
Cuaca hari ini sedang tidak bersahabat. Matahari tak henti-hentinya memancarkan sinarnya yang dahsyat. Di pinggir kolam renang nampak seorang gadis cantik sedang sibuk membersihkan dedaunan yang berguguran menggunakan penyaring panjang dalam air kolam. Beberapa menit kemudian sosok laki-laki tampan namun sinis itu berjalan mendekat
"Selamat siang Tuan Muda Arya." Yesa menyapa sambil menampakkan senyum cerahnya. Arya tersenyum samar sambil menyilangkan kedua tangan didepan dada.
"Apa yang kau lakukan ?"
"Aku sedang membersihkan air kolam, agar tubuh Anda tidak merasa gatal saat mau berenang karena dedaunan dalam kolam itu Tuan."
Arya mengerutkan keningnya
Ini terkesan sangat aneh. Kenapa Ayah memberi tugas ini padanya.
"Apa kamu senang ?"
"Tentu, aku sudah bilang. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik, agar bisa bermanfaat bagi anda Tuan Muda" Sahut Yesa begitu
antusias.
"Begitu rupanya" Arya menganggukkan kepala." Apa kamu ingat jadwal ku hari ini ?"
"Ya aku tahu Tuan Muda, hari ini Anda hanya
ingin istirahat di rumah dengan tenang. Dan aku akan melakukan tugasku sebaik mungkin, agar Tuan merasa nyaman dalam rumah ini."
"Benar cobalah melakukan yang terbaik. Sekarang buatkan aku kopi dan antarkan ke kamar ku."
"Baik Tuan Muda."
"Ahh satu lagi." Baru berjalan selangkah Arya berbalik lagi melihat Yesa." Mulai saat ini, berhentilah memanggilku Tuan Muda, aku pusing mendengarnya."
Yesa tercengang
__ADS_1
"Lalu aku harus memanggil mu dengan sebutan apa Tuan Muda ?" Bingung.
"Panggil aku Nama ku saja. Aku akan terbiasa dengan itu."
"Ahh begitu ya, baiklah aku akan melakukannya."
Yesa menurut saja apa yang di inginkan Tuan Mudanya tanpa banyak bicara. Dia memang benar-benar polos.
"Bagus."
Aneh kenapa belakangan ini dia berubah
Bahkan hampir tidak mendengar dia marah lagi padaku. Dan apa itu kenapa dia meminta ku memanggilnya dengan sebutan namanya
Gadis itu berpikir sambil menatap punggung
Arya yang sudah berjalan jauh meninggalkannya
Saat mau melangkah, kaki kanan Yesa tersandung gagang kayu dari jaring yang
panjang itu. Membuat tubuhnya terjatuh ke dalam air kolam yang sangat dalam. Sialnya dia tidak bisa berenang. Meski begitu ia tetap bersusah payah berusaha keluar didalamnya hingga kakinya keram. Dan tidak sanggup lagi mengeluarkan oksigen dalam mulutnya.
Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan.
Apa aku berteriak minta pertolongan dari nya.
Tidak ! Aku sudah berjanji untuk tidak merepotkannya lagi. Ayah ibu haruskah aku mati dengan cara seperti ini. Ya tuhan tolong aku
Dan akhirnya Yesa membiarkan dirinya hanyut ke dalam semakin lama semakin dalam. Pasrah.
Sementara itu di kamar Arya
__ADS_1
"Kenapa dia belum juga bawakan kopi untuk ku ?"
Kerena penasaran Arya berjalan mendekat ke arah jendela kamar yang sudah terbuka lebar. Pandangannya tertuju pada kolam renangnya. Badannya tersentak kaget saat melihat tubuh Yesa tenggelam dalam air.
"Yesa ! Ada apa dengannya ?"
Dengan cepat Arya berlari menuruni anak tangga, sesampainya di sana dia langsung menceburkan diri ke dalam kolam. Meraih tubuh Yesa dan menyeretnya. Akhirnya dia berhasil membawa tubuh Yesa keluar dari kolam renang. Setelahnya ia membaringkan tubuh gadis malang itu di pinggir kolam secara perlahan.
"Hei ! Kau bangunlah."
Arya panik sambil menekan dada Yesa dengan kedua telapak tangannya. Dengan refleks Arya memberinya napas buatan. Dia melakukanya berulang kali. Beberapa detik kemudian akhirnya Yesa sadar sambil mengeluarkan sedikit air dari mulutnya dan terbatuk batuk mengatur napasnya yang sempat hilang.
"Syukurlah kamu sudah sadar." Arya berusaha mengatur nafasnya terengah-engah, entah kenapa hatinya merasa lega saat melihat gadis itu sadar.
Yesa bangun dari tidurnya, lalu duduk di samping Tuan Mudanya sambil mengatur nafas dari tubuhnya yang sudah gemetar kedinginan. Wajahnya menunduk.
"Terimakasih, karena kamu sudah menolongku lagi. Dan maaf, karena sudah melanggar janji ku. Hari kedepannya aku berjanji, aku tidak akan merepotkan mu lagi. Untuk kali ini aku benar-benar minta maaf."
Dengan ketakutannya Yesa berkata seperti Tuan Mudanya akan segera mengusirnya dari rumah ini seperti tempo hari. Saat Arya menolongnya dari preman jalanan malam itu. Dia bahkan tidak berani menatapnya.
"Kamu tidak perlu minta maaf padaku." Yesa menatap Arya." Sebaiknya kamu bersihkan dirimu. Balutlah tubuhmu yang basah itu dan istrahatlah." Ujar Arya dengan suara lembut tidak seperti biasanya selalu terdengar sangat dingin dan getir.
Ehh aku tidak salah dengar kan. Aku kira dia akan memaki ku lagi. Apa itu artinya dia sudah memaafkan ku.Tidak ! Bagaimana mungkin dia memaafkan ku dengan semudah itu
Arya berdiri dari duduknya lalu berjalan meninggalkan Yesa. Entah kenapa sekilas wajah dan telinganya memerah.
" Te-te teerimakasih Tuan Muda."
Aneh kenapa wajahnya bersemu merah
Setelah langkah Arya menjauh dari jangkaunnya. Yesa mengedarkan pandangan pada tubuhnya yang sudah basah, lalu menutup dada dengan kedua lengannya.
__ADS_1
"Memalukan ! Apa dia sudah melihatnya ?"