
Mobil sport hitam melaju dengan kecepatan sedang memecah jalanan yang sepi, kini atap mobil sport hitam itu di biarkan terbuka. di samping kiri terdapat bukit, di samping kanan terdapat danau yang memagari jalanan indah begitu alami.
Arya tak henti-henti melirik istrinya tersenyum gembira seakan menikmati pemandangan indah di wajahnya, sambil terlihat sibuk memotret sana sini. Rambut indah panjangnya di biarkan terurai sehingga dengan mudah tertiup angin, senyum cerianya, tingkah laku yang begitu imut baginya, seakan mampu mengalihkan dunianya, ini kali pertamanya Arya melihat istrinya begitu bahagia di matanya.
Satu jam kemudian, mobil itu berhenti tepat di sebuah rumah yang sangat sederhana sekali. Rumah itu lumayan besar dan unik, bentuknya mirip sekali dengan vila yang ada di puncak pegunungan. Dari dinding hingga perabotannya semua serba kayu. Di rumah itulah sahabatnya Icha beserta suaminya tinggal.
"Suamiku apa benar ini alamatnya?"
"Tentu, tidak akan salah lagi, ini memang benar alamatnya." Kata Arya sambil menatap layar navigasi di mobilnya. Sesudahnya ia menekan tombol lock agar atap mobilnya tertutup dengan rapat.
Lalu, pasangan suami istri ini melepaskan sabuk pengaman, setelahnya mereka turun dari mobil. Berjalan mendekati pintu masuk rumah unik itu. Setibanya di teras rumah Yesa yang mengetuk pintunya.
"Siapa?" Tanya Icha dari dalam rumah, tidak berapa lama pintu terbuka, tampaklah sosok wanita manis yang berambut sebahu muncul. Dia terkejut saat melihat wajah yang tidak asing di hadapannya. "YEEEESSSAAAA" Saking bahagianya Icha memeluk sahabat terbaiknya hingga meneteskan air mata.
Sekarang Icha kelihatan berbeda dari sebelumnya,lebih feminim dan sangat ke ibuan dan sepertinya dia sedang hamil.
"Yesa selamat ulang tahun sayang" Kata Icha lagi dengan tulus saat sudah melepaskan pelukannya
"Sayang! Dasar norak, tapi... Terimakasih, sampai saat ini ternyata kamu masih ingat hari ulang tahun ku."
"Dasar cerewet! Tentu saja, bagaimana mungkin aku melupakan hari ulang tahun mu. Aku kira karena kamu sudah menikah dengan pengusaha kaya raya terkenal, kamu akan melupakan ku." Setelah bicara Icha melirik Arya
"Ya tuhan, maaf suami ku. Aku hampir melupakan mu, Icha kenalkan ini adalah suamiku Arya." Yesa Memperkenalkan dengan tangannya.
"Aku Arya Hendra Saputra, senang berkenalan dengan mu." Jawab Arya tanpa meraih tangan Icha yang sudah mengulurkan tangannya, membuat Yesa mengerutkan keningnya.
"Maaf Icha, Suamiku ..."
"Ah, Kamu tenang saja, aku sudah tahu. Suamimu begitu apik hehe, mari silahkan masuk." Sambil bicara Icha mempersilahkan masuk dengan tangannya.
Pasangan suami itu melepaskan sepatunya masing masing, kemudian mereka duduk di kursi yang terbuat dari kayu.
"Kalian tunggu sebentar yah, aku akan buatkan teh hangat dulu." Kata Icha
"Baik terimakasih." Yesa yang menjawab
Icha sudah pergi ke dapur, beberapa menit kemudian icha dan Bik Minah pembantu icha muncul sembari membawakan beberapa toples kue kering dan tiga cangkir teh hangat, di atas nampan, lalu meletakkannya di atas meja. Setelahnya Bik minah kembali lagi ke belakang.
"Sejujurnya aku masih tidak menyangka, ini benar-benar kalian, tapi bagaimana kalian bisa saling kenal." Icha memulai basa-basi seperti dulu kala.
