Perjanjian Berdarah

Perjanjian Berdarah
Bagian 6


__ADS_3

...PERJANJIAN BERDARAH...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 6...


...------- o0o -------...


“Iya, kalau datang. Kalau tidak, Bagaimana? Kamu mau nginep di sini?” Ardy menggoda. Walaupun ragu, akhirnya gadis itu menurut juga. Sebentar kemudian mobil mewah itu sudah meninggalkan pintu gerbang sekolah. Jalan raya tidak pernah sepi dari lalu-lalang berbagai kendaraan. Siang yang panas dengan terik yang memanggang, membuat sebagian pejalan kaki lebih memilih halte-halte bis dan rimbunan pepohonan untuk sekedar berteduh. Namun masih banyak juga yang tak begitu peduli dengan kondisi cuaca segarang itu, seperti para pengemis yang rela menjemur diri sambil meminta-minta di pinggir jalan berharap belas kasih dari pengguna trotoar yang melewatinya. Sungguh bukan sebuah pemandangan yang aneh lagi yang bisa dilihat di kota besar seperti Jakarta ini. Kebanyakan dari mereka yang memilih profesi menjadi seorang pengemis sebagai mata pencaharian itu adalah para urban yang datang dari jauh bermodalkan jiwa nekat saja. Tanpa dibekali keterampilan terlebih dahulu.


Itulah Jakarta. Tempat impian bagi yang berharap dapat mengeruk kekayaan dari gemerlap dunia ibukota. Namun kadang kenyataan tak seindah impian.


Laju kendaraan berhenti. Lampu merah rambu lalu lintas menyala. Para pedagang asongan berhamburan menghampiri kendaraan sambil menawarkan barang dagangan.


Rezky mulai rewel karena kepanasan. Anak itu sibuk mengipas-kipas buku pelajaran untuk sekedar mendapatkan angin segar. Keringat mengalir deras dari dahi anak itu. “Gedein AC-nya, Mang!” sahut Ardy pada Mang Sapri.


“Ini sudah full, Den.”


Ardy memang merasa hawa di dalam kendaraan sudah dingin. Tapi mengapa adiknya itu tiba-tiba seperti kepanasan? Ardy merasa kasihan lalu sengaja membuka kaca jendela kendaraan. Lumayan, ada banyak udara yang bertiup bercampur dengan hawa panas jalanan beraspal yang panas terpanggang matahari.


Tiba-tiba dari arah jendela mobil yang terbuka, muncul sesosok lelaki berwajah seram dengan pakaian kumal menabar aroma tidak sedap. Sosok itu memperhatikan Rezky dengan sorot mata yang aneh. Ardy hanya melongo kaget dan terkesima dengan kemunculan laki-laki kumal dan bau tersebut.


“Jagalah anak itu! Dia akan dijadikan tumbal iblis jahanam! Jaga dia!” seru laki-laki itu sambil menunjuk-nunjuk pada Rezky.


Anak bungsu itu sepontan menjerit ketakutan. Mang Sapri berusaha menenangkan.


Aneh!


Sepertinya tak seorang padagang asongan pun dan juga para pengguna kendaraan lainnya yang sedang berhenti di sana, menoleh ke arah laki-laki kumal itu.


“Jaga dia dari iblis menyesatkan itu!” teriak lelaki kumal itu lagi.

__ADS_1


Seisi kendaraan merasa heran dan ketakutan. Ardy keluar dari jendela mobil dan mendorong tubuh lelaki itu ke belakang. “Pergi, Jangan ganggu, adikku! Pergi sana! Dasar orang gila!” teriak Ardy keras.


Bertepatan dengan itu, lampu lalu lintas sudah berganti menyala hijau. Mang Sapri segera tancap gas sampai ban kendaraan menjerit keras meninggalkan noda hitam di atas aspal. Mobil mewah itu dengan cepat segera meninggalkan tempat tersebut.


Lelaki kumal itu berlari ke pinggir jalan dan terus berteriak-teriak.


Ardy menoleh sekilas pada Rezky, kemudian beralih ke belakang pada sosok laki-laki tadi berdiri. Namun sosok itu ternyata sudah tidak berada di tempatnya semula.


Ardy heran. Padahal dia hanya sekilas beralih pandang antara Rezky dan lelaki kumal tadi. Sosok tersebut sudah tidak tampak lagi.


Aneh!


