
...PERJANJIAN BERDARAH...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 20...
...------- o0o -------...
“Huh! Gimana, sih, kamu ini, Mbok? Tiap hari makanannya kayak gini terus? Bosan!” ujar Nola sambil bersungut-sungut.
Mbok Inah terdiam.
“Setiap hari juga begini, Non,” jawab Mbok Inah takut dimarahi Nola seperti tempo hari.
Nola melotot.
“Kamu ini bisa masak gak, sih? Dasar pembantu tua gak berguna! Percuma saja kamu di sini kalo gak becus kerja!” bentak Nola kasar.
“Jangan berbicara seperti itu pada orangtua, Nola!” Ardy mencoba menengahi.
“Siapa yang nyuruh elu ngomong, hah?!” Nola balik marah pada Ardy, “Gua lagi ngomong ama si tua bangka itu, tahu?! Elo jangan ikut campur, deh!”
Telunjuk gadis itu menuding telak ke arah wajah Ardy.
“Jaga sikap kamu, Nola. Tidak sepantasnya kamu berbicara seperti itu pada kakakmu,” Ardy berusaha menahan emosi.
Nola malah tertawa keras.
“Kakak? Ha ... ha ... ha ... siapa yang nganggep elo kakak gua? Elo? Ha ... ha ... ha ... lucu lu!”
“Cukup, Nola! Aku sudah mencoba bersabar selama ini dengan sikap kamu yang semakin kurang ajar itu!”
“Halah! Jangan sok, deh, lu! Itu urusan gua!”
“Cukup!” bentak Ardy kasar.
“Sudah, Den. Jangan diladeni,” Mbok Inah semakin ketakutan.
Nola menoleh ke arah Mbok Inah. Sementara tangan Ardy sampai gemetar menahan amarah.
“Kenapa lu? Mau belain dia, hah?!” tunjuk Nola pada Mbok Inah kembali, “jangan-jangan benar, ya, kalo elo itu anak haram yang dipungut dari pembokat bangka ini!”
Ardy sudah tidak dapat lagi menahan amarah yang dibendung sejak tadi. Seketika itu juga, tangan anak muda itu melayang dengan keras di pipi Nola.
PLAK!
Nola terbanting ke belakang. Pipinya yang putih seketika merona merah membentuk telapak tangan.
“Kamu sudah keterlaluan, Nola!” seru Ardy dengan suara keras.
Nola memegangi pipinya yang perih akibat tamparan Ardy.
Saat itu kebetulan Nyonya Amanda sedang menuju ruang makan dan melihat kejadian tersebut.
“Ada apa ini? Kamu berani-beraninya menampar anakku!” seru Nyonya Amanda sambil menghampiri Nola yang meringis kesakitan, “kamu tidak apa-apa, kan, Sayang?
__ADS_1
Nola meringis mengusap pipinya.
Nyonya Amanda langsung berbalik menatap Ardy dan Mbok Inah.
“Kurang ajar kamu!” bentak Nyonya Amanda seraya mendekati Ardy.
Nyonya Amanda layangkan telapak tangannya ke wajah Ardy dengan keras. Bertubi-tubi dan berulang kali.
PLAK!
PLAK!
PLAK!
Anak laki-laki itu diam tak bergeming dari tempatnya berdiri. Tak menampakan ekspresi kesakitan sama sekali. Tamparan demi tamparan dia nikmati dengan sepenuh hati. Sampai akhirnya wanita setengah baya itu kelelahan sendiri.
Mbok Inah sampai menangis melihat derita yang dialami tuan mudanya.
“Kalau Mama belum puas, silakan lakukan semau Mama,” ujar Ardy menantang.
Nyonya Amanda membelalakan matanya mendengar ucapan Ardy barusan.
“Kurang ajar kamu! Ini kalau kamu masih menginginkannya!“ Nyonya Amanda melemparkan piring-piring yang ada di atas meja.
Lagi-lagi anak muda itu tak bergeming ataupun berusaha menghindar.
Piring-piring itu melayang dan mengenai wajah serta badan Ardy. Darah mengucur dari tubuhnya yang terluka.
Mbok Inah sudah tidak tahan lagi melihat itu semua.
“Kamu mau belain dia?!” Nyonya Amanda hentakan kakinya hingga tubuh Mbok Inah tersungkur ke belakang.
“Ma!“ seru Ardy.
