
"Kau dapat dari mana benda itu ?" Manda bicara saat menatap sebuah barang antik di genggam adiknya "Kembalikan!"
"Aku meminjamnya sebentar."
"Aku jamin. Siapa pun pemiliknya. Dia akan marah. Eh, lihat itu!" Linda menunjuk dua orang yang baru saja keluar dari sebuah kamar di lantai atas dengan matanya.
"Ada apa?" Rendi meletakkan barang antik tersebut di tempatnya semula.
Sementara Linda hanya diam belum menjawab. Pandangannya tidak lepas dari dua orang yang terlihat menapaki anak tangga segera berjalan menuju kearahnya.
"Aku kira. Aku akan kunjungi dia dalam mimpi demi memohon bantuannya. Tapi ternyata, berdiri sejauh ini dengannya saja sepertinya tidak sanggup." Linda melontarkan jawabannya
Rendi berbalik badan melihat Linda yang sedang gemetar di tempatnya berdiri.
"Ini seperti bukan diri mu. Berusahalah demi menggapai cinta. Aku yakin Kakak mampu melewatinya."
Di sudut lain Arya dan Yesa terlihat sedang bicara sambil berjalan
"Aku kira kamu mau makan yang aneh lagi." Ujar Arya pada istrinya "Bodoh! Bagaimana bisa kamu meninggalkan hp dan camera mu di kamar."
"Aku terburu- buru. Jadi aku melupakannya tadi." Yesa menjawab
"Akan ku hubungi pak Wan setelah makan malam dan... "
Arya berhenti dari langkah nya. Setelah tanpa sengaja melihat dua sosok manusia berdiri sambil memasang wajah penuh makna.
"Apa yang terjadi?" Yesa bertanya
Arya hanya diam berpikir, entah kenapa sekilas, ia teringat dengan kejadian lima belas tahun yang lalu. Saat bersembunyi di tempat gelap, demi menyelamatkan nyawa sang adik dan seorang anak perempuan dari beberapa orang yang tidak di kenalnya kala itu.
"Aku tidak menyangka bisa mengenalnya jika melihat gadis itu lebih lama. Tapi ternyata aku bisa dalam sekejap."
"Mengenalnya dalam sekejap. Apa maksudnya?" Yesa bingung lalu mengalihkan pandangan pada dua manusia di depannya." Suami ku siapa mereka?"
Linda dan Rendi melangkahkan kakinya mendekat, lalu berhenti saat sudah saling berhadapan.
Arya menatap dingin pada Linda
"Datang tanpa pemberitahuan setelah meninggalkan kesan memilukan. Adik ku sedang menghadiri pertunangan mantan kekasihnya. Jadi kembalilah di lain waktu." Bahkan ia bicara dengan suara dingin tanda tidak suka. Pandangannya penuh dengan kekecewaan.
"Seandainya aku datang lebih awal. Apakah Kak Arya tidak akan semarah ini pada ku?"
"Bukan hanya marah. Tapi lebih dari sekedar itu." Arya membuang muka muak. "Wajah mu sama persis seperti yang ku bayangkan." Mencibir
" Seperti apa?"
"Wanita licik itu." Arya sinis menjawab
Yesa mengerutkan keningnya
"Suami ku. Apakah itu ibu Manda?" Penasaran
"Istri ku! Keluarlah. Tinggalkan kami berdua dan jangan ceroboh."
"Kenapa? Aku tidak mau izinkan kamu berduaan dengan seorang gadis." Nada suara Yesa tidak mudah di tebak antara cemburu kesal kikuk atau apalah. Tapi wajahnya terlihat memanas barusan. Sekilas Arya tersenyum dengan samar dan wajahnya merona senang karena merasa dicemburui.
"Mereka sepupu mu." Arya menjelaskan." Aku hanya tidak mau ada yang mendengar, saat kami bicara termasuk kau."
Rendi menatap Arya
"Tidak masalah. Akan segera ku bawa adik sepupu cantik ku ini dengan senang hati. Yesa mari! Orang tua kita sedang menunggu di meja taman."
"Begitu ya. Mungkin aku tidak akan mengetahuinya jika kalian tidak datang. Tapi boleh aku tau siapa nama mu?"
"Perkenalkan dia Rendi Kakak sepupu mu." Arya menimpali
"Lebih mudah jika aku memperkenalkan diri sendiri." Rendi mengulurkan tangannya
__ADS_1
"Jauhkan tangan mu!" Arya mendelik dengan mata berapi
Apa kau cari mati. Begitu arti mata Linda tersirat. Rendi menurunkan tangannya
"Yesa perkenalkan aku Linda Kakak sepupu perempuan mu." Meraih tubuh Yesa ingin berpelukan sebentar." Ternyata kamu lebih cantik di luar dugaan ku. Pantas Suami mu begitu tergila-gila pada mu." Mengedipkan sebelah mata
Yesa tersenyum "Terimakasih Kakak." Linda hanya membalasnya dengan senyuman. "Baiklah kalau begitu." Beralih menatap Arya "Kami tinggal dulu ya sayang. Aku menunggu mu di meja taman."
