
...PERJANJIAN BERDARAH...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 13...
...------- o0o -------...
“Sekarang kita pulang dan istirahat. Besok kita sama-sama menjenguk Rezky bersama kakekku. Bagaimana?” lanjut Sarah membuat Ardy agak sedikit tenang.
Tapi dia bingung untuk segera memutuskan. Hatinya merasa tidak tenang dan selalu teringat pada Rezky, adik bungsunya.
Mang Kadir membimbing Ardy untuk segera masuk ke dalam kendaraan.
Kini Mang Sapri yang gantian mengendarai mobil. Ardy dan Sarah duduk di kursi belakang. Sementara Nola berpindah di bagian depan. Anak perempuan yang masih belia itu juga diliputi perasaan aneh dengan berbagai kejadian yang dialami kakaknya. Namun dia lebih memilih diam daripada harus ikut berbicara. Entahlah, mengapa juga hatinya teringat pada sosok adiknya, Rezky.
Kendaraan yang sempat terhenti beberapa saat lamanya itu, kini mulai bergerak menuju rumah Sarah.
“Jangan lupa besok sepulang sekolah, kamu jemput dulu kakekku ya?” kata Sarah begitu sampai di depan rumahnya.
Ardy hanya menganggukan kepala.
Sepanjang perjalanan, Ardy lebih banyak diam. Pertanyaan Mang Sapri tidak dijawab. Bahkan begitu tiba di rumah, anak itu langsung masuk ke dalam kamar. Berbaring di atas tempat tidur sambil menerawang memikirkan Rezky yang sedang tak berdaya di rumah sakit.
Nyonya Amanda dan Tuan Karyadi yang belum tertidur, bermaksud untuk menemui Ardy, namun ditahan Nola.
“Mama dan Papa sebaiknya jangan ganggu Kak Ardy dulu. Soalnya dia perlu istirahat,“ kata Nola polos.
Tuan Karyadi dan Nyonya Amanda mengurungkan niat mereka untuk menemui Ardy.
__ADS_1
“Lalu, kalian dari mana saja? Jam segini baru pulang sekolah?” tanya Tuan Karyadi.
“Kami tadi dari rumah sakit, jengukin adik Rezky, Pa!” jawab Nola tanpa mau menceritakan kejadian yang dialami kakaknya sepanjang hari ini.
Nola takut kalau Mama dan Papa akan ikut merasa khawatir. Makanya dia buru-buru masuk ke dalam kamarnya.
Tuan Karyadi dan Nyonya Amanda duduk berdua di ruang tengah, menikmati sajian layar televisi. Sampai kemudian malam pun semakin merangkak larut.
Entah mengapa dan siapa yang memulai, kedua suami istri itu perlahan saling bertatapan mata. Dengan sorot mata yang penuh dengan nafsu membara.
Keduanya saling mendekat dan merapat. Lalu perlahan laki-laki itu menghujamkan bibirnya, ******* dengan nikmat ranum bibir istrinya. Disambut panas oleh Nyonya Amanda dengan pagutan yang tak kalah sengit. Bergumul di atas sofa sambil melucuti busana masing-masing.
Dengkus nafas hangat saling menerpa. Menghujam setiap detak jantung dan menuntun syahwat yang kian tak terkendali.
Beberapa kali riak bulu-bulu halus di tubuh Nyonya Amanda bergerak menggelikan, saat kuncup pay*daranya menjadi sasaran ujung lidah Tuan Karyadi yang meruncing dan menari-nari dengan erotis.
Nyonya Amanda menjerit lirih ketika area sensitifnya ditembus kuat kelelakian suaminya. Lalu bergerak secara estafet menimbulkan rasa yang sulit untuk diungkapkan. Pertarungan yang sungguh berbeda dari yang seringkali mereka lakukan sebelumnya.
Di saat yang bersamaan, Ardy menggelinjang gelisah di atas tempat tidurnya. Bergerak ke kiri dan ke kanan dengan mata terpejam.
“Aku sudah memperingatkan kamu untuk menjaga adikmu! Tapi kamu tidak peduli! Sekarang lihatlah semuanya! Adikmu akan menjadi tumbal atas keserakahan orangtuamu sendiri!” seru sesosok laki-laki kumal berpakaian gembel sambil menunjuk-unjuk muka Ardy.
“Siapa kamu?” tanya Ardy ketakutan.
