PERJODOHAN CEO JEWELERY

PERJODOHAN CEO JEWELERY
OBSESI MU


__ADS_3

Di meja taman


John terlihat memperkenalkanDalmiro pada Yesa. Tapi belum menjelaskan siapa baginya Dalmiro sebenarnya. Karena gadis itu hanya mengetahui bahwa ibunya adalah menantu dari Nenek tersayangnya.


Artinya mereka memerlukan waktu sedikit demi sedikit untuk menjelaskan tentang sisi lain dari kehidupan Rena lebih rinci.


Setelah mereka memanjatkan do'a pada yang Maha Kuasa agar Yesa dan Janin dalam kandungannya selau dalam keadaan sehat dan selamat. Mereka terlihat menikmati hidangan makan malam ini


"Apa dia belum datang ?" Dalmiro bicara setelah lebih dari sepuluh menit menikmati makan malam. Tapi tokoh utamanya masih belum datang.


"Dia seharusnya sudah hadir jika dia mau menghadiri hari bahagia ini." Sandra menjawab


"Apa dia pernah melakukan kegiatan. Seperti yang kita lakukan." John menimpali "Tidak usah di pikirkan membuat pusing saja"


"Bukankah kau tau sendiri dia seperti apa ? Dia selalu khawatir dengan istrinya. Dan dia menantu pertama mu. Setidaknya kau harus lebih peduli dengannya." Hendra membela Arya sambil menuangkan sedikit teh hijau hangat ke dalam gelasnya.


"Ini pertama kalinya dia bersedia menghadiri perayaan kecil kita. Dan itu demi istrinya." Sandra membelai rambut menantunya ini dengan lembut. Pandangannya teralihkan pada bando yang menghiasi poni rambutnya. "Yesa sayang kamu tahu Hitam putih adalah warna kesukaan suami mu."


"Benarkah ?" Yesa terkejut


"Emmh." Sandra mengangguk dengan senyuman "Kamu terlihat lebih cantik memakai bando ini."


"Terimakasih." Yesa tersenyum "Ibu tahu. Bahkan suamiku sendiri yang membelikan bandonya untuk ku."


"Benarkah ?" Yesa menjawabnya dengan anggukan kepala, membuat Sandra dan semua orang di sekitarnya terkejut.


"Tidak di sangka. Ternyata Kak Arya memilki sisi imut juga dalam jiwanya." Rendi terkekeh


"Sepertinya putra mu sudah banyak berubah. Dan itu berkat putri ku." John membanggakan Yesa di depan Hendra


"Benar sekali. Dia terlihat jauh lebih dewasa di banding sebelumnya." Sandra menambahkan


"Rendi, dimana Kakak mu ?" Dalmiro bertanya.


"Dia sedang bicara empat mata dengan Kak Arya." Setelah menjawab Rendi menatap Hendra tajam. "Aku ingin tahu apakah Paman Hendra mempunyai alasan tertentu. Menyuruh aku dan Kakak ku datang. Dan Ayah " Beralih menatap Dalmiro "Aku pikir Ayah tidak ingin


bicara lagi padanya."


"Aku tidak pernah mengatakan itu." Dalmiro menjawab santai yang menjengkelkan hati.


"Ciih ! Tidak perduli seberapa keras aku memikirkannya. Dan setelah kupikirkan aku tidak pernah memahaminya. Selama ini Ayah selalu melarang Kakak menampakkan diri di media. Tapi sekarang Ayah berencana mengungkapkan indentitasnya pada dunia dengan rencana pertunangannya. Dan bahkan Kakak rela menerimanya meski belum pernah sekalipun bertemu dengan calon tunangannya itu. Pernahkah Ayah bahwa itu sangat menyiksanya."


"Hhh," Dalmiro menghela nafas "Ayah tidak bermaksud kasar. Ayah hanya ingin melindungi


Kakak mu." Berhenti. "Rendi suatu saat kamu memahami bagaimana rencana Kami semua yang sesungguhnya. Hanya saja untuk kali ini Ayah tidak bisa mengatakannya."


