
Kediaman Hendra
Hendra tampak sedang menghisap secangkir teh hangat di tangannya, sambil di temani Dani dan beberapa Pengawal yang berdiri di depan meja kerjanya.
"Keluarkan apa yang kau dapatkan." Perintah Hendra saat meminta laporan dari sekretarisnya dan beberapa pengawal lainnya
"Baik Tuan."
"Aku hanya memiliki dua anak laki laki dan satu anak gadis yang ku sayangi. Tapi apakah kau melihat mereka benar-benar bahagia?"
Dani menyerahkan foto hasil laporannya, saat pasangan suami istri itu berbulan madu dalam beberapa hari kemarin. Tawa renyah muncul dari bibirnya saat Hendra menatap foto hari dimana Arya di bonceng istrinya saat bersepeda waktu itu.
"Apa pekerjaannya sekarang?"
"Setiap harinya Nona Muda hanya sibuk mengerjakan pekerjaan rumah Tuan."
"Aku pikir ini perlu penjelasan." Hendra menunjuk satu foto saat Yesa sedang menggenggam tangan sahabatnya
"Ini sepertinya ketidak sengajaan, Nona Muda bertemu dengannya. Selebihnya mereka hanya teman lama Tuan." Dani menjelaskan
Selanjutnya Hendra menatap foto saat pasangan suami istri itu berada di kediaman Neneknya.
"Mereka tinggal di kediaman Nenek semata wayangnya Nona Muda selama beberapa hari. Dan ini adalah foto tadi malam Tuan." Dani bicara sambil menyerahkan satu lembar foto baru.
"Aku bahagia melihat laporan mu, lihatlah bagaimana aku membesarkan kedua anak-anak ku." Kata Hendra bangga sambil menatap foto saat Arya dan Yesa mampir ke warung bakso dan saat Dery merayakan hari ulang tahun Kakaknya.
Sementara itu dua buah mobil sport hitam berhenti di pintu masuk utama kediaman Hendra Saputra, dua sosok laki-laki turun dari mobilnya masing-masing. Dan melangkahkan kakinya memasuki rumah.
"Selamat datang Tuan Muda."
Sambut Kepala pelayan dan dua pengawal yang bertugas menjaga pintu masuk rumah mewah itu. Mereka menundukkan kepalanya saat melihatnya datang.
"Terimakasih." Dery yang menjawab
"Dimana Ayah?" Arya bertanya
"Tuan besar, sedang berada di ruang buku Tuan Muda."
"Baik, terimakasih."
Para Tuan muda langsung berjalan menuju ruangan Ayahnya.
"Ayah."
Arya bersapa saat sudah di susul dengan Dery di belakang, mereka sedikit terkejut saat melihat beberapa pengawal dan Dani berdiri didepan ayahnya. Kedua laki-laki ini duduk di sofa yang tidak jauh dengan ayahnya.
"Sekarang kalian boleh keluar" Perintah Hendra pada para pengawalnya
"Baik Tuan."
Para pengawal langsung sigap berjalan keluar ruangan. Tinggallah Dani yang masih berdiri di sampingnya
"Ada perlu apa ayah memanggilku?" Arya bertanya sambil meraih desain di atas meja
"Dery, kurasa kamu berhasil. membujuk kakak mu tadi malam, dia sungguh keras kepala. Bagaimana kamu bisa meyakinkannya."
"Aku rasa Kakak sangat menyukai Desain ibu, bagaimana menurutmu Kak?" Dery bicara begitu antusias sambil melihat Arya yang sedang sibuk mengamati arti Desain dari liontin dan beberapa perhiasan lainnya.
"Desain ini tampak terlihat seperti, agar seseorang memohon kembali padanya. Ini meninggalkan kesan yang sangat dalam." Arya bicara sambil meletakan desainnya diatas meja.
Hendra tersenyum.
"Liontin itu juga penting bagi ibumu, karena Desainnya dari seseorang."
"Ibu sudah menyelesaikan masalah perizinan bukan?" Dery bertanya sambil melihat ayahnya.
