
Dan benar saja setelah melihat Arya, badan Yesa gemetaran kepalanya terasa berat, penglihatannya memudar. Selang beberapa detik dia terkulai lemah di tempat duduknya. Dia pingsan.
Tanpa berpikir panjang Arya menyibak semua orang di samping istrinya. Menggendong istrinya masuk ke dalam kamar, menidurkan nya di tempat tidur. Menyelimutinya sampai ujung bahu.
Sementara Linda dan Dery terlihat berjalan mendekat saat Arya mencium kening istrinya.
"Kakak, bagaimana kalau aku panggilkan dokter ?" Dery bicara dengan nada panik
"Lakukanlah" Jawab Arya singkat " Dan kau !" Beralih menatap Linda " Kemari, aku mau bicara" Setelah bicara Arya duduk di sofa dekat jendela kamar
"Kakak, aku mohon jangan menyalahkannya." Dery menghalangi langkah Linda
"Aku tidak berniat. Beri kami sedikit waktu. Ada satu hal yang mau aku beritahu padanya."
"Baik, aku segera ke sana. Semoga Kakak benar-benar tidak mau menyalahkan ku." Linda yang menjawab
"Tentu" Beralih menatap Dery "Sekarang pergilah, tunggu dia di luar. Dan panggilkan istriku dokter dengan segera."
"Baiklah"
"Apa yang mau Kakak jelaskan pada ku ?" Ucap Linda setelah Dery menghilang di telan pintu yang tertutup." Salahkan aku, jika aku terlalu melebihi batasan mu. Aku siap menanggung jawab semua akibatnya." Antusias
"Tutup mulut mu !" Linda tersentak
"Karena kau wanita, jadi aku hanya bisa
memukul mu secara batin."
Tapi menurut ku, kau sudah menampar
wajah ku dengan kata-kata mu
Rasanya itu jauh lebih sakit dari segalanya
"Maaf, aku pikir Kakak sudah mengizinkan apapun yang mau ku lakukan." Semangat Linda menciut
"Aku sudah melarang mu, tapi kau mengabaikannya. Selain itu kau sudah tau, seberharga apa posisi dia dalam hidup ku."
"Aku tahu apapun yang kau
miliki di dunia, takan mampu
menandingi posisi istrimu di
hati mu. Jadi aku minta
maaf, selain itu, tidak tau apa
yang harus ku perbuat. Agar Kakak mau memaafkan keteledoran ku. Sekali lagi aku mohon, tolong maafkanlah aku."
"Mmm" Arya menggelengkan wajahnya "Jangan memohon pada ku, itu terdengar seperti kau menyesal setelah tangan mu tersentuh api."
"Ya ! Aku mengakuinya" Linda menjawab cepat
"Cih ! Setelah tau bagaimana
rasanya tangan mu
terbakar, akhirnya kau tau arti menyerah. Terlambat, dengar ! Jika tubuh mu tidak mau menjadi abu. Mau tidak mau kau harus meredupkan nya."
Mata Linda terbelalak, dia tau itu arti yang sebenarnya adalah Rencana apapun yang sudah di mulai jangan berhenti di tengah jalan.
"Itu artinya Kakak benar-benar merestui ku ya.'' Arya memicingkan matanya " Ah maaf ! Lidah ku keseleo."
Arya tersenyum dingin
"Jika bukan karena istri dan
adik ku. Takkan mungkin bagiku menerima
mu semudah ini. Tapi satu hal
yang harus kau lakukan. Jika kau mendengar adik ku di pukuli
kepalanya
sampai terbentur di lantai. Jangan bilang kau terluka. Itu tindakan bodoh yang memalukan."
Degh
Debaran jantung Linda menguat
saat Arya melihatnya bicara dengan
tatapan dengki
"Dari sekian cerita, akhirnya aku tau apa yang membuat mu begitu marah. Katakan Ibu ku pelakunya kan ?"
"Jangan berpura-pura, Kau pikir aku tidak dengar apa yang di katakan ibu mu pada mu ? Kau menangis saat itu."
