Perjanjian Berdarah

Perjanjian Berdarah
Bagian 34


__ADS_3

...PERJANJIAN BERDARAH...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 34...


...------- o0o -------...


Kali ini pandangan Ardy beralih pada sosok Ibu Sarah yang baru saja bergabung dengan mereka. Anak muda itu tak pernah menyangka bahwa selama ini dia memiliki seorang kakak. Perempuan. Satu ayah, beda ibu.


Ardy benar-benar bingung. Mama sering mengatakan kalau dirinya anak haram. Sementara Papa tidak pernah mau berkata jujur. Kini ada seorang laki-laki yang mengaku sebagai ayah kandung dan juga seorang kakak perempuan.


Dia bingung, siapakah sebenarnya yang benar dan siapa yang telah berbohong menutupi sejarah hidupnya.


"Aku pamit dulu!" ujar Ardy akhirnya.


"Mau ke mana, Nak?" tanya Mbah Suko khawatir.


"Bermalam di sini saja, Om. Sampai semuanya aman!" Sarah berusaha menahan Ardy agar tak pergi dari rumah.


Ardy menatap mata gadis itu.


Bermalam di rumah Sarah? Tidak mungkin! Mengingat sikap Sarah padanya ketika hendak masuk rumah tadi, rasanya Ardy tetap harus pergi dan menjaga jarak dengannya.


"Terima kasih, aku yakin semua akan baik-baik saja. Semoga apa yang kalian khawatirkan tadi, tidak pernah terjadi padaku ... " Ardy segera bergegas meninggalkan mereka.


"Dik Ardy ... " panggil Ibu Sarah.


Ardy sesaat berhenti, kemudian segera masuk ke dalam mobilnya. Sebentar kemudian dia menghilang di tengah kegelapan malam.


Anak muda itu memang tidak pulang ke rumahnya, dia lebih memilih berkumpul dengan temannya dulu, David, Jocky dan Boma.


Dengan sedikit sogokan berbagai makanan yang sengaja dipersiapkan, ketiga anak muda itu menerima kehadiran Ardy dengan sepenuh hati.


"Kalo elu mau istirahat, tiduran aja di kasurnya Jocky, Dy," seru Boma yang langsung dipelototi pemilik kasurnya, Jocky.


Ardy tersenyum kecut, "Gue boleh tidur di mana aja, kan, guys?"


"Tentu! Boleh!" jawab ketiganya kompak lalu serempak menyerbu makanan yang dibawa Ardy tadi.


Sekali lagi, Ardy tersenyum melihat kelakuan teman-temannya tersebut.


Anak muda itu merebahkan tubuhnya di atas kasur David, matanya tertuju ke atas. Menerawang langit-langit kamar yang putih sambil mengingat-ingat kejadian demi kejadian yang telah terlewati.


Bayangan Rezky dan Nola kembali hadir dalam ingatannya. Teringat sosok polos Rezky yang tampak sangat ketakutan, saat ditinggalkannya dulu di rumah sakit.


Malam saat almarhum Rezky meninggal dunia dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Dia mulai berpikir, ada sesuatu yang sempat dialami oleh adiknya itu sebelum menghembuskan nafas terakhir. Bola matanya yang terbelalak seperti memberi tanda bahwa dia telah mengalami rasa takut yang begitu luar biasa. Itu pasti sebuah kematian yang tidak wajar.

__ADS_1


Lalu sosok laki-laki kumal yang sering menampakan diri itu, terakhir kali datang melalui mimpi. Itu terjadi beberapa saat sebelum Rezky meninggal. Ardy teringat pada kata-katanya yang selalu memberi peringatan agar tetap Waspada.


Berkali-kali dia mengucapkannya.


Ardy berpikir laki-laki itu hanyalah seorang gembel biasa yang hendak menakut-takutinya. Namun jika menghubungkan semua rangkaian kejadian dengan kata-katanya, mungkin saja sosok itu bukan wujud manusia biasa. Dia bukan gembel dan tidak gila. Dia pasti seseorang yang memiliki hubungan hidup dengan keluarga Ardy. Tapi apa dan siapa?


Lalu kehadiran Mbah Suko dalam kehidupannya yang mengaku sebagai ayah kandung, Sarah dengan panggilan Om dan Ibu Sarah juga menyebutnya Adik, apa hubungan semua peristiwa ini?


Sarah ... ? Ah, gadis itu tampaknya jatuh cinta pada Ardy. Namun jika kenyataan harus berkata bahwa antara Ardy dengan Sarah masih ada hubungan sedarah, apakah gadis itu akan tetap bertahan dengan rasanya tersebut?


Ardy terus berpikir keras sampai akhirnya terlelap dalam buaian alam tidur.


Mbah Suko memang belum sempat menceritakan perihal laki-laki kumal dan sering menampakan diri, hanya, pada Ardy tersebut.


Mbok Inah terisak sedih di kamar ditemani Sri Kemuning, anaknya.


"Mengapa, sih, kamu tega berbuat seperti itu, Ndok?" tanya Mbok Inah pada Sri.