"Aku yakin dia sudah mendapatkan izinnya." Jawab Hendra
Arya tersenyum sinis.
"Kurasa, ibu menemui penciptanya langsung, dan semuanya beres."
"Kakak, aku dengar pencipta Desain itu sudah lama meninggal dunia, kakak tidak tahu?" Dery menimpali
''Apa?" Arya terkejut.
"Pencipta desain liontin itu adalah sahabat ibu mu. Wanita yang di cintai John yang sudah lama meninggal dunia. Sekarang ibumu sedang berusaha mencari anaknya yang masih hidup." Hendra yang bicara
Arya mengerutkan keningnya
"Aku dengar Ibu ingin merilis perhiasan itu sebagai kenangan cinta persahabatan di masa lalu." Dery menjawab.
"Dery apa maksudmu?"Arya bingung."Beritahu aku dengan detail masalah ini, aku tidak mengerti."
"Ibumu, dan Rena bekerja sama menciptakan desain itu, demi merilis liontin terbaiknya di masa lalu, namun belum sempat dirilisnya. Karena desain sekaligus penciptanya di culik. Itu sebabnya ibumu rela mengorbankan dirinya di madu olehku di masa lalu. Dan seterusnya kamu pasti paham bagaimana caranya ibu mu pergi meninggalkan mu." Jelas Hendra panjang lebar.
"Begitu rupanya." Setelah menjawab Arya menunduk.
Tenyata ibu menciptakan Desain itu untuk seseorang yang inginkan. Kekasihnya kembali. Aku memang bodoh.
Arya menatap Hendra
"Apa ayah tahu di mana ibu sekarang?"
"Apakah kau ingin bertemu dengannya?" Hendra berbalik tanya
"Benar ayah, aku ingin meminta maaf padanya."
Entah kenapa setelah Arya bicara Hendra tersenyum yang mencurigakan. Seperti ada sesuatu yang di sembunyikan.
"Aku rasa saat ini ibumu sudah ada di rumah John, sebaiknya kau temui dia. Ada sebuah berita besar yang sedang menantimu disana."
Arya mengerutkan keningnya
"Berita besar! Apa itu?"
"Kurasa, istrimu juga di undang John karena ingin bertemu dengannya. Dan aku yakin saat ini istrimu sedang dalam perjalanan."
"Apa? " Arya terkejut lagi "Ayah sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan?" Dia marah bahkan suaranya terdengar meninggi
Hendra tersenyum penuh makna
"Lebih baik kau temukan jawabanku di sana."
Arya hanya diam tidak menjawab, melihat tajam pada wajah Hendra dan adiknya secara bergantian. Sesudahnya dia bangun dari duduknya lalu berjalan dengan tergesa menuju mobilnya. Mengeluarkan hp dalam saku celananya, menghubungi Yesa.
Sementara itu Yesa terlihat melamun di dalam mobil yang tumpanginya. Lamunannya buyar saat nada dering handphone nya berbunyi yang tertulis nama suamiku dilayarnya.
"Suamiku!" Katanya saat sudah mengangkat teleponnya.
"Istriku, ada dimana kamu sekarang?" Arya bertanya dengan suara tinggi.
Sekilas Yesa menjauhkan hp dari telinganya karena tidak tahan mendengarnya.
"Kenapa berteriak! membuatku kaget saja, aku tidak tau. Aku di bawa seseorang ke suatu tempat. Dia bilang ketua John ingin bertemu denganku."
__ADS_1
"Ketua john! Untuk apa kamu kesana? Kamu tidak minta izin dulu padaku?" Arya bertanya-tanya dengan suara yang sama.
"Aku tidak tahu. Suamiku, maafkan aku."
Arya menutup panggilannya
"Sial, apa yang di inginkan ayah dan John dari istri ku sebenarnya?" Katanya berapi-api sambil melirik jam ditangan. "Saat ini aku membutuhkan waktu satu jam untuk sampai disana."
