
Sandra, entah apa yang di pikirkannya. Saat itu dia menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk utama kediaman Hendra. Dia turun dari mobil sambil membawakan satu keranjang bunga di tangannya menuju ruangan Hendra.
"Ini untuk putramu?'' Hendra bertanya setelah
melihat Sandra meletakan keranjang bunganya di atas meja
"Iya"' Sahut Sandra lalu duduk di sofa.
"Kamu butuh bantuan ku untuk memberikan ini padanya?"
Sandra tersenyum.
"Agak sulit bagiku memberikan ini padanya pada situasi ini, katakan saja alasanku banyak untuk memberikan ini padanya."
"Aku bisa menyampaikan maksudmu nanti. Omong-omong merilis liontin itu, Apa kamu sudah urus soal hak cipta dengan John?"
"Aku belum mendapat persetujuannya." Sandra menjawab cepat.
"Aku dengar dari orang lain, dua puluh tahun lalu, Manda mencuri desainnya dari mu benar begitu?" Setelah bicara Hendra meraih secangkir tehnya di atas meja.
Sandra tercengang setelah Hendra tahu alasan sesungguhnya yang di sembunyikannya selama ini. Alasan yang membuat dirinya mengalah demi masa depan anak-anaknya.
"Aku menyembunyikannya darimu karena memikirkan John, dia minta bantuanku mendesain liontin itu untuk wanita yang di cintainya. Aku sangat yakin mengenai hal ini, John pernah berkata bahwa dia khawatir jika wanita yang di cintainya akan salah paham pada ku."
"Tapi, aku dengar wanita yang di cintainya sudah lama meninggal." Hendra bicara setelah menghisap secangkir teh di tangannya.
"Kamu mengetahuinya juga?" Sandra tercengang lagi. "Aku rasa, Rena mempunyai anak yang di tinggalkannya, aku yakin salah satu saudaranya ada yang membesarkannya dan aku akan mencari dia. Selebihnya aku datang kemari hanya ingin memastikan sesuatu. Tadi siang aku melihat gadis itu memakai liontinnya. Apa menurutmu gadis itu adalah putri John?"
Hendra hanya senyum sambil meletakkan tehnya kembali di atas meja.
"Alangkah baiknya jika kamu bertemu langsung dengannya."
"Ta_ tapi putraku dia ...." Sandra gelisah
"Serahkan padaku." Hendra memotong cepat.
* * *
Setelah Arya menceritakan masa lalunya di pantai. Yesa mengajaknya mengunjungi pasar jajanan malam di taman kota.
"Suamiku karena ini hari ulang tahunmu. Apa ada sesuatu yang ingin kamu makan?" Tanya Yesa saat tiba di tengah-tengah keramaian
"Kamu yang memaksaku kemari walau aku bilang tidak membutuhkannya jadi pikirkan sesuatu." Kata Arya sambil mengedarkan pandangannya pada setiap pedagang yang ada disana. Dia pusing sendiri.
"Tapi kerena ini ulang tahunmu. Kamu yang harus membuat keputusan "
Arya menoleh.
"Istriku, Aku telah memutuskan melakukan apapun yang kamu putuskan. Jadi pikirkanlah."
"Kalau hari ini aku ulang tahun... Ahh aku tahu, hal yang pertama aku makan adalah Bakso "
Arya mengerutkan keningnya
"Bakso!" Apa itu? gumamnya dalam hati.
"Hehee.. Suamiku, jika kita berjalan sedikit lagi, disana ada warung baso kesukaanku. Jadi ayo kita mampir kesana." Sahut Yesa dengan antusias. Lalu menarik tangan suaminya berjalan menuju warung bakso yang cukup jauh dari tempatnya berdiri.
__ADS_1
"Hidangan enak apa yang ingin kamu makan hingga kita pergi sejauh ini." Arya bicara sambil melirik semua pedagang jajanan yang di lewatinya.
"Kita akan pergi ke warung baso langganan ku."
Arya mengangguk. "Begitu rupanya."
Saat tiba di sana Arya melipat kedua tangannya di depan dada. Mengapa kamu membawaku ketempat yang ramai dan kotor begini, jadi
membuat ku ingin pulang saja. Begitu katanya dalam hati.
Sementara Yesa sudah berjalan memasuki warungnya, menarik kursi lalu duduk dimeja yang di pilihnya. Yang cukup dekat dengan pedagangnya.
''Permisi, bisa pesan dua porsi bakso." Pedangan menoleh "Di campur saja ya mas."
"Baik Non." Sahut pedagang.
"Duduklah." Yesa bicara karena melihat suaminya masih berdiri di ambang pintu
masuk warung bakso. Ragu-ragu Arya mendekat lalu duduk di kursi berhadapan dengan istrinya.
Tanpa menunggu lama pesanan sudah tiba
"Cicipilah." Kata Yesa karena melihat suaminya hanya diam menatap baksonya.