"Hemm" Arya tersenyum
Rendi dan Yesa berjalan keluar dari ruangan. Mereka duduk di kursinya masing-masing setelah bertemu dengan para orang tua di meja taman.
Sementara itu Pak Ketut terlihat membawa secangkir kopi di atas nampan menuju ruang keluarga.
"Ini kopi anda Tuan Muda." Pak Ketut meletakan secangkir kopi di atas meja, padahal sudah jelas Arya tidak memintanya.
"Terimakasih."
"Sama-sama Tuan Muda." Pak Ketut menekuk wajah sekali, lalu berjalan lagi meninggalkan ruangan itu.
"Bagaimana kabar mu?" Arya bertanya pada Linda
"Kurasa kabar ku baik selama lima belas tahun sejak pertemuan terakhir kali kita Kak. Bagaimana kabar mu?"
"Sama seperti mu. Bahkan lebih baik."
"Bagaimana kabar wanita licik itu ? Aku dengar dia menutup usia bulan lalu karena perbuatannya." Linda menarik ujung bibir dengan geli "Lucu sekali begitu mudahnya dia mati di tempat itu."
"Kau benar. Setidaknya kuasa hukum sudah menentukan yang terbaik. Tapi bagaimana kau mengenal Manda. Kau bahkan bicara banyak padanya saat kau dan adik ku di kurung di tempat terpencil kala itu." Setelah bicara Arya meraih secangkir kopinya di atas meja.
"Dia ibu kandung ku."
"Kau putrinya!" Baru mau menyesap kopinya mata Arya membelalak karena tercengang setengah mati.
Melihat reaksi Arya begitu besar Linda tersindir.
Hening, tapi pandangan Arya masih tidak lepas dari wajah Linda.
"Mustahil !" Arya baru menyesap kopinya" Bukankah ibu mu sudah lama tiada."
Linda hanya diam tidak mengatakan apapun
"Jadi kau serius dengan kata mu." Ucap Arya setelah berpikir dengan keras." Kita pernah tumbuh bersama di waktu kecil." Menaruh cangkir kopinya kembali dimeja lalu bersandar disofa kedua tangannya menyilang didepan dada.
"Aku mengetahuinya. Saat semua sudah di renggutnya."
"Apa saja?" Memiringkan kepala
"Ayah kandung ku dan Nama ku."
"Ayah kandung?" Arya mengerutkan kening. Tidak mengerti, bukankah Ayah gadis itu bernama Dalmiro. begitu pikir Arya
Linda menurunkan pandangan
" Kabarnya Ayah kandung ku meninggal sebelum menikah dengan ibu ku. Tapi jasad nya tidak pernah di temukan. Dan tentunya semua milik Ayah ku di renggutnya." Suara Linda terdengar sedih saat menyampaikannya
"Tapi bagaimana bisa dia menikah dengan ayah tiri mu. Padahal dia tahu kau bukan anak kandungnya."
"Kakek Dom memiliki tiga orang anak. Pertama Ayah tiri ku. Kedua Ayah kandung ku. Dan terakhir ibu mertua mu."
"Akhir cerita yang memilukan sekali."
"Ibu ku seorang pengkhianat " Linda melanjutkan kalimatnya. "Mengenai dendam ibu ku pada ibu mu. Aku tidak tahu bagaimana ceritanya. Tapi keluarga Kami mencurigainya saat ibu ku ingin memanfaatkan Ayah tiri demi menghancurkan ibu mu.
Niat Ayah tiri ku melepaskan ibu ku demi keselamatan dan Nama baik keluarga besar Kakek Dom. Namun pada akhirnya kami tidak menyangka kau memiliki bekas luka dalam hati yang tidak dapat tertutup oleh apapun.
Nama ibu ku berhubungan dengan ku. Meski begitu aku juga cucu dari Kakek ku. Itulah alasannya Ayah tiri ku menutup informasi tentang diriku "
__ADS_1
"Jadi itu alasannya. Dengan terpaksa kau meninggalkan adik ku kala itu. Omong-omong siapa Nama mu yang hilang itu "
"Melinda."
Hening
"Bahkan Nama mu hampir mirip dengannya. Maaf aku terlalu sibuk menghadiri makam mendiang ibu mu."
"Pemakamannya cukup megah. Tapi air mata seorang gadis mengundang rasa ingin tahu. Apakah dia menangis karena sedih atau bahagia." Kalimatnya dingin tanpa penyesalan sedikitpun
"Tempo hari aku menerima desain realistis dari adik ku. Apa itu perbuatan mu?"