Arya memasuki mobilnya, setelah memakai sabuk pengaman, tanpa basa-basi dia langsung menghidupkan mesinnya lalu membawanya dengan kecepatan penuh menerobos jalanan yang ramai.
****
Kediaman John,
Ada seorang wanita dan satu gadis yang sudah duduk di sofa berdampingan, didepan John.
"Untuk apa ibu dan ketua john mengundang ku datang kesini?" Yesa bicara
Sandra tersenyum dengan hangat.
"Ibu dan ketua john hanya ingin memastikan sesuatu." Sandra bicara sambil menyisipkan rambut Yesa kebelakang telinga sebagai tanda sayang.
"Memastikan apa?"
"Yesa, maukah kamu melepaskan liontin mu? Aku ingin melihatnya lebih dalam." John yang bicara sambil melihat liontin yang menggantung di lehernya.
"Ah begitu ya, tidak masalah, aku akan melepaskan liontinnya. Mohon tunggu sebentar." Yesa menjawab dengan antusias lalu tangannya berusaha melepaskan benda itu dari lehernya.
"Biarkan ibu membantu mu melepaskannya ya sayang." Melihat sedikit kesulitan Sandra menawarkan diri.
"Baiklah terimakasih ibu."
Yesa berbalik, kedua tangan Sandra langsung bergerak melepaskan liontin itu dari lehernya. Saat terlepas Sandra menaruhnya di telapak tangan mengamati desainnya lebih detail. Dalam sekejap kedua bola matanya berlinang menahan air mata yang mau menetes.
Hening
Kenapa diam? Kata Yesa dalam hati
"John, aku benar bukan? ini adalah liontin pemberian mu." Sandra menoleh. "Yesa, dari mana kamu mendapatkan liontin ini sayang?"
"Nenek bilang, ibuku yang memakaikannya di leher ku saat aku baru lahir. Nenek bilang liontin ini pengganti ibuku saat ibu tidak ada."
"Apa ibumu sudah meninggal?" Sandra bertanya lagi.
"Benar, bibiku pernah bilang padaku dua puluh tahun yang lalu ayah dan ibu ku meninggal karena kecelakaan."
"Ayahmu?" John terkejut.
"Benar, Nenek bilang sebelum meninggal. Ayahku sempat menitipkan ku pada Nenek sebelum pergi dari pedesaan karena mau mengejar ibuku. Tapi saat perjalanan pulang ayah dan ibuku mengalami kecelakaan lalu dikabarkan meninggal dunia."
John tercengang di tempatnya yang sedang duduk, tatapan matanya terlihat murka.
"Selain itu apa yang kau ketahui tentang ayahmu?" Sandra masih bertanya
"Sebenarnya aku tidak tahu, siapa ibuku dan siapa ayahku? Bagaimana caranya mereka saat bertemu hingga melahirkan ku? Kenapa ayah dan ibu ku bisa meninggal? Saat aku tanyakan pada Nenek, dia tidak tahu. Tapi bibi pernah bilang padaku,
Ibuku seorang pemandu lagu dan ayah ku seorang pelayan club malam. Suatu hari ibuku pergi meninggalkan ayahku karena sudah tidak tahan lagi menghadapi amarah ayahku saat sedang mabuk. Bahkan kepala ibuku selalu di pukul dengan botol minumannya." Yesa bercerita dengan tatapan kosong.
John masih diam, emosi di wajahnya terlihat semaki jelas setelah mendengar putri kandungnya bercerita.
"Sayang, apa kamu yakin ayahmu sudah meninggal" Sandra bertanya lagi
Yesa tersenyum.
"Tentu saja, makam ayahku bersebelahan dengan makam ibuku. Dan aku baru saja berkunjung ke makamnya kemarin. Kalau tidak salah aku juga sempat berpapasan dengan ketua John. Benar kan."
"Apa maksud anda Tuan?" Bingung karena mendengar jawabannya John yang bukan di maksudnya.
"Ibu mu bernama Rena dan bibimu itu bernama Imas, Apa kau tahu nama ayahmu?" John bertanya lagi
''Anda benar Tuan dan aku hanya mengetahui nama ayahku dari Nenek ku, nama ayahku adalah Yogi."