Meski ragu Arya meraih sendoknya lalu mencicipi sebuah baso ukuran kecil. Dan betapa kagetnya dia setelah mengunyahnya.
"Bagaimana rasanya. Apakah enak?"
"Ini rasanya sangat enak." Sahut Arya sambil memotong baso ukuran besarnya. Aku belum pernah memakan jajanan senikmat ini gumamnya dalam hati.
"Benarkah?"
sambil mengangguk, pandangannya tidak lepas dari baksonya.
"Sudah kuduga, kamu pasti akan menyukainya."
Arya menatap Yesa.
"Omong-omong, kamu menyukai warung ini?"
Yesa tersenyum.
"Bukannya suka, tapi aku sering datang kemari, saat makan malam bersama Icha sahabatku. Saat kami ingin menghemat. Jadi kami tidak mampu untuk pergi ke restoran mewah."
"Begitu ya. Tapi istriku, kamu belum pernah bercerita mengapa kamu harus menghemat uang gaji mu?"
"Sejak saat itu aku bekerja ingin melanjutkan pendidikan ku ke universitas xxx, Selebihnya aku harus melunasi hutang bibi yang nekat meminjam uang pada bank keliling. Itu semua terjadi karena dia bekerja dia tempat yang tidak sesuai. Tapi kini aku bersyukur dia sudah melakukan apa yang dia inginkan." Jelas Yesa panjang lebar.
Arya mengangguk lagi
"Begitu rupanya, tapi pernahkah kamu membenci bibi mu?"
"Tidak, lagi pula dia juga tidak sengaja " Setelah menjawab Yesa menampakkan senyum indahnya, tanpa ada rasa benci sedikitpun yang terlihat dari wajahnya. Senyum yang membuat Arya terpaku menatapnya.
"Kata orang, mengorbankan diri sendiri itu bernilai, tapi sebenarnya tidak. Orang akan kehilangan jati diri, karena menderita dan berkorban. Biar bagaimanpun juga hal yang terpenting adalah diri sendiri. Jangan lupa bahwa dirimulah yang paling berharga dan utama dalam situasi apapun."
"Ahh begitu ya, baiklah aku akan melakukannya." Sahut Yesa sambil mengangguk.
__ADS_1
Setelah keluar dari warung baso, Yesa mengajak suaminya jalan-jalan mengelilingi taman kota. Sambil menatap berbagai macam bentuk lampu lampion indah menerangi jalan indah sekali.
"Ini minumlah." Yesa menyodorkan sebuah minuman kaleng dingin pada suaminya yang sudah di belinya di supermarket barusan, lalu duduk di kursi taman. Bersebelahan dengan suaminya.
"Terimakasih" Arya tersenyum. "Istriku
Apa itu ?" tanyanya sambil melihat Yesa
membuka bungkusan eskrim miliknya.
''Ini eskrim." Sahut Yesa singkat
Eskrim? Aku baru tahu ternyata ada eskrim yang bentuknya aneh seperti itu.
"Istriku, ayo bertukar."
"Tidak bisa, aku ingin memakan eskrim ini. Suamiku tadi bilang, kamu sendiri yang memesan pada ku untuk dibelikan minuman kaleng itu bukan." Yesa tidak mau kalah.
"Istriku, Kau! Ayo bertukar" Karena masih penasaran Arya merebut eskrim dari tangan Yesa lalu menyodorkan minuman kalengnya. "Kamu minum itu." Katanya sambil tersenyum dengan puas penuh kemenangan.
"Sstt, dasar bocah." Yesa mendumal dalam
hati lalu meneguk minuman kalengnya
geram. "Suamiku, kamu tahu? makan eskrim adalah yang terbaik ketika kamu dalam masalah."
"Benarkah, siapa bilang?"
"Buku hehe ..." Sahut Yesa sambil nyengir.
"Istriku, terimakasih atas semua yang kamu lakukan hari ini. Berkatmu aku menjadi tidak memikirkan masalah yang rumit dan hanya berkonsentrasi pada semua yang kamu lakukan hari ini."
"Syukurlah"
Arya mengelus kepala Yesa sebagai tanda sayang
"Istriku, aku akan selalu membuatmu bahagia selama sisa hidupku. Dan aku akan bahagia selama sisa hidupku karena dirimu. Istriku aku mencintaimu."
Setelah mendengar kalimat panjang dari suaminya bibir Yesa tersenyum bahagia.
Tiba-tiba
Nada dering handphone Arya berbunyi
"Kakak bukankah kau bilang hari ini akan
pulang?" Sahut Dery di seberang.
"Ya, aku akan sampai beberapa saat lagi."
"Cepatlah, aku menunggumu."
"Ya"
Panggilan terputus
Arya menatap Yesa. "Istriku, mari kita pulang."
__ADS_1
"Baiklah."