
Cuaca pagi ini sangat cerah, ada seorang gadis sedang mengendarai motornya. Sepertinya dia mau menuju ke sebuah toko kecil di pinggiran ibukota. Namun siapa sangka, saat di pertengahan jalan, motornya mogok karena kehabisan bensin. Mau tidak mau dia terpaksa turun dari motornya.
"Aaah. Sial, pagi-pagi begini motor ku sudah mogok, mana pom bensin masih jauh
lagi dari sini." Ketusnya sambil menderek motornya di bawah sinar matahari yang tidak bersahabat itu. Selang beberapa menit, dia kelelahan. Keringat di sekitar dahinya pun bercucuran.
Pim pim pim ... Suara klakson mobil terdengar nyaring di telinga. Gadis itu menoleh, mobil yang tadinya berbunyi sekarang sudah terparkir manis di sebelah motornya. Seolah mempertontonkan, betapa mewahnya mobil itu. Tanpa bertele-tela kacanya terbuka perlahan, hingga akhirnya tampaklah sesosok wanita cantik berasal dari keluarga terpandang. "Feny! Mau apa lagi dia?" Gadis itu bicara dengan suara pelan. Setelah melihat orang yang di dalamnya tersenyum penuh makna.
"Yesa motor butut mu mogok lagi ya ?" Feny memang bertanya, tapi suaranya berbeda. Ada ejekan nyata yang terdengar di telinga Yesa, dia bahkan menghina motor Yesa dengan sorot matanya. Membuat wajah Yesa mulai memanas setelah mendengarnya
"Ada urusan apa kamu berhenti di depan ku?" Ucapnya ketus "Di saat situasi ku seperti ini. Kamu sengaja mendekat karena mau menghina aku lagi kan?" Yesa memberi Feny sorot mata tajam. Karena wanita itu memang suka merendahkan orang seperti Yesa. Seorang gadis miskin tidak punya apa-apa walau sekedar untuk di pamerkan.
"Ciih! Apa aku hanya terlihat manusia seperti itu dimata mu." Gumam Feny pelan, sambil tangannya mengambil dua lembar tisu dalam tas, setelahnya ia membuka pintu lalu turun dari mobilnya." Ini pakailah aku rasa kamu membutuhkannya." Ia menyodorkan tisu dengan senyuman pemikatnya.
"Terima kasih" Yesa meraih tisunya dengan terpaksa, karena ia memang memerlukannya juga. Sementara Feny hany menjawabnya dengan senyum lagi. Tanpa menunggu lama Yesa mulai menempelkan tisu di area wajahnya dengan perlahan, sembari berkata. "Ada perlu apa?"
"Aku ingin menawarkan mu pekerjaan sampingan" Feny langsung bicara pada intinya tanpa bertele-tele. Membuat Yesa mengerutkan keningnya bingung
''Pekerjaan apa?"
Melihat respon Yesa yang mudah terpancing Feny menyibakkan rambutnya. Ada aura kesombongan yang terpancar saat dia menggoyangkan wajahnya.
"Pelayan untuk acara pesta ulang tahun ku. Bagaimana, kamu mau kan?" Dia bahkan berbicara dengan suaranya yang kurang ajar.
"Emmh.. Begitu ya" Yesa diam sesaat sambil menatap wajah Feny penuh makna, sambil berpikir dengan jernih. Pelayan. Ciih! Aku tau, dia pasti menyembunyikan siasat lain di baliknya pada ku. Begitu isi dari kepalanya.
Entah bawaan dari lahir atau apa Feny memang mempunyai sejuta cara licik demi meraih satu tujuan." Tapi maaf." Yesa melanjutkan kalimatnya dengan suara rendahnya. "Aku tidak bisa menjawab mu sekarang."
"Kenapa?" Feny bertanya sambil amarahnya.
"Beri aku sedikit waktu memikirkannya" Ucap Yesa lalu senyum
Feny mendesah sesaat setelah melihat senyuman dari wajah Yesa. Karena dia tahu gadis di depannya ini, tidak mungkin begitu mudah menerima tawarannya. Dan dia juga mengetahui satu hal, walau Yesa miskin tapi ia tidak mau harga dirinya di rendahkan orang lain dengan hal-hal yang sepele.
"Oke aku beri kamu waktu tiga hari. Bagaimana? Kau setuju kan?" Sepertinya si Feny tidak mau menyerah
"Baik, jika aku mau, aku pasti akan mendatangi rumah mu secara langsung." Yesa senyum lagi
"Ini!" Feny menyodorkan hp miliknya tiba-tiba.
__ADS_1
"Untuk apa?" Yesa menatap bingung pada benda itu. Kikuk.
"Menghubungi mu." Feny menjawab cepat "Ayolah... Selama ini kau belum pernah memberi nomer hp mu pada ku kan?" Dia berusaha meyakini gadis di depannya benar-benar mau menerima tawarannya.
"Begitu ya, aku sempat berpikir kau ingin memberiku hp mu barusan. Hehe. "
Yesa meraih hp di tangan Feny, mengetikan beberapa nomernya dan selesai. Akhirnya ia langsung menyodorkan benda kecil itu lagi pada pemiliknya.
"Kau tidak memberi ku nomer yang salah kan?" Sedikit curiga biasanya Yesa tidak semudah itu menuruti apa yang Feny minta. Melihat reaksi Feny yang kebingungan sendiri si Yesa malah tertawa.
"Apa gunanya aku melakukan itu Feny, kamu tau sendiri kan? Aku tidak suka mempermainkan orang. Apalagi seorang gadis sepertimu." Ujarnya datar.
