
...PERJANJIAN BERDARAH...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 23...
...------- o0o -------...
Karyadi menetap di sebuah kota besar serta menikahi seorang perempuan cantik jelita bernama Amanda Yuanita. Sementara bayi mungil yang diberi nama Ardy Wiranata itu, tumbuh besar dalam asuhan keluarga baru Karyadi.
Menginjak usia Ardy tiga tahun, lahirlah anak hasil pernikahan Karyadi dengan Amanda, yang diberi nama Nola Ananta. Disusul beberapa tahun berikutnya hadir adik mereka yang baru, Rezky Agustiawan.
Kehidupan Karyadi yang kaya raya dan mempunyai banyak perusahaan, membuat keluarga ini cukup disegani dan dihormati masyarakat luas.
Sementara bagi Ardy sendiri, anak itu tak pernah mengetahui kalau dirinya bukanlah anak kandung Karyadi. Namun kalau melihat dari silsilah keturunan, Karyadi adalah uwaknya Ardy. Mengenai hal tersebut, hanya Karyadi dan Amanda yang mengetahuinya.
Petaka pun datang. Iblis itu menagih janji Karyadi untuk memberikan salah satu keturunannya sebagai tumbal. Rezky-lah yang pertam kali menjadi korban. Karyadi tak kuasa menolak dan tentu saja tak peduli dengan semua itu. Yang ada dalam benak laki-laki itu hanya harta kekayaan. Masalah anak, dia bisa mendapatkannya lagi dari istrinya atau pun perempuan-perempuan yang bisa diajaknya tidur bersama.
Amanda tidak pernah mengetahui asal-muasal harta kekayaan yang diperoleh Karyadi. Setahunya, sang suami adalah seorang pengusaha terkenal yang paling kaya di kota itu.
...------- oOo -------...
Mbah Suko berhenti sejenak, pandangannya menerawang jauh ke depan. Seperti ada hal yang sedang dipikirkan.
Sarah memperhatikan raut muka orang yang sangat dikasihinya itu.
“Ada apa, Kek?” tanya Sarah.
Mbah Suko tersenyum.
“Kakek ingin bertanya padamu, Cu. Sebagai seorang manusia, wajarkah kita pernah melakukan suatu kekhilafan?”
Sarah berpikir sejenak. "Manusia diciptakan dalam dua sisi. Yang pertama adalah sisi kebaikan dan sisi lainnya adalah keburukan. Tergantung dari sisi mana hidup manusia itu dipengaruhi dan mau mengendalikannya."
"Lalu?"
"Kita tidak dapat mengelak bahwa kita selalu berada di antara dua sisi tersebut. Dalam artian, manusia bisa melakukan hal baik dan juga sebaliknya. Namun ... seburuk-buruknya sifat manusia, di dalam relung hatinya pasti masih tersimpan sisi kebaikan."
Mbah Suko menarik nafas panjang, lalu menoleh pada Sarah.
"Lalu bagaimana menurutmu, apabila ada seorang manusia yang pernah melakukan kesalahan yang sangat fatal dan ingin menebusnya, walaupun harus mengorbankan jiwa raganya sekalipun?" tanya Mbak Suko kembali.
Sarah mengerutkan kening. Ada yang aneh dengan pertanyaan kakeknya itu.
"Apabila ada orang yang hendak melakukan hal demikian, alangkah terpujinya dia. Semoga Tuhan berkenan mengampuni semua kesalahannya itu," jawab Sarah sambil pandangi wajah kakeknya yang tiba-tiba muram, "apa
__ADS_1
maksud Kakek dengan pertanyaan tadi?"
Mbak Suko tampak murung.
"Kalau Kakek pernah melakukan kesalahan yang cukup berat dan memalukan, apakah kamu masih mau menganggapku sebagai kakekmu, Cu?" terasa berat bagi Mbah Suko mengatakan hal tersebut.
"Tentu saja Sarah akan merasa bangga mempunyai seorang kakek yang berani untuk mengakui kesalahan dan berusaha untuk memperbaikinya," jawab Sarah kemudian, "memangnya apa yang pernah Kakek perbuat?"
Sarah menyelidik.
Mbah Suko menundukan kepala. Kelopak mata tuanya basah dengan genangan air mata.
Di saat itulah, Ibu Sarah datang menghampiri keduanya. Dia duduk disamping bapaknya, Mbah Suko.
"Katakanlah, Pak! Sudah waktunya Sarah tahu ... " ujar wanita itu memberi kekuatan dan dukungan pada bapaknya.
Mbah Suko menoleh pada anak perempuannya. Ibu Sarah mengangguk pelan.