“Jangan tanya siapa aku? Sekarang aku beritahu, terlambat bagimu untuk menyelamatkan adikmu itu! Kalau ingin melihat adikmu untuk yang terakhir kalinya, datangi dia sekarang juga!” ujar laki-laki gembel itu sambil berlalu.
“Tunggu! Jangan pergi! Ada apa dengan adikku?” tanya Ardy berteriak sambil mengejar sosok laki-laki kumal itu.
Namun, dia sudah menghilang. Lenyap tak berbekas.
__ADS_1
“Tidaaaaakkkk!”
Ardy terbangun dari mimpinya. Peluh basah membanjiri sekujur tubuh anak muda itu.
“Rezky ... anak itu!” seru Ardy sambil bangkit dari tempat tidurnya dan berlari ke luar kamar.
Setelah meraih kunci mobil, anak itu bergegas menuju garasi. Mengeluarkan kendaraan dan selanjutnya membawanya dengan cepat menuju rumah sakit.
Mobil dipacu dengan kecepatan tinggi. Keheningan malam dan jalanan yang sepi dari lalu-lalang penghuni jalanan, membantu Ardy melaju secepat kilat menembus kegelapan.
Sementara Tuan Karyadi dan Nyonya Amanda bertarung kian seru. Tiada rasa lelah yang mendera keduanya. Justru semakin lama semakin dirasakan nafsu mereka membakar d*da. Panas dan buas mengimbangi setiap hentakan yang mengujam di bagian titik tubuh.
Liuk tubuh erotis Nyonya Amanda semakin menjadi. Melahap habis kelelakian suaminya setiap inci. Erangan kuat melolong memecah langit-langit sampai tak kuasa menahan laju ujung kukunya yang menggaruk kuat sekujur tubuh Tuan Karyadi. Darah segar mengalir bercampur peluh yang sedari tadi membanjiri.
Tuan Karyadi membalas dengan pagutan bibirnya, ******* dengan nikmat setiap inci titik pay*dara sang istri. Lalu menjepit kuat kuncup yang masih mengeras itu. Bukan dengan belahan bibir, tapi dengan gigitan kuat. Bukan rasa sakit yang dirasa, justru nikmat yang semakin mendera.
Tuan Karyadi menggeram laksana seekor macan yang tengah kelaparan, mengujam anggota kelelakiannya dengan kasar. Menimbulkan pekik dan gemericik dari setiap gesekan di dalam lorong persalinan.
Sri, anak Mbok Inah, yang tertidur di ruangan belakang, terbangun mendengar suara-suara pekikan Nyonya Amanda. Diliputi rasa penasaran, perempuan muda yang telah lama menjanda itu, turun dari tempat tidurnya. Sementara ibunya masih terlelap dengan pulas, seakan gendang telinganya tertutup rapat dari suara-suara erotis tersebut.
Perlahan Sri keluar dari kamarnya. Melangkah perlahan menuju ruang tengah. Di sana, perempuan muda itu melihat kedua majikannya sedang bergumul dengan hebat di atas sofa. Sehingga lambat laun mampu membangkitkan bir*hi yang sekian lama tertahan dalam kodratnya.
Matanya terus memperhatikan kedua manusia yang sama-sama bertubuh polos itu, sambil meraba d*danya dengan gerakan memutar. Kemudian turun perlahan menyusup di antara lipatan kain yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Mata Sri mulai terpejam dan mengigit bibirnya disertai aliran nafas yang mulai tersendat.
Bersamaan dengan itu, di rumah sakit tempat di mana Rezky terbaring, sesosok wanita masuk ke dalam ruangan. Mengenakan gaun putih memanjang hingga menutupi kedua kaki. Rambutnya yang panjang hitam terurai menutupi sebagian lobang menganga di belakang tubuhnya, penuh darah dan belatung yang menjijikan.
Sosok itu mendekati Rezky. Anak itu terbangun dalam kejut. Matanya sontak melotot memandangi sosok tersebut dengan mulut menganga memohon pekik, namun tak ada suara yang mampu keluar dari kerongkongannya.
Sosok itu tertawa. Memperlihatkan taringnya yang runcing dan penuh lelehan darah busuk. Kemudian mengangkat tubuh Rezky dengan cepat dan membawanya keluar.
__ADS_1
Rezky berusaha meronta, namun tubuhnya mendadak kaku tak bisa digerakkan.
...BERSAMBUNG...