
Hari semakin larut mobil sport hitam berhenti di depan pintu masuk utama kediaman Arya, pasangan suami istri ini turun dari mobil. Melangkahkan kakinya memasuki rumah. Saat tiba di ruang tengah mereka terkejut dengan keadaan di sekitarnya.
Di ruangan itu di hiasi beberapa balon huruf yang tersusun dengan kalimat. Selamat ulang tahun Kakak, bukan hanya itu Dery sudah mempersiapkan beberapa hidangan makanan dan beberapa minuman berserta kue ulang tahun di meja taman.
Arya berjalan mendekati Dery yang sudah tertidur lelap di atas sofa. Ia berjongkok mengelus kepala Adiknya dengan sangat lembut.
"Hei kau bangunlah." Katanya setelahnya ia tersenyum sambil menatap istrinya yamg sudah duduk di sofa.
Perlahan Dery membuka matanya, melihat ke arah Arya dan Yesa secara bergantian
"Kakak, kakak ipar "Sapanya lalu duduk dari tidurnya."Kalian, sudah pulang."
"Ciih, tadi bilang kau akan menungguku, tapi nyatanya kau malah tertidur."
"Aku tidak tidur, aku hanya sedang berpikir jadi... " Dery menatap jam di tangannya."Kakak, lihat sudah jam berapa ini? Kenapa kau pulang begitu larut?"
Arya terkekeh
"Aku kan sudah bilang, aku akan pulang beberapa saat lagi. Jika kau lelah, tidurlah lagi."
"Tapi kan aku sudah bilang tadi, aku akan menunggumu." Sahut Dery bahkan suaranya sudah meninggi. kesal
"Iya aku tahu maaf, tapi apa yang ingin kau lakukan padaku?" Arya bertanya sambil mengedarkan pandangannya ke arah meja taman di luar.
"Itu,, Sudah berlalu, lupakan saja." Kata Dery sambil menunduk dalam kecewa, setelah melihat air hujan turun membasahi meja di taman. Pasrah.
Pasangan suami istri itu tersenyum.
***
"Bersulang!"
Katanya serentak, ketiga orang itu kini berada di ruang keluarga yang beralaskan karpet sambil menikmati hidangan perayaan kecil ulang tahun sang Kakak.
__ADS_1
"Suamiku, kamu tidak perlu bersedih, karena kita akan merayakan hari ulang tahunmu, benar begitu kan Dery?" Yesa meledek suaminya.
"Ciih, Dery sepertinya kamu memang benar-benar menyukai perayaan." Arya bicara sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kakak, perayaan itu bagus, tapi kamu malah sama sekali tidak senang."
"Dery, maafkan aku. Aku hanya tidak terbiasa."
Dery tersenyum.
"Lupakan saja, karena Kakak tidak terbiasa kalau begitu Kakak menangis saja sepuas mu "
"Menangis?"Tanya Yesa.
"Benar, mari kita makan ini. Lihatlah ayam panggang ini level pedasnya mencapai tingkat 10." Kata Dery sambil menunjuk kotak kardus kecil yang berisi ayam panggang dimeja.
"Tingkat 10, wah aku tidak percaya."
Dery terkekeh."Kakak, bagaimana jika kita menantangnya sampai akhir?"
Sampai pada akhirnya, mereka mengambil potongan Ayamnya masing-masing.
"Hiks ,hiks, aku benar-benar tidak bisa menghentikan air mataku." Yesa bicara saat sudah mengunyah ayam panggang. Lalu heboh mencari air minumnya sendiri.
"Haah," Dery mendesah "Ini sangat pedas bukan?" Katanya lagi sambil mengusap keringat di dahinya yang bercucuran.
"Ssst, aku harus mendinginkannya dengan air es." Kata Arya saat bibir terasa terbakar dan wajahnya memerah.
Beberapa menit kemudian mereka berhasil menghabiskan ayam panggangnya masing-masing. Kali ini Arya dan Dery duduk di sofa sambil menggenggam minuman kaleng di tangannya. Sedangkan Yesa duduk bersandar sambil perlahan menutup matanya karena lelah.
"Kakak Kita sungguh hebat tadi, aku rasa jika ada tingkat 12 pasti kita juga akan berhasil." Setelah bicara Dery meneguk minuman kalengnya.
"Ssst, pelankan suaramu, istriku sudah tidur." Kata Arya sambil menatap istrinya yang tertidur lelap disofa.
__ADS_1
"Sepertinya dia sangat kelelahan hari ini." Dery menoleh."Kakak aku pikir, aku tidak akan ada waktu lagi."
"Ciih, setidaknya kamu sudah bekerja keras."
"Kakak, setelah aku pikirkan Untuk apa aku panjang umur. Aku merasa aku sudah bosan hidup."
"Itu karena kamu sangat lelah mengenang banyak hal." Arya menjawab cepat.
"Jika aku jawab iya, apa kakak akan membantu ibu menciptakan kembali semua kenangan itu dan memaafkan ibu agar kita bisa bersatu kembali." Kata Dedy dengan antusias nya
"Jika aku jawab tidak, kamu dan ayah akan berusaha merayuku dengan cara seperti ini lagi bukan. Bahkan istriku meminta ku melakukan hal yang tidak masuk akal. Pada akhirnya aku putuskan melakukan itu demi dia."
"Aku mengkhawatirkan ibu, jika aku dan ayah tidak berhasil merayu kakak. Apa Kakak tidak akan membiarkan ibu pulang kembali ke Amerika?" Dery bertanya lagi dengan suara lembut.
"Jika aku tidak ingin itu terjadi, aku hanya bisa melakukan satu hal. Aku akan memaafkan ibu demi istriku dan dirimu." Arya bicara sambil menatap wajah istrinya.
Dery bernafas lega."Baguslah, Kakak, aku tahu kamu akan memaafkannya, karena kita putra ibu."
"Tidak akan ada anak yang membiarkan ibu meninggalkan anaknya seperti itu."
"Setelah kakak membantu ibu, ayah bilang dia akan menceritakan semuanya pada kita. Betapa besarnya penderitaan dan pengorbanan ibu di masa lalu."
"Apa menurutmu wanita licik itu akan kembali menyentuh ibu lagi?" Arya bicara setelah meneguk minuman kalengnya lalu menaruhnya meja.
"Kakak, apa kau tidak tahu, setelah beberapa tahun akhirnya ayah berhasil menyingkirkan dia diam-diam. Bahkan ayah dan ketua John sudah memasukannya ke dalam penjara." Jelas Dery.
"Benarkah!" Arya terkejut
''Benar, bahkan ayah sudah melakukan itu sebelum kakak resmi menjadi pemegang saham utama." Sahut Dery antusias.
"Begitu rupanya, kenapa Ayah tidak beritahu aku tentang masalah ini."
Setelah mengatakan kalimat itu Arya hanya diam merasa bersalah atas tindakan dirinya kepada sang ayah. Selama ini dia mengira Hendra hanyalah menganggap dirinya sebagai boneka. Tanpa mempedulikan perasaannya.
__ADS_1
Ayah ibu dan John seberapa besar rahasia yang kau sembunyikan dari ku selama ini