Ardy segera berpindah mendekati Rezky dan memeluk adiknya itu dengan erat. Tubuh anak itu terasa dingin dengan wajah memucat. Mungkin karena rasa takut yang luar biasa dia rasakan.


“Tenang, ya, Sayang! Ada Kakak di sini!” kata Ardy pelan sambil mempererat pelukannya pada tubuh Rezky. Sarah dan Nola sama-sama merasa ketakutan. Nola merapatkan tubuhnya menempel di sisi Sarah. Sementara Mang Sapri mempercepat laju kendaraan agar lekas tiba di rumah.


Sesampai di depan rumah, Ardy segera memangku tubuh adiknya yang melemah. “Tolong kasih tahu Mama!” seru Ardy panik pada Mang Sapri.


“Nyonya! Nya... Nyonya!” sahut Mang Sapri.


Tidak ada jawaban dari dalam kamar. Beberapa kali diulangi, hasilnya tetap sama. Daun pintu tidak terbuka dan tak ada jawaban dari dalam.


Nola datang tergopoh-gopoh membuka pintu kamar mamanya. Mang Sapri melongok sebentar ke dalam. Tampak Nyonya Amanda tengah terbaring seperti sedang berada dalam keadaan tertidur pulas.


“Mama! Bangun, Ma!” teriak Nola sambil menepuk-tepuk lengan mamanya. Mata Nyonya Amanda perlahan terbuka, menatap hampa langit-langit kamar.


“Ya, Tuhan! Apa yang terjadi padaku?” gumam Nyonya Amanda berusaha memulihkan kesadaran.


“Ma .... “ panggil Nola di sebelahnya. Nyonya Amanda menoleh. “Nola, ada apa, Sayang?” tanya Nyonya Amanda heran melihat anak perempuannya itu menangis.


“Rezky, Ma! Rezky!”

__ADS_1


“Ada apa dengan Rezky?”


“Rezky pingsan.”


“Ya, Tuhan!” Nyonya Amanda terkejut dan langsung bergegas turun dari tempat tidurnya. Baru saja beberapa langkah, tubuh Nyonya Amanda langsung terhuyung dan jatuh ke lantai.


“Ya, Tuhan! Nyonya,“ seru Mang Sapri menghambur menghampiri majikan perempuannya.


“Mama!” jerit Nola sambil meraung menangisi mamanya.


Nyonya Amanda mencoba bangkit, namun tidak kuasa untuk berdiri. “Tolong, bantu aku berdiri, Mang!” sahut Nyonya Amanda lirih pada Mang Sapri. Laki-laki muda itu merasa sungkan memegang tubuh majikannya. Namun karena ini permintaan yang harus dilakukan, Mang Sapri tak bisa menolak.


Dengan sekuat tenaga, Mang Sapri membantu Nyonya Amanda berdiri dan berjalan perlahan menuju kamar Rezky, diikuti oleh Nola sambil tetap menangis.


Ada suara-suara ramai dari arah ruang depan, Mbok Inah dan Mang Kurdi yang sedang berada di dapur, segera berlarian menghampiri. Mereka melihat Rezky yang terbaring di tempat tidur dalam keadaan tak sadarkan diri.


“Rezky, anakku, Sayang!”seru Nyonya Amanda lemah.


Ardy menoleh dan terkejut melihat mamanya yang berjalan sempoyongan dipapah Mang Sapri. “Mama kenapa?” tanya Ardy terkejut.


Nyonya Amanda tidak mempedulikan pertanyaan anak sulungnya itu, karena perhatiannya hanya tertuju pada sosok Rezky yang terbaring dengan wajah memucat. Wanita paruh baya itu langsung memeluk tubuh Rezky dan menangis pilu. Dibelainya rambut anak itu dengan penuh kasih sayang. “Cepat, panggilkan dokter! Telepon Papa agar cepat pulang!” sahut Nyonya Amanda panik.


Ardy segera berlari ke ruang tengah. Tepatnya untuk menelepon dokter keluarganya dan juga Tuan Karyadi, papanya.


Mbok Inah datang membawa air dingin untuk mengompres dahi Rezky. Seluruh badan anak itu terasa dingin.


“Dokter sebentar lagi datang, Ma. Papa juga sudah diberitahu,” ujar Ardy begitu muncul di pintu kamar.


Nyonya Amanda masih menangis.


...BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2