Linda terdiam memory ingatannya
langsung berputar pada kejadian
penculikan lima belas tahu lalu.
Saat Arya bersembunyi di dalam
peti buah demi menolong Adiknya.
Dia mendengar dan melihat semua
yang di lakukan Manda di lokasi
penculikan
"Nyonya saya berhasil mendapatkannya." Si Pengawal datang sambil menyodorkan selembar foto Yesa saat berusia lima tahun.
"Dengan siapa dia tinggal di kampung ini ?" Manda bicara
"Dia tinggal bersama dengan seorang Ibu-ibu Nyonya"
" Seorang Ibu-ibu!" Berhenti "Tanpa suami ?"
"Benar, dari informasi yang saya
dapatkan. Saat masih bayi, ibunya sengaja membuangnya di teras rumah
ibu-ibu itu Nyonya."
"Jika dia benar-benar mau membuangnya. Seharusnya dia memasukan anaknya ke panti asuhan. Tidak mungkin dia menyimpannya di sana." Manda berhenti berpikir "Indentitas Ibu-ibu itu patut di curigai. Carikan datanya untuk ku."
"Baik Nyonya"
"Dan kau !"
Si Pengawal lainnya langsung sigap
menunggu perintah
"Jauhkan anak laki-laki itu (Dery), aku mau bicara dengan anak gadis ini sebentar."
__ADS_1
"Baik Nyonya"
Manda beralih memandang Linda yang sedang duduk sambil memeluk lututnya sendiri. Badannya gemetaran. Dia ketakutan.
"Dengar, jika kau melihat gadis kecil ini. Kelak." Manda mendekatkan foto Yesa." Jauhilah ! Jangan terlalu dekat dengannya. Karena Ibunya musuh ku. Dan aku mau dia mati di tangan ku."
Jantung Linda kecil langsung sesak
saat mendengar kematian
"Lupakanlah semua harapan mu tentang perjodohan dengan anak lemah itu. Karena kau sudah di buang. Tentu tak berguna jika di pungut lagi. Kau adalah aib terbesar. Aku tidak mau mereka semua mengetahuinya. Mengerti !"
Meski tidak paham, Linda mengangguk
dengan ketakutan. Dia belum cukup
umur, untuk menerjemahkan bahwa Manda
adalah ibu kandung nya kala itu.
Tiba-tiba
"Nonya anak laki-laki itu terus menangis, sambil berteriak memanggil ibu nya." Si pengawal bicara
"Pukul kepalanya, buat dia pingsan !" Manda menjawab
Linda kecil menangis setelah mendengarnya
Tidak tau kenapa si Pengawal
masih diam di posisinya.
"Kenapa tidak bergerak ? Apa kau tidak dengar apa yang ku katakan ?"
''Bukan Nyonya, saya juga dengar. Melihat usianya masih terbilang kecil. Akan berdampak besar jika memukulnya sampai pingsan Nyonya."
"Aku tidak peduli, bawakan anak itu pada ku sekarang. Biar aku yang melakukannya."
"Baik Nyonya."
Beralih memandang Linda
yang masih menangis
"Pergilah ! Aku tidak mau mengotori
tangan ku." Arti yang sebenarnya adalah
Melindungi mu.
Dan selesailah memori ingatan Linda berputar
Matanya jadi berkaca sekarang
"Sungguh, aku tidak menyangka bahwa dia benar-benar memukulnya saat itu." Linda bicara dengan nada sesal
"Maka dari itu " Arya bicara " Aku peringatkan, Kau jangan memancing ku lagi !"
"Baik, aku tidak akan berani melakukannya."
Arya menarik nafas lega
Linda tau itu artinya dia
sudah tidak marah
"Pergilah, dan temui adik ku." Arya bicara lembut lalu berdiri dari duduk
Linda tersenyum
"Satu hal lagi " Arya berbalik lagi saat mau melangkah "Penjelasan tentang pengkhianatan itu, selebihnya biar aku yang melakukannya."
"Tapi bagaimana jika istri mu kecewa nantinya ?"
"Ini pilihan ku, maka !" Arya beralih menatap istrinya "Aku harus siap menerima akibatnya."
"Begitu ya, baiklah aku serahkan pada mu. Semoga istri mu mudah memaafkan semua kesalahan mu."
Arya diam tidak menjawab
pandangannya penuh makna
__
Di luar kamar setelah Linda membuka pintu lalu menutupnya. Dery berdiri dari duduk saat melihatnya muncul.
"Aku di minta menemui di sini, ku kira aku tidak di izinkan melihat mu lagi." Linda bicara
"Aku juga, bagaimana kabar mu ?" Dery menjawab
"Kabar ku baik sekali. Luka mu sendiri bagaimana ? Kabarnya kepala mu di pukuli ibu ku."
"Benar, aku memang kehilangan memori, tapi hati ku bertahan." Dery tersenyum ''Jadi maafkanlah jika aku terlalu mengecewakan mu."
"Kau meminta ku kembali lagi ? Padahal akulah yang seharusnya minta maaf."
"Ya ! Anggap saja kita impas, demi mempertahankan janji kita."
Hati Linda bergetar mendengarnya.
Dia tau melarikan diri kala itu adalah
tindakan memalukan baginya. Tapi
laki-laki di depannya sama sekali
tidak memiliki perasaan di khianati
"Andai kata aku tidak melarikan diri saat itu. Harusnya aku yang di pukuli." Linda bicara dengan nada lemah bola matanya berkaca
"Sudah terlambat untuk menyesal, awalnya aku kira mempertahankan cinta itu mudah. Ternyata berat atas segalanya."
"Aku mohon, jangan berhenti jika itu berat."
"Aku tidak akan pernah mau melakukannya" Dery menjawab cepat " Tapi sebaliknya. Kita harus melangkah maju. Sekarang katakan. Selain memulihkan ingatan ku, meminta mu kembali, apalagi berikutnya ? Demi mepertahankan cinta kita."
"Kau takan mampu melakukannya. Ini di sebut mustahil." Linda menurunkan wajahnya, pandangannya jemu. "Karena sebentar lagi aku harus bertunangan."
Tiba-tiba Dery menarik tubuh
Linda kedalam dekapannya.
"Apa yang kau lakukan ?"
"Melindungi mu. Jadi katakanlah apa yang harus di lakukan berikutnya ? Haruskah aku meyakinkannya, agar ayah mu merestui kembali hubungan kita ?"
"Aku belum berpikir sampai sejauh itu. Sekarang rasanya, aku hanya ingin kau memeluk ku seperti ini. Sejak terakhir kali kita bertemu."
''Aku juga, bagaimana kalau kita pergi ke tempat yang indah. Setidaknya kita masih mempunyai waktu walau hanya untuk sekedar melihat bintang di malam hari."
__ADS_1
"Baiklah kita akan lakukan itu lain kali. Sekarang lepaskanlah, aku mau duduk berhadapan dengan mu."
Linda duduk di sofa setelah
terbebas dari pelukan
Dery ikut duduk di sofa
"Ada apa ? Kenapa kau menatap begitu ?'' Linda bertanya.
"Tidak ada ! Tapi aku senang saat melihat wajah asli mu sedekat ini."
"Terimakasih, aku tersanjung"
"Apa kau mau tau bagaimana awal mulanya aku tertarik pada mu ?"
"Tentu, katakan, aku mau tau"
"Sebenarnya setelah acara
amal malam itu aku pernah mengikuti
mu. Dan memastikan itu kamu. Esok paginya aku melihat Desain mu.
Karena senang, aku langsung membawanya pada Kakak ku. Aku mau tau hasilnya, tapi aku tidak yakin Kakak ku mau menerimanya. Ku pikir dia langsung melemparnya karena
Desainnya sangat aneh,
ternyata tidak. Saat itu moment keberuntungan datang, Kakak ku mau menerima Desain mu. Tanpa berpikir panjang lagi."
Linda terkekeh setelah tau bahwa orang yang menerima Desainnya bukanlah Arya tapi laki-laki di depannya.