"Aku juga tidak begitu ingat dengan
jelas. Tapi, kalau kamu sudah melihat wawancara di tv, kamu mungkin bisa tahu lebih jelas." Jawab Yesa santai, dia memang begitu jika sedang ngobrol dengan sahabatnya itu. Membuat Icha bingung adalah hobinya.
"Apa?" Icha mengerutkan keningnya bingung dengan jawaban Yesa yamg entah mengarah kemana.
Sementara Arya, setelah mendengar istrinya bicara, dia melotot dan berhasil membuat Yesa ketakutan.
"Eh, maksudku bukan begitu, kalau mau aku ceritakan juga tidak akan mudah, karena ceritanya sangat panjang." Yesa bicara lagi.
"Ah begitu ya, aku juga kaget, karena yang aku tahu dari Gosip, suami mu tidak pernah menunjukan kalau dia menyukai seseorang."
"Yah aku tahu, itu dia memang sangat aneh benarkan." Yesa menjawab dengan suara yang meledek.
"Apa?" Arya melotot lagi
"Heee..." Yesa hanya Nyengir
"Dikatakan bahwa, kalian bertemu pertama kali di rumah mu, apa kamu bisa jelaskan kejadiannya." Tatapan Icha beralih pada Arya.
"Bagaimana kamu bisa tahu?" Tanya Yesa padahal dia sama sekali tidak pernah bercerita.
"Aku lihat di tv" Icha Menjawab singkat "Apa benar itu hanya gosip?" Masih penasaran
"Kita memang bertemu pertama kali di rumah ku." Arya bicara "Waktu itu dia sangat gelisah tapi dia juga tidak sadar, kalau waktu itu dia sangat menarik. Selain itu dia juga selalu mengganggu ku."
"Wah!" Icha terkejut "Bagaimana bisa dia selalu mengganggu mu. Karena setahu ku Yesa itu orang yang tidak suka banyak bicara."
"Cih." Arya membuang muka. "Istriku, memang tidak suka banyak bicara, tapi dia benar-benar kikuk, merepotkan sekali."
"Apa kata mu?" Melihat Yesa memelototi suami nya, Icha terkekeh
"Kenapa kau tertawa?" Yesa bertanya.
"Yesa, untuk seorang lelaki yang begitu banyak di cintai wanita, menurut mu hal apa yang membuat mu berbeda di mata suami mu?" Icha semakin penasaran saja, bagaimana mungkin Yesa mampu menaklukan hati suaminya.
"Entahlah, aku tidak tahu dengan jelas."
"Mungkin dia tidak tahu, kalau dia
sangat cantik." Adalah kata yang sudah terbiasa Yesa dengarkan dari mulut suaminya ini, jadi jawaban itu sama sekali tidak membuatnya terkejut
"Ya aku tahu itu, dia memang cantik, tapi saat aku dengar Gosip di Tv, pernikahan kalian terkesan mendadak, apakah ada alasan lain? Apa memang benar Gosip itu, kalian di paksa menikah?"
Degh, Yesa menatap Arya.
"Tidak, waktu itu aku..."
"Gosip itu tidak benar" Arya memotong. "Aku sangat mencintai istriku, dia seorang gadis cantik yang memiliki harapan dan kebahagiaan pada hal kecil. Saat bersamanya aku merasa bahagia dan karena dia, aku tahu apa arti kebahagiaan. Aku ingin melindunginya, itulah alasan kenapa aku memutuskan menikah dengannya. dia adalah surga yang tidak ternilai bagiku." Jelas Arya sambil memandang wajah istrinya dengan tulus.
"Wah, romantisnya, tapi Yesa kenapa kau tidak memberitahuku, aku sangat cemas waktu itu aku juga mencari mu kemana-mana."
Romantis apanya, bocah dingin ini tidak bisa di tebak, di depan ku seperti apa, di depan orang seperti apa, di belakang orang seperti apa, sepertinya di dunia ini orang yang memahami dirimu hanyalah aku
Nada dering handphone Arya berbunyi. Dilayar itu bertuliskan nama Boby
"Maaf, aku keluar sebentar, aku harus menjawab dulu panggilan ini." Kata Arya seraya bangkit dari duduk
Setelah melihat Yesa dan icha mengangguk, Arya berjalan ke luar pintu masuk.