Padahalmah itu nomer hp Yesa yang sudah tidak aktif. Kenyataanya dia tidak punya hp sama sekali. Dulu dia memang sempat punya, namun saat dirinya dilanda dengan masalah ekonomi yang berat, terpaksa dia harus menjual hp kesayangannya demi bertahan menjalani hidup. Daripada aku harus berpisah dengan motor kesayangan ku. Lebih baik aku rela kehilangan hp ku saja. Begitu pikiran jernihnya dulu kala.
Feny menarik ujung bibirnya sedikit setelah mendengar jawaban yang dia mau "Baiklah, aku akan menghubungi mu nanti." Setelah bicara Feny menyimpan nomer hp Yesa dalam kontaknya." Jangan lupa, pastikan hp mu selalu dalam keadaan aktif oke! Aku harus pergi sekarang. Selamat tinggal."
"Emmh" Yesa mengangguk saja. Sementara Feny masuk ke dalam mobilnya.
"Jalan Pak" Perintah dia pada supirnya setelah menutup pintu." Baik Non." Pak Supir terlihat menghidupkan mesin mobil dan melaju kembali memecah jalanan hingga menghilang di kejauhan meninggalkan Yesa.
"Dasar gadis sombong" Yesa memaki sambil melanjutkan kembali menderek motor mogoknya dengan kedua tangannya, hingga tiba di pom bensin.
Setelah bersusah payah dalam perjalanan akhirnya Yesa sampai juga di depan toko kue, tempat biasa dia bekerja setiap hari. Setelah memarkirkan motornya ia langsung masuk kedalam. Lalu menyapa pemilik toko yang sudah duduk dengan manis di meja kerjanya.
"Pagi, Yesa ada masalah apa dengan mu hari ini. Kenapa kamu terlambat lagi?" Chi menatap gadis itu dengan penuh tanda tanya. Suaranya tegas, terdengar seperti sedang marah.
"Maaf Chi, di pertengahan jalan tiba-tiba motor. ku mogok lagi karena ke habisan bensinnya hehe." Si Yesa malah menanggapinya dengan wajah tanpa dosa.
Chi menggeleng saja seperti sudah terbiasa dengan kesalahan pelayan yang sudah dia anggap putrinya sendiri itu
"Ini sudah ke berapa sekian kalinya kamu terlambat ?" Menarik nafas dalam, toh percuma dia marah kalau ujung-ujungnya pasti mendengar alasan yang sama. Chi tidak mau ambil pusing. "Ya sudah, kalau begitu lalukan tugas mu sekarang juga, bantu Icha di dapur, dia sudah menunggumu dari tadi."
"Baik Chi, terimakasih." Setelah menampakkan senyum lebarnya, Yesa menyimpan tas dalam raknya, lalu berjalan menuju dapur. Saat tiba disana ia menemukan Icha yang sedang mengaduk adonan kue dengan menggunakan mixer.
"Yesa kenapa kamu terlambat hari ini, pasti karena motormu mogok lagi iya kan." Ujar Icha sedikit kesal setelah melihatnya datang.
"Iya .." Ucap Yesa datar tanpa dosa
Icha menggeleng."Huu dasar"
__ADS_1
Yesa hanya nyengir.
"Eh, kamu tau tidak, tadi pagi aku mendengar berita yang menggempar kan dunia lho." Baru saja Yesa datang, Icha sudah memulai percakapan basa-basi seperti biasanya.
"Berita apa ?" Yesa bertanya sambil mengikat
tali celemek di belakang punggungnya
"Kamu tau kan Hendra saputra ?" Tanya Icha menggebu
Yesa menggeleng tangannya meraih tepung, margarin dan beberapa butir telur. Lalu memasukan semua bahan-bahan kue kedalam satu wadah.
"Ya ampun Yesa, apakah kamu serius tidak mengenalinya ?" Icha menatap Yesa dengan heran
"Ya, aku serius, memangnya siapa dia ?"
"Ya ampun Yesa, dia adalah Tuan Hendra pemilik Jewelery Grop. Salah satu perusahaan yang terkenal di negara ini." Sahut Icha dengan antusias.
"Oooh." Yesa menjawab asal, padahalmah dia tidak pernah melihatnya sama sekali. Bagaimana mungkin dia bisa tahu, tv saja tidak punya. Memang dasar Icha, dia selalu bicara tanpa berpikir dulu.
"Kamu tau enggak?" Icha melanjutkan "Aku dengar dari berita kalau Tuan Hendra mengalami kecelakaan mobil tadi malam dan polisi masih menyelediki motif kasus ini "
Yesa diam mengerutkan keningnya heran dengan sahabatnya yang satu ini, bagaimana tidak heran. Terkadang Icha membawa topik pembicaraan yang sama sekali tidak ada sangkut paut dengannya
"Terus apa hubungannya dengan mu?" Yesa berusaha tertarik dengan topiknya meski sejujurnya dalam hati dia tidak perduli sama sekali.
"Tentu saja ada, coba kau pikirkan jika salah satu putranya menikah dengan ku, menurutmu nasib ku akan bagaimana?" Ujar Icha bercanda
Yesa mengerutkan kening sambil
angkat bahu." Icha apa mimpi mu tidak
merasa terlalu tinggi ?"
" Hehe, aku kan cuma berkhayal." Sahut Icha
sambil nyengir.
Yesa menggeleng saja
__ADS_1
"Dasar orang yang aneh!"
Begitulah percakapan Yesa bersama sahabatnya setiap hari. Sambil melakukan pekerjaannya dari pagi hingga malam hari sebagaimana semestinya.