Hendra meletakan gelasnya


"Apa kau sudah tahu kalau Manda menghabisi Laki-laki pertamanya di Eropa? Kabarnya itu sangat tidak wajar."


"Apa hanya soal itu yang mau paman memberitahukannya pada ku?" Rendi berbalik curiga menatap Hendra dengan tajam


"Kau tidak boleh percaya pada rumor seperti itu. Semua orang di keluarganya bahkan tidak


membahas hal seperti itu " Dalmiro menimpali ia meletakkan sendoknya. Tangannya meraih selembar tisu. Dan menggunakan tisu itu di area bibirnya. Dia sudah selesai makan


"Tapi, semua tamu kita dari Eropa bilang begitu. Rumor itu pasti benar." John


"Linda mendengar sekilas tentang rencana Manda sewaktu dia menyanderanya. Tidak ada kebohongan di mata Linda. Bodoh tapi masih jujur." Dalmiro meyakinkan


"Lalu dia bilang apa ? Apa wanita itu memberitahunya tentang rencana kita ?" Hendra bertanya


"Manda tidak bilang apa-apa tentang masalah Rena pada rubah itu. Namun anehnya dia


beruntung." Dalmiro


"Kekalahannya di masa lalu menunjukan satu hal pada kita. Dia tahu sang pewaris seluruh kekayaan Dom masih hidup dan tidak selemah yang dia duga. Masih ada keberanian dan cukup mempunyai kekuatan untuk menantangnya." Sandra bicara


Meskipun aku tidak tahu siapa yang mereka bicarakan. Tapi aku mendengar sekilas mereka menyebut nama Ibu ku tadi.


Kalimat Yesa dalam hati


"Jadi itu sebabnya. Kalian melibatkan Kakak Linda dan Adik sepupu sebagai umpan. Supaya rubah itu menunjukan batang ekornya?" Rendi bicara lagi


Ya Tuhan Adik sepupu mana lagi yang di sebutkan. Apakah itu aku Tidak mungkin ! Tapi sungguh aku tidak mengerti. Siapa orang yang sedang mereka bahas.


Yesa bicara lagi dalam hati. Pusing sendiri ini kali pertamanya dia mendengar masalah serius dunia orang terpandang.


"Tepat sekali." Dalmiro menjawab cepat


"Benar-benar cara licik dan kejam sekali." Rendi tersenyum sangat sinis


"Selain itu, kami tidak memiliki cara lain. Dan hanya itu satu-satunya cara." John bicara


Rendi tersenyum sinis lagi lalu beralih menatap Dalmiro


"Ayah tahu Aku selalu mengikutinya kemanapun dia pergi sejak kami masih kecil. Dia sering melibatkan aku dalam masalah


yang buruk. Tapi dia selalu bisa mengeluarkannya. Dan sebentar lagi dia akan pergi dari sisi ku sama seperti ibu."

__ADS_1


"Satu hal yang ku pelajari tentang Kakak mu. Dia sangat berani." Dalmiro memberikan belaian lembut berkali-kali di belakang bahu Rendi. Menguatkan.


"Berani tapi bodoh." Hendra menimpali dengan suara candaan membuat Rendi tersenyum


"Ayah aku ingin bertanya satu hal. Apa boleh ?" Akhirnya Yesa buka suara


"Katakan saja. Kamu mau bertanya tentang apa ?" John menjawab


"Aku ingin tahu bagaimana ibu meninggal. Apakah benar seperti yang di katakan


Bibi. Bahwa ibu meninggal karena kecelakaan ?"


"Tentang ini Ayah..." Entah kenapa John ragu menjawab, seperti ada sesuatu yang sengaja di sembunyikan.


Bagaimana Ayah menjelaskan masalah ini pada mu. Bahkan Ayah tidak bisa mengatakannya. Bahwa Ibu mu...


Hening.


Semua orang di sekelilingnya saling bertemu pandangan satu sama lain. Sepertinya mereka tahu bagaimana dengan perasaan John sesungguhnya.


"Kok, Ayah diam, dan kenapa tidak dilanjutkan?" Bingung


"Yesa sayang, ini sudah larut malam. Bukankah sebaiknya kamu segera istirahat dan tidur.


