
...PERJANJIAN BERDARAH...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 19...
...------- o0o -------...
“Jangan bicara seperti itu, Dy! Sudah kehendak Tuhan untuk memanggil adikmu terlebih dahulu. Lebih baik kita relakan dan doakan saja,“ ujar Sarah kembali.
Ardy menunduk.
Setelah mengucapkan doa, Ardy bermaksud meninggalkan area pemakaman. Namun langkahnya terhenti ketika ekor matanya menangkap seperti ada sesosok manusia yang sedang berdiri di bawah pohon. Tak jauh dari tempat mereka berada saat itu.
Mata Ardy membesar begitu mengenal sosok tersebut.
“Ayolah,“ Sarah menarik tangan Ardy.
Ardy tetap menatap sosok yang dilihatnya tadi. Mbah Suko ikut menoleh ke arah yang dituju anak muda itu. Orang tua ini pun melihatnya dengan jelas.
Mbah Suko tersenyum seperti memberikan sapaan hangat pada sosok yang sedang berada di bawah pohon tersebut.
“Ada apa, Dy?” tanya Sarah heran.
Nola yang berada di samping Ardy, ikut memegangi lengan kakaknya. Gadis ini merasa ketakutan.
Ardy bermaksud menunjukan di mana sosok yang sedang berada di bawah pohon itu dengan telunjuknya, namun keburu ditahan Mbah Suko.
Ardy menoleh heran pada orang tua ini. Ketika mulut anak muda itu hendak berbicara, Mbah Suko segera menyilangkan telunjuknya di depan bibir. Ardy mengurungkan niatnya.
Sekarang justru Ardy yang merasa heran dengan sikap kakeknya Sarah ini.
“Ada apa, sih?” tanya Sarah kembali.
Mbok Inah memperhatikan tingkah anak majikannya yang satu ini, tanpa bisa memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.
“Nnggg ... ti ... tit ... daaak ... apa-apa!” jawab Ardy terpatah-patah.
Lalu bersama-sama mereka segera meninggalkan area pemakaman yang sepi. Terkecuali sosok-sosok manusia yang terkubur di dalam perut bumi.
Sepeninggal mereka, tanah kuburan Rezky tampak bergerak-gerak. Seperti ada yang sedang berusaha membongkar dari dalam. Gerakan tersebut makin lama semakin kuat.
Tak berapa lama, muncullah satu lengan manusia dari dalam tanah. Bergerak mencakar berusaha keluar dari timbunan tanah makam.
__ADS_1
“Rezky.“
Ardy melihat-lihat sekeliling penjuru kamarnya. Sekilas seperti ada bayangan tubuh manusia yang melintas dan tertangkap sudut matanya.
Tak ada siapa-siapa di sana kecuali dirinya sendiri.
“Ya, Tuhan!” gumam Ardy memejamkan matanya.
Dia masih teringat pada sosok adiknya yang telah meninggal dalam keadaan yang memperihatinkan.
“Kak ... “ samar-samar terdengar seperti seseorang memanggilnya.
“Dik ... “ kembali Ardy menyapu pandangannya.
Hening tak ada apa-apa.
Entahlah, Ardy merasa bahwa adiknya itu masih hidup namun berada di dimensi lain yang tak bisa dia lihat.
Sementara Nyonya Amanda masih terbaring lemah di rumah sakit. Dia shock berat begitu mendengar berita kematian Rezky, sambil menangis tak henti-hentinya.
Ardy berusaha menenangkan mamanya.
Namun bagi Tuan Karyadi, lelaki itu tampak tabah menghadapi kejadian yang baru saja menimpa keluarganya itu. Tidak ada ekspresi apapun di wajahnya. Dingin.
Mata Nyonya Amanda tiba-tiba membesar. Melotot ke arah anak sulungnya itu. Mbok Inah yang ikut menjenguk sampai tersurut ke belakang, karena merasa takut dengan sorot mata majikan perempuannya tersebut.
“Tahu apa kamu tentang Tuhan? Tuhan itu tidak adil, tahu?!” bentak Nyonya Amanda.
Ardy terkejut.
Seumur hidupnya, baru kali ini Mamanya membentak sedemikian rupa.
“Tenang, Ma! Tenang,“ ujar Ardy kembali, ketakutan.
“Diam kamu! Dasar anak tak tahu diri!” sekali lagi suara Nyonya Amanda menggelegar di dalam ruangan perawatan.