"Ada apa ini sebenarnya, Kek? Bu?" Sarah mulai bingung.
"Katakanlah ... " sahut wanita itu sekali lagi sambi tersenyum dan mengelus pundak Mbah Suko.
"Ketahuilah, Cu. Bahwa ... laki-laki yang telah menghamili adiknya Tuan Karyadi itu adalah ... Kakek sendiri ... " ujar Mbak Suko dengan suara terpatah-patah.
Sarah terkejut. Tubuh gadis itu sampai bergetar hebat. Dia tak kuasa untuk berkata apa pun.
Mbah Suko mengangguk perlahan.
"Apa yang Kakekmu ucapkan itu memang benar adanya, Sarah. Tak ada lagi yang perlu ditutup-tutupi," Ibu Sarah ikut menimpali, "pada saat kejadian itu, kami sekeluarga tidak bisa menerima. Terutama ... ibuku."
"Nak ... " Mbah Suko menatap wajah Ibu Sarah.
"Ibu sangat tertekan sekali menghadapi kenyataan bahwa ... Bapak telah mengkhianati beliau. Apalagi pada saat itu, berbarengan dengan keadaanku yang tengah mengandung anakku, Sarah."
Sarah meraih jemari ibunya, "Bu ... "
Ibu Sarah tersenyum getir.
"Berat sekali yang kami rasakan saat itu. Bahkan sampai Ibu meninggal dunia ... "
"Nak ... " Mbah Suko mengusap wajah anaknya, "maafkan bapak, ya, Nak."
"Maafkan aku, Pak. Jadi teringat kejadian beberapa tahun yang lalu itu."
Sarah memandangi keduanya, "Lalu bagaimana kelanjutan ceritanya, Kek?"
__ADS_1
Mbak Suko menarik nafas sejenak, "Setelah kejadian tersebut, Kakek pergi jauh dari kampung tempat adik Karyadi tinggal. Pergi ke sebuah tempat dan bersembunyi di sana. Tapi selama itu, hati Kakek tak pernah tenteram. Kakek selalu dibayang-bayangi rasa bersalah dan dosa."
Setelah mereguk beberapa tetes air minum, Mbah Suko melanjutkan ceritanya, "Suatu hari, Kakek memutuskan untuk kembali ke kampung itu. Namun sesampai di sana, keluarga Karyadi telah tiada. Yang Kakek dengar
hanya berita tentang Karyadi yang telah membawa kabur seorang anak bayi. Kakek tidak pernah tahu ke mana Karyadi pergi. Dan satu lagi, sampai saat ini Kakek masih menyelidiki, apakah Karyadi masih merawat anak itu?"
"Bayi yang dibawa pergi Tuan Karyadi?" tanya Sarah.
"Ya, itu dia."
"Bukankah bayi itu sosok Ardy, Kek?"
"Kakek juga yakin. Hanya saja belum yakin benar ... "
"Lalu bagaimana Kakek bisa tahu kalau Tuan Karyadi ada di kota ini?"
"Suatu ketika ... Kakek membaca berita dalam sebuah surat kabar tentang keberhasilan Karyadi, yang telah menjadi seorang pengusaha sukses dan kaya raya. Maka Kakek memutuskan datang ke kota ini. Sampai urusan
Kakek selesai ... " kata Mbah Suko dengan suara isak tangisnya.
Sarah berpikir, "Jadi ... Ardy Wiranata itu adalah ... anak Kakek sendiri?"
Gadis itu masih belum percaya sepenuhnya.
"Kakek yakin bayi itu adalah ... Nak Ardy. Darah daging Kakek."
" ... dan itu berarti ... antara Sarah dan Ardy itu masih memiliki hubungan saudara?" ada nada kekecewaan yang tersirat dalam nada suara Sarah, "dia Paman Sarah ... "
"Maafkan kakek, ya, Cu!"
Sarah memeluk kakeknya dengan erat.
"Sarah sangat menyayangi Kakek. Sekaligus bangga mempunyai seorang Kakek yang mau jujur seperti ini."
Ibu Sarah ikut memeluk bapaknya.
"Sekarang, Kakek memutuskan untuk tinggal untuk sementara waktu bersama kalian di sini, karena ... " Mbah Suko ragu untuk melanjutkan ucapannya.
"Ada apa lagi, Pak?" tanya Ibu Sarah penasaran.
"Anak itu dalam bahaya ... "
"Bahaya bagaimana, Kek?" Sarah langsung memotong ucapan kakeknya.
"Entahlah, Kakek juga masih berusaha untuk memastikannya. Lagipula, ada sesuatu yang aneh yang Kakek lihat pada anak itu."
__ADS_1
...BERSAMBUNG...