuk Nak Ardy ke dalam rumah," seru Mbah Suko dari arah dalam.


Sarah menurut. Kembali gadis itu menggandeng dan menarik lengan Ardy untuk segera masuk.


"Mbah ... " sapa Ardy begitu melihat sosok tua itu tengah duduk di atas kursi ruang tamu.


"Duduklah, Nak! Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu," Mbah Suko menatap lekat wajah Ardy.


"Kamu benar-benar mirip ibumu, Nak!"


Ingin rasanya orang tua itu memeluk sosok Ardy. Namun masih terhalang oleh keraguan yang timbul dalam hatinya. Apakah Ardy akan menerima kenyataan bahwa Mbah Suko adalah ayah kandung sebenarnya? Tidak. Belum saatnya.


Hanya bisa memendam rasa rindu yang sekian lama tersimpan, untuk bisa selalu bertemu dengan anak kandungnya. Kini kesempatan itu ada dan tinggal membulatkan tekad untuk berkata jujur, seperti yang sering dia pikirkan.


"Mbah ingin berbicara apa? Sepertinya ada sesuatu hal yang sangat penting?" tanya Ardy setelah mereka saling terdiam beberapa saat.

__ADS_1


Mbah Suko melirik ke arah cucunya, Sarah.


"Benar, Anak Muda!" jawab Mbah Suko pendek.


"Apa itu, Mbah?" Ardy bersiap untuk mendengarkannya dengan seksama.


"Begini ... " Mbah Suko mulai mengatur suaranya, "namaku ... Matsuko Hardjo. Panggil saja aku dengan sebutan ... Ayah! Eh, maksudku ... Mbah!"


Ardy mengerutkan keningnya, "Ayah ... ?"


"Mbah ... " Mbah Suko cepat-cepat meralatnya.


"Bukankah memang selama ini aku memanggilmu dengan sebutan Mbah?"


Mbah Suko menganggukan kepala, "Ya, kamu benar, Anak Muda. Anggap saja aku ini ... kakekmu!"


Ardy menatap Sarah, masih belum mengerti ke mana arah pembicaraan ini akan bermuara.


"Kamu dengarkan saja, Dy!" ujar Sarah begitu Ardy terus-terusan menatapnya dengan aneh.


"Ini ada apaan, sih, sebenarnya? Aku masih belum paham," tanya Ardy bingung.


Sarah menatap kembali kakeknya, "Ayolah, Kek! Bicaralah terus terang. Jangan basa-basi begitu!"


"Tenang, Anak Muda!" Mbah Suko menengahi, "aku akan berbicara perlahan mulai dari awal, agar kamu bisa memahaminya."


"Iya ... tentang apa?" Ardy semakin penasaran.


Orang tua itu menoleh sebentar pada Sarah, lalu mulai angkat bicara ....


"Jangan potong ceritaku, sebelum aku selesai berbicara, ya, Nak? Dengarkanlah ... Nak Ardy," Mbah Suko mulai mengawali cerita tentang semua yang pernah diceritakan pada Sarah beberapa waktu yang lalu. Perihal kehidupannya dulu hingga silsilah Ardy yang sebenarnya.


Mulanya anak muda itu tak begitu tertarik, namun setelah ada nama-nama tertentu yang disebutkan, dia mendengarkannya dengan seksama.


Selama bercerita, air mata Mbah Suko tak henti mengalir membasahi pipi tuanya.


"Begitulah ceritanya, Nak," ujar Mbah Suko mengakhiri rangkaian kalimat-kalimat yang mampu membuat jantung Ardy semakin kencang berdetak.


Anak muda itu menatap tajam mata Mbah Suko, seakan ingin menyakinkan bahwa orang tua itu tidak sedang berdusta.


"Tidak mungkin! Semua itu bohong, kan, Mbah?" Ardy menggelengkan kepalanya berulang-ulang.