Ardy mundur menjauhi mamanya. Nola berlindung di belakang Ardy, melihat kemarahan Nyonya Amanda.
Dokter Santoso yang kebetulan berada di tempat itu, segera menyuntikan obat penenang pada Nyonya Amanda. Sebentar kemudian, wanita paruh baya itu tertidur pulas.
Tuan Karyadi menoleh pada Nola dan Ardy dengan rasa penuh iba.
“Maafkan papamu ini, ya, Eky! Semua ini salah Papa. Maafkanlah,“ kata Tuan Karyadi dalam hati.
__ADS_1
Mata laki-laki ini terpejam menahan perih yang dirasakan di dalam hati, “Hukum itu telah datang menjemput!”
Ardy menundukan kepala. Semua telah berubah. Sejak kematian Rezky. Kehangatan keluarga yang telah dirasakan bersama selama bertahun-tahun, mulai goyah. Berganti dengan malapetaka yang datang silih berganti.
Sikap Nyonya Amanda terhadap Ardy berubah total. Dulu dia begitu lembut penuh kasih sayang, kini berubah kasar dan penuh kebencian yang teramat sangat.
Nyonya Amanda menuduh bahwa penyebab kematian Rezky karena kelalaian Ardy menjaga adiknya.
“Coba kamu pikir, seandainya kamu menjaga adikmu dengan hati-hati, tidak mungkin Rezky jatuh sakit dan meninggal! Kamu biang keladi dari semua petaka ini!” bentak Nyonya Amanda pada Ardy.
Anak muda itu hanya dapat menahan keperihan di hati. Kini, tak ubahnya dia bagai seorang anak tiri yang selalu dipandang sebelah mata. Ataukah memang demikian adanya?
Entahlah! Kejadian demi kejadian yang menyakitkan hati Ardy, selalu diterima setiap hari dari mamanya. Anehnya, Tuan Karyadi sama sekali tak pernah membela atau melindungi sedikit pun dari amukan istrinya. Laki-laki itu lebih banyak diam dan membiarkan istrinya demikian.
Hari-hari yang biasanya dilalui dengan keindahan dan keharmonisan, selalu tak pernah lepas dari caci maki dan kata-kata kotor Nyonya Amanda.
Kejadian dan perlakuan menyakitkan mama tak pernah berhenti. Sampai waktu pun tak terasa berjalan beberapa tahun berlalu semenjak kematian Rezky.
Keharmonisan keluarga telah berubah bagai sebuah neraka. Nyonya Amanda telah berubah menjadi sosok manusia yang penuh amarah. Tak sekali ataupun dua kali tangannya ikut bicara bila emosi sudah tak dapat dibendung lagi.
Tuan Karyadi lebih sering tak berada di rumah. Dia sibuk dengan urusan kerja dengan aset perusahaan yang semakin melimpah ruah. Usahanya semakin maju.
Ardy banyak menghabiskan waktunya di rumah bersama Mbok Inah. Pembantu tua itu merasa kasihan melihat derita yang dialami tuan mudanya tersebut. Sedangkan Nola justru telah berubah banyak. Dia menjadi gadis liar yang banyak menghabiskan waktunya di luaran. Obat-obatan serta berbagai minuman keras menjadi temannya sehari-hari. Perubahan yang sangat drastis.
Tak jarang Nola pulang dalam keadaan mabuk berat ditemani teman-teman pergaulannya.
Suatu pagi hari, Ardy bersiap berangkat kuliah. Sarapan sudah tersedia di atas meja. Dia belum melihat Nola dan anggota keluarga lainnya.
“Sarapan, Den?” tanya Mbok Inah pada Ardy yang sudah rapih.
“Iya, Mbok,” jawab Ardy singkat.
Mbok Inah merasa kasihan melihat kondisi anak muda itu yang kelihatan makin kurus.
“Nola mana, Mbok?”
“Mungkin sedang bersiap-siap di kamarnya, Den.”
Ardy menarik nafas.
Nola datang di ruang makan. Gadis itu melihat-lihat sebentar, menu pagi yang sudah tersedia dengan sorot mata sinis.
“Huh! Gimana, sih, kamu ini, Mbok? Tiap hari makanannya kayak gini terus? Bosan!” ujar Nola sambil bersungut-sungut.
__ADS_1
...BERSAMBUNG ...