"Maafkan aku, Bu. Sri sendiri tak tahu mengapa bisa khilaf seperti itu?" jawab Sri sambil memeluk Mbok Inah dengan perasaan bersalah.


"Ibu tak habis pikir, kamu itu seharus bisa jaga diri sebagai perempuan, Ndok. Bukan malah membuat masalah dan mempermalukan Ibu seperti itu," ujar Mbok Inah lirih, "Ibu ini sudah puluhan tahun kerja di rumah ini. Sudah banyak jasa dan hutang budi yang Tuan Karyadi dan Nyonya Amanda berikan pada Ibu. Bahkan bersedia menerima kamu kerja di sini. Sekarang apa balasanmu?"


"Iya, Sri minta maaf, Bu. Nyonya Amanda saja sudah memaafkan Sri. Apalagi yang harus Sri lakukan? Pulang ke kampung? Kita, kan, sudah tak punya siapa-siapa lagi di kampung, Bu!"


Mbok Inah terus menangis pilu, "Ibu malu, Ndok! Malu."


Perempuan muda itu tiba-tiba merasa mual. Dia segera berlari ke kamar kecil. Perutnya terasa diaduk-aduk, hingga naik ke atas. Memuntahkan kembali isi lambungnya yang sempat terisi beberapa waktu yang lalu.


"Sri ... " Mbok Inah memperhatikan anaknya dari belakang.


Sri tak menjawab. Rasa mual itu masih tersisa dan kembali memuntahkan isi lambung untuk kedua kalinya.


"Sri ... " Mbok Inah memegang pundak anaknya, "kamu sakit, Ndok?"


Sri menggelengkan kepala. Namun sorot mata Mbok Inah tak dapat menyembunyikan kalau wanita tua itu tengah menduga-duga sesuatu.


"Mungkin hanya masuk angin, Bu," jawab Sri pelan.


Mbok Inah menggelengkan kepala, "Betul hanya masuk angin, Ndok?"


"Mudah-mudahan hanya masuk angin saja, Bu!"


"Sudah berapa hari kamu tidak mendapat haid?" tanya Mbok Inah tiba-tiba.


Sri membalikan badan menatap wajah ibunya, "Bu? Apa yang Ibu tanyakan itu?"


"Kamu hamil, kan?"

__ADS_1


"Bu?"


"Jawab saja, Ndok!"


Sri tidak menjawab. Dia bergegas meninggalkan sosok ibunya yang termenung sedih sambil mengusap dada tuanya.


"Duh, Gusti! Ampunilah kami."


------- o0o -------


Tidak terasa hari begitu cepat berlalu. Malam pun telah datang menjelang. Jalan raya yang semula diterangi matahari yang bersinar panas, berganti dengan lampu jalanan yang berwarna-warni.


Ardy memacu mobilnya menuju rumah. Khawatir Mama akan kembali marah jika terlambat pulang. Biasanya hal-hal yang bersifat kecil saja, sering dijadikan alasan Mama untuk melampiaskan emosinya.


Maka sebelum pukul delapan malam, Ardy berniat sudah harus berada di rumah.


Benar saja, begitu Ardy menginjakan kaki, Mama sudah menunggu di depan dengan sorot mata penuh kebencian.


"Dari mana saja kamu? Seharian penuh keluyuran pake mobil Papa! Mau pamer harta dan ingin dianggap anak orang kaya?" Mama mulai marah-marah, "terlalu kamu! Dasar anak tidak tahu diri!"


Ardy tak mau meladeni. Anak muda itu langsung pergi ke kamarnya dan berbaring di atas tempat tidur.


"Diajak ngomong malah tidur! Anak sial!"


Ardy menutup wajahnya dengan bantal agar suara Mama yang terus mengomel tak terdengar.


Merasa tak dipedulikan, Mama meninggalkan Ardy di kamarnya.


Sementara itu Tuan Karyadi sedang berada di kamarnya. Sibuk dengan berbagai macam bunga dan asap kemenyan yang mengalun dari pedupaan.


Nyonya Amanda terheran-heran melihat kelakuan suaminya itu.


"Untuk apa bunga-bunga dan asap kemenyan itu, Pa? Seperti dukun saja!" ujar Nyonya Amanda menunjukan wajah tak senang.


Tuan Karyadi menoleh pada istrinya.


"Malam ini kita akan kedatangan tamu istimewa. Sudah saatnya Mama tahu dan mengenal tamu istimewa Papa itu," jawab Tuan Karyadi.


"Memangnya siapa yang akan datang?"


"Nanti juga Mama akan tahu!"


Nyonya Amanda tak bertanya lagi. Dia sudah tak tahan dengan asap kemenyan yang memenuhi ruangan. Wanita setengah tua itu keluar dari kamar sambil terbatuk-batuk.


"Tamu mana pula yang suka asap kemenyan?"


Setelah perselisihan Nyonya Amanda dengan Tuan Karyadi kemarin malam, wanita itu tak berani menentang suaminya lagi.

__ADS_1


__ADS_2