"Yesa, kamu sangat beruntung, bagaimana kamu bisa menikah dengannya, kau tahu dia sangat tampan, aku tidak menyangka bisa lihat tampangnya sedekat ini." Icha bicara begitu antusias
Bisa di katakan melihat wajah laki-laki yang dulu dia dambakan secara langsung adalah berkah baginya. karena selama ini dia hanya bisa memandang Arya kagum dalam layar kaca saja.
"Icha, Maaf Aku tidak memberitahu mu sebelumnya, selamat atas pernikahan mu. Tapi omong-omong di mana suami mu?" tanyanya seraya menghisap secangkir teh hangat di tangannya.
"Ah suamiku, dia lagi dinas di luar kota. Kamu tahu, suami ku seorang polisi lho."
Yesa langsung meletakkan cangkir di atas meja karena terkejut
__ADS_1
"Wah, aku tidak menyangka kau bisa menikah dengan seorang polisi, pantas saja waktu itu kamu tahu sekali, saat Ayah mertuaku mengalami kecelakaan."
"Hehee, kenapa kamu baru menyadarinya sekarang?" tanya Icha merasa bangga sendiri
"Cih, kamu memang pandai menyimpan rahasia ya. Tapi bagaimana dengan ceritanya, kenapa kalian bisa saling kenal? Aku penasaran."
Alih-alih Yesa dan Icha asik berbincang tentang perjalanan cinta Icha dan suaminya.
Di teras rumah Arya nampak berbicara dengan seseorang melalui handphonenya.
"Presdir Arya, kenapa kau menolak bekerja sama dengan ku untuk membangun proyek J.T" Boby bertanya di seberang sana
Hening sesaat
Proyek J.T adalah rencana membangun beberapa Apartemen, selain itu Lokasi Apartemen yang akan di bangun sangat rawan banjir, karena berada di daerah rendah. Setiap tahun di musim penghujan itu terendam banjir. Selain harus menggusur beberapa unit rumah warga, banyak warga di sekitar itu tidak setuju, karena mereka khawatir dengan di bangunnya Apartemen itu akan memperparah banjir. Begitu ingatannya, saat ia mendengarkan tutur kata dari Dani, dan ayahnya tadi pagi
"Kenapa kau tak menjawab? Apa kau menganggap proyek ini hanyalah lelucon bagimu?" Tanya Boby lagi
"Tidak, aku tidak menganggap Proyek J.T itu sebagai lelucon, Hanya dengan satu pembangunan saja. Proyek itu bisa menyingkirkan dan merugikan orang yang tidak bersalah di sekitarnya, Jadi bagaimana mungkin aku menganggap proyek itu sebagai lelucon?" Jelas Arya
"Apa maksud mu?"
Arya menghela nafas
"Statistik itulah alasannya, Apa menurut mu proyek itu bisa menjanjikan?"
"Menurut akal sehatmu, apa proyek itu bisa menjanjikan?" Tanya balik Boby di seberang
"Tentu, Menurutku itu tidak bisa menjanjikan"
"Cih, kenapa kau begitu yakin, kenapa kau memutuskan jalan hidup orang lain, berapa banyak usaha yang sudah kau anggap REMEH karena akal sehatmu itu, sebagai seorang Presedir ?" Bantah Boby di seberang, bahkan suaranya sudah meninggi." Aku dengar belakangan ini kau lebih sering berlibur ketimbang dengan urusan bisnis mu."
"Apa kau sedang mengkritik ku? Cih, lucu sekali, Serigala takkan menggonggong pada harimau. Hanya orang bodoh yang melakukannya. Hanya orang bodoh yang terus mengoceh pada tempat yang salah, apa kau tahu tugas Presdir sampai kau harus mengoceh seperti ini."
Arya menutup panggilannya
Adalah keputusan yang terbaik untuk tidak bergabung membangun proyek itu. Cih, Merepotkan sekali. Begitu pikirnya sambil berjalan kembali memasuki rumah Icha setibanya disana.
"Ah itu dia." Kata Yesa saat melihat
suaminya itu berjalan mendekat lalu duduk di kursi, tepat disampingnya." Hehe. Suamiku, malam ini jika waktumu senggang... "
"Berhenti basa-basi." Arya memotong cepat, sekilas Yesa mematung lalu melirik Icha yang sudah membuang muka, karena Arya menatapnya penuh arti.
