PERJODOHAN CEO JEWELERY

PERJODOHAN CEO JEWELERY
MALAM PERTAMA


__ADS_3

"Hei turunkan aku, kenapa kau menggendongku ?"


Yesa meronta saat di gendong suaminya menuju mobil yang sudah disiapkan sekretaris Dani. Para wartawan pun menyerbu mereka untuk mengambil foto terbaiknya. Bagi mereka ini adalah kejadian yang sangat langka.


"Ini memalukan, hei turunkan aku, aku bisa jalan sendiri."


"Susah payah aku baru bisa mendapatkan mu. Bagaimana mungkin dengan begitu mudah aku melepaskan mu "


Entah kenapa gadis itu langsung diam menatap wajah suaminya penuh makna. Sekilas pipinya merona merah.


Aku tidak menyangka dia melakukan ini padaku


"Silahkan Tuan Muda" Kata Dani sambil membuka pintu mobil, mempersilahkan masuk dengan sopan. Arya menurunkan tubuh Yesa


"Naiklah"


"Kita mau kemana ?" Yesa bertanya belum mau masuk


"Kita akan kembali ke rumah Ayah."


"Rumah Ayah! Kenapa tidak pulang ke rumah mu saja. Tapi bagaimana dengan Nenek, acaranya belum selesai."


"Hanya untuk malam ini saja kita menginap di rumah Ayah dan kamu tenang saja. Biarkan Ayah sendiri yang mengurus sisanya."


"Tapi... Aku tidak mau meninggalkan Nenek,


dia masih di dalam." Suara dan wajahnya terlihat cemas


"Kau turuti saja perintah ku cepat ! " Arya memaksa Yesa masuk kedalam mobil agar ikut bersamanya duduk di kursi belakang. Arya melingkarkan tangan kananya di pinggang Yesa. Duduk berdampingan.


Di tengah perjalanan


"Kamu sudah boleh melepaskan ku. Jika kamu masih seperti ini aku merasa malu."


Arya gugup dan malu saat tersadar dengan posisi tangannya."Maaf!" Katanya salah tingkah tanpa mengubah tangan dan tetap di posisinya. Entah kenapa Yesa hanya diam, tersenyum kecil menatapnya wajahnya merona.


Aku merasa nyaman. Tapi kenapa aku merasa canggung. Ini kali pertamanya aku merasakan kebahagiaan yang manis


Sekertaris Dani tersenyum melirik mereka


dari kaca spion." Tuan Muda kita sudah tiba "


Arya menyentuh tangan Yesa saat mau membuka pintu mobil."Tunggu! Biar aku yang melakukannya untuk mu." Buru-buru turun lalu berjalan cepat menuju pintu mobil satu lagi. Setelah terbuka ia mengangkat tubuh istrinya dengan sangat lembut.


"Kenapa kamu menggendongku lagi ?


hei turunkan aku." Yesa meronta lagi


Arya tidak memperdulikannya.


"Selamat datang." Sapa Ketua pelayan dan para Pelayan lain di depan pintu masuk utama kediaman Hendra menyambut kedatangannya. Mereka membungkukkan badan dengan sopan saat melihatnya datang.


"Tuan Muda, ada apa dengan Nona Muda ? Kenapa Anda menggendongnya ?" Ketua Pelayan bertanya


"Bantu siapkan satu kamar dan bantu istriku mempersiapkan malam pertama ku. Cepat !"


"Baik Tuan Muda "


****


Di kamar


"Nona, biarkan saya bantu Anda untuk menyiapkan air mandi." Kata salah satu Pelayan dari kedua Pelayan wanita di yang sudah tugaskan untuk melayani seorang Nona Muda.


"Terimakasih"


"Nona, biarkan saya bantu anda melepaskan pakaiannya." Pelayan dua bicara


"Terimakasih, tapi tidak perlu aku bisa melakukannya sendiri."


"Maaf Nona, jika kami tidak bisa mengerjakannya. Tuan Muda akan memarahi kami" Ujar Pelayan gelisah


"Sungguh, aku bisa melakukannya sendiri. Biar aku menjelaskan masalah ini pada suami ku nanti."


"Tapi setidaknya, mohon ijinkan saya untuk membersikan wajah anda Nona." Pelayan tidak ingin menyerah.