Sandra dan John saling bertemu pandang karena tercengang dengan nama yang disebutkan Yesa. Karena nama itu adalah nama mantan suami Imas bibinya.
Jika makam yang kemarin aku kunjungi adalah makam suaminya. Lantas bagaimana kamu bisa meninggal.
Rena, semua ini salah ku, Manda yang sudah membuatku meninggalkan mu. Jika saja aku tidak percaya dengan kata-kata busuknya itu. Seharusnya sampai detik ini kita masih bersama
"Yesa, sayang kamu sangat mirip sekali dengan ibu mu." Sandra bicara lagi sambil mengelus pipi Yesa
"Benarkah, tapi apa ibu mengenal ibuku?"
Sandra terkejut lagi.
"Apa bibimu tidak memberitahu mu, bahwa aku dan ibumu adalah teman baik ?" Sandra malah berbalik tanya.
"Apa maksud ibu? Aku sudah bilang pada ibu dari awal. Bahwa ibu ku seorang pemandu lagu di club malam. Bagaimana mungkin ibu ku bisa berteman dengan ibu." Bingung
"Itu tidak benar sayang, ibumu sangat berbakat di bidang desain dan itu akan sia-sia jika tidak ada yang melihat karyanya." Sandra berhenti, tangannya meraih selembar kertas di meja "Kamu lihatlah, ini adalah gambar liontin yang ibumu ciptakan dua puluh tahun yang lalu. Dan saat ini, ibu serta ketua John berencana ingin menunjukannya pada dunia sayang."
"Ini tidak mungkin!" Yesa menjawab sambil melihat gambar liontin yang cantik hasil karya ibunya, tubuhnya gemetar tidak percaya.
"Ini benar sayang, apa kamu tahu ? Liontin yang kamu pakai adalah Desain dari ibu dan ayahmu "
Yesa menatap Sandra dengan sendu
"Ibu baru saja bilang padaku, bahwa ibu dan ayah ku yang menciptakan liontin ini bukan? Apa itu benar? Aku dengar ayah ku adalah seorang pelayan club."
"Ayahmu adalah John." Sandra bicara langsung pada intinya karena sudah tidak tega melihat Yesa bingung sendiri.
"Apa? Ibu bilang ketua John..." Yesa Terkejut.
"Benar sayang." Sandra memotong "Ketua John adalah ayah kandung mu."
Yesa menggeleng
"Tidak! Ini tidak benar, sungguh aku tidak percaya."
"Apa yang di katakan ibu mertuamu benar. Yesa aku adalah ayah kandung mu." John melepaskan liontin miliknya "Lihatlah, liontin ku sama persis dengan milik mu."
Yesa meraih liontin di tangan John, hatinya terkejut setelah melihatnya yang sama persis dengan miliknya. sampai membuatnya hampir meneteskan air mata
"Tuan John, anda bilang bahwa anda adalah ayah kandung saya, itu benar bukan? Tolong beritahu aku yang sebenarnya. Aku masih tidak paham dengan semua ini."
"Aku akan meyakinkanmu untuk mempercayainya, itulah sebabnya kamu di undang kesini untuk mengetahui segalanya." John bicara
"Aku mohon, katakanlah apa yang sebenarnya terjadi." Yesa bicara dengan suara dingin
John menarik nafas dalam.
"Dua puluh tahun yang lalu, aku dan ibu mu tidak hanya berteman, tapi kami saling menyayangi dan kami saling tidak bisa melupakan, sebesar itulah cinta kami."
"Kalian saling mencintai?''
"Ya, tapi saat ibumu mengandung, ayah meninggalkannya dan menyakiti nya. Bukan yang seharusnya ayah jaga."
__ADS_1
Yesa tersenyum sinis
"Lantas kenapa ayah melakukan hal itu?"
"Karena saat itu ibumu di jebak oleh Manda yang membuat ayahmu pergi meninggalkannya. Saat ibu mengetahuinya, Manda membayar seseorang untuk menculik dan membunuh ibumu karena mau mengancam ibu.
