
...PERJANJIAN BERDARAH...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 17...
...------- o0o -------...
“Non Nola tidak sekolah?” tanya Mbok Inah melihat anak gadis itu termenung.
Nola mengangkat bahunya, “Entahlah, Mbok. Sepertinya Nola tidak sekolah hari ini. Kak Ardy, kan, belum pulang.”
“Ya, sudah. Tak apa-apa. Nanti Mbok minta Mang Sapri yang telepon pihak sekolah, ya?”
“Terima kasih, Mbok. Nola bingung sekali ... ”
“Jangan terlalu banyak pikiran, Non. Nanti Mang Sapri juga yang akan mencari Den Ardy. Mungkin saja kakak Non Nola itu sedang berada di rumah sakit. Buktinya mobil yang biasa dipakai Den Ardy, tak ada di garasi.”
Nola memeluk erat pembantu tuanya itu.
Sementara itu, Ardy yang masih berada di rumah sakit, masih menunggui jenazah Rezky. Semalaman, anak itu belum bisa tidur dan tidak berhenti menangisi adiknya. Bahkan sampai lupa mengabari keluarga.
Sudah tentu Ardy belum mengetahui kejadian yang menimpa papa dan mamanya. Begitu juga dengan kematian Rezky semalam, pihak keluarga belum mengetahuinya.
Semua serba kacau.
Di saat itulah, seorang perawat datang ke ruangan tempat di mana Ardy jenazah Rezky berada.
“Maaf, Dik! Mengganggu!”
Ardy terkejut, lalu menoleh ke arah perawat itu.
“Ya, Suster! Ada apa?” tanya Ardy dengan mata memerah.
Perawat itu memandangi sosok Rezky sesaat.
“Kami turut berduka cita atas meninggalnya keluarga Adik ini. Apakah keluarga Adik sudah diberitahu?” tanya perawat itu.
“Belum,” jawab Ardy sambil mengusap wajahnya, bingung.
“Bisa pinjam telepon di rumah sakit ini, Suster?”
“Tentu saja. Mari ikuti saya!” ujar perawat tersebut sambil melangkah ke luar ruangan.
Ardy mengikutinya dari belakang.
“Cepatlah, Suster!”
Perawat itu mempercepat langkahnya. Ardy berjalan setengah berlari. Tak peduli walau sempat menabrak seseorang di tengah jalan.
“Kurang ajar! Dasar anak tidak tahu sopan santun!” maki orang tersebut.
Ardy tidak peduli. Dia terus mengejar perawat yang berjalan sangat cepat, seolah tak pernah menjejakan kakinya di lantai koridor rumah sakit.
Di sebuah kelokan ujung lorong, tanpa sengaja Ardy menabrak sebuah kereta dorong pasien.
Ardy jatuh terpental.
“Kamu tidak apa-apa, Dik?” tanya seorang petugas rumah sakit membantu Ardy bangkit.
__ADS_1
“Tidak, aku tak apa-apa,” sahut Ardy sambil berdiri.
Tanpa sengaja mata anak muda itu melihat sosok pasien yang terbujur di atas kereta dorong tersebut. Dia terkejut karena mengenali siapa yang terbaring di atas sana.
“Mama!” teriak Ardy sambil mendekat dan memeluk sosok tersebut.
Petugas rumah sakit itu melongo bingung.
Lalu Ardy melihat kereta dorong satunya lagi yang berada persis di belakang mereka.
“Papa! Ada apa ini?” tanya Ardy histeris.
Anak muda ini menangis di hadapan sosok Tuan Karyadi yang terbaring penuh dengan luka bekas cakaran.
“Maaf, Dik! Kedua pasien ini harus segera kami bawa ke ruang unit gawat darurat!” kata salah seorang petugas rumah sakit sambil mendorong kereta dorong tersebut.
Ardy berusaha mengejar namun ditahan seseorang dari arah belakang.
“Lepaskan aku! Aku mau melihat Mama dan Papaku!” teriak Ardy sambil meronta-ronta.
“Tenanglah, Dik!” sahut seseorang yang menahannya.
Ardy berbalik dan melayangkan tinjunya ke wajah orang yang sedang mencekalnya tersebut. Namun gerakannya terhenti begitu mengenali sosok ....
“Dokter Santoso?”
“Syukurlah kamu ada di sini, Dik! Tadi, saya baru mau menelepon ke rumahmu. Mungkin kamu sudah pulang. Tapi kebetulan kita bertemu di sini.”