"Tidak perlu, terimakasih sungguh aku bisa melakukannya sendiri."


"Tapi Nona.."


"Nona saya sudah menyiapkan air hangat,


saya akan bantu memandikan Anda." Kata pelayan satu yang baru saja muncul dari kamar mandi


"Apa? memandikan ku?" Yesa tercengang "Tidak perlu! Aku bisa mandi sendiri." Buru-buru berlari memasuki kamar mandi dan mengunci pintunya.


Kedua pelayan itu hanya bisa mengetuk pintu dari luar seraya berkata."Mohon Nona Muda, biarkan kami membantu Anda."


"Terimakasih, sungguh aku bisa melakukanya sendiri."


Hening.


Menjengkelkan sekali


"Wahh, luas sekali kamar mandinya" Yesa mengedarkan pandangannya pada setiap sudut ruangan."Ini bahkan lebih luas dari kamar mandi bocah itu. Udaranya juga sangat harum." Ia melepaskan gaun pengantinnya lalu menceburkan diri kedalam bathub.


"Aku di paksa menikah seperti ini, tapi kenapa aku merasa bahagia? Tidak tahu kenapa saat dia menggendong ku tadi, aku merasa senang. Waktu itu sungguh aku merasa dia akan selalu melindungi ku dari gangguan manapun."

__ADS_1


Susah payah aku baru bisa mendapatkan mu. Bagaimana mungkin dengan begitu mudah aku melepaskan mu


Yesa teringat sejenak dengan kalimat yang sudah terlontar dari bibir suaminya.


"Apa maksud dari kata-katanya itu ?" Berpikir " Entahlah tidak terpikir olehku. Meski dingin begitu aku merasa terharu dan sangat bahagia."


Setelah selesai dengan urusan mandinya


Yesa membuka sedikit pintu kamar mandi, mengintip kedua Pelayan yang masih menunggunya di depan pintu. Meminta pada pelayan untuk menyerahkan baju tidur padanya.


"Ini baju tidur anda Nona." Ujar pelayan


"Terimakasih" Yesa menutup pintu kamar mandi. Beberapa saat kemudian ia keluar dari sana.


"Nona, sudah kami persiapkan tempat tidur Anda." Kata Pelayan lagi seraya menunjuk tempat tidur dengan sopan.


Keadaan tempat tidur itu indah sekali. Sprei berwana putih di hiasi dengan sedikit taburan bunga mawar merah di tengahnya. Ada lilin aroma terapi berwarna putih yang terletak di bawah lampu tidur.


"Baik, Terimakasih"


"Tuan Muda"


Hormat Pelayan membungkukkan badannya ketika melihat Arya berjalan memasuki kamarnya. Dia berjalan menuju meja rias, meraih sebuah sisir rambut lalu duduk di bibir tempat tidur


"Keluarlah" Arya bicara pada Pelayan


"Baik Tuan Muda"


"Tadi aku mendapat telepon dari Dani, dia bilang Nenek sudah pulang ke rumah.'' Kata Arya setelah para pelayan menghilang di balik pintu tertutup


"Syukurlah." Yesa menarik nafas lega." Kenapa rambutmu jadi begini ?" Yesa heran ini kali pertama baginya melihat rambut Arya yang baru saja habis keramas. Membuat wajah dinginnya berubah seperti bocah.


"Aku baru saja mandi, Jika kena air, rambutku jadi begini." Ujar Arya seraya mengeringkan rambut basahnya dengan menggunakan handuk kecil.


"Begitu ya." Lucunya hihi


"Duduklah" Arya menepuk tempat tidur agar gadis itu duduk di sana


Yesa mengerutkan kening." Untuk apa kamu menyuruh ku duduk di sampingmu ?"


Entah karena apa ini kali pertamanya Arya menampakkan senyum nakalnya untuk seorang wanita." Aku ingin bantu kamu merapikan rambutmu." katanya sambil mengangkat sebuah sisir rambut di tangannya


"Begitu ya, baiklah." Yesa berbalik, tangan Arya mulai menyisir rambutnya


''Akh sakit !" Yesa menggema


"Jangan berteriak !"


"Kamu menyisirnya terlalu kencang."


"Aku bilang jangan berteriak !"


kamu harus tanggung jawab." Yesa mulai kesal


"Tentu, aku akan tanggung jawab." Arya terkekeh."Tapi bagaimana rambutmu bisa seindah ini? "


"Entahlah, rambutku memang sudah seperti ini sejak lahir."


Arya meletakan sisir di meja samping tempat tidur, memandang wajah Yesa begitu dalam penuh makna. Seolah ingin mengutarakan sesuatu.


''Maaf, sebenarnya kamu di paksa menikah seperti ini karena aku. Sungguh aku benar-benar minta maaf."


"Dari awal aku sudah tahu, Ayahmu sengaja melakukan ini demi kebahagiaan mu."


Hening


Terimakasih ayah. sungguh aku bahagia karena sudah menikah dengan gadis pilihan mu


"Hei kenapa diam ?" Arya tersadar "Apa kamu menyesal karena sudah menikah denganku ya ?" Yesa menunjuk diri dengan wajah kikuk


Arya tercengang."Bodoh, kamu ini memang benar-benar bodoh, Jika bukan karena aku mencintaimu, bagaimana mungkin aku bersedia menikah denganmu."


"Sungguh ?"


"Memang, apa lagi yang harus aku lakukan, untuk membuatmu menjadi milik ku. Yesa sungguh aku benar-benar mencintaimu."


Karena terbawa suasana, perlahan Arya memajukan wajahnya dan bibirnya menyentuh bibir Yesa. Entah kenapa Yesa hanya diam, ini pertama kalinya ia merasakan kelembutan yang sangat hangat dari bibirnya. Menunduk sekaligus merinding saat sapuan bibir Arya mulai menembus permukaan kulit di sekitar tengkuknya semakin lembut semakin hangat terasa....


Brukkk


"Aah ! sakit"


Belum sempat Arya membuat istrinya bergairah kening Yesa sudah mendarat mulus di lantai, tersungkur karena terdorong dengan tubuh suaminya yang sangat indah itu. Kedua tangan Arya langsung menarik kedua bahu Yesa supaya duduk dari posisinya.


"Istriku, kamu tidak apa-apa ?" Arya khawatir tangannya menyentuh kedua pipi Yesa dengan lembut.


Istriku ! Ya tuhan aku bahagia mendengarnya


Yesa hanya geleng-geleng


"Sungguh ?"


Yesa mengangguk."Sungguh aku tidak apa-apa."


"Istriku, kening mu memar." Arya menyentuh kening Yesa


"Aah, sakit !" Yesa mengerang

__ADS_1


"Aku akan ambilkan obat untukmu, kamu tunggu disini."


Yesa mengangguk lagi.


Arya buru-buru berjalan mengambil obat dalam kotak P3k. Beberapa saat kemudian dia muncul seraya membawa sebuah obat di tangannya


"Istri ku duduklah"


Yesa menganggukkan kepala lalu duduk di sofa


"Besok akan ada pemotretan, aku akan oleskan obat ini dengan hati-hati. Jangan sampai ada memar di kening mu." Arya bicara sambil mengoleskan obat pada kening istrinya


"Terimakasih."


Ya Tuhan Aku tidak pernah menyangka ternyata dia laki-laki yang begitu lembut dan sangat perhatian seperti ini


"Ini harus hati-hati, jangan sampai terkena mata."


"Aduh, perih mataku perih." Erang Yesa saat sudah terlanjur mengucek mata, efek obatnya mulai bereaksi.


Arya menarik tangan Yesa."Jangan di sentuh! Jika kamu menyentuhnya matamu akan menjadi semakin perih. Diamlah!" Ujarnya panik


"Perih, mataku sangat perih.'' Saking perihnya Yesa menangis


"Aku harus membilasnya, istriku ikutilah aku." Arya menarik tangan Yesa memapahnya berjalan dengan cepat menuju kamar mandi


"Ini sangat perih, mataku sangat perih "


Arya membuka keran air."Diamlah, aku akan membilasnya dengan air, majukan wajahmu."


********


"Sudah lebih baik sekarang ?" Arya bertanya sesudah meneteskan obat cair pada mata istrinya


"Ini masih sedikit perih dan sulit untuk membuka mata "


"Jangan buka matamu. Sebaiknya kita pergi ke kamar dan tidur." Saran Arya sambil merapikan kembali peralatan obatnya.


"Baiklah, terimakasih." Yesa menundukkan kepala, bangun dari duduk melangkahkan kaki tanpa membuka mata.


Brukk, satu kaki Yesa tersandung meja


"Hati-hati." Dengan refleks Arya bangun dari duduk, tangannya bergegas menangkap tubuh Yesa dari belakang saat nyaris terjatuh.


Gadis itu langsung berdiri kembali dengan tegak, helaan nafas Arya menembus bibirnya saat ia menoleh.


"Maafkan aku."


"Istriku, ayo biarkan aku memapah mu "


Arya meraih tangan Yesa agar mengikutinya di belakang. Tidak pernah terbayang olehnya saat menggenggam lembutnya tangan Yesa sambil berjalan. Pandangannya tulus, sakan cinta dan kasih sayang mengalir di tangannya. Ini adalah kali pertamanya ia merasa begitu bahagia sebesar ini.


"Naiklah."


"Suamiku, apa kamu marah?" Yesa bertanya


saat sudah duduk di tempat tidur.


"Hemm" Arya tersenyum, wajahnya merona senang. "Kamu bahkan tidak bisa melihat ku. Bagaimana kamu tahu aku sedang marah ?"


"Karena aku hanyalah gangguan yang selalu membuatmu marah." Nada suara Yesa terkesan mendalam. Arya merasa bersalah setelah mendengarnya


Dulu ia memang berkata begitu karena belum bisa membedakan antara cinta dan benci. Tapi sekarang ia menyadari bahwa cinta dan benci memiliki perbedaan yang sangat tipis.


"Awalnya kamu seperti itu bagiku. Tapi kini... kamu... untuk ku ..."


Arya bahkan tidak tahu kata apa yang harus diucapkan untuk seorang gadis yang sangat berharga di depannya. Seorang gadis yang sudah membuatnya tahu akan arti kebahagiaan yang sangat tulus di dunia ini.


Hening


Kenapa diam


"Apapun arti ku bagimu. Aku tidak akan keberatan." Setelah bicara Yesa menampakkan senyum indahnya, senyum yang membuat suaminya terpesona.


Tiba-tiba, Arya mencium habis bibir tipisnya dengan sangat lembut. Secara perlahan kedua tangannya mendorong bahunya agar berbaring di bantal tidur. Ciumannya beralih pada bagian leher dan tangannya mulai meraba kemana-mana. Saat berhenti wajahnya mendekat.


"Istriku, kamu sudah siap ?" Ia bertanya dengan suara lembut, gadis yang di tanyai hanya menganggukkan kepala, sambil membuka matanya sedikit karena masih perih


"Jangan buka matamu, serahkan padaku, aku akan melakukannya dengan sangat lembut."


Belum di jawab tangan Arya sudah melepaskan baju yang di pakainya, membuangnya ke lantai, tangannya beralih menarik baju tidur istrinya dan membuangnya ke sembarang arah. Saat pakaian terakhir yang di pakai istrinya sudah dilempar. Dia kembali mengecup bibirnya lalu menurun ke leher, di kecupnya sampai meninggalkan bekas warna merah.


Gadis itu mulai bergairah, bibir Arya sudah menghisap dadanya. Dan satu tangannya bermain di bagian sensitifnya dengan kelembutan.


"Emmh"


Arya tersenyum setelah mendengar istrinya mendesah. Nafasnya naik turun, seolah menantang kejantanannya.


"Malam ini, meskipun kamu berteriak sekencang apapun, aku tidak akan melepaskan mu "


kalimatnya terdengar lembut, pandangannya menggoda seolah ingin segera memakan istrinya hidup-hidup. Setelah bicara ia menaruh lututnya bertumpu di antara kedua belah paha istrinya yang sudah terbuka dengan lebar. Dalam sekejap ia menghentakkan tubuhnya.


"Aah!"


"Istriku, aku mencintaimu." Ia berbisik lembut di dekat telinga Yesa


Mimpi. Bukan ini bukan mimpi. Ini kenyataan.

__ADS_1


Aku dan dia ... Bukan ! Walaupun ini mimpi, aku berharap tidak akan pernah bangun


Gumam gadis itu dalam hati, kini ia hanya mampu mencengkram jemari suaminya Rintihan bahagia pun masih terdengar hingga larut malam.


__ADS_2