PERJODOHAN CEO JEWELERY

PERJODOHAN CEO JEWELERY
SHINTA MENYERAH


__ADS_3

Sepeninggal Dery.


Pada akhirnya Dhika membawa Shinta menuju rumahnya. Suasana dirumah Dhika sangat hangat untuk melewatkan malam. Ada berbagai macam tanaman bunga menghiasi halaman dibelakang rumahnya. Shinta duduk di meja teras dekat taman sambil menunggu. Sementara Dhika terlihat membuatkan kopi hitam tanpa gula untuknya.


Saat ini Dhika sudah terlihat sedang berjalan ke arahnya seraya membawa dua cangkir kopi hitam di tangannya.


"Bagaimana, boleh tau apa yang terjadi?" Ujar Dhika sambil meletakan dua cangkir kopinya di atas meja, lalu duduk di kursi berhadapan dengan Shinta.


"Hhh," Shinta menghela nafas wajahnya menunduk dalam kecewa. "Maaf, aku merasa pusing dan kacau. Entah bagaimana mengatakannya."


"Apa karena mantan pacar mu? Aku rasa tentang rencana mu bertemu dengannya tidak berjalan dengan baik.'' Dhika bicara seolah sudah memahami perasaanya wanita itu dari mimik wajahnya


Shinta mengangguk.


"Aku tidak sengaja bertemu dengannya tadi. Sewaktu dia melihat ku. Dia berpura-pura tidak mengenal ku. Dan dia juga bilang bahwa aku hanyalah orang asing di matanya. Jadi, jangan pernah mengganggunya lagi."


"Dia bilang begitu?" Dhika mengerutkan kening heran." Bicara begitu pada gadis manis begini, itu sangat keterlaluan."


Shinta menggeleng karena tidak mengerti.


"Aku belum pernah menjalin kasih sebelumnya. Dia laki-laki pertama yang pernah ku miliki. Mungkin saat ini, aku bukanlah wanita yang menarik lagi baginya."


"Jangan bicara begitu. Tidak perlu demi orang lain, kamu merendahkan diri sendiri. Jangan bilang kamu tidak menarik. Seharusnya kamu lebih percaya diri. Wanita percaya diri itu sangat memikat. Laki-laki manapun akan menyukai mu."


Shinta tersenyum "Kau benar, aku harus lebih menarik dan lebih percaya diri. "


"Bagus, beginilah Shinta yang aku kenal. Sebaiknya kau minum kopi mu dulu."


Shinta meraih secangkir kopinya di atas meja."Kamu minum kopi tanpa gula? "


Dhika mengangguk "Coba nikmati aroma aslinya. Kopi tanpa gula rasanya lumayan." katanya setelah menyesap sedikit kopinya


Dengan ragu Shinta menyesap sedikit kopinya." Emh, pahit sekali." katanya sambil mengerutkan kening


Melihat rekasi wajah Shinta Dhika terkekeh.


"Pertama kali minum kopi pahit, akan bereaksi seperti itu. Rasanya ini bukan minuman manusia." Jelas Dhika sambil meletakan secangkir kopinya di atas meja. Sementara Shinta kembali lagi menyesap kopinya


"Tapi saat kedua kali meminum kopi ini dan di rasakan dengan teliti. Seperti ada sedikit rasa manis. Bahkan aromanya sangat pekat."


"Tapi kamu harus menghargai pahitnya juga. Ini sama halnya dengan menjalin hubungan. Terkadang bisa membawa penderitaan. Tapi hal itu bisa membuatmu tumbuh menjadi lebih dewasa dan penuh keberanian. Kau mengerti?"


Shinta mengangguk


"Ayo jalan." Ajak Dhika


"Ahh, kau tidak perlu mengantarku Aku bisa pulang sendiri." Shinta menolak secara halus


"Aku bukan mau mengantarmu pulang. Aku


akan membawamu menemui orang itu."


Shinta tercengang." Apa maksudmu? Mau


temui siapa "


"Tentu saja, laki-laki yang sudah membuatmu kecewa." Dhika menjawab singkat


"Ahh, tidak usah, aku tidak ingin bertemu dengannya lagi. Untuk apa mencarinya?"


"Aku tidak suka lelaki yang tidak punya selera. Kalau dia anggap dirinya pandai memilih wanita. Aku akan memutar otak. Untuk menjatuhkan kesombongannya itu." Jelas Dhika wajahnya berapi-api


Shinta menggigit bibirnya "Aku rasa kau sudah mulai gila." Kesal


"Apa maksudnya?" Dhika mengerutkan keningnya


"Dhika, apa kau lupa, dia itu adalah putra dari Group HS. Jika kau berani mengganggu ketenangannya. Dalam hitungan detik kau bisa saja kehilangan perusahaan mu." Shinta mengingatkan.


Setelah mendengarkan penjelasannya Dhika tersenyum kecut.


"Sial, aku hampir melupakan itu. Seandainya saja dia hanya orang awam. Mungkin aku sudah injak-injak harga dirinya itu." Katanya kesal sambil mengepal tangannya di meja.


"Dhika, Apa kau sudah tahu? aku dengar Kakak iparnya itu adalah putri kandung dari Ketua John?" Shinta bertanya setelah mendengar informasi yang mengejutkan.


"Putri Group John, Group John yang bekerja sama dengan Raja minyak bumi Amerika dan punya hubungan baik dengan Miliarder Eropa dan Raja Thailand itu?" Dhika terkejut seakan tidak percaya bahwa Yesa adalah putri dari John.


Shinta mengangguk "Benar."


"Hebat, menantu yang di pilih keluarga Hendra memang lain dari yang lain. Tidak di sangka Hendra memiliki jurus itu. Aku rasa saat ini kekayaan yang dimiliki Arya sudah termasuk menjadi salah satu keluarga terkaya di dunia."


Shinta tercengang."Apa maksudnya ? Bukankah dia hanya memiliki perusahaan


Jewelery yang terkenal itu."


"Shinta, ternyata kau memang benar-benar naif. Selain orang paling kuat di dunia perhiasan. Group Hendra juga nyaris menguasai segala bidang usaha. Selain


itu dia juga sudah bekerja sama dengan pengusaha Pertambangan Emas dan Minyak Bumi yang di miliki Ketua John. Apa kau paham maksudku? "


"Luar biasa!" Shinta kagum sambil menggeleng tak percaya


"Shinta, aku rasa jika kau menikah dengan Dery. Kau akan menjadi istri dari pemilik Diamond Group. Walaupun saat ini masih dalam genggaman Nyonya Shandra, Aku dengar perusahaan itu akan di wariskan untuk putra keduanya."


"Namun sayangnya itu tidak akan terjadi padaku. Aku tidak akan menikah dengannya." Shinta menjawab dengan tatapan kosong." Sudahlah, jangan bicarakan lagi tentangnya."

__ADS_1


Dhika mengerutkan keningnya."Apa kau benar-benar menyerah sekarang?"


"Sepertinya begitu." Jawab Shinta tanpa melihat Dhika, menatap kosong ke arah meja. Seolah menyesali kesalahannya di masa lalu


"Lalu bagaimana rencana pertunangan kita?"


"Dhika, jika aku boleh jujur, sebenarnya aku... " Shinta masih bicara tanpa melihat wajah Dhika karena ragu." Aku benar-benar ingin jadi tunangan mu.'' lanjutnya bahkan nada suaranya tidak bisa di tebak, antara sedih campur bahagia. "Bagaimana menurutmu, apa kau mau bertunangan dengan ku?" Memutarkan jari telunjuk kanan di atas meja. Dia memang begitu jika sedang serius dengan kata-katanya dan Dhika memahaminya


"Alasannya?"


Aku mencintaimu. Aku hampir mengucapkan kata-kata ini padamu. Aku hampir membuang kebanggaan dan harga diri ku. Untuk memberitahu mu bahwa aku mencintaimu


Gumam Shinta dalam hati, sambil menundukkan wajahnya dalam-dalam


"Shinta!" Dhika memanggil, seraya bangkit dari duduknya, sementara Shinta hanya diam dan masih menunduk


Dhika mendekat lalu berdiri di sampingnya tangannya meraih kepala Shinta agar bersandar di dadanya. Wanita itu pun mulai menangis dalam dekapannya.


Rupanya menyayangi seseorang rasanya seperti ini, walau berkorban segalanya juga tidak akan bisa mengingkari isi hati yang sebenarnya. Aku tak mampu mengendalikan diri, untuk tidak mencintainya.


Begitu kalimat Dika dalam hati sambil membelai rambut Shinta.


"Shinta, aku mencintai mu."


Kalimat Dika barusan mengejutkan Shinta sampai membuatnya mendongakkan wajah. Kau bilang apa? Begitu tanya Shinta melalui tatapan matanya. Sementara Dhika menyeka air mata diwajahnya.


"Aku mencintaimu."


"Kau serius?"


Dhika tersenyum, meraih dagu Shinta wajahnya mendekatkan perlahan dan bibirnya menyentuh bibir Shinta.


******


Esok paginya


Arya perlahan membuka matanya, lalu tersenyum saat menatap wajah istrinya yang masih tertidur di lingkaran lengannya. Tangannya terulur merapikan rambut istrinya yang berantakan.


Gadis Bodoh. Batin Arya seraya mengusap kepala istrinya dengan lembut, setelahnya dia mengalihkan pandangannya ke arah jendela tepat di sampingnya. Karena memang posisi tempat tidur itu tepat di bawah jendela. sehingga cahaya mentari sangat mudah menyinari wajahnya.


Saat itu juga Arya ingin sekali bangunkan Istrinya, tangannya terulur mengusap pipi sekaligus memajukan wajahnya dan bibirnya menyentuh bibir istrinya yang tipis. "Emh" Arya melepaskan ciumannya saat Yesa sudah menggeliat dan perlahan membuka matanya.


Kemudian pasangan suami istri ini memutuskan untuk mandi bersama. Tentunya mereka melakukan adegan mandi basah di sana. Acara mandi bersama sudah selesai, kini mereka sudah ada di depan cermin sambil merapikan diri masing-masing.


Setelahnya mereka keluar dari kamar berjalan menuju meja makan. Disana sudah ada Icha yang tengah sibuk menghidangkan santapan sarapan pagi di meja makan.


"Selamat Pagi." Icha menyapa, pasangan suami istri ini duduk di kursi meja makan.


Icha mengangkat bahunya "Entahlah, mungkin nanti sore kali yah, dia baru pulang."


Di sela-sela percakapan suara nada dering handphone Arya berbunyi lalu dengan segera dia mengangkat panggilannya.


"Sayang sekali, padahal aku penasaran, ingin melihat mukanya langsung." Sekilas Yesa melihat Arya sedang sibuk menerima panggilan di hpnya.


Arya bangkit dari kursi dan berjalan ke arah pintu keluar rumah Icha, dia ingin bicarakan masalah bisnis dengan Dani sepertinya


"Yesa, kau tahu? Saat kali pertama aku mendengar berita bahwa ayah kandung mu masih hidup. Aku terharu sekaligus terkejut." Kata Icha sambil menuangkan susu coklat kedalam gelas, lalu meletakkannya di depan Yesa


"Kamu tahu darimana?" Yesa bertanya sambil meletakan roti beserta isinya kedalam piring


"Aku lihat berita di tv."


"Ooo, Kamu rajin sekali menonton tv ya." Yesa tersenyum heran, pada dasarnya dia memang tidak suka menonton tv.


"Biarin, daripada kamu, jangankan menonton tv. Bergosip juga enggan melakukannya!" Icha ketus


Yesa menarik napas kaget "Apa? Gosip! Icha Itu karena aku memang tidak suka bicarakan orang lain."


"Yesa, apa kamu tidak jenuh, kalau suami mu bekerja, itu artinya kamu tinggal di rumah sebesar itu sendirian." Kesempatan karena selama ini Icha penasaran. Kegiatan apa saja yang di lakukan Yesa selama dia sudah menikah


"Tidak sama sekali, tapi sebaliknya aku merasa senang. Bahkan kau juga sudah tahu. Selama belum menikah. Aku terbiasa hidup sendiri dan melakukan apapun semauku dengan bebas di luar sana. Tapi sekarang aku lebih menikmati peranku sebagai istri yang baik bagi suami ku. Lagian aku juga tidak sendirian di rumah. Ada beberapa pelayan menemaniku dengan tulus di sana."


"Begitu ya. Apa kau pernah berkunjung ke kantornya?"


"Belum."


"Loh, kenapa?" Icha bertanya lagi


"Itu karena aku tidak tertarik dengan urusan kantor. Aku lebih suka dengan camera digital baruku saat ini. Aku lebih asik memotret hehe."


"Yesa, apa kau bodoh? Jika aku jadi dirimu. Aku akan berkunjung ke kantornya dan membawa bekal untuknya. Seperti kejadian drama dalam komik." Kata Icha sambil membayangkan beberapa adegan dalam komik


"Aku tidak akan mengizinkannya." Arya menimpali, mengejutkan keduanya, dia terlihat sedan berjalan mendekat lalu duduk di samping Istrinya


Yesa dan Icha mengerutkan keningnya


"Kenapa memangnya?" Yesa bertanya


"Istriku, Itu karena aku tidak suka ada orang asing bicarakan tentangmu. Baik dalam rumah, kantor maupun di luar sana." Jawab Arya sambil memandang wajah istrinya penuh makna.


Suamiku, Apa kamu bilang. Orang asing pegawai kantor sekali pun kamu anggap orang asing. Bukannya ini sangat berlebihan. Waahh Kamu memang orang yang sangat dingin dan sulit ditebak.


"Itu artinya, kamu tidak ingin mengekspos istrimu ya? Tuan muda Arya, aku merasa kau ini sangat lucu. Apa kamu tidak pernah melihat atau mendengar berita salah satu di Media. Aku rasa seluruh isi di dunia ini sudah tahu. Bahwa Yesa adalah istrimu." kata Icha bawel.

__ADS_1


"Itu sebabnya, sebenarnya aku sangat risih mengakui hal itu. Aku tidak suka ada orang asing mengungkit tentang kehidupan istriku. Jika bukan karena ayahku, mungkin aku sudah menolaknya mentah-mentah." Arya menjawab dengan dingin


Kenyataannya, memang Hendra lah yang ingin mempublikasikan menantu tersayangnya itu, pada seluruh dunia ini. Dia memang suka diri dan keluarganya di kenal oleh banyak orang. Entah apa tujuannya, hanya tuhan dan dirinya saja yang tahu jawabannya. Sehingga Para Pejabat Negara dan Para milliarder Dunia pun begitu mengenalnya. Hendra sangat jauh berbeda dengan Arya.


Arya adalah orang yang sangat sulit di temui, dia hanya ingin menemui orang yang pantas saja menurutnya dan tentu saja hanya teman dekat yang bisa bertemu dengannya. Itupun terkadang dia menolaknya. Jika waktu senggang dia lebih asik bermain piano dalam rumah, di banding harus bertemu dengan teman dekatnya.


"Begitu ya." Yesa terkejut setelah mendengar suaminya bicara, karena sebenarnya dia juga paling tidak suka jika dirinya di publikasikan.


Dia ingin melindungi istrinya dengan baik pantas saja. jangankan Para Pejabat Negara, Milliarder Dunia jika ingin bertemu dengannya langsung itupun harus meminta izin terlebih dahulu darinya dan terkadang itu juga sangat sulit mendapat izinnya.


Jika di ibaratkan binatang dia bagaikan Jaguar selalu hidup menyendiri. Bahkan sangat sulit di jinakkan. Selain matanya yang tajam dan Pribadinya yang sangat Karismatik. Ternyata dia juga Pemimpin Agresif dengan kecerdasan yang superior, sepertinya aku mengakui kelebihannya itu. Jika aku memliki perusahaan dan bekerja sama dengan perusahaannya, mungkin aku akan merasa bingung karena ketinggalan jauh.


Di satu sisi, bisa saja dia jadi begitu egois, penuh dendam dan sangat politis untuk menyelesaikan sesuatu. Baik dalam masalah pribadi maupun masalah bisnis. Di satu sisi dia juga bisa bekerja dengan hati, dia sungguh bijak memilih usaha dalam segala bidang, sampai membuatnya selalu menghasilkan yang terbaik.


Hampir semua bidang dia kuasai. Rumornya adalah satu-satunya bidang yang tidak ingin dia kuasai adalah bisnis Media. dan itupun benar adanya, dia terlihat sangat tidak menyukainya. Begitu ingatan Icha di kepalanya." Yesa aku sangat iri padamu. Kamu memiliki suami yang begitu sempurna di mataku." Katanya dalam hati seakan tidak percaya saat mendengar Desas-desus dahulu tentang suami sahabat karibnya itu memang benar adanya.


"Ini makanlah." Kata Yesa saat meletakan piring berisi dua potong roti lengkap dengan isinya, yang sudah di sajikan pada suaminya


"Yesa, apa kamu jadi ke danau hari ini?" Kata Icha setelah mengunyah roti isinya.


"Aku hampir melupakannya." Yesa menoleh ke wajah Arya ."Suamiku bagaimana, apa kamu mau ke danau bersama ku ? Kita bisa sambil memancing ikan di sana." rayunya, karena niat yang sebenarnya, adalah dia hanya ingin memotret pemandangan indah di sana.


"Istriku, bukannya aku sudah bilang kemarin, kita akan melakukan itu nanti, saat kita berada di rumah ayah." Jawab Arya, pandangannya tajam, Yesa mungkin sudah tahu maksud dari tatapannya itu. Karena tidak mau menyerah Yesa mulai mengeluarkan jurus wajah manjanya. Membuat wajah dan telinga Arya memerah.


"Ayolah, kapan lagi kita bisa kesini, saat Icha melahirkan juga belum tentu kamu mau datang kesini lagi kan?"


"Cih, kamu memang pandai merayu orang." Arya menjawab sambil memalingkan wajah malunya.


Yesa bahkan kamu sudah tahu kelemahannya. kamu memang hebat. Aku benar-benar iri padamu.


Begitu kata Icha dalam hati."Yesa, apa perlu aku mengantar mu?" tanyanya.


"Tidak perlu!" Arya yang menjawab cepat


"Icha, habis berkunjung dari danau, mungkin kami langsung pulang, dan tidak kembali lagi ke rumahmu." Jelas Yesa


"Begitu ya," Icha mengangguk "Baiklah.''


****


Sementara itu di jam yang sama Dery, menjalani aktifitas seperti biasanya, saat


ini dia berjalan menuju ruangannya di perusahaan milik kakaknya itu, Sekretaris Dani mengikuti langkahnya dari belakang. Kini Dery sudah duduk dan bersandar di kursi meja kerjanya, tanpa menunggu lama, Dani menyerahkan sebuah undangan kepadanya.


"Apa ini?" Dery bertanya saat menerimanya


"Acara amal nanti malam, yang di adakan oleh pemimpin redaksi majalah bisnis, Direktur Leon mengira anda akan membawa Presdir Arya, jadi beliau mengirim undangan ini seperti biasa." Jelas Dani


Dery membaca undangan itu.


"Ini hanya tradisi." Katanya sambil meletakkan undangannya di meja "Apa ada yang special tahun ini?" Dani mengangguk


"Di Antara daftar tamu, ada salah satu keluarga Dalmiro." Dani menjawab singkat


"Group DM! Dari manajemen mana mereka?"


"Ini Carlen, beliau adalah Wakil Presdir Group DM dari Jerman, nama indonesianya adalah Linda." Kata Dani sambil meletakkan tablet di atas meja Dery mengerutkan kening saat melihat layarnya.


"Rumornya dia sangat muda." Dani bicara lagi pandangannya tidak lepas dari Dery yang fokus membaca informasi Linda pada layar tablet sambil menggeser-geser halamannya." Dia salah satu kandidat, yang paling mungkin dari Group DM, dia jarang mengungkapkan dirinya ke Media jadi hanya sedikit informasi tentang dia." Lanjut Dani


"Leon sangat memilki kualitas, dia bisa mengundang eksekutif senior, merk perhiasan mewah internasional, biasanya kita hanya menunjukan muka, kelihatannya tahun ini aku harus tinggal lama." Dery bicara sambil mengerutkan kening.


"Tuan Muda, Sepertinya tahun ini Presdir Arya tidak bisa hadir pada acara amal itu malam ini." Ujar Dani lagi


"Itu alasannya, tahun ini aku bisa tinggal lama disana." Dery bicara sambil bersandar dan memejamkan matanya.


Dani hanya diam tanpa suara, seperti mengerti arti dari kata Tuan mudanya barusan, Dery tampak penasaran dengan wanita yang bernama Linda itu.


***


Setelah menghabiskan perjalanan waktu beberapa menit dari rumah Icha, akhirnya mobil Arya sudah sampai di danau. Danau ini menawarkan pemandangan eksotis matahari terbit di antara hijaunya bukit. Area di danau ini dikelilingi pohon cemara dan pinus nan asri. Indah begitu alami. Pasangan suami istri ini hanya berkeliling dengan sampan, Yesa tampak sedang asik sedang memotret sana sini,


Setelahnya mereka sekedar memancing ikan di bagian tepi. Kebetulan di sana sudah ada beberapa jasa sewa tempat perkemahan dan peralatan mancing. Jadi para pengunjung tidak perlu repot-repot membawanya dari rumah.


"Pemandangan yang indah, dan hatiku merasa damai." kata Yesa sambil merentangkan kedua tangannya di udara memecah kesunyian.


"Sudah satu jam kita disini, tapi tidak berhasil memancing ikan satupun." Kata Arya setelah meneguk habis air mineral dalam botolnya" Kenapa tidak ada satupun ikan disini?" Entah sadar atau tidak Arya bertanya dengan tatapan dingin, seraya meremas botol plastik bekas air mineralnya yang sudah kosong. Geram


Yesa menelan ludah tubuhnya merinding, saat melihat pandangan mengerikan dari suaminya yang sama persis dengan kejadian onar waktu dulu.


"Suamiku, apa kamu mau memberiku trauma yang baru, agar trauma lama ku itu hilang."


Arya mengerutkan keningnya.


"Trauma, apa maksudnya?" Bingung


"Kau, melihat ku dingin begitu lagi. Apakah itu tandanya kamu tidak ingin berlama-lama disini?"


"Hhh," Arya menarik nafas jengah."Aku bisa stress jika begini terus. Hanya bisa menghirup udara segar saja disini. Lebih baik kita pulang sekarang."


"Baiklah."


Mereka bangkit dari duduk, berjalan menuju mobil yang tak jauh dari tempatnya memancing. Tanpa menunggu lama, Arya sudah siap menyetir mobil memecah jalanan hingga tempat kediamannya

__ADS_1


__ADS_2