Beringsut, pembantu tua meringis menahan sakit di tubuh tuanya.
Setelah merasa puas, Nyonya Amanda tinggalkan ruang makan diikuti Nola seraya tersenyum mengejek.
“Rasain! Kasihan, deh, lu!” ucap Nola.
Ardy menatap mama dan adik perempuannya dengan perasaan marah luar biasa.
Sementara Mbok Inah masih tergeletak di lantai, meringis kesakitan akibat hentakan kaki Nyonya Amanda tadi.
Ardy menghampiri perempuan tua itu. Membantunya berdiri dengan susah payah, “Lain kali, Mbok jangan ikut campur. Biar saya sendiri yang menjadi sasaran kemarahan Mama.”
Mbok Inah menatap wajah tuan mudanya yang berlumuran darah.
“Lukanya biar Mbok yang obati, Den,” ucap Mbok Inah sedih.
“Tak usah. Mbok istirahat saja dulu di kamar, ya? Saya biasa urus sendiri, kok.”
“Tapi lukanya, Den?”
“Tidak apa-apa. Nanti aku berobat ke dokter Santoso.”
__ADS_1
Sri yang sedari tadi bersembunyi dan melihat semua kejadian tadi, datang membantu, “Biar saya yang rawat luka Den Ardy ini. Ibu, aku antar dulu ke kamar, ya?”
Sri memapah ibunya berjalan menuju kamar belakang. Setelah itu, dia kembali ke tempat di mana Ardy tadi berada.
“Kita ke kamar Mang Sapri saja, ya, Den?” ujar Sri membantu Ardy yang berjalan limbung.
Ardy menurut tanpa banyak bicara.
Lagipula, jika masuk ke kamarnya sendiri, di ruang tengah pasti akan bertemu dengan mamanya. Kebetulan Mang Sapri sedang mengantar Nola kuliah dan Nyonya Amanda yang pergi entah kemana. Jadi, kamar sopir keluarga itu sedang kosong.
Ardy berbaring di atas tempat tidur yang keras dan bau. Sementara Sri mengambil air hangat di dapur.
“Mbak Sri,“ panggil Ardy tiba-tiba begitu sudut matanya menangkap sesosok bayangan lewat begitu saja di depan pintu kamar.
Tak ada jawaban. Suasana tetap hening.
“Mbak Sri?”
Tetap hening.
Bukan sekali ini saja, Ardy merasa ada yang aneh di dalam rumahnya. Kerapkali menemukan sesuatu yang janggal. Halusinasi? Ah, tidak mungkin sesering selama ini. Sosoknya mirip seperti ... Rezky, adiknya, yang telah lama meninggal dunia.
Apakah itu memang Rezky? Tidak mungkin! Mana ada yang telah meninggal bisa kembali ke alam dunia? Tapi ....
“Den .... “ Sri kembali dari dapur sambil membawa air hangat dalam sebuah wadah.
Ardy menoleh terkejut.
“Oh, Mbak Sri.“
“Ada apa, Den?” tanya Sri begitu melihat ekspresi wajah tuan mudanya yang kebingungan.
“Tak ada apa-apa, Mbak!”
Sri duduk di tepian tempat tidur di samping tubuh Ardy yang terbaring. Dengan hati-hati, dia mulai membersihkan sisa darah yang mulai mengering di wajah serta tubuh anak muda itu.
Ardy memejamkan matanya menahan rasa perih, sampai kemudian perlahan dia tertidur.
Sejenak, Sri pandangi wajah tuan mudanya itu.
Sesaat ada senyum yang mengembang di bibir perempuan itu. Teringat pada sosok suaminya dulu.
Namun, entah setan dari mana yang merasuki. Melihat Ardy terlentang di hadapannya, hasrat Sri sebagai janda muda yang lama tak terjamah, bangkit.
Lengannya mulai berayun mengusap lembut wajah Ardy. Lalu perlahan mendekatkan wajahnya. Dengan dahaga yang menggelora, Sri mel*mat bibir anak muda itu. Sementara jemarinya bergerilya ke arah bagian lain.
Ardy melenguh pelan.
“Apa yang sedang kamu lakukan, Mbak?” Ardy membuka matanya dan repleks mendorong wajah Sri agar menjauh.
Sri terkejut.
“Maaf, Den! Saya ... saya .... “ perempuan muda itu merasa malu sendiri.
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1