Perjanjian Berdarah

Perjanjian Berdarah
Bagian 27


__ADS_3

...PERJANJIAN BERDARAH...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 27...


...------- o0o -------...


"Malam ini ... kau harus ikut denganku, Anak Keturunan Karyadi! Hahaha!"


Jerit ban terdengar memekakan begitu Nola menginjak pedal rem secara mendadak. Kendaraan pun bergerak memutar tak dapat dikendalikan. Lalu berguling di atas aspal beberapa kali hingga akhirnya berhenti setelah menabrak bahu jalan dengan keras.


Badan kendaraan hancur serta menghimpit ruang kemudi dengan paksa. Benturan keras beberapa kali Menghujam, membuat tubuh pengemudi terlempar dibanting ke depan mengenai dashboard.


Nola menjerit keras merasakan sakit yang luar biasa merobek kulit perutnya akibat hantaman gagang kemudi. Darah kental memuncrat dari mulut, hidung dan lubang telinganya dengan hebat.


Sesaat sebelum kesadarannya menghilang, Nola masih melihat wujud menyeramkan itu tertawa keras memperlihatkan taringnya yang runcing serta sorot mata merah menyala.


Selanjutnya tak ada lagi yang bisa diingat, terkecuali lengking jeritan Nola memenuhi rongga langit dengan suara memilukan.


"Tidaaaakkk!"


------- o0o -------


"Aarrrgghh!" Tuan Karyadi menggeram laksana seekor singa yang baru menemukan mangsa di saat kelaparan.


Pergumulan yang bermula dilakukan dengan lembut, perlahan berubah kasar. Jemari laki-laki itu mulai merenggut dan menjambak rambut Sri, lalu menariknya hingga perempuan itu meringis kesakitan.


PLAK!


Sri menampar keras wajah Tuan Karyadi. Bukan ringis kesakitan yang tampak di wajahnya, justru seringai mengerikan hadir di antara nafas panas yang menerpa.


"Lakukan lagi, Sri!" tantang Tuan Karyadi mempercepat gerakan erotisnya, "aku ... aku ... "


Tuan Karyadi memejamkan matanya sambil menahan nafas sebentar. Dia merasa ada pergerakan halus di sekitar panggul, berlari dengan cepat menuju bagian kelelakiannya. Dan ....


"Aarrrgghh!"


Laki-laki setengah baya itu meraung hebat dengan tubuh mengejang kaku. Lalu menghempaskan diri ke samping Sri yang bersimbah peluh di sekujur tubuh.

__ADS_1


Tampak jelas raut lelah yang tiada tara di wajah Tuan Karyadi. Nafasnya hingga tersengal tak beraturan.


Namun tidak dengan Sri, perempuan muda itu menyeringai menggidikkan seraya bangkit dari rebah. Menatap tajam pada sosok yang tergolek lemah di sisinya.


Sri menarik nafas panjang diiringi pejamkan mata. Merasakan seruput gelitik menarik bibit manusia milik sang majikan yang terbuncah di akhir pergumulan.


"Lakukan kembali, Tuan!" bisik Sri dengan suara berat dan parau.


Tuan Karyadi membuka matanya perlahan, "Tunggu beberapa saat lagi, Sri! Saat ini, aku belum bisa melakukannya."


PLAK!


Tamparan keras Sri telak mendarat di kulit wajah Tuan Karyadi, "Aku bilang lakukan lagi, Karyadi!"


Suara Sri berubah berat tak sebagaimana biasa.


"Sri ... kamu?"


PLAK!


Tuan Karyadi melenguh kesakitan.


"Kamu ... ?"


"Kau?!"


Di tengah rasa heran bercampur bingung, Tuan Karyadi terpaksa melayani kembali hasrat pembantu muda itu untuk kedua kalinya. Namun kali ini tidak seperti permainan sebelumnya. Penuh dengan perlakuan kasar dan menyakitkan. Hanya sesaat dan tak lama kemudian, laki-laki itu kembali meraung dengan tubuh mengejang kaku.


"Tua bangka tak berguna!" rutuk Sri dengan sorot mata menggidikkan beraroma kekecewaan yang mendalam, menatap tajam sosok Tuan Karyadi yang tergolek tak sadarkan diri dan tubuh penuh bilur merah bekas tamparan.


Masih dengan dengus nafas tersengal menahan rasa yang masih belum terpuaskan, Sri turun dari tempat tidur.