"Ah baiklah, suamiku, apa kau mau pergi ke bukit bintang malam ini bersama ku?" Ajak Yesa dengan suara yang memohon.
Arya melotot, Apa kau ingin membawaku ke tempat ramai dan kotor lagi. Begitu artinya. Tapi Yesa tidak mau menyerah, dia langsung memperlihatkan wajah manjanya. Tentu saja sambil menggigit ujung bibirnya yang tipis.
"Cih, jika aku menolak sekalipun, kamu akan tetap memaksaku bukan." Kata Arya sambil membuang mukanya yang sudah merona.
"Hehe, suamiku kamu memang yang terbaik deh."
"Cih" Masih membuang muka. Yesa hanya nyengir, sedangkan Icha ia melongo
"Icha, bagaimana dengan mu, apa kamu mau ikut juga bersama kami? " Tanya Yesa
"Ah tidak, aku sedang hamil muda, jadi aku tidak akan sanggup menaiki tangga ke atas bukit." Jelas Icha seraya mengusap lembut kandungannya.
"Mudah saja, kau hanya tinggal berjalan menaiki anak tangga yang sangat tinggi dan tidak jauh dari rumahku, kamu juga bisa melihatnya dari sini."
"Benarkah?" Arya yang bertanya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Ya, kamu hanya tinggal berjalan ke arah kanan sedikit dari rumahku, habis itu kamu akan melihat tangga yang sangat tinggi menuju bukit bintang itu." Jelas Icha
******
Kediaman Sinta
Seorang wanita cantik sedang duduk di depan meja rias sembari menatap handphone di tangannya.
"Apa aku harus menghubungi mu?" begitu tanyanya dalam hati, dia terlihat ragu saat ingin menghubungi seseorang.
Dia letakan kembali handphone nya lalu berjalan dan duduk di bibir tempat tidur, pandangannya beralih pada sebuah foto yang terletak di bawah lampu tidurnya.
Menatapnya dengan penuh seksama, lalu dengan sekilas dia teringat pada kejadian di masa lalu. Hari dimana dia menikmati makan malam bersama mantan kekasihnya di restauran mewah.
"Sayang, kau tahu. Sejak dulu aku bermimpi ingin menjadi Desainer pakaian terkenal di paris." Shinta bicara pada Dery mantan kekasihnya
"Kenapa harus di paris, aku rasa disini kamu sudah cukup terkenal." Jawab Dery sambil makan
''Kamu memang benar sayang, tapi aku masih belum merasa cukup."
Dery meletakan sendoknya, melihat Shinta dengan penuh arti.
"Shinta kamu harus tahu, aku ingin segera menikah dengan mu. Jadi kamu tidak perlu mengejar impianmu itu. Kelak kau hanya perlu fokus padaku saja. Apapun mau mu, meskipun kamu menginginkan seluruh isi dunia ini aku akan berikan pada mu."
"Menikah?" Shinta terkejut "Tidak, itu mustahil, aku masih belum siap untuk menikah."
''Shinta ada apa dengan mu. Apa kamu tidak ingin menikah dengan ku?"
Shinta menggeleng.
"Bukan begitu maksud ku, hanya saja aku merasa kita masih terlalu dini untuk menikah."
"Itu alasan yang konyol." Dery menjawab acuh lalu membuang mukanya.
Dan begitulah seterusnya, semakin Dery memaksa Shinta untuk menikah dengannya. Shinta malah semakin ambisius ingin mengejar karinya di masa lalu. Bahkan ia bekerja sama dengan teman masa kecilnya Dika demi mencapai tujuannya.
Suatu hari, saat di mana Dery merayakan hari ulang tahunya, ia berniat untuk melamarnya sebagai calon istri di hadapan para tamu undangan. Namun rencana indah itu sirna saat dia melihat Shinta mengandeng laki-laki lain di hadapannya, mereka terlihat begitu mesra waktu itu.
Jika roda putar bumi dapat berputar kembali. Ingin rasanya aku memperbaiki kebodohanku di masa lalu.