Maaf ibu tidak bermaksud mengusir mu. Tapi ini demi kesehatan kamu dan bayi dalam kandungan mu sayang ?" Akhirnya rasa bingung Yesa teralihkan setelah Sandra bicara.


Mereka yang tadinya lupa kini tersadar, bahwa salah satu sang pewaris sedang hadir di sini.


"Tapi suamiku dia belum makan malam. Aku sudah mengatakan padanya aku akan menunggunya disini.''


"Tidak apa! Ayah akan menjelaskan ini pada suami mu nanti. Rendi sebaiknya kau antar putri ku masuk kedalam. Dan katakan pada menantu ku untuk segera kemari." John


"Baik Paman."


Rendi dan Yesa terlihat bangun dari duduk lalu berjalan meninggalkan meja taman.


____


Sedangkan di ruang keluarga


"Bagaimana apa kau sanggup melakukannya ?" Arya bertanya dengan dingin. Setelah mengatakan syarat yang di berikan tadi. Syarat yang tidak boleh membuatnya kehilangan kendali.


"Kakak tenang saja. Meski kemampuan ahli bela diri ku tidak sebanding dengan mu. Tapi aku berani bertaruh istri mu aman bersama ku. Dan tidak akan mungkin bagiku melakukan kebodohan seperti yang Kakak lakukan pada malam itu." Adalah malam dimana Arya rela mengorbankan nyawa demi menolong istrinya dari jeratan manusia jalanan. Yang membuat Arya merasa tersindir.


"Ada waktunya dimana kau tidak bisa memperlihatkan kelebihan mu di depan orang lemah saat ingin kau lindungi. Karena sejatinya kekuatan jiwa mu bisa saja menjadi lebih lemah tanpa kehadirannya."


"Kakak benar! Bahkan aku merubah jati diri karena kehilangan nya. Kakak tau ? Saat berkarya aku rela memalsukan wajah demi melindungi keluarga ku."


"A-aku tidak begitu." Menjawab dengan gugup merasa bahwa yang di katakannya memang benar. Tapi tidak mau mengakuinya.


"Ketahuilah! Menjadi orang lain bukan gaya hidup yang terbaik. Semakin di jalani, semakin besar obsesi mu. Jadi hentikanlah, tunjukan pada dunia bahwa kau bukan menghilang karena ketakutan. Dan selebihnya tidak perduli seberapa keras rencana mu. Ku rasa kau tidak perlu membuang banyak energi mu. Karena dia sudah terpikat pada mu."


"Baik! Aku tidak akan melakukannya lagi. Tapi... terkait tentang terpikat pada ku ? Itu artinya apa ?" Linda bertanya dengan kikuk


"Hemm" Arya sedikit tersenyum "Ternyata benar seperti yang di katakan ayah ku. Bahwa kau seorang gadis pemberani tapi bodoh!"


"Hei! Aku tidak bodoh ya. Tolong buang


kata mu itu." Protes Linda setengah berteriak


"Baiklah! Anggap saja aku tidak pernah mengatakannya."


Mata ku tidak picek mendadak kan Aku seperti melihat Kakak tersenyum kecil barusan.


"Lantas! Apa kakak mau memberi ku izin untuk tinggal sementara di rumah itu. Dan bekerja sama dengan Adik mu?" Walaupun bibirnya gemetar Linda mengutarakan kalimatnya


dengan tegas. Memastikan diri agar laki-laki dingin itu benar-benar memberinya izin apapun yang mau dilakukannya.


"Ya! Tapi entah kenapa aku merasa sedang berlari ke zona kecelakaan berjalan secepat


240 kilometer per jam." Mendengus lelah


lalu menyesap sedikit kopinya.


Sambil membayangkan rencana Hendra yang ditimpakan padanya, pasti kedepannya akan menimbulkan banyak masalah. Melindungi istrinya seorang saja rasanya seperti melindungi ribuan nyawa orang karena lugu dan kepolosannya. Ditambah lagi seorang gadis berani tapi bodoh duduk di depannya ini. Entah bagaimana rasanya nanti. Membayangkannya saja sudah membuatnya hampir mati berdiri. Gadis itu menatap Arya dengan wajah bingung.


