
...PERJANJIAN BERDARAH...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 32...
...------- o0o -------...
Tuan Karyadi menatap mata Ardy dalam-dalam, "Kamu masih muda, Dy. Belum paham tentang kehidupan rumah tangga. Apa yang Papa rasakan selama ini, belum bisa kamu mengerti."
"Ardy sudah dewasa, Pa. Sedikit banyaknya Ardy paham hakikat hubungan sebuah keluarga."
Sekali lagi Tuan Karyadi menarik nafas panjang, "Papa akui, memang terlalu banyak waktu yang dihabiskan untuk mengurusi bisnis Papa, sampai melupakan keluarga. Terutama Mama kamu, Dy. Hal ini sudah pernah Papa bicarakan, kan?"
"Ya. Terus?"
"Mungkin karena sering mengabaikan Mamamu, dia mencari hiburan dan kesenangan dengan caranya sendiri. Akhirnya, lama-lama Mamamu pun terbuai dan terjerumus ke dalam kehidupan yang tak semestinya dia tempati. Terus terang, Papa merasa kecewa dan sakit hati. Makanya Papa pun melakukan hal yang sama untuk membalas apa yang Mamamu lakukan."
"Bukannya Papa terlebih dahulu yang melakukan perselingkuhan?" selidik Ardy agak tidak percaya dengan ucapan Papanya itu.
"Tidak. Sampai saat ini, Papa masih mencintai Mamamu, Dy. Makanya, Papa tetap bertahan walaupun harus merasakan kepedihan di sini ... " tunjuk Tuan Karyadi pada dadanya, "Papa masih ingat, dulu begitu sulit mendapatkan perhatian dari Mamamu. Dia cantik dan pintar. Semua laki-laki yang mengenalnya pasti berharap bisa memiliki dia seutuhnya. Termasuk Papa. Segala macam cara pernah Papa lakukan, sampai akhirnya dia luluh dan bersedia menikah dengan Papa. Tak lama setelah kami menikah, lahirlah kamu, Dy. Seorang anak laki-laki yang Papa banggakan dan kelak bisa meneruskan kerajaan perusahaan yang Papa miliki. Sebentar lagi, itu akan terwujud. Apalagi kamu sudah dewasa begini, Dy!"
Ardy semakin bingung. Nyonya Amanda sering mengatakan bahwa dia anak haram, namun Tuan Karyadi berucap lain. Ardy terlahir dari hasil pernikahan mereka. Mana yang benar?
"Tadinya berharap, perusahaan-perusahaan yang Papa miliki itu akan dikelola oleh kamu, Nola dan Rezky. Tapi ... takdir berkata lain. Nola dan Rezky terlalu cepat dipanggil Tuhan, hanya menyisakan kamu seorang, Dy. Tak ada siapa-siapa lagi selain kamu." lanjut Tuan Karyadi sambil menyeka air matanya.
Ardy merasa terenyuh dan segera memeluk erat tubuh Tuan Karyadi.
"Maafkan kata-kata Ardy tadi, Pa," ujar Ardy lirih.
"Tak apa-apa, Dy. Papa sangat sayang sama kamu ... " timpal Tuan Karyadi dengan seringainya di antara peluk erat mereka berdua.
"Bagaimana dengan Mbak Sri? Apakah perlu kita suruh pulang ke kampungnya agar hubungan Papa dan Mama kembali baik?" tanya Ardy setelah melepaskan pelukannya.
Tuan Karyadi menggelengkan kepala, "Tak perlu, Dy. Biarkan saja dia bekerja seperti biasa di rumah. Karena Papa sangat berhutang budi pada ibunya, Mbok Inah, yang telah bertahun-tahun mengabdi pada keluarga Papa."
__ADS_1
"Karena aku membutuhkan kehadiran anak si Sri yang akan melanggengkan kehidupan dan kekayaanku, Dy. Dia akan tetap berada di rumah sampai anak itu lahir, Hahaha!"ujar Tuan Karyadi dalam hati.
"Kalau sampai Papa mengusir si Sri, khawatir akan mengecewakan Mbok Inah. Kasihan, dia sudah tak mempunyai suami dan keluarga lain. Hanya kita yang bisa membantu meringankan beban kehidupan mereka berdua," sambung Tuan Karyadi kemudian.
"Lalu bagaimana dengan Mama?"
"Maksudmu?"
"Kehadiran Mbak Sri di rumah tentunya akan membuat Mama semakin tak nyaman, Pa. Masa Papa tak paham, sih?"
