
Setelah beberapa langkah dari pertemuan singkat dirinya dengan Shinta, Dery memasuki ruangan untuk menghadiri rapat antar dewan direksi. Sesampainya disana, dia menangkap sosok laki-laki yang tidak jauh berbeda dengan umur Kakaknya. Sepertinya mereka seangkatan.
"Presdir Leon, aku akan duduk disini. Aku mewakili Kakak ku menghadiri pertemuan rapat ini." Dery bicara sambil menduduki kursi kosong di sebelah Leon
"Aku sudah mengetahui kabarnya dari Ayah mu." Leon bicara "Aku dengar, Dika akan menghadiri rapat ini." Sahut Leon
Sial kenapa ayah tidak memberitahuku sebelumnya. Shinta jadi ini maksudmu dari pertanyaanmu tadi.
Sambil berpikir Dery mengepalkan tangannya.
"Kau dekat dengan tunangan Shinta" Dery bicara "Saat dia beralih mengambil perusahaan Ayahnya, apa kau akan bermitra dengan perusahaannya?"
Melihat wajah Dery di penuhi dengan kecemburuan Leon tersenyum meledek. Menandakan bahwa sebenarnya mereka sudah lama berteman dekat.
"Apakah ayahmu akan membiarkan aku melakukan itu? Jangan bermimpi. Hahaha."
"Cih! Kau tidak akan kalah, bahkan jika kau mabuk atau sudah gila." Ujar Dery bercanda
"Presdir Leon!" Panggil seseorang yang baru saja muncul dari luar di temani Dika di sebelahnya.
"Presdir Boby." Leon bangun dari duduknya, lalu saling berjabatan tangan
"Aku sudah menelpon mu beberapa kali." Kata Boby
"Aku lama di paris" Leon menjawab singkat.
"Aku ingin membicarakan itu, aku ingin kau berkunjung dan menginap di salah satu rumah ku, tapi kau malah menolaknya." Kata Boby lagi.
"Pertemuan itu terletak sangat jauh
dari rumah mu, jadi aku memutuskan menginap di hotel terdekat.'' Jelas Leon, lalu beralih melihat Dika "Sudah lama, tidak mendengar kabarmu, aku melihat Shinta di paris."
Dika tersenyum lalu saling berjabatan tangan
"Aku sudah tahu, bagaimana kabarmu? Baik-baik saja bukan?" Dia bicara
Leon mengangguk.
''Iya, kabar ku baik sekali, terimakasih." Leon tersenyum
"Orang yang bersama mu ... ?"Boby kebingungan melihat Dery hanya diam tanpa suara, bahkan tersenyum pun tidak
"Dia Ceo Jewelery Group sekaligus adik dari Presdir teman dekatku Arya, dia datang kemari untuk menghadiri pertemuan ini mewakili Kakaknya." Jelas Leon sambil menepuk bahu Dery pelan-pelan
"Aku Dery Hendra Saputra. Senang berkenalan dengan mu." Dery Bicara sambil mengulurkan tangannya dan Boby menyambutnya dengan senyuman angkuh yang sok paling berkuasa.
"Setelah pertemuan rapat penting ini, kenapa kita tidak minum bersama?" Boby bicara saat selesai berjabatan tangan dengan Dery. Membuat orang di sekelilingnya saling pandang.
*****
Di sebuah kafe ternama, ada empat sosok laki-laki dan satu wanita cantik, siapa lagi kalau bukan Shinta yang katanya calon tunangan Dika sekaligus mantan Dery. Mereka terlihat duduk di meja yang sama. Berbincang sambil menikmati minuman yang di sediakan di kafe itu.
__ADS_1
Di saat yang lainnya sedang asik berbincang tentang masalah bisnis, hanya Dery yang sedari tadi memasang wajah masam. Karena ada wanita yang tidak mau dilihatnya lagi disini.
Tidak terbayangkan bagaimana keadaan hati keduanya. Yang satu terlihat muak, sementara yang satunya lagi terlihat senang karena melihat wajah mantan dari dekat yang dulu pernah dicintainya.
"Berkat permainan Paris, pemasaran perhiasan di Rusia tidak berjalan dengan baik." Kata Leon sambil menyesap kopi ditangannya.
"Lalu tempat apa yang kau cari sekarang?" Tanya Boby
Leon meletakan kopinya di meja.
"Aku sudah melihat kawasan di Sahara, tapi ketua John menantang gagasan itu."
"Resikonya terlalu tinggi, hal yang sama mungkin terjadi disana, dan votalitasnya cukup buruk." Dika menimpali
Mendengar nama yang lebih berkuasa disebutkan, reaksi wajah Boby terlihat tidak suka.
"Tidak bisa, terlalu beresiko? Itulah
yang selalu orang tua katakan. Mereka tidak ingin memiliki keberanian, mereka tidak ingin mengambil resiko. Tidak satupun dari mereka mengambil sikap positif."
Mendengar John di sindir, Dery terlihat tidak suka.
"Tidak bisa dan terlalu beresiko. Menurutku, mengatakan hal itu adalah sikap yang berani bagi orang tua." Dery bangun dari duduk "Permisi aku mohon pamit, ayahku sedang menunggu kabar ku."
Boby tergelak setelah Dery berlalu meninggalkannya.
"Dery Hendra Saputra, sebenarnya apa posisinya? Bagaimana bisa dia bersikap seberani itu?"
"Dia memancing kemarahan ku, dia mencoba membuatku marah, dia bahkan menyakitiku kadang-kadang, dia bisa melakukan hal yang sama kepada mu."
Boby tercengang setelah mencerna kalimat terakhirnya. Entah kenapa, tiba-tiba ada rasa takut muncul dalam hati.
"Kau bilang dia hanya mewakili kakaknya, bagaimana dia bisa melakukan hal itu?"
"Aku tidak tahu bagaimana dia bisa melakukannya." Leon terkekeh
*****
Setelah perbicangan selesai, Shinta dan Dika terlihat baru keluar dari kafe lalu memasuki mobilnya.
"Shinta apa kau yakin ingin melanjutkan rencana pertunangan palsu kita. Aku rasa sepertinya dia masih menyukaimu." Dika bertanya sambil menyetir.
Shinta menoleh.
"Tentu, kita lanjutkan saja. Aku ingin tahu bagaimana reaksinya."
"Mengapa kalian tidak saling jujur dengan perasaan masing-masing. Aku rasa ketua Hendra kini sudah bertindak, seolah sengaja ingin mempertemukan kita dengannya."
"Kau benar, dia pasti sudah mengetahui kebenarannya. Aku terpaksa meninggalkannya beberapa tahun ini. Karena ingin mengejar mimpiku menjadi Desainer pakaian yang terkenal di paris."
''Dan kau tidak memberitahu dia, kau malah memakai namaku agar dia melepaskan mu begitu saja. Dan kau sekarang mengikuti ku hanya untuk melihat wajahnya."
__ADS_1
Shinta menarik nafas pelan, dia malas berkomentar.
"Aku ingin ke butik, tolong antarkan aku kesana."
"Baiklah, Shinta kau harus ingat aku hanya menganggap mu sebagai teman dekat."
"Aku tahu." Shinta menjawab cepat.
Beberapa puluh menit berlalu mereka sudah sampai, dua orang itu turun dari mobil lalu masuk ke butik. Sementara di luar, ada seseorang yang sedang mengamati dari kejauhan.
Wajahnya terlihat geram, sambil kedua tangannya meremas setir mobil. Geram melihat mantan kekasihnya tertawa lepas bersama laki-laki lain. Merasa dirinya di permainkan.
Semula aku mengira kau tidak serius dengannya, tapi ternyata kau benar-benar menyukainya. Shinta sejauh mana kau akan bertindak seperti ini.
*****
Kediaman Hendra
Saat itu Dery sudah masuk ruangan ayahnya
"Kenapa kau terus berdiri sejauh itu, duduklah?" Hendra bicara
"Aku akan segera kembali ke rumah Kakak ku." Dery menolak mentah-mentah, masih berdiri di depan ayahnya. Sorot matanya menandakan tidak suka.
"Itu alasan yang buruk." Hendra menjawab dengan tenang.
"Ayah, aku bertemu Shinta dan Dika."
Mendengar Dery bicara sinis, Hendra menarik nafas panjang.
"Kau suruh Dani temui Dika dan bilang padanya untuk membatalkan pertunangannya, dengan begitu kau bisa kembali padanya."
"Ayah, apakah ini yang mau kau lakukan pada anak mu?" Bicara sinis lagi "Berhenti mengatur ku."
''Jika kamu tidak ingin, ayah yang akan melakukannya. Ayah tahu kau sangat terluka, itu sebabnya ayah ingin bermain adil. Aku dengar kau salah paham padanya. Itu yang membuat kekasih mu memilih bertunangan dengan teman masa kecilnya." Hendra bicara panjang lebar.
"Tapi keadilan mu akan membuat kami sama-sama terluka bukan?" Dery bicara sambil mengepalkan kedua tangannya.
''Yang ayah lakukan, tidak akan menyakitimu, ayah takut kamu akan menyesal nantinya."
"Cih!" Dery membuang muka." Sekarang, aku mendengar seperti ayah sudah memperhatikan dan memantau ku, saat kami masih bersama. Apakah ayah yakin, aku akan memiliki penyesalan kepadanya?"
''Apakah aku terlihat seperti ingin dimintai pendapat mu?" Hendra bertanya dengan suara dingin yang mengancam
"Cih, aku akan pergi"
Dalam sekejap Dery sudah menghilang di balik pintu, sementara Hendra menarik nafas panjang
Aku selalu membayangkan tentang istriku dan kedua putraku terdahulu yang kesepian karena aku.
Sekarang aku berharap, setidaknya mereka sekali saja merasakan akan kesepian saat aku tidak ada.
__ADS_1
Dery, ayah hanya ingin melihat mu bahagia