
...PERJANJIAN BERDARAH...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 30...
...------- o0o -------...
Sarah cepat-cepat menarik lengan ibu dan kakeknya agar segera meninggalkan Ardy sebelum anak muda itu bertanya lebih lanjut.
"Maaf, Kek! Sarah ... keceplosan!" ujar Sarah menahan rasa yang sedari tadi dia rasakan bergemuruh di dalam hatinya.
Ingin sekali rasanya dia memeluk sosok Ardy, yang ternyata adalah merupakan adik dari ibunya, sedari tadi. Namun di balik itu, ada rasa lain yang sudah lama hinggap di bagian terdalam sanubarinya untuk bisa memiliki dan menyatu dengan Ardy seutuhnya.
Ada bilur-bilur cinta yang sudah lama mengendap semenjak mengenal Ardy di bangku sekolah menengah atas dulu hingga sekarang. Bahkan setelah tahu ada persamaan darah yang mengalir di tubuhnya dengan Ardy, rasa itu tak pernah mau sirna.
...------- o0o -------...
Beberapa waktu telah terlewati, setelah kematian Nola dan Mang Kurdi. Sikap benci Nyonya Amanda terhadap Ardy semakin menjadi-jadi. Tiada hari tanpa caci dan maki dari wanita paruh baya tersebut. Dia kerap menuduh Ardy sebagai biang dari kesialan dan tragedi yang telah menimpa keluarga.
"Lihatlah sekarang sama kamu! Semua anak-anakku mati dengan cara yang tidak wajar. Tinggal kamu sendiri yang masih hidup!" ujar Nyonya Amanda suatu ketika, "semua ini karena kesalahanku, membiarkan kamu hidup bersama kami. Anak haram yang selalu membawa sial!"
Ardy terkejut.
"Mama selalu mengatakan kalau Ardy ini anak haram. Sebenarnya siapa, sih, Ardy ini sebenarnya bagi Mama?" sakit sekali merasakan perih yang mulai menusuk di bagian terdalam hati Ardy, "bukankah selama ini Papa dan Mama selalu menganggap Ardy ini anak kandung Mama dan Papa?"
Nyonya Amanda tersenyum sinis.
"Jangan panggil aku Mamamu! Aku ini bukan ibu kandungmu, tahu?! Kamu itu anak .... " ucapan Nyonya Amanda keburu terpotong seiring dengan kemunculan Tuan Karyadi di antara mereka.
"Ma, hentikan semua omong kosongmu itu! Mengapa Mama bersikap seperti itu pada anakmu sendiri?" tanya Tuan Karyadi dengan nada suara keras.
Nyonya Amanda berpaling memandangi suaminya.
"Anak sendiri? Aku tak pernah melahirkan dia, Pa! Dia itu anak .... " lagi-lagi ucapan Nyonya Amanda tidak berlanjut karena sebuah tamparan keras yang mengenai pipi, menghentikan lengking emosi suaranya.
PLAK!
"Pa .... !!! " seru Ardy kaget.
Nyonya Amanda meraung kesakitan dan kembali menatap suaminya dengan sorot mata marah, "Kamu sudah berani menyakiti aku!?"
Tuan Karyadi memandangi telapak tangannya yang baru saja dia gunakan untuk menampar sang istri. Ada rasa sesal yang tiba-tiba menggayuti dada.
__ADS_1
"Maafkan Papa, Ma! Papa tak sengaja!" lirih suara laki-laki itu sambil mendekati sosok istrinya.
Nyonya Amanda menepis uluran tangan Tuan Karyadi yang hendak memeluknya.
"Jangan sentuh aku!" teriak Nyonya Amanda sambil beringsut menjauh.
"Papa khilaf, Ma!"
Nyonya Amanda meraba kulit pipinya yang berangsur memerah disertai rasa perih luar biasa.
"Selama kita menikah dan menjalani hidup berumah tangga, ini kali pertama kamu mulai berani menyakitiku," Nyonya Amanda masih enggan melihat wajah suaminya.
"Bukankah kamu juga sudah berkali-kali menyakiti dan mengkhianati Papa, Ma?" suara Tuan Karyadi mulai naik kembali.
"Maksud kamu apa?" kali ini Nyonya Amanda berbalik menatap mata Tuan Karyadi dengan penuh kemarahan.
Tuan Karyadi mengangkat tangannya sambil tersenyum kecut, "Kamu pikir selama ini aku tidak tahu kehidupan kamu di luaran sana, Ma? Kamu, kan, sering ..... "
"Itu karena kamu yang terlebih dahulu mengkhianati aku! Jangan pikir aku juga tidak tahu kelakuan kamu bersama dengan perempuan-perempuan murahan itu selama tak ada di rumah. Lalu kamu beralasan ... sibuk ngurusi pekerjaan, rapat, dan segala macam alasan klasik yang sudah basi!"
"Aku memang sibuk dengan bisnisku! Itu aku lakukan semuanya demi kamu dan anak-anak!" Tuan Karyadi beralasan.
"Bohong!"
Tiba-tiba Nyonya Amanda tertawa keras, "Jangan coba-coba kamu menyangkal juga dengan kelakuanmu bersama si Sri, pembantu kita itu!"
"Kelakuan apa?" Tuan Karyadi masih mencoba mempertahankan diri.
Ardy terkejut seraya memandangi keduanya.
"Masih mencoba menyangkal, ya, Tuan Karyadi? Hahaha! Kamu pikir aku tidak tahu, berapa kali kamu meniduri janda gatal yang haus akan belaian laki-laki itu?"
"Ma .... !!!"
Ardy semakin terkejut mendengar penuturan mamanya tersebut.
"Aku sudah tahu semuanya, Tuan Karyadi yang terhormat!" Nyonya Amanda tertawa lepas.
"Fitnah! Kamu telah memfitnahku, Ma!"
Sekali lagi, Nyonya Amanda tertawa.
"Fitnah? Hahaha! Mana mungkin itu sebuah fitnah, jika aku mendengarnya langsung dari sumber yang terpercaya!"
__ADS_1
"Sumber apa maksudmu, Ma? Siapa?" jantung Tuan Karyadi berdetak semakin kencang.
"Kamu kira aku diam selama ini karena tak tahu, Tuan Karyadi? Kamu salah besar!"
"Aku tanya siapa orang yang telah memfitnahku itu, Ma?" laki-laki paruh baya itu merasa semakin tersudut karena kelakuannya selama ini dengan Sri sudah tercium oleh sang istri.
"Dia sudah mati dengan kondisi yang mengerikan!"
"Kurdi maksud kamu?"
Nyonya Amanda tertawa, "Siapa lagi? Atau jangan-jangan ... dia mati dibunuh karena telah banyak mengetahui kelakuan bejadmu itu, Tuan Karyadi?"
PLAK!
Tuan Karyadi sudah tak bisa menahan lagi emosi yang bergemuruh di dalam dada. Tamparan kedua dia layangkan kembali ke wajah Nyonya Amanda. Lebih keras dari sebelumnya.
"Pa! Tahan!" seru Ardy sambil menghambur peluk ke arah papanya.
"Berani sekali kamu menyakiti aku lagi, Karyadi!" sorot mata Nyonya Amanda semakin memarah, bahkan mungkin benci seketika hadir memenuhi ruang hatinya yang sudah lama tergores.
"Itu karena sikap kamu sendiri yang tidak mau berhenti bicara yang tidak-tidak!" bentak Tuan Karyadi sambil menudingkan telunjuknya ke arah Nyonya Amanda, "ingat! Itu hanya sebagai peringatan pertama saja dariku! Jangan salahkan jika aku memperlakukanmu lebih menyakitkan, Amanda!"
"Pa, sudahlah! Hentikan dan bersabar!" Ardy mendekap Tuan Karyadi agar tak mendekati Nyonya Amanda.
Dengus nafas laki-laki itu semakin memburu sambil kepalkan tangannya.
"Ma, pergilah ke kamar. Biar Ardy yang menenangkan Papa di sini," Ardy berusaha melerai kedua orangtua itu agar tak berlanjut saling menyakiti.
"Kamu pikir siapa kamu berani-beraninya menyuruh aku?" Nyonya Amanda balik membentak Ardy, "dasar anak ... "
"Ma, Ardy mohon sekali ini saja. Menjauhlah dulu dari sini sampai Papa bisa tenang kembali!" seru Ardy dengan keras.
"Biarkan saja perempuan ini Papa hajar sampai mampus, Dy!" geram Tuan Karyadi.
"Pa ... ! Tenanglah!"
"Ayo, hajar dan bunuhlah aku seperti yang kamu lakukan pada si Kurdi itu, Karyadi!" tantang Nyonya Amanda.
"Ma ... !" seru Ardy kembali.
Anak muda itu berusaha menghalangi laju Tuan Karyadi yang kembali merangsak hendak mendekati istrinya.
"Pergilah dulu ke kamar dan kunci! Kita selesaikan masalah ini lain waktu! Ini bukan saat yang tepat untuk saling berbicara!" Ardy menuntun papanya agar duduk dan menjauh dari tempat Nyonya Amanda berdiri.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...