Meski aku tidak tau dia mendengus karena apa. Tapi di lihat dari reaksi wajahnya. Dia merasa terbebani sepertinya.


"Aku berjanji tidak akan berbuat salah dan melakukan yang terbaik demi menjaga adik sepupu ku yang sangat berharga itu." Kata Linda antusias sambil mengangkat dua jarinya ke atas


"Ya aku percaya padamu. Tapi seperti yang ku bilang. Tentang urusan cinta mu. Aku hanya akan mengabaikannya. Tanpa ada niat membantu mu."


"Baik! Aku tidak akan mengganggu mu "


"Benar ! Terkait tidak menganggu ku. Ku harap kau pergi diam-diam karena sudah tidak tahan lagi. Aku akan menanti dan melihat seberapa lama kau bisa bertahan."


Melihat seringai muncul yang mengerikan, Linda menelan ludahnya lalu menundukkan kepalanya.


"Baik terimakasih Kakak."

__ADS_1


Arya hanya tersenyum sinis mengerikan lagi


Meski aku selalu berhasil menaklukkan sekumpulan Singa ganas. Tapi aku tidak berani membangunkan seekor Naga yang sudah lama tertidur ini.


Alih-alih Linda bicara dalam batunya. Suara langkah kaki terdengar sedang mendekat. Tidak berapa lama Yesa dan Rendi muncul di balik pintu. Mereka terlihat sedang tertawa.


Saking asiknya Yesa mendaratkan tangannya beberapa kali di belakang bahu Rendi. Kedua manusia itu menghentikan candaan setelah memasuki ruangan. Karena di sambut dengan kesunyian.


Melihat istrinya duduk berdampingan dengan laki-laki lain. Ingin rasanya Arya menarik


tubuh gadis kecil itu sekarang juga, mendudukkannya di pangkuan lalu memeluk pinggangnya. Sebagai tanda bahwa tidak sembarang orang untuk bisa menyentuh istrinya.


"Apakah tidak keberatan. Di masa mendatang Kakak akan memiliki adik ipar dari putriseorang pengkhianat seperti ku."  Linda melontarkan pertanyaan terakhir dengan waspada, karena inilah niat yang sesungguhnya mau di tanyakan.


Pengkhianat apa maksudnya


Kalimat Yesa dalam hati. Lalu mengalihkan pandangan setelah menerima lirikan maut dari mata suaminya.


"Pengkhianat, Ciih !" Arya membuang


muka "Linda aku tidak akan mengulangi perkataan ku. Jadi simaklah ini dengan baik " Gadis yang di sebut menganggukkan kepalanya. "Seorang pengkhianat, kesadaran hatinya hampir sama dengan mu. Kamu bertanya-tanya. Siapa orangnya. Dari mana asalnya. Apakah dia sungguh jahat dalam hatinya. Kebohongan atau ancaman apa yang membawanya dekat dengan kedengkian. Kenapa dia tidak menjalani hidupnya saja dengan tenang."


Linda hanya diam menatap wajah Arya dengan tertegun, merenungkan diri.


Sementara Arya setelah mengutarakan kalimat panjang itu, ia mendekati istrinya lalu meraih tangannya agar bangun dari duduknya.


"Mau kemana ?" Yesa bicara " Suamiku. Kau bahkan belum makan malam." Arya hanya sambil menarik tangannya berjalan


menuju ruang tidur.


Brakk !


Linda dan Rendi hanya diam mematung di tempat yang didudukinya, saat melihat Arya menutup pintu dengan keras.


"Kakak apa kau paham maksud dari kalimat panjangnya tadi?" Rendi bicara


"Aku tahu. Bahkan aku pernah mendengar kisahnya." Linda mendengus sesaat " Bukan dirinya jika dia tidak melontarkan teka-teki "


"Teka-teki !" Rendi memiringkan kepala. Penasaran." Kakak boleh aku mendengar singkat ceritanya dari mu. Aku ingin tau siapa orang itu." Mendekatkan bibir di telinga kiri Linda "Apakah ibu mu?" Ia berbisik


Linda mendelik sinis seperti mengatakan. Jangan memancing ku. Secepat kilat Rendi melipat bibirnya


"Sejujurnya aku sama dengan mu. Tidak tahu


siapa yang di sebut dengan pengkhianat ini " Linda berpikir keras pandangannya tidak lepas dari pintu kamar di lantai atas." Tapi entah kenapa aku merasa orang tersebut adalah Bibi Sandra terdahulu saat dirinya pergi meninggalkan putranya atau jangan-jangan.... Bibi Rena!"