"Jadi artinya kau yang merencanakan pertemuan kita di kafe waktu itu ? Ku pikir kau belum mengenal ku."
"Aku memang belum mengenal mu. Entah kenapa setelah kau mengobrol dengan adik mu saat itu. Aku mulai penasaran. Siapa laki-laki dibalik cerita yang kau sebut si brengsek itu. Dan ternyata itu adalah aku. Jadi maafkanlah aku atas segalanya."
"Kita sudah saling memaafkan,
kenapa di ucapkan lagi ?" Dery terkekeh setelah mendengarnya." Tapi suatu hal yang pasti." Linda melanjutkan." Jika kau melihat ku dan berpakaian begini lagi saat di luar.
Maka akulah yang harus mengejar mu dan memastikan kau tidak membongkarnya pada orang lain hehe." Bercanda
"Tapi kau tak perlu melakukannya.
Maksud ku berpura-pura menjadi
orang lain."
Degh
"Kenapa ?"
"Kegaduhan di keluarga kita semakin meningkat. Ku pikir kau akan berada di situasi yang lebih berbahaya. Jika kau terus melakukannya."
"Jangan menjadi orang lain. Kakak mu sebelumnya melarang itu pada
ku hehe. Tapi tak bisakah kalian
mengizinkan aku satu hal ?"
"Kau mau menjadi diri sendiri ?" Dery bertanya balik
"Hehe, aku sudah yakin kau sanggup menebaknya."
"Kau bisa menjalani hidup nyaman berwarna seperti bunga. Dalam pengetahuan ku begitulah kehidupan mu sebelumnya. Sebagai Nona muda terpandang."
"Aku tidak banyak berbeda." Linda menjawab cepat "Hidup ku penuh warna.
Bedanya aku lebih menyukai aku yang sekarang. Maksud ku menjadi
diri sendiri. Saat aku memakai
pakaian wanita elegan dan
memalsukan wajah ku.
Aku tidak memiliki Nama. Dan kau sudah melihatnya saat aku beraksi hehe. Aku tahu ini berat untuk Ayah ku. Tapi aku selalu berusaha mengharumkan Nama ku lalu berguguran. Seperti bunga.
Meski takut tapi
aku bertekad menjadi Bunga."
"Apakah begitu cara mu melindungi keluarga mu ?"
"Ya, karena aku tidak mau mereka menanggung akibat dari pilihan ku."
Awalnya aku mengira dia
melakukannya demi melindungi diri
Ternyata dia kesepian. Mungkin benar
aku memang pantas di sebut
lelaki brengsek
Dery menghela nafas dalam
"Andai kata bila aku tidak memiliki wanita lain saat itu. Apakah kau akan menjadi orang lain ?"
Degh
Linda diam belum menjawab
matanya terbelalak
"Jika aku menjadi diri mu." Dery melanjutkan "Aku tidak mau bertindak bodoh. Hanya sekedar melampiaskan perasaan mu."
Linda tersindir
"Apakah kebodohan ku terlihat jelas ya ? Bahkan kau sanggup menebak apa yang ku rasakan sesungguhnya hehe. Tapi aku senang di balik tindakan bodoh ku, selama bertahun-tahun. Akhirnya membuahkan hasil."
"Apa itu hasilnya ?"
"Kau datang sendiri pada ku, tanpa sempat aku berpikir kau akan kembali pada ku dengan mudah. Terimakasih karena hati mu bertahan demi mendapatkan ku kembali."
"Tapi satu hal yang ku mau "
"Katakan"
"Berjanjilah pada ku. Apapun alasannya, kau tidak boleh lagi menjadi orang lain. Percayalah kau sanggup mengharumkan Nama mu tanpa perlu mengubah diri."
'Baiklah, aku berjanji."
Dery tersenyum
Tiba-tiba
Ketukan pintu terdengar dari luar rumah
Terlihatlah seorang Dokter wanita berdiri
__ADS_1
saat Linda membuka pintunya.
Dokter Reisa