Mbah Suko tak menjawab, namun dari isaknya yang sendu terdengar, seakan dia telah memberikan jawaban, bahwa semua yang telah diceritakannya adalah benar.


"Mbah sedang berusaha menghiburku, kan?" Ardy masih ragu seraya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Percayalah, semua itu memang benar terjadi, Om!" ujar Sarah ikut membantu kakeknya menjawab.


Ardy ganti menatap Sarah. Apalagi panggilan 'Om' yang disebut tadi, semakin membuatnya bingung.


"Tak mungkin, Sarah! Aku masih belum percaya."


"Apa yang dikatakan oleh Kakek tadi benar adanya, Om. Bahkan Kakek telah bersumpah dengan nama Tuhan. Kakek tidak akan pernah berani berbohong jika sudah menyangkut keyakinan beliau pada Yang Maha Kuasa."


Ardy menggelengkan kepala kembali. Begitu berat masalah yang tengah dihadapi, kini datang kembali hal baru dari seseorang yang mengaku sebagai ayah kandungnya.


"Ya, Tuhan! Cobaan apalagi, sih, yang Engkau berikan padaku ini?" Ardy memegang kepalanya.


"Ini bukan cobaan, Om. Tapi anugerah dari Tuhan yang telah diberikan-Nya kepada Om Ardy untuk menyingkap semua misteri kehidupan, yang selama ini Om rasakan dan miliki ... " Sarah berusaha menyakinkan.


"Tidak Sarah! Maafkan aku. Ini bukan tentang percaya atau bukan, tapi ... ya, Tuhanku, kalau memang ini benar, berikanlah petunjukMu padaku segera, Tuhan!" ucap Ardy sambil memejamkan matanya.


Mbah Suko mengangkat wajahnya, "Aku tidak akan memaksamu untuk mempercayai semua kata-kataku tadi, Nak. Tapi, hanya sering mengkhawatirkan keselamatanmu," Mbah Suko kembali terisak, "izinkanlah aku, orang yang telah mengaku sebagai ayahmu, untuk menjagamu dari incaran iblis sesat itu, walaupun nyawaku sendiri sebagai taruhannya!"


"Kakek ... " lirih Sarah memanggil Mbah Suko.


"Biarlah, Cu. Begitu banyak dosa yang telah aku perbuat hingga menyebabkan hidup anakku seperti ini," tangis Mbah Suko semakin menjadi.


Ardy membuka kedua matanya, "Berikan aku waktu untuk berpikir!"


Mbah Suko menganggukan kepala, "Baik, kalau memang itu yang kamu inginkan saat ini, Nak. Aku hanya mengingatkan padamu, sebaiknya jauhilah rumah yang kamu tempati selama ini."


"Aku tidak bisa meninggalkan keluargaku sendiri, Mbah!"


"Aku tahu. Aku tidak memintamu lari dari keluargamu di sana, pintaku hanya ... jauhilah rumah keluargamu itu!"


"Itu sama saja artinya aku harus meninggalkan keluargaku, kan, Mbah?"


Mbah Suko menatap kedua bola Ardy penuh kekhawatiran.


"Tidak! Tidak mungkin! Aku tidak mungkin melakukannya!"


Tangan Mbah Suko memegang bahu Ardy dengan lembut, "Tinggallah bersama kami di sini!"


"Ya, tinggal di sini saja, Om. Kami akan selalu membuka pintu rumah ini lebar-lebar untukmu," timpal Sarah menambahkan, "bagaimana, Bu?"


Ibu Sarah yang turut hadir di sana, menganggukan kepala diiringi senyumnya, "Tentu saja, Sarah. Ardy juga, kan, adiknya Ibu."


Kali ini pandangan Ardy beralih pada sosok Ibu Sarah yang baru saja bergabung dengan mereka. Anak muda itu tak pernah menyangka bahwa selama ini dia memiliki seorang kakak. Perempuan. Satu ayah, beda ibu.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2