"Oh, tentang itu, ya? Nanti akan Papa bicarakan baik-baik dengan Mama kamu, Dy. Semoga Mama mau memaafkan kekhilafan Papa dan Sri."
Ardy mengangguk pelan, "Aamiin."
Setelah suasana dirasa sudah tenang, Ardy dan Tuan Karyadi memutuskan untuk kembali ke rumah sebelum tengah malam.
"Papa tidur di kamar Ardy saja, ya? Biarkan Mama beristirahat sendiri dulu," ujar Ardy begitu mereka sudah berada di rumah.
"Kamu tidur di mana, Dy?" tanya Tuan Karyadi heran.
Ardy tersenyum, "Di mana saja bisa, Pa. Ardy, kan, laki-laki. Lagipula bekas kamar Nola dan Rezky juga kosong. Ardy bisa tidur di salah satu kamar mereka, kok."
Sepeninggal Tuan Karyadi, Ardy duduk merenung di sofa ruang tengah. Pikirannya melayang entah kemana. Teringat pada sosok almarhum Rezky dan juga almarhumah Nola, kematian tragis Mang Kurdi dan pertengkaran kedua orangtuanya.
"Ada apa sebenarnya di rumah ini? Kejadian demi kejadian yang tidak wajar datang silih berganti. Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres dalam keluargaku ini,"gumam Ardy.
"Den Ardy ... " satu suara mengejutkan anak muda itu dari arah belakangnya.
Ardy segera bangkit dan menoleh, "Mbak Sri ... "
"Maaf, saya mengejutkan Den Ardy," Sri tersenyum-senyum sendiri.
"Ada apa? Kamu belum tidur, Mbak?" Ardy merasa agak jengah melihat baju yang dikenakan Sri di bagian dadanya agak terbuka lebar.
"Tadi habis dari dapur, lalu tak sengaja lihat ada Den Ardy di sini. Makanya saya sengaja ke mari. Mungkin ada yang bisa saya bantu lakukan untuk Den Ardy ... " kembali senyum simpul Sri menghiasi bibir di setiap ucapannya.
__ADS_1
Ardy membuang pandangannya pada arah dada Sri. Belahan dua gundukan dadanya sesaat membuat jantung anak muda itu berdetak kencang.
"Tidak ada, Mbak. Saya lagi ingin sendiri saja. Kalau Mbak mau tidur, silakan," ucap Ardy tanpa mau berbalik pandang kembali pada pembantu muda itu.
"Mungkin Den Ardy lelah dan mau saya pijitin."
"Tidak, Mbak! Terima kasih!"
Ardy segera bangkit menjauhi Sri yang hendak menggapai pundaknya. Dia bergegas keluar rumah. Sri terdiam dengan rasa kecewa.
"Sarah ... " gumam Ardy begitu ada di luar rumah.
Entah mengapa, tiba-tiba anak muda itu teringat pada sosok Sarah, sahabatnya.
Khawatir Sri akan mengikutinya keluar, Ardy segera masuk ke dalam mobilnya. Lalu melajukan kendaraannya menuju rumah Sarah.
Waktu belum begitu malam, Sarah pasti belum tidur, pikir Ardy.
"Bagus! Kamu datang tepat pada waktunya, Dy," kata Sarah setelah mereka berdua bertemu.
"Ada apa, Sar?" tanya Ardy heran.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan kamu, mengenai kakekku," sambung Sarah sambil menarik lengan Ardy masuk ke dalam rumah.
"Bicara apa, Sar? Aku datang justru ingin curhat sama kamu," balas Ardy di antara langkahnya mengikuti Sarah, "eh, kamu bilang tadi ... kakekmu? Ada apa pula ini?"
"Sudahlah, aku baru saja bermaksud untuk datang ke rumahmu, Dy. Tapi karena kamu yang datang ke mari, itu lebih baik," Sarah menarik kembali lengan Ardy, "Kakek sudah menunggumu!"
"Menungguku?" Ardy menahan laju langkahnya.
"Ya, menunggu kamu, Dy!" ujar Sarah turut berhenti dan berdiri berhadapan dengan Ardy.
Gadis itu memandangi wajah Ardy dengan seksama. Sebentar kemudian, dia memeluk erat tubuh Ardy.
"Sarah ... ? Ada apa ini?" Ardy semakin bingung dibuatnya dengan sikap sahabatnya itu.
__ADS_1
Sarah semakin mempererat pelukannya.
...BERSAMBUNG...