“Tapi ... justru aku tadinya bermaksud nelpon Papa dan Mama. Untuk memberitahukan kalau ... “
“Kamu semalam tak pulang? Ke mana saja?”
Ardy menundukan kepala.
Dokter Santoso tersentak kaget. Kacamatanya hampir terlepas jatuh.
“Apa?” tanya dokter Santoso tak percaya.
“Rezky telah meninggal dunia malam tadi,“ sahut Ardy sedih.
Dokter Santoso terkejut luar biasa.
“Kalau begitu, beritahu orang-orang di rumah. Biar Rezky, saya yang urus di sini!”
“Baiklah, dok! Saya juga sedang ditunggu oleh suster perawat itu,” ujar Ardy sambil menunjuk ke arah suster yang berdiri tak jauh dari tempat mereka berada.
Ardy langsung berlari mengikuti langkah suster yang tadi.
Dokter Santoso bingung.
“Suster? Suster mana? Tak ada siapa-siapa di sana!” gumam dokter Santoso melihat-lihat arah tempat yang ditunjuk Ardy tadi, “kasihan sekali anak itu. Mungkin cobaan ini terlalu berat dia rasakan. Sampai berhalusinasi ... ”
Dokter Santoso menggelengkan kepala.
Lalu dokter muda itu segera mengintruksikan pada dokter-dokter lain untuk segera memeriksa keadaan Tuan Karyadi dan Nyonya Amanda.
Setelah itu dia bergegas ke ruangan tempat di mana Rezky masih terbujur kaku.
Ardy tiba di ruangan administrasi bersama suster perawat yang diikutinya.
__ADS_1
“Silakan,“ ujar suster itu sambil memberikan gagang telepon.
“Terima kasih!” jawab Ardy.
Saat hendak memijit tombol nomor, tiba-tiba datang seorang suster lain. Dia melotot memandangi sosok Ardy.
“Eh, kamu siapa? Mau telepon siapa?” tanya suster itu bertubi-tubi.
Ardy mengurungkan niatnya.
“Maaf, Suster! Saya mau telepon keluarga saya. Sebentar saja.”
“Siapa yang mengijinkan kamu menggunakan telepon di sini?” tanya suster itu ketus.
“Suster yang itu,“ jawab Ardy sambil menunjuk ke arah suster yang sedang berdiri dekat pintu.
“Suster mana?”
“Itu!“
“Tak ada siapa pun di sana!”
Ardy merasa heran dan bingung.
“Lho, Suster tak melihatnya? Apa Suster ini buta?”
“Kamu jangan meledek, ya? Mata saya masih normal, tahu?” bentak suster tersinggung.
Ardy menggaruk kepalanya yang tak gatal. Benar-benar bingung.
Sesaat setelah anak muda itu mengalihkan pandangannya, sosok suster tadi sudah tidak ada di tempatnya semula. Lenyap begitu saja.
“Lho, ke mana suster tadi?”
“Sudah! Kamu jangan berpura-pura. Keluar dari ruangan ini!” bentak suster yang tadi memarahi Ardy.
“Maaf, Suster! Saya sedang butuh sekali. Sungguh! Tadi ada suster yang mengijinkan saya memakai telepon ini, kok!” Ardy mulai kesal.
“Sudah sana! Keluar!”
Di saat itulah, dokter Santoso datang.
“Ada apa ini?” tanya dokter muda itu heran.
“Ini, dok! Anak muda ini mau memakai telepon di sini tanpa ijin. Katanya, sih, sudah seijin suster lain!”
“Saya tak berbohong, dok! Tadi itu memang saya sudah diberi ijin oleh salah seorang suster. Malah dia sendiri yang nganterin saya ke sini. Tapi ... “
Dokter Santoso mengusap wajah.
“Suster, biarkan anak ini memakai telepon. Dia mau memberi kabar pada keluarganya.”
Suster perawat itu mengalah.
“Silakan, pakai teleponnya, Dy!” ujar dokter Santoso akhirnya.
Ardy segera menghubungi keluarganya. Yang menerima Mbok Inah.
“Mbok, ini Ardy. Saya lagi ada di rumah sakit. Tolong jangan kasih tahu Nola dulu, ya? Kalau ... Rezky sudah ... meninggal dunia,“ kata Ardy dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
“Ya Allah! Den Rezky meninggal dunia? Tapi ... Tuan dan Nyonya .... “ sahut Mbok Inah tak meneruskan ucapannya.
...BERSAMBUNG...