"Bibi Rena ! Mustahil ! " Rendi protes "Bukankah dia sudah lama mati sedekade."


Dalam sekejap Linda membekap bibir Rendi dengan tangannya.


"Tenangkan suara mu!" Wajahnya celingukan, demi memastikan bahwa tidak ada satupun manusia di sekelilingnya "Kau jangan mendekat. Aku belum mau mati" Katanya pelan namun mengancam.


"Kenapa ? Tidak ada seorang pun disini."


Karena Rendi melihat Linda beranjak, ia ikut bangun dari duduk lalu berjalan mengikuti Kakak di sebelahnya menuju tempat parkir motor masing-masing di depan teras rumah


"Bodoh!" Menarik retsleting jaket sampai ujung leher. "Tapi sudahlah aku sedang tidak ingin berdebat dengan mu." Ia memakai helm di kepala lalu duduk di atas Jok "Ayo jalan." Katanya saat sudah menyalakan motornya


Rendi terlihat melakukan hal yang sama dengan Linda. Bahkan ia sudah  menyalakan motornya lebih dulu. Dan akhirnya secepat kilat mereka melajukan motornya melintasi jalanan sepi di pertengahan kota malam hari.


Sedangkan di lantai atas. Atau lebih tepatnya di atas tempat tidur. Ada sepasang suami istri yang sedang melakukan aktifitas rutin malamnya.


Sebentar sedingin malam. Sebentar sehangat mentari. Sebenarnya asli dirimu itu bagaimana


Rasanya ingin sekali Yesa mendorong tubuh suaminya. Saat merasa sentuhan Arya merayap seperti binatang iblis sedang menyiksa mangsanya. Dengan kata lain ini kali pertama baginya melihat suaminya semarah ini.


"Suamiku boleh sebutkan kesalahan apa yang sudah ku lakukan ?"


"Menurut mu ?" Pikirkanlah begitu arti dari tatapan dingin suaminya, mencengkram sekali. Sampai membuat gadis itu hanya diam memandangnya


Istriku berjanjilah untuk tidak tersenyum dan menyentuh laki-laki manapun. Jika kau berani melanggarnya aku akan menghukum mu.


Semula aku mengira di setiap katanya itu hanyalah bergurau. Ternyata dia bersungguh-sungguh karena ingin melindungi ku. Jadi ini akibatnya. Bahkan aku tidak berani menggeser tubuh ku sedikitpun.


"Ah!" Mendesah berkali-kali saat Arya sudah menghentakkan tubuhnya dengan cepat. " Suami ku boleh pelankan sedikit. Aku sedang mengandung anak mu kan?"


"!" Arya terkejut sambil menghentikan


aksinya. "Istriku maaf. Dari awal jiwa ku terlalu di buta kan nafsu ku." Katanya dengan penyesalan yang terlukis jelas di wajahnya


Karena melihat wajahnya di penuhi dengan rasa bersalah Yesa tersenyum.


"Suamiku. Maaf aku baru tau perasaan mu. Terimakasih karena selama ini kamu selalu melindungi ku dengan penuh kesabaran."


"Istriku. Kau tahu. Reaksi apapun dari wajah mu. Entah mengapa aku selalu ingin mengigit bibir mu yang indah ini."


Yesa tersenyum lagi


"Apapun itu alasan mu. Aku tidak akan keberatan. Bahkan kamu berhak melakukan apapun yang kamu inginkan seperti saat ini. Karena kamu adalah suami ku tersayang."

__ADS_1


Setelah mereka saling menampakkan senyum indahnya. Dengan perlahan Arya melanjutkan aksinya. Lampu tidur menjadi penerang cinta mereka berdua.


__ADS_2