*****
Rasa lelah langsung terbayar lunas setelah harus menaiki hampir seribu anak tangga, hanya untuk melihat keindahan malam di atas bukit. Mereka kini sudah ada di atas Bukit Bintang.
Keadaan di atas Bukit Bintang ini sangat menawan untuk melewatkan malam. Di tempat ini berjajar sejumlah warung aneka makanan dengan harga ringan.
Dari ketinggian Bukit Bintang ini, tepatnya di warung tepi jurang pasangan suami istri itu kini sedang menikmati jagung bakar, plus minuman hangat, di temani kerlip lampu pedesaan di sekitar danau yang menawan di kejauhan.
__ADS_1
"Foto yang bagus ya." Pinta Yesa pada suaminya untuk memotret wajah imutnya
Arya menuruti kata Yesa dia langsung memotret wajahnya.
"Aku sangat bersemangat, Suamiku bagaimana apa hasilnya bagus?" Kata Yesa sambil melihat layar camera digitalnya. "Lumayan hehe."
Entah apa yang di pikirkan Arya sedari tadi dia tidak henti-hentinya melihat senyum manis dari bibir istrinya yang tipis.
"Suamiku, lihat sini." Arya menurut. Clikk begitulah kira-kira suara berasal dari camera digitalnya saat mengambil gambar. "Kenapa kamu bergerak."
"Cih, kekanakan sekali."
"Tapi, ini Bagus hihi." Yesa menutup mulut dengan tangannya setelah melihat gambar wajah suaminya yang terlihat imut.
"Begitu ya, aku tidak yakin kalau itu aku." Kata Arya saat melihat layarnya.
"Suamiku, itu karna kamu bergerak " Jelas Yesa sambil mencubit hidung suaminya.
"Cih" Arya membuang muka malu.
Setelah selesai menikmati jagung bakar, dan minuman hangatnya. Kini pasangan suami istri ini berjalan mendekati pagar pembatasan bukit yang terbuat dari kayu. Angin malam menerpa wajah dua manusia sedang berdiri di di sana.
"Nyaman sekali" Kata Arya sambil menghirup udara malam disana, takjub saat memandang lampu- lampu deretan rumah, bagaikan lautan bintang di kaki bukit. indah sekali rasanya.
"Suamiku, apa kamu senang datang kesini?"
Arya mengangguk
"Kamu kedinginan?" Tanya dia saat melirik Yesa menggesek kedua telapak tangannya lalu meniupnya demi mendapatkan rasa hangat. Secepat kilat Arya memasukan satu tangannya kedalam saku jaket miliknya.
"Seharusnya kita membawa sarung tangan, apa kamu mau pulang?"
Yesa menggeleng
"Aku masih ingin menikmati indahnya malam ini, suamiku kamu tahu ini sangat indah." Ujarnya sambil menampakkan senyum indahnya yang jarang terjadi.
Karena melihat senyumannya, jantung Arya berdegup dengan kencang, lalu tiba-tiba ia memeluk istrinya dari belakang.
"Istriku, entah kenapa aku merasa senyuman mu terlihat sangat manis sepanjang hari. Aku hampir tidak bisa menahan diriku. Istriku lihat aku."
Perlahan Yesa menoleh ke arah wajah suaminya. Hidungnya nyaris bersentuhan.
"Istriku, apa kau tahu? aku tidak ingin orang lain menatap wajahmu saat kamu tersenyum. Mulai saat ini, hanya aku seorang yang dapat
melihat senyum indah mu ini."
Yesa tersenyum lagi
"Suamiku, aku mencintai mu. "
Arya tercengang, ini kali pertamanya ia mendengar istrinya mengatakan kalimat itu.
"Hhh" Arya menghela nafasnya "Istriku, kamu tau. Saat ini yang aku inginkan hanyalah memelukmu sepanjang waktu." Perlahan dia memajukan wajahnya, bibirnya menyentuh bibir Yesa menciumnya dengan penuh cinta.
"Apa kakimu lecet." Arya bertanya setelah tanpa sengaja melihat pergelangan kaki istrinya sedikit memerah akibat dari gesekan bahan sepatunya.
"Ya karena sepatu ini masih baru."
Tiba-tiba Arya berjongkok, lalu menepuk punggungnya, meminta agar istrinya segera menjatuhkan tubuhnya di sana.
"Suamiku, Aku tidak apa-apa."
"Naiklah."
"Baiklah."
Yesa menuruti kata Arya, dia perlahan membungkuk lalu memeluk punggung suaminya. Dan akhirnya Arya menggendong istrinya di belakang menuruni anak tangga menuju rumah Icha yang letaknya di bawah bukit.
Ya Tuhan, jantungku serasa berhenti berdetak saat dia sangat perhatian padaku. Ini kali pertamanya aku merasakan kehangatan yang manis.
Sambil membenamkan wajah di punggung suaminya, Yesa bicara dalam hatinya.
*****
Di jam yang sama, Di tengah Franks bar, tepatnya di ruangan VIP Terdapat satu sosok laki-laki yang tengah menikmati minuman sambil bermain billiardnya, di temani satu wanita penghibur di sampingnya
"Maaf Lee, aku terlambat." Dery bersapa saat sudah masuk lalu duduk di sofa
"Tidak apa apa sudah terbiasa." Leon menjawab lalu menghentikan permainan billiardnya. Saat ini dia sudah duduk di sofa bersebelahan dengan Dery sambil meneguk minuman sodanya dan wanita penghibur itupun pergi di hadapannya.
"Kamu sendirian? Di mana wanita mu?" Dery bertanya lagi sambil meneguk minuman sodanya
"Kau sangat tahu, jangka waktu menyimpan satu wanita hanyalah satu minggu." Jawab Leon, ia memang suka mengganti wanita, ini memang sudah menempel di kehidupannya.
"Aa, ternyata ini sudah satu minggu rupanya." Dery menjawab datar.
"Omong-omong di mana Kakak mu? Hari ini sungguh menggairahkan, Entah apa yang di lakukan kakakmu dan.istrinya itu." Setelah melontarkan kalimatnya Leon terbahak.
Dery tersenyum.
"Apa kau pernah melihat wajah Kakak ku sebelum dia menikah. Sangat masam."
"Ya kau memang benar."
"Leon kau tahu? Saat kali pertama dia melihat istrinya, ekspresinya menjadi semakin dingin, dia sangat marah sampai urat di sekitar wajahnya hampir pecah."
"Benarkah, menggelikan sekali "Leon terbahak lagi, seolah tidak percaya. Karena dia tahu Arya teman dekatnya itu sama sekali tidak pernah mau menyentuh wanita. "Dery apa kau masih ingat, saat kali pertama aku berkenalan dengannya."
"Siapa yang melupakan gaya dinginnya itu, dia pernah berkata begini." Dery langsung memperagakan gaya cara bicara Kakaknya yang dingin itu. "Dery jika kamu masih berteman dengan teman mu itu, hati-hati otakmu bisa menjadi ampas tahu.
"Haha" Leon terbahak lagi "Kau masih ingat, wajahnya sangat menakutkan. Sama sekali tidak mau memberi muka, tapi aku rasa belakangan ini dia menyebalkan. Setelah menikah hidupnya selalu di warnai dengan semangat."
"Kau benar" Dery tersenyum "Kakak ku seperti baru menemukan hidupnya kembali."
"Justru aku merasa kau tidak bahagia." Leon memotong sambil meraih gelas minuman soda di atas meja.
"Bisa di bilang begitu, karena belakang.ini sangat menjenuhkan." Dery bersandar di sofa, menengadahkan kepalanya lalu menutup matanya.
"Bukankah ada hal yang menarik untuk mu. Menurutku, wanita yang bernama Shinta itu menarik sudah berani mempermainkan Dery, aku rasa sejak kecil sampai dewasa kau tidak pernah mengalami hal semenarik itu, Dia seperti kakak mu, keras kepala aku rasa kamu pasti takkan bisa menundukkan nya." Ujar Leon sambil meneguk minuman soda di tangannya.
__ADS_1
"Apa kau bisa berhenti bicarakan tentangnya, aku sudah muak."
Leon mengunci bibirnya rapat setelah menerima tatapan sinis Dery