Dengan tujuan agar ibu tidak melaporkannya pada ayah mu. Dan karena ancaman itulah ibu merelakan ayah mertuamu untuk menikahinya.
Saat itu ibumu masih di sandera nya, ibu yakin kamu ada dalam kandungannya. Ketika ibu memutuskan untuk meninggalkan ayah mertuamu.
Saat itu juga ibumu terbebas lalu pergi meninggalkan kami tanpa jejak. Demi melindungi mu dan suami mu dari ancaman Manda."
Shandra yang menjelaskan agar Yesa mudah memahami akan peristiwa dua puluh tahun yang lalu. Beberapa peristiwa yang menyebabkan Sandra berpisah dengan ibunya.
Alasan yang tidak mudah mempersatukan John kembali pada ibu kandungnya.
Sekaligus alasan Sandra yang rela meninggalkan suaminya di hari ulang tahunnya.
"Lalu kenapa ibuku bisa di kabarkan meninggal dunia? Apakah yang di katakan bibiku itu benar. Ibuku meninggal karena kecelakaan?" Yesa bertanya lagi
"Itu yang ingin kami ketahui darimu sayang." Sandra menjawab cepat." Bagaimana ibumu bisa meningal dunia? Kami harus bertemu dengan bibimu. Kami ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, aku rasa bibimu sudah mengetahui segalanya."
Yesa hanya diam tak bergeming, perasaannya tidak menentu. Apakah dia harus bahagia karna ayahnya kandungnya masih hidup,
ataukah harus membencinya karna sudah meninggalkan ibu kandungnya di masa lalu.
Dan perasaan sakitnya saat dia menyadari bahwa Imas sudah membodohinya selama ini. Kedua bola matanya memerah menahan air mata. Murka.
"Itu artinya bibi selama ini sudah membohongi aku dan Nenek, aku harus bertemu dengannya sekarang juga."
Yesa bangun dari duduk, saking murkanya ia tidak perduli dengan orang di sekitarnya. Entah karena syoknya atau apa baru mau melangkah ia terjatuh dan tidak sadarkan diri.
Beberapa puluh menit kemudian
Arya muncul dari luar kamar, terkejut saat melihat istrinya sudah berbaring di tempat tidur. Ada seorang Dokter pribadi yang memeriksa keadaannya.
Dengan cepat Arya berjalan melewati John yang hanya diam berdiri melihat putrinya. Lalu duduk di bibir tempat tidur. Meraih tangannya Yesa lalu diciumnya.
Melihat John yang masih diam seribu bahasa melihat putrinya. Arya bangun dari duduk lalu berjalan mendekat ke arah John.
"Ketua John, apa yang sudah kau lakukan pada istriku?"
John diam belum menjawab karena kaget, tiba-tiba. Bletakk, sebuah tebasan mendarat mulus di belakang kepalanya.
"Bocah tengik, apa itu sikap yang kau berikan pada ayah mertua mu?" John bicara kesal
"Mertua ku ? Apa maksudnya?" Arya bicara sambil mengusap kepalanya yang terkena serangan John barusan
"Yesa adalah putri ku." John menjawab singkat membuat mata Arya terbelalak
"Putri mu? Hng! Apa kau sedang membicarakan lelucon dengan ku." Arya tidak percaya.
"Dokter bagaimana keadaanya sekarang?" Sandra memang bertanya pada Dokter tapi matanya melihat Yesa dengan cemas.
Membuat perhatian Arya teralihkan pada istrinya.
"Sepertinya dia syok berat, detak jantung serta denyut nadinya melemah. Tapi ini tidak masalah sebentar lagi dia akan segera siuman. Saya sudah menyuntikan dengan obat agar detak jantungnya kembali normal." Jelas Dokter panjang lebar.
Mendengar menantunya sebentar lagi siuman, Sandra menghela nafas lega
"Syukurlah, terimakasih dokter."
"Baik, sama-sama Nyonya." Dokter bangkit dari duduk lalu berpamitan, sