PERJODOHAN CEO JEWELERY

PERJODOHAN CEO JEWELERY
TERIMAKASIH ARYA


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan Arya hanya diam menatap jalanan. Sedangkan Yesa tak henti hentinya menatap wajahnya. Ini kali pertamanya dia melihat tatapan Arya begitu terlihat kesepian.


"Ada apa ?" Arya bertanya setelah menyadari Yesa sedari tadi memerhatikannya


"Tidak ! Hanya saja suasananya begitu tenang. Apa kau ingin mendengarkan radio ?"


Arya mendengus


"Lupakanlah ! Apa yang kau lihat tadi."


Yesa mengangguk."Baiklah, lagi pula aku hanya ingin membuatmu tenang."


Ya Tuhan bagaimana cara ku menghiburnya


Suasana hening kembali, hingga mobil berhenti di kastil. Mereka melepaskan sabuk pengaman lalu turun dari mobil. Arya berjalan menuruni anak tangga, Yesa mengikuti langkahnya dari belakang.


"Ahh lelahnya " Ujar Yesa saat sudah duduk dan bersandar di sofa


"Ini ambilah " Arya melempar sebuah benda berwarna hitam secara tiba-tiba. Yesa sampai gelagapan saat menangkapnya.


"Apa ini ?"


"Handphone ! Kamu pakailah itu agar aku bisa memanggil mu dengan mudah." Arya duduk di


sofa sambil bersandar bersebelahan dengan Yesa. "Aku sudah menyimpan nomerku dan beberapa nomer orang lainya di hp itu. Kamu bisa melihatnya dalam kontak."


"Benarkah ! Terimakasih Arya." Yesa tersenyum girang bagaikan menemukan harta karun yang sudah lama tersembunyi di dasar bumi ini


Sial kenapa aku merasa dia imut begini


"Aku merasa gerah." Ujar Arya sambil melepaskan kancing satu persatu agar kemeja putihnya terbuka tanpa melepasnya. Yesa terbelalak lalu membalikan tubuhnya.


"Apa dia berpikir kita berpacaran." Menutup mulut keceplosan dan sialnya Arya mendengarnya.


"Jangan bermimpi." Sahut Arya dingin. Tapi entah kenapa wajahnya merona senang.


"Aku tahu ! Lagi pula, takkan lama lagi aku


segera pergi dari rumahmu." Jawab Yesa ketus


Bodohnya aku


Setelah mendengar kalimat dari Yesa. Arya diam membisu lalu bangkit dari duduknya. Melangkahkan kaki menuju kamar mandi dan menatap diri di depan cermin.


"Kenapa aku merasa kesal, saat dia bilang akan segera pergi dari rumah ku." Arya membuka keran lalu membasuh wajah kesalnya dengan air dingin.


*****

__ADS_1


Indonesia


Di sebuah jalan trotoar terdengar percakapan singkat di antaranya dua orang wanita setelah keluar dari tempat peminjaman uang atau biasa di sebut dengan Renternir.


"Imas bukankah berlebihan memakai pinjaman untuk membeli perlengkapan mu." Ucap salah satu bibi yang sedang berjalan seraya membawa uang hasil pinjamannya.


"Tenang saja. Hei ! itu hanya lima juta. Keponakan ku sudah lama bekerja di rumah putra dari perusahaan terkenal itu pasti akan mengurusnya." Ucap Imas


Imas adalah bibi dari Yesa, tapi kabarnya gadis itu belum pernah sekalipun bertemu dengannya. Entah kenapa aku merasa ini terkesan sangat aneh. Begitu pikir teman Imas


"Kamu bilang, bahkan kamu tidak bisa


menemui dia." Teman Imas bicara


"Aku akan menemuinya jika dia sudah kembali ke rumah ibu ku. Dan aku yakin dia pasti akan senang bertemu denganku. Karena dia tidak mempunyai siapapun lagi selain Ibu ku di dunia ini." Sahut Imas panjang lebar.


"Sungguh ! Aku tidak yakin dia akan sesenang itu. Jika dia tahu bahwa kamu orang seperti ini "


"Hei ! Aku terpaksa melakukannya ! Jika aku tidak berpisah dengan suamiku yang sialan itu. Aku juga tidak akan melakukannya. Haaahh.. Seberapa senang mendiang Kakak ku. Kalau dia tahu putrinya bekerja di kediaman putra perusahaan terkenal itu."


"Lalu kapan dia pulang? " Teman Imas bertanya lagi


"Entahlah, tapi aku yakin dia pasti akan kembali demi bertemu dengan ibu ku "


"Kenapa kamu tidak berkunjung saja ke rumah itu. Bukankah itu lebih baik daripada kamu menunggu lama."


"Ahh benar juga yang kau katakan. Kenapa aku tidak menyadari ini dari awal."


Benar lebih baik aku pergi menemuinya


 


Di ruangan Presdir Jewelery Grop hp sekretaris Dani berbunyi lalu ia mengangkatnya


"Selamat siang." Dani mendengar jawaban di seberang sambil menatap Hendra yang sedang duduk menyandarkan diri di kursinya" Seorang wanita mencari Nona Yesa ?" Dani melirik Hendra memasang wajah datar. Seperti berkata Beraninya." Maaf saat ini saya sedang sibuk, biarkan dia menunggu di loby lantai dasar." Dani menutup panggilannya


"Tuan Besar, apakah Anda ingin saya mengurus masalah ini ?"


"Temuilah." Hendra bicara


''Baik Tuan." Sekretaris Dani menunduk lalu meninggalkan ruangan Hendra. Lalu berjalan memasuki lift sampai di lantai dasar.


Siapa wanita itu. Jika dia teman dari Nona Yesa. Mungkin dia tidak akan seberani ini. Datang kesini demi hanya ingin bertemu dengannya.


"Nona Imas" Dani sedikit terkejut saat bertemu dengan orang di depannya ini siapa


"Maaf, apakah Anda Sekretaris Dani ?" Imas bertanya

__ADS_1


"Benar." Sahut Dani, lalu duduk di sofa


"Kalau begitu, perkenalkan saya Imas bibi Yesa. Saya adalah adik dari Ibu kandung Yesa."


"Baik, apakah Anda benar-benar sekedar ingin bertemu dengan Nona Yesa ?" Dani bicara


"Benar Tuan, sejujurnya saya belum pernah bertemu dengan Yesa. Meski begitu ada perihal penting yang ingin aku bicarakan dengannya secara pribadi."


"Perihal penting ?"


Tidak peduli seberapa besar urusan Anda dengan Nona Yesa. Tuan Besar tidak akan mengizinkannya. Saya sudah mengetahui semua informasi tentang keluarga Nona Yesa.


Anda datang kesini hanya ingin mengambil


keuntungan saja. Nona Imas mungkin Anda bisa membodohi semua orang di sekitar Anda. Tapi tidak dengan Tuan Besar Hendra.


"Benar, tolong beritahu saya alamat rumah dimana tempat Yesa bekerja. Saya sudah tidak sabar ingin bertemu dengan keponakan saya Tuan."


"Mohon simaklah peraturan ini Nona. Meskipun Anda mempunyai hubungan darah dengan Nona Yesa. Maaf untuk sementara. Nona Yesa tidak di izinkan bertemu dengan Anda. Kediaman Putra Ketua Hendra tidak dapat di beritahukan pada siapapun dan jika Anda mempunyai pesan. Silahkan Anda bisa bicarakan langsung disini. Saya akan menyampaikan pesan Anda dengan sangat baik."


Imas diam tidak bergeming setelah mendengar kalimat yang sangat panjang itu. Dengan kata lain ia merasa Dani sudah mengetahui keinginan Imas yang sesungguhnya.


"Baik Tuan, sejujurnya saya tidak ingin sekedar bertemu dengannya saja. Selebihnya saya ingin meminjam uang kepadanya. Untuk melunasi hutang saya pada bank keliling di kampung halaman saya Tuan."


"Apakah hanya ini yang ingin Anda sampaikan pada Nona Yesa ?" Dani bicara dengan nada dingin


"Iya Tuan hanya itu, mohon sampaikan pesan ini pada keponakan saya dan saya yakin dia akan mengerti."


"Baik, Jika hanya itu mohon Anda terimalah ini.


Anggap saja ini hadiah terakhir dari Nona Yesa. Kedepannya tolong jangan menggunakan nama Nona Yesa sebagai alat untuk pinjaman Anda pada bank keliling. Jika kami mendengar kabarnya lagi. Bersiaplah mungkin Anda akan menetap di penjara."


Imas menelan ludah, seluruh badannya merinding setelah mendengar ancaman Dani. Tangannya gemetar saat meraih cek di atas meja. Dan tercengang setelah menatap nominal yang tertulis di dalamnya.


"Baik Tuan terimakasih, saya berjanji di masa mendatang. saya tidak ingin melakukan kesalahan apapun lagi pada keponakan saya."


"Anda tidak perlu sungkan Nona Imas"


Benar-benar tidak tahu diri


"Kalau begitu saya pamit, sekali lagi terimakasih banyak Tuan." Imas bangun dari duduk, lalu membungkukkan badannya.


"Baik, selamat tinggal Nona, saya sarankan sebaiknya Anda benar-benar menepati janji Anda."


"Tentu saja Tuan, saya berjanji."


Dani bangkit dari duduknya, lalu berjalan

__ADS_1


meninggalkan Imas. Setelah lift membawa tubuh Dani melayang ke lantai atas. Imas tak henti-hentinya menatap lembaran kertas kecil di tangannya. Tidak terasa air mata menetes di pipinya.


Dengan uang sebanyak ini. Aku bisa membeli rumah mewah dan membuka usahaku sendiri di kampung halaman ku. Yesa maafkanlah Bibi sayang. Bibi selalu berbuat salah padamu. Bibi doakan semoga kamu cepat menemukan kebahagiaan mu sayang.


__ADS_2