"Aku mempelajari itu selama lima belas tahun. Karena Kakak sudah menerimanya Berarti pendidikan ku tidak terbuang percuma."
"Berhentilah membuang tenaga mu dan fokuslah mengelola perusahaan ayah mu. Aku ragu adik ku teringat pada mu."
"Agar tidak ada yang terlibat. Maka bantu aku dengan rencana ku. Biarkan aku terbebas dari pengkhianatan ini."
"Kenapa kau menyebut ibu ku di akhir kalimat mu. Jangan katakan lagi."
"Ibu mu!" Linda kikuk "Aku tidak melakukan nya. Aku hanya bicarakan tentang ibu ku tadi." Protes."Terkecuali ibu mu... "
"Cukup!" Arya memotong cepat. "Lupakanlah Apa yang baru saja ku katakan."
"Ah, baiklah" Dengan sepintas Linda membuang pikiran anehnya sejauh mungkin. "Apa Kakak tahu? Aku marah saat kau menikah dengan Adik sepupu legendaris itu tanpa mengundang ku. Tapi sekarang kau pun akan di salahkan jika aku mengejar adik mu."
"Mengejar adik ku. Apa maksudnya. Bukannya kau akan segera bertunangan?"
"Itu terjadi saat aku tahu adik mu memiliki seorang wanita. Jadi Ayah tiri ku tergesa-gesa merencanakan pertunangan itu. Artinya Ayah tiri ku tidak ingin aku terjebak di masa lalu."
"Tidak perduli siapa pun laki-laki itu. Kau akan tetap bertunangan dengannya. Jadi tidak baik jika menantangnya."
"Aku belum mengakuinya. Tapi setidaknya Aku masih mempunyai waktu demi menggapai cinta sejati ku." Menarik bibir dengan lebar Tersenyum."Walaupun sesaat ada moment saat tujuan kita bersama."
"Bersama! Jadi ini sesungguhnya alasan mu." Membuang muka geram "Munafik!" Katanya dingin. Lalu menatap Linda lagi. "Kau melibatkan rencana mu itu pada siapa. Andai mendiang ibu mu tidak menikah dengan orang tua itu ( Hendra ). Kau tidak akan kehilangan adik ku. Jadi maaf! Aku tidak punya alasan untuk menolaknya." Linda tersenyum penuh makna
"Penyebab kematian ibu mertua mu masih menjadi misteri. Ada suatu perdebatan. Apakah dia sudah mati atau masih hidup. Hati-hati istri mu tidak aman di dunia ini." Arya menarik ujung bibir dengan sinis
"Ternyata kau menyelidiki istri ku. Atas dasar apa kau berani memancing ku dengan rencana konyol mu itu?"
"Kabarnya ayah mu mengalami kecelakaan sebelum menemukan istrimu. Itu artinya kelak kau akan memerlukan bantuan ku."
"Jika selama ini istriku di takdirkan menderita tapi berakhir dengan bahagia di tangan ku. Maka biarlah terjadi. Aku akan melindunginya dengan nyawa ku."
"Apakah itu artinya Kakak bersedia menghilangkan noda demi Nama baik keluarga kita."
"Sebutkan! Apa rencana mu?"
"Biarkan aku lebih dekat dengan istri mu. Aku berjanji setelah mengikuti rencana ku. Istri mu akan mengetahui segalanya tanpa terluka hatinya. Dan secara perlahan adik mu teringat pada ku "
"Itu terlalu sulit. Aku tidak izinkan kamu menyentuh istri ku sedikitpun."
"Tapi istri mu membutuhkannya.
Ibunya adalah putri Kakek ku. Cepat atau lambat Kakek ku inginkan istri mu mengetahui nya. Dengan kata lain Kakek ku ingin melindunginya."
"Cih! Orang pada umumnya hanya satu kali mencoba bermain dengan api. Tapi tidak dengan mu. Sepertinya Kau bersedia melakukannya setiap hari."
"Terimakasih. Dengan senang hati aku menerima pujian mu."
"Kau salah. Aku bukan memuji mu. Tapi menyambut mu. Bersiaplah sebentar lagi kau berada di neraka. Artinya hati-hati. Jaga istri ku dan adik ku dengan sebaik mungkin. Tidak baik jika membuat ku kehilangan kendali."
Linda menelan ludah
Jadi !
Tidak perduli sebutir apapun aku melakukan kesalahan. Maka! Habislah riwayat ku
__ADS_1
Linda menundukkan pandangan. Menatap kedua lututnya tiba-tiba gemetar. Benar bukan Arya namanya jika dia tidak sedingin ini. Begitu isi hatinya