PERJODOHAN CEO JEWELERY

PERJODOHAN CEO JEWELERY
KARTU UNDANGAN


__ADS_3

Tidak terasa, sebuah kontrak tiga bulan yang sudah menghubungkan Arya dengan Yesa akhirnya akan segera berakhir. Pernikahanpun akan segera berlangsung akhir pekan ini.


Satu persatu undangan sudah mulai di sebarkan kepada calon para tamu undangan


oleh sekretaris Dani. Siang itu di kediaman Arya, seorang gadis cantik sedang duduk bersandar di sofa, sambil menatap satu buah undangan di tangannya. Dia hampir tidak menyadari ketika Dery sudah berjalan mendekat.


"Yesa apa kamu khawatir lagi, karena akan menikah sendirian tanpa kehadiran orang tuamu? Jangan gugup, kami akan menemanimu." Yesa menatap Dery


"Tapi, apa pernikahan ini akan membuatku bahagia ? Apa Kakak mu menyukainya ?"


"Akan ada satu orang yang selalu menyukai,


apapun yang dilakukannya." Dery bicara setelah duduk di sebelah Yesa tangan kanannya mengusap kepala gadis itu sebentar dengan


sangat lembut." Aku akan selalu memujimu, karena kamu sudah berhasil membuat Kakak ku berubah, Yesa aku yakin suatu saat kamu dan kakak ku akan bahagia " Gadis itu menatapnya dengan lembut terpaku.


"Dery, kamu sangat sama persis seperti, Nenek ku yang sudah membesarkan ku."


"Benarkah"


Yesa mengangguk.


"Ah aku baru ingat, Dery apakah jarak antara rumah ini dengan toko kue bernama pandan wangi sangat jauh ?"


"Pandan wangi ?" Dery berpikir sejenak." Mungkin tidak terlalu jauh. Apa kau inginkan aku mengantarmu ?" Yesa menggeleng cepat.


"Tidak perlu, lagipula aku hanya ingin memberikan undangan ini pada sahabatku "


"Begitu rupanya."


Yesa hanya nyengir.


***


Jewelery Internasional


Arya seperti biasanya dia sedang sibuk membaca semua berkas laporan di atas meja kerjanya. Tidak lama kemudian sebuah ketukan pintu terdengar dari luar.


"Masuk."


Suara pintu terbuka, Dani nampak berjalan mendekat." Tuan Muda, saya baru saja menerima pesan dari Nona Yesa. Dia meminta izin untuk pergi ke toko kue siang ini." Kata Dani setelah berdiri di depan Tuan mudanya


"Apa ?" Terkejut.


"Sepertinya, Nona Yesa ingin berangkat sendiri, Tuan muda, Apa Anda ingin saya menemaninya ?" Suara Dani terkesan sangat panik


"Yesa pergi begitu saja ?"


" Benar Tuan Muda." Dani menjawab cepat. Arya menjatuhkan laporannya di atas meja.


Kenapa dia tidak minta izin dulu padaku


"Apa dia pikir bisa pergi sendiri begitu saja? Ciih ! merepotkan sekali." Arya Bangun dari duduk dan meraih handphonenya di atas meja. Setelahnya ia melangkahkan kaki meninggalkan ruangan itu


"Tuan Muda, apa perlu saya menemani Anda ?"


Arya berbalik.


"Tidak perlu, kau atur saja pertemuan dengan Group Lee dan pastikan saat aku sudah kembali kau sudah mengatur jadwalnya."


"Baik Tuan Muda." Dani menunduk.


Tuan muda sepertinya Anda sudah sangat peduli pada Nona Yesa.

__ADS_1


Setelah bicara Arya berjalan memasuki pintu lift pribadi yang sudah terbuka sambil menekan satu nomer kontak di hp. Ingin melakukan panggilan singkat." Keluarkan mobil ku." Ucapnya setelah sambungan pertama sudah mendapat respon


"Baik Tuan Muda." Sahut pengawal di seberang


--


Arya Memasuki mobil sport miliknya yang sudah terparkir manis di depan pintu masuk utama gedung perusahaannya. Kali ini ia sudah duduk di balik kemudi sambil memakai sabuk pengaman lalu menghidupkan mesin. Tanpa menunggu lama, mobil itu melesat cepat membelah jalanan.


Suara Nada dering handphone Yesa berbunyi


" Ya Arya, ada apa ?"


"Yesa ada dimana kamu sekarang ?"


"Aku di halte bus dekat rumah."


"Jangan bergerak, dan tetap disana." Hardik Arya di seberang.


"Tapi .. " Belum sempat Yesa menjelaskan. Arya sudah memutus panggilannya."Mmm, kenapa dia menutupnya? Dasar orang aneh." Sahut Yesa kesal


Kenapa dia menyuruh ku tetap disini


Beberapa menit kemudian sebuah mobil sport hitam berhenti mulus tepat di depan halte.


Yesa terkejut saat menatap laki-laki yang baru saja turun dari sana siapa


"Arya !"


"Kamu pergi sendirian seperti ini ?" Arya bicara


Ada apa ini. Kenapa dia datang kesini.


Yesa mengangguk saja


Sekilas Aya mengalihkan wajah sekaligus mengigit bibir demi membuang kesal." Dengar ! tidak masalah jika kamu mau pergi. Tapi kenapa pergi tanpa minta izin dulu dariku ? Untuk apa aku memberimu hp. Jika tidak kamu gunakan itu baik-baik."


"Setelah kejadian preman waktu malam itu, apa kamu pikir aku tidak khawatir padamu ? Menurutmu, apa kamu bisa pergi dan menghilang begitu saja ? Apa menurutmu aku akan biarkan kamu pergi sendiri begitu saja?" Arya ngomel-ngomel tidak karuan seperti sudah frustasi saja. Setelahnya ia membuka pintu mobil " NAIKLAH." Hardiknya keras. Tapi


sialnya gadis itu hanya diam keningnya


mengerut seraya berpikir


Ya Tuhan dia bicara sendiri lagi. Kenapa belakangan ini dia sangat aneh.


"Arya apa hari ini kamu ingin memberi


ku tumpangan ? hehee.." Dengan santainya


Yesa bicara sambil berjalan memasuki mobil


"Apa ?" Arya tercengang."Dasar bodoh !" Ucapnya sambil menutup pintu mobil saat Yesa sudah duduk di dalamnya geram.


Kenapa dia marah. Ya Tuhan benar-benar aneh sekali tingkah lakunya.


Arya masuk ke dalam mobil dan melajukan


kembali memecah jalanan.


"Omong-omong untuk apa kamu pergi ke toko kue ?" Arya bicara


"Ah aku ingin berikan satu buah undangan pada Chi dan juga Icha sahabat ku."


"Jadi kamu hanya ingin memberikan undangan itu pada sahabatmu ?" Arya bertanya sambil melirik Yesa saat mengeluarkan sebuah kartu undangan dari dalam tas.

__ADS_1


Yesa mengangguk." Aku menantikan


kehadirannya di pesta pernikahan kita nanti."


" Yesa, seharusnya kamu minta izin dulu padaku, biar bagaimanapun kamu akan menjadi istriku, mulai saat ini kamu harus minta izin dulu padaku, sebelum kemanapun kamu pergi." Nada bicara Arya terkesan sangat lembut


"Baiklah, aku mengerti."


Ya Tuhan Apa dia sedang mencemaskan ku


"Kita sudah sampai, aku tunggu kamu


di mobil." Arya bicara setelah menghentikan mobilnya tepat di depan toko kue


"Apa kamu ingin mengantarku pulang ?" Yesa bertanya seraya membuka sabuk pengaman.


"Sebaiknya kita pulang bersama, berapa


lama kamu disana ?"


"Kalau begitu aku akan menemui mu disini,


sekitar satu jam lagi, terimakasih." Yesa bicara sambil tersenyum. Setelah itu ia turun dari mobil menutup pintu lalu berjalan meninggalkan tuan mudanya.


****


"Chi !" Yesa memanggil saat melihat Chi tampak sedang sibuk merapikan ruangannya


"Yesa! " Chi terkejut


"Chi, bagaimana kabarnya ? Aku merindukanmu"


"Kabar Chi baik sayang, ada perlu apa kamu datang kesini ? Apa kamu ingin bekerja lagi disini." Chi bertanya dengan nada hangat. Yesa menggeleng dengan cepat


"Tidak ! Bukan begitu maksudku, aku sengaja datang kesini hanya ingin mengundangmu untuk hadir di pesta pernikahanku akhir pekan ini." Yesa bicara sambil menyerahkan sebuah kartu undangan berwarna merah maroon. Chi tersenyum saat menerima benda itu.


"Yesa, kamu benar-benar akan menikah, syukurlah Chi senang mendengarnya "


"Hehe terimakasih, oya Chi apa Icha bekerja hari ini ?"


"Icha ?" Chi berpikir sejenak." Yesa, Icha sudah dua bulan tidak bekerja lagi disini."


Yesa terkejut "Apa, kenapa dia tidak berkerja


lagi disini ?"


"Icha, sudah menikah, dua minggu yang lalu dia sudah kembali ke kampung halamannya, selama dia belum menikah, Icha mencari mu."


Entah kenapa setelah mendengar kalimat itu


seluruh tubuh Yesa menjadi lemah tidak berdaya merasa sedih karena sahabat satu-satunya itu sudah lama pergi meninggalkannya.


"Chi aku tidak bisa mengatakan apapun saat ini, Chi tolong peluklah aku, berikanlah aku. kekuatan."


"Dengan senang hati sayang."


Chi menawarkan diri, Yesa langsung memeluk tubuh itu dan menangis dalam pelukannya. Air mata gadis ini semakin deras saat Chi memberikan tepukan lembut di punggungnya berkali-kali. Chi sudah memahami bahwa yang di butuhkan Yesa saat ini adalah nasihat.


"Sudahlah sayang, biar bagaimanapun Icha sudah menemukan kebahagiannya, bahkan sekarang kamu juga akan menikah, sudah saatnya kamu menemukan kebahagian mu."


Yesa menganggukkan kepala dalam pelukan Chi tetesan air matanya semakin deras.


Entah kenapa yang sudah membuatnya menangis seperti itu. Merasa kehilangan sahabat ataukah ia sedang meluapkan beban tersembunyi dalam benaknya selama ini.

__ADS_1


*


*


__ADS_2