PERJODOHAN CEO JEWELERY

PERJODOHAN CEO JEWELERY
NOSTALGIA


__ADS_3

Dua jam sebelumnya saat Arya dan Yesa sedang istirahat di kamar.


Selepas Hendra dan Sandra pergi dari


kediaman Dom


Linda dan Rendi menyusul dengan


menggunakan motor untuk berkunjung ke


rumah John.


" Kenapa kakak membawa ku berhenti


di sini ?" Rendi mengerutkan kening pada sebuah


rumah megah. Selain taman, lapangan golf


dan danau buatan yang melengkapi


fasilitas rumah mewah itu. Di belakangnya terdapat hutan sangat luas, sangat cocok untuk berkuda sambil memanah.


" Kita sudah lama tidak bertemu dengan paman John." Linda meletakan helm diatas motor.


" Paman ! "


" Emmh." Linda mengangguk saja.


" Jadi ini rumah paman, aku belum pernah kesini sebelumnya."


" Malam ini adalah malam bahagia bagi


keluarga besar paman. Jadi kita


datang kesini." Linda menghirup udara


nyaman sesaat " Rumah ini tidak berubah sedikit pun. Ayo masuk." Linda menarik tangan Rendi berjalan memasuki rumah.


" Selamat datang." Kepala pelayan rumah menyambut." Silahkan masuk Tuan dan Nona muda."


" Terimakasih."


Linda dan Rendi berjalan mengikuti Kepala Pelayan di depannya sampai memasuki ruang keluarga. Sesampainya disana John duduk di sofa menyambut kedatangannya.


" Selamat datang keponakan ku." Linda


meraih tubuh John memeluknya sebentar." Bagaimana kabar mu ?"


" Kabar ku baik. Bagaimana kabar paman ?"


" Kabar paman sangat baik," John menatap Rendi dengan hangat." Rendi kemarilah paman ingin memeluk mu." Rendi menuruti kata John. Ia terlihat mendekat." Terakhir kali paman melihat mu baru berumur lima tahun.Tapi sekarang kamu sudah besar." Setelah bicara John memeluk tubuhnya sebentar


" Terimakasih paman, aku juga belum pernah datang kesini sebelumnya." Rendi bicara


" Aku tahu kamu tumbuh besar di


Jerman. Silahkan duduk. Teh atau sesuatu yang lebih kuat. Aku punya beberapa teh hijau yang tersisa. Teh hijau tahun 1972. Teh yang bagus sekali hampir setua diriku.


Dan itu di berikan oleh ayah ku. Bagaimana kalau kita menikmatinya ?"


" Tidak perlu, aku mau air dingin saja terimakasih." Linda bicara


" Dan kau ? " John bicara pada Rendi


" Sama hal nya dengan kakak ku. Air dingin saja paman."


" Pak Ketut, siapkan dua gelas air dingin untuk minum keponakan ku."


" Baik Tuan."


" Ternyata paman sama sekali tidak berubah " Linda bicara


" Aku menantikan kedatangan


mu. Setelah acara amal minggu lalu. Tapi


itu tidak penting kau datang dan


pergi sesuka mu."


" Maaf paman waktu itu aku


ingin melihat gunung lagi


kemudian menemukan tempat yang tenang


untuk menyelesaikan Desain ku."


" Kau serius dengan rencana


mu ?"


" Ya sudah ku persiapkan semuanya sudah di atur."


Pak Ketut terlihat membawa dua gelas air di atas nampan. Lalu meletakan gelas di atas meja.


" Terima kasih." Linda bicara


Pak Ketut menekuk wajah sambil tersenyum seperti bicara Sama-sama Nona. Setelahnya ia berjalan lagi meninggalkan ruangan itu.


" Ayah mu mencurigai sesuatu." John bicara lagi


" Tentu saja dia ayah ku."


" Kau akan memberitahunya bukan ? "


" Ya ."


" Dia sangat menyayangimu."


" Aku tahu, dia mungkin akan

__ADS_1


ikut tinggal bersama ku disini jika aku


memintanya. Kurasa dalam hatinya. Ayah


masih mencintai negaranya. Aku sudah mau


menikah. Ayah inginkan aku menjadi


penerus Grop DM memang tidak terlihat tapi


aku mulai merasakannya dalam


hati ku."


" Selepas ibu mu meninggal. Ayah mu


sangat ingin melindungi mu. Dia tidak ingin


merasa kehilangan untuk ke


dua kalinya."


" Aku tahu itu paman. Tapi aku juga


ingin merasakan bagaimana rasanya dimiliki


dengan orang ku cintai


sepenuhnya "


" Baiklah, sepertinya aku tidak dapat


membujuk mu. Tapi aku akan


mendukung mu. Dan kau" Rendi menatap


John " Apa yang kau rencanakan ?"


" Ayolah .. Apa paman tidak melihat


reaksi dari wajah kakak. Dia sedang


melotot pada ku."


John tertawa sebentar.


" Aku melupakan hal itu. Kakak mu


lebih menyeramkan di bandingkan


dengan mu." Rendi terbahak dengan


kalimat John." Tapi kau akan selalu


mengawasinya kan ?"


" Sangat mengawasi kapan saja aku bisa meluangkan itu." Rendi menjawab dengan antusiasnya" Aku akan tinggallkan semua urusan ku demi kakak ku."


" Terimakasih... " Linda tersenyum " Aku sangat tersentuh mendengar adik berkata begitu."


" Aiih "


Plak


" Akh ! " Rendi mengerang " Hei ! kenapa kau memukul belakang kepala ku ?"


" Kau bodoh ! "


John terbahak


Suara langkah kaki terdengar sedang mendekat.


" Bodoh ! " Rendi terkejut " Siapa yang bodoh. Aku ?" Linda menarik ujung bibirnya berkedut. Dengan cepat Rendi meraih rambut Linda mendongak.


" Apa yang kau lakukan? Hei lepaskan tangan mu " Linda meronta. Kedua tangannya menarik ujung rambut Rendi menunduk


" Tidak akan ! " Rendi tidak mau menyerah


" Kalian memang tidak pernah berubah " John bicara lagi


" Sedang apa kalian ?" Sebuah suara manusia entah dari arah mana datangnya


" Ayah ! " Rendi melepaskan tangannya


Linda mengerutkan kening


" Ayah ! Bagaimana bisa ayah ada disni ?"


John terkejut setengah mati saat melihat siapa yang datang. Ia langsung berdiri dari duduk.


" Dalmiro... hahaha bagaimana kabar mu ?" John meraih tubuh Dalmiro " Kakak sama sekali tidak berubah."


" Kabar ku baik sekali."


" Malam kawan " Hendra bicara entah


dari arah mana datangnya.


Dalmiro menatap


Hendra." Sumpah demi jantung ku, kau lebih


tinggi dan lebar di banding kita


terakhir kali bertemu."


" Melebar bukan lebih lebar. Cukup bagus


untuk kita berdua " Hendra protes


Dalmiro terbahak sambil memeluk tubuh

__ADS_1


Hendra sebentar.


" Apa kau sudah makan malam ?" Sandra bicara


" Belum "


Tanpa sadar para orang tua berjalan


menuju meja di taman. Disana sudah terdapat berbagai macam hidangan makan


malam yang sudah di sediakan Pak Ketut dan beberapa pelayan lainnya. Setelah


mendekat mereka duduk di kursi


masing-masing. Meninggalkan Rendi


dan juga Linda di belakang.


" Apa ini ?" Dalmiro menatap aneh pada minuman dalam cangkir berwarna putih


" Entahlah, ku rasa itu teh hijau " Sandra menjawab


" Apa kakak tidak suka minum teh ?" John bicara


" Hanya sedikit. Tapi aku lebih


suka kopi luwak. Itu lebih cocok


untuk ku. Setelah menikmati makan


malam ini" Dalmiro menjawab


" Ah baiklah kalau begitu. Pak Ketut !"


" Ya Tuan " Dengan cepat ketut menjawab


" Buatkan secangkir kopi luwak untuk tamu


spesial kita "


" Baik Tuan "


" Dan satu lagi. Panggil putri dan menantu ku untuk segera bergabung bersama kami."


" Baik Tuan " Dengan segera Ketut


melakukan apa yang di


katakan John. Ia sudah melangkah


meninggalkan suasana hangat di taman


" Malam yang indah " Dalmiro bicara lagi


" Malam yang indah? " Mata Hendra


menatap bingung pada langit sesaat. " Ya kau


benar. Tapi aku rasa tidak


akan lama lagi. Hujan akan turun "


" Kau memang tidak pandai memahami situasi. Dimana Romantisme mu ?"


" Kau tahu aku. Romantis bukanlah diri ku " Dengan santainya Hendra bicara


Ke empat orang tua itu terbahak. Tidak perduli jika ada dua manusia sedang menatap dengan heran.


" Permisi. Maaf menganggu " Linda bicara." Masalahnya aku tidak yakin ayah


berada di rumah yang tepat. Bukannya


aku tidak suka ayah ada disini. Tapi


ini luar dugaan. Kenapa ayah


tidak beritahu aku. Kalau ayah dan


paman John sudah


berbaikan "


Sepertinya ke empat orang tua itu


tidak menggubris kalimat Linda. Mereka


masih mengoceh ke mana-mana


seperti sedang menikmati momen


nostalgia.


" Ayah aku tidak bermaksud


kasar. Tapi aku ungkapkan apa yang


harus aku pikirkan. " Linda masih bicara. Tapi


para orang tua itu tidak


menggubris. Karena gusar


di akhir kalimat Linda meninggikan


nada suaranya. " MAAF AYAH "


Ke empat orang tua itu menoleh sejenak. Dan


sialnya lagi mereka hanya


mengatakan " Permintaan maaf di terima " Setelahnya mereka kembali lagi pada topik. " Kau mau makan ini kawan. Aku rasa aku akan makan lagi jika kau bersikeras " Hendra Berbicara panjang lebar entah kemana

__ADS_1


Rendi terlihat mendekat lalu menepuk bahu kanan Linda " Kakak sepertinya mereka tidak memperdulikan keberadaan kita "


Linda hanya mendengus


__ADS_2