"Di mana gerangan anak laki-laki itu?" bola mata Sri bergerak liar mencari-cari sosok yang dia maksud sambil bergegas menuju kamar Ardy. Namun tak ditemukan, karena anak muda itu memang sedang tak berada di rumah.


Dengan rasa kecewa, Sri berlalu pergi ke kamar belakang. Tepatnya ruang tidur laki-laki lain, Mang Kurdi.


Pintu kamarnya tak dikunci, Sri masuk begitu saja tanpa mengetuk terlebih dahulu.


Mang Kurdi tengah terbaring dengan nyenyak di atas tempat tidur, sehingga tak menyadari kalau perempuan muda yang sempat menggugah selera kelelakiannya itu, datang mendekat.

__ADS_1


Perlahan, Sri duduk di samping Mang Kurdi. Disertai seringainya, jemari lentik itu mulai merayap menarik kain sarung yang menutupi separuh bagian bawah tubuh tua Mang Kurdi. Lalu berhenti tepat di satu titik tertentu sambil menarikan ritual tertentu.


"Sri .... " erang Mang Kurdi begitu membuka mata dan mengenali sosok yang sedang berada di depannya itu, "kamu .... "


Sri tersenyum di antara keremangan cahaya lampu kamar yang pengap.


"Bangunlah!" pinta Sri tak berhenti menggerakan jemarinya di bawah perut Mang Kurdi.


"Apa yang kamu lakukan, Sri?" tanya Mang Kurdi terpatah-patah karena pengaruh biologisnya yang mulai tergerogoti.


"Bukankah kaumenginginkan diriku, Mang?" bisik Sri manja mengundang selera.


Mang Kurdi terpejam dengan detak jantung yang kian cepat, "Malam ini juga?"


"Kapan lagi, Mang?" seringai Sri kembali menyeruak di antara sorot mata nanar menatap pegangan di jemarinya.


"Sebentar ... aku ambil dulu obat ... " Mang Kurdi bermaksud bangkit dari rebahnya, namun keburu ditahan dengan sigap oleh Sri.


"Tak usah, Mang. Nikmati saja sambil tiduran. Karena aku akan .... " Sri menyondongkan tubuh mendekatkan wajah ke arah bawah perut Mang Kurdi.


Jerit tertahan segera keluar dari mulut tua laki-laki itu. Mendesis disertai hembusan nafas yang tersendat.


"Sri .... "


Gelinjang pinggulnya mulai bergerak berirama mengikuti ritme yang tak beraturan. Cengkraman kuat kuku tuanya menghujam mencari pegangan di atas alas kasur yang keras dan bau, menahan rasa yang sulit dibayangkan. Lalu ....


"Aaaakkhhh ... " lengking jerit Mang Kurdi hanya sesaat memecah kesunyian, tertahan di balik bekapan telapak tangan Sri yang lain.


Mang Kurdi merasa seluruh aliran di tubuhnya mulai bergerak liar dengan cepat. Menyusuri setiap lorong urat-urat nadi, lalu berlari menuju satu titik di mana satu-satunya bagian tubuh laki-laki itu dalam kekuasaan penuh jepitan bibir Sri. Awal kenikmatan yang perlahan berubah menjadi kesakitan yang tiada tara.


Sisa kekuatan tubuh tuanya menghilang seketika berganti dengan rasa kaku, menahan laju untuk berontak.


"Mmmmffhhh ... " jeritan Mang Kurdi sesaat masih tertahan dan sekejap kemudian sirna.


Mata tua itu terbuka lebar disertai mulut menganga lebar. Terdiam kaku, terbujur dengan jantung yang sudah tak berdetak kembali.


Seluruh permukaan kulitnya mengeriput seperti tak pernah ada aliran darah di tubuh tersebut. Sosok kurus kering Mang Kurdi berubah memucat. Laki-laki itu tewas seketika meregang nyawa.


Sri melepaskan tubuh Mang Kurdi diiringi senyuman puas. Sisa darah segar tergenang membasahi sekitar garis bibirnya yang merah. Lalu perempuan itu tertawa melengking tanpa merasa berdosa seraya beranjak meninggalkan sosok Mang Kurdi begitu saja.

__ADS_1


Perempuan muda itu kembali menuju kamar majikan laki-lakinya. Tampak sosok Tuan Karyadi tengah duduk bersila di sisi bawah tempat tidur dengan mata terpejam, sambil merapalkan mantera dengan bahasa yang tak dimengerti.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2