
Dua jam sebelumnya saat Arya dan Yesa sedang istirahat di kamar.
Selepas Hendra dan Sandra pergi dari
kediaman Dom
Linda dan Rendi menyusul dengan
menggunakan motor untuk berkunjung ke
rumah John.
" Kenapa kakak membawa ku berhenti
di sini ?" Rendi mengerutkan kening pada sebuah
rumah megah. Selain taman, lapangan golf
dan danau buatan yang melengkapi
fasilitas rumah mewah itu. Di belakangnya terdapat hutan sangat luas, sangat cocok untuk berkuda sambil memanah.
" Kita sudah lama tidak bertemu dengan paman John." Linda meletakan helm diatas motor.
" Paman ! "
" Emmh." Linda mengangguk saja.
" Jadi ini rumah paman, aku belum pernah kesini sebelumnya."
" Malam ini adalah malam bahagia bagi
keluarga besar paman. Jadi kita
datang kesini." Linda menghirup udara
nyaman sesaat " Rumah ini tidak berubah sedikit pun. Ayo masuk." Linda menarik tangan Rendi berjalan memasuki rumah.
" Selamat datang." Kepala pelayan rumah menyambut." Silahkan masuk Tuan dan Nona muda."
" Terimakasih."
Linda dan Rendi berjalan mengikuti Kepala Pelayan di depannya sampai memasuki ruang keluarga. Sesampainya disana John duduk di sofa menyambut kedatangannya.
" Selamat datang keponakan ku." Linda
meraih tubuh John memeluknya sebentar." Bagaimana kabar mu ?"
" Kabar ku baik. Bagaimana kabar paman ?"
" Kabar paman sangat baik," John menatap Rendi dengan hangat." Rendi kemarilah paman ingin memeluk mu." Rendi menuruti kata John. Ia terlihat mendekat." Terakhir kali paman melihat mu baru berumur lima tahun.Tapi sekarang kamu sudah besar." Setelah bicara John memeluk tubuhnya sebentar
" Terimakasih paman, aku juga belum pernah datang kesini sebelumnya." Rendi bicara
" Aku tahu kamu tumbuh besar di
Jerman. Silahkan duduk. Teh atau sesuatu yang lebih kuat. Aku punya beberapa teh hijau yang tersisa. Teh hijau tahun 1972. Teh yang bagus sekali hampir setua diriku.
Dan itu di berikan oleh ayah ku. Bagaimana kalau kita menikmatinya ?"
" Tidak perlu, aku mau air dingin saja terimakasih." Linda bicara
" Dan kau ? " John bicara pada Rendi
" Sama hal nya dengan kakak ku. Air dingin saja paman."
" Pak Ketut, siapkan dua gelas air dingin untuk minum keponakan ku."
" Baik Tuan."
" Ternyata paman sama sekali tidak berubah " Linda bicara
" Aku menantikan kedatangan
mu. Setelah acara amal minggu lalu. Tapi
itu tidak penting kau datang dan
pergi sesuka mu."
" Maaf paman waktu itu aku
ingin melihat gunung lagi
kemudian menemukan tempat yang tenang
untuk menyelesaikan Desain ku."
" Kau serius dengan rencana
mu ?"
" Ya sudah ku persiapkan semuanya sudah di atur."
Pak Ketut terlihat membawa dua gelas air di atas nampan. Lalu meletakan gelas di atas meja.
" Terima kasih." Linda bicara
Pak Ketut menekuk wajah sambil tersenyum seperti bicara Sama-sama Nona. Setelahnya ia berjalan lagi meninggalkan ruangan itu.
" Ayah mu mencurigai sesuatu." John bicara lagi
" Tentu saja dia ayah ku."
" Kau akan memberitahunya bukan ? "
" Ya ."
" Dia sangat menyayangimu."
" Aku tahu, dia mungkin akan
__ADS_1
ikut tinggal bersama ku disini jika aku
memintanya. Kurasa dalam hatinya. Ayah
masih mencintai negaranya. Aku sudah mau
menikah. Ayah inginkan aku menjadi
penerus Grop DM memang tidak terlihat tapi
aku mulai merasakannya dalam
hati ku."
" Selepas ibu mu meninggal. Ayah mu
sangat ingin melindungi mu. Dia tidak ingin
merasa kehilangan untuk ke
dua kalinya."
" Aku tahu itu paman. Tapi aku juga
ingin merasakan bagaimana rasanya dimiliki
dengan orang ku cintai
sepenuhnya "
" Baiklah, sepertinya aku tidak dapat
membujuk mu. Tapi aku akan
mendukung mu. Dan kau" Rendi menatap
John " Apa yang kau rencanakan ?"
" Ayolah .. Apa paman tidak melihat
reaksi dari wajah kakak. Dia sedang
melotot pada ku."
John tertawa sebentar.
" Aku melupakan hal itu. Kakak mu
lebih menyeramkan di bandingkan
dengan mu." Rendi terbahak dengan
kalimat John." Tapi kau akan selalu
mengawasinya kan ?"
" Sangat mengawasi kapan saja aku bisa meluangkan itu." Rendi menjawab dengan antusiasnya" Aku akan tinggallkan semua urusan ku demi kakak ku."
" Terimakasih... " Linda tersenyum " Aku sangat tersentuh mendengar adik berkata begitu."
" Aiih "
Plak
" Akh ! " Rendi mengerang " Hei ! kenapa kau memukul belakang kepala ku ?"
" Kau bodoh ! "
John terbahak
Suara langkah kaki terdengar sedang mendekat.
" Bodoh ! " Rendi terkejut " Siapa yang bodoh. Aku ?" Linda menarik ujung bibirnya berkedut. Dengan cepat Rendi meraih rambut Linda mendongak.
" Apa yang kau lakukan? Hei lepaskan tangan mu " Linda meronta. Kedua tangannya menarik ujung rambut Rendi menunduk
" Tidak akan ! " Rendi tidak mau menyerah
" Kalian memang tidak pernah berubah " John bicara lagi
" Sedang apa kalian ?" Sebuah suara manusia entah dari arah mana datangnya
" Ayah ! " Rendi melepaskan tangannya
Linda mengerutkan kening
" Ayah ! Bagaimana bisa ayah ada disni ?"
John terkejut setengah mati saat melihat siapa yang datang. Ia langsung berdiri dari duduk.
" Dalmiro... hahaha bagaimana kabar mu ?" John meraih tubuh Dalmiro " Kakak sama sekali tidak berubah."
" Kabar ku baik sekali."
" Malam kawan " Hendra bicara entah
dari arah mana datangnya.
Dalmiro menatap
Hendra." Sumpah demi jantung ku, kau lebih
tinggi dan lebar di banding kita
terakhir kali bertemu."
" Melebar bukan lebih lebar. Cukup bagus
untuk kita berdua " Hendra protes
Dalmiro terbahak sambil memeluk tubuh
__ADS_1
Hendra sebentar.
" Apa kau sudah makan malam ?" Sandra bicara
" Belum "
Tanpa sadar para orang tua berjalan
menuju meja di taman. Disana sudah terdapat berbagai macam hidangan makan
malam yang sudah di sediakan Pak Ketut dan beberapa pelayan lainnya. Setelah
mendekat mereka duduk di kursi
masing-masing. Meninggalkan Rendi
dan juga Linda di belakang.
" Apa ini ?" Dalmiro menatap aneh pada minuman dalam cangkir berwarna putih
" Entahlah, ku rasa itu teh hijau " Sandra menjawab
" Apa kakak tidak suka minum teh ?" John bicara
" Hanya sedikit. Tapi aku lebih
suka kopi luwak. Itu lebih cocok
untuk ku. Setelah menikmati makan
malam ini" Dalmiro menjawab
" Ah baiklah kalau begitu. Pak Ketut !"
" Ya Tuan " Dengan cepat ketut menjawab
" Buatkan secangkir kopi luwak untuk tamu
spesial kita "
" Baik Tuan "
" Dan satu lagi. Panggil putri dan menantu ku untuk segera bergabung bersama kami."
" Baik Tuan " Dengan segera Ketut
melakukan apa yang di
katakan John. Ia sudah melangkah
meninggalkan suasana hangat di taman
" Malam yang indah " Dalmiro bicara lagi
" Malam yang indah? " Mata Hendra
menatap bingung pada langit sesaat. " Ya kau
benar. Tapi aku rasa tidak
akan lama lagi. Hujan akan turun "
" Kau memang tidak pandai memahami situasi. Dimana Romantisme mu ?"
" Kau tahu aku. Romantis bukanlah diri ku " Dengan santainya Hendra bicara
Ke empat orang tua itu terbahak. Tidak perduli jika ada dua manusia sedang menatap dengan heran.
" Permisi. Maaf menganggu " Linda bicara." Masalahnya aku tidak yakin ayah
berada di rumah yang tepat. Bukannya
aku tidak suka ayah ada disini. Tapi
ini luar dugaan. Kenapa ayah
tidak beritahu aku. Kalau ayah dan
paman John sudah
berbaikan "
Sepertinya ke empat orang tua itu
tidak menggubris kalimat Linda. Mereka
masih mengoceh ke mana-mana
seperti sedang menikmati momen
nostalgia.
" Ayah aku tidak bermaksud
kasar. Tapi aku ungkapkan apa yang
harus aku pikirkan. " Linda masih bicara. Tapi
para orang tua itu tidak
menggubris. Karena gusar
di akhir kalimat Linda meninggikan
nada suaranya. " MAAF AYAH "
Ke empat orang tua itu menoleh sejenak. Dan
sialnya lagi mereka hanya
mengatakan " Permintaan maaf di terima " Setelahnya mereka kembali lagi pada topik. " Kau mau makan ini kawan. Aku rasa aku akan makan lagi jika kau bersikeras " Hendra Berbicara panjang lebar entah kemana
__ADS_1
Rendi terlihat mendekat lalu menepuk bahu kanan Linda " Kakak sepertinya mereka tidak memperdulikan keberadaan kita "
Linda hanya mendengus