Perjanjian Berdarah

Perjanjian Berdarah
Bagian 9


__ADS_3

...PERJANJIAN BERDARAH...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 9...


...------- o0o -------...


Seminggu sudah Rezky dirawat di rumah sakit, selama itu pula dokter yang menanganinya belum bisa menyimpulkan sakit apa yang diderita anak itu. Hasil pemeriksaan menyatakan bahwa Rezky dalam keadaan sehat dan normal. Namun kenyataannya, dari hari ke hari, kondisinya semakin lemah tak berdaya. Wajahnya memucat seperti tak ada asupan darah yang mengalir dalam tubuh.


Di saat kesehatan Rezky semakin memburuk, keadaan Nyonya Amanda justru makin membaik. Tubuhnya berangsur-angsur pulih seperti sedia kala.


“Mungkin dokter salah mendiagnosa,” kata Tuan Karyadi pada dokter yang menangani anaknya.


“Maaf, Pak. Kami sudah berusaha seteliti mungkin memeriksa keadaan putra Bapak. Sejauh dari yang kami lakukan selama ini, hasilnya tetap sama,” jawab dokter menjelaskan.


Tuan Karyadi merasa tidak puas.


“Bisakah dokter lebih memperketat proses pemeriksaannya? Karena tidak mungkin anak saya jatuh sakit jika tidak ada faktor penyebabnya, kan?”


“Secara teori itu benar sekali, Pak. Tapi Bapak tidak usah khawatir, kami akan meningkatkan frekuensi emeriksaan. Lebih baik kita bantu dengan doa agar semuanya lekas diberi kelancaran dan kemudahan,“ kata dokter iplomatis mengakhiri perbincangan.


Tuan Karyadi bingung. Terlebih lagi istrinya, Nyonya Amanda.


Siangnya, sebuah taksi berhenti di depan pintu gerbang kediaman keluarga Tuan Karyadi. Seorang wanita yang masih terlihat muda, turun dari dalam kendaraan. Sebelum masuk, wanita itu melihat-lihat sebentar ke dalam pekarangan rumah besar dan mewah itu.


Lalu dia pijit bel yang terdapat di sisi kanan pintu gerbang. Tidak berapa lama Mang Kurdi keluar.


“Cari siapa, Neng?” tanya Mang Kurdi.


“Saya dari desa, Pak. Mau ketemu ibu saya,” jawab wanita itu.


Mang Kurdi memperhatikan penampilan wanita yang sedang berdiri di balik pintu gerbang. Dari penampilannya, sepertinya benar wanita itu datang dari daerah perkampungan. Terlihat masih muda dan wajahnya pun lumayan menarik.


“Siapa nama ibu Neng itu?” tanya Mang Kurdi sambil leletkan lidah.


“Ibu Suhartinah.“


“Ooohh, Mbok Inah? Mari masuk,” ujar Mang Kurdi seraya membukakan pintu gerbang.


Wanita itu segera masuk.


“Neng tunggu saja dulu di sini ya? Biar saya yang akan panggilkan Mbok Inah,” lanjut Mang Kurdi antusias.


“Matur nuwun, Pak.”


Mang Kurdi masuk ke dalam rumah.


Tidak berapa lama kemudian lelaki itu muncul kembali diikuti oleh Mbok Inah.


“Sri?“

__ADS_1


Mbok Inah mengenali sosok wanita yang sedang duduk di teras rumah.


“Emak!“seru wanita yang dipanggil Sri itu menghampiri Mbok Inah, ibunya. Mereka berpelukan erat dengan gembira.


“Bagaimana keadaanmu?”


“Baik, Mak.”


“Sudah lama tiba di Jakarta?”


“Baru saja datang, Mak. Bapak ini yang suruh Sri menunggu di sini,” ujar Sri sambil menunjuk sosok Mang Kurdi dengan menggunakan jari jempolnya.


Mbok Inah mendelik pada Mang Kurdi.


“Keterlaluan kamu, Kur! Masa anakku disuruh tunggu di sini? Dasar kamu ini.“


Mang Kurdi tertawa memperlihatkan barisan giginya yang kuning kehitaman, “Lho, aku, kan, gak tahu kalo itu anak kamu, Mbok! Maaf.“


Sri ikut tertawa renyah.


“Masuk, yuk! Nanti Emak kenalkan kamu sama Nyonya Amanda,” kata Mbok Inah sambil menarik lengan anaknya.


Sri berdecak kagum melihat keadaan rumah yang serba mewah. Semua perabotan yang ada di dalamnya pasti dibeli dengan harga yang tidak murah. Baginya, untuk bisa mendapatkan salah satu dari barang-barang yang ada tersebut, perlu belasan hingga puluhan tahun mengumpulkan rupiah.


Nyonya Amanda kebetulan sedang berada di belakang rumah. Merawat bunga-bunga kesayangannya.


“Nyonya,“ panggil Mbok Inah pelan.


“Ini ... anak saya sudah datang,” lanjut Mbok Inah memperkenalkan Sri pada majikannya.


“Oh iya, siapa namamu?” tanya Nyonya Amanda memperhatikan Sri dengan seksama.


“Sri Kemuning, Nyonya.”


“Nama yang bagus, sesuai dengan orangnya,” kata Nyonya Amanda memuji.


Sri tertunduk malu, “Nyonya bisa saja.”


Mbok Inah tersenyum mendengar majikannya memuji Sri, anaknya.


“Kamu mau kerja di sini?” tanya Nyonya Amanda kemudian.


“Tentu saja mau, Nyonya.”


“Nanti Mbok Inah yang akan memberitahukan jenis pekerjaan yang harus kamu lakukan di sini ya?”


“Baik, Nya.”


Setelah dirasa tak ada lagi yang harus diperbincangkan, Mbok Inah meminta ijin untuk kembali ke tempat aktivitasnya, “Saya mau ke dapur dulu, Nyonya. Masih ada pekerjaan yang harus dibereskan.”


Nyonya Amanda mempersilakan.

__ADS_1


Lalu Mbok Inah segera berlalu meninggalkan Nyonya Amanda yang meneruskan kembali merawat bunga-bunga, diikuti oleh Sri.


Sementara itu di sekolah pada jam istirahat, Ardy dan Sarah duduk berdua di dalam kantin.


Banyak murid-murid lain yang ikut berkumpul di sana sambil menikmati hidangan yang mereka pesan. Termasuk Trio Ngocol; David, Jocky, dan Boma. Ditambah Imenk dan satu lagi murid berkacamata minus bintang kelas,


Aditya.


(Mengenai sosok mereka itu, silakan baca serial David Cs yang tersedia dalam format tersendiri)


“Entar malam ke mana lu, Dit?” tanya Boma pada Aditya.


Yang ditanya hanya mengangkat bahu.


“Emangnya elo mau ngapain? Entar malem, kan, malem Jumat. Kliwon lagi! Mana doyan gue keluyuran? Hiy ... serem. Mendingan gue nonton Uka-Uka,“ jawab yang tidak ditanya, David. “Emangnya kalo malem Jumat kliwon, kenapa, sih?” giliran Jocky kali ini yang ikut bertanya.


“Yah, payah lu. Emang kagak tahu? Kata orang, mah, malem Jumat itu malam begadangnya syetan-syetan. Apalagi kalo pake embel-embel kliwon. Makin serem, deh,” David menimpali.


“Aaahhh takhayul lu, ah,” sahut Imenk tidak mau kalah.


Ardy dan Sarah menggelengkan kepala mendengar obrolan Trip Ngocol beserta kroni-kroninya itu.


“Kagak percaya lu ya? Tetangga gue, tuh, yang di belakang rumah, pernah ngelihat syetah pocong. Terus ada lagi yang dicegat kuntilanak. Hiy ... serem banget!” ujar Aditya sambil menggidik ketakutan.


Boma merapatkan badan ke dekat Jocky.


“Kenapa, sih, lu? Takut? Dasar cemen!” semprot Jocky sampai air ludahnya menyembur deras ke muka Boma.


“Halah, kayak bukan penakut aja lu juga? Semalem elu pengen kencing minta anter ama gue. Dasar muna lu!” balas Boma sambil melap bekas cipratan ludah Jocky yang beraroma bau jigong.


David menimpali, “Biasanya, sih, Dut, syetan itu paling doyan ama manusia gendut kayak elo. Lumayan bisa buat tumbal.”


“Jangan nakut-nakutin gue, dong! Entar kalo elo berdua minta nganterin kencing lagi, baru tahu rasa lu ya?!” Boma ketakutan.


Ardy dan Sarah tertawa mendengar obrolan mereka.


“Kampungan!” rutuk Ardy.


“Apanya yang kampungan, Dy?” tanya Sarah terkejut.


“Eh, tidak! Itu omongan trio kurang kerjaan itu!”


Sarah tersenyum kecut.


Ardy kembali termenung memikirkan kondisi adiknya, Rezky.


“Sudahlah, Dy. Jangan terlalu dipikirkan keadaan adikmu itu. Percayakan saja semuanya pada dokter yang merawatnya,” ujar Sarah menasihati.


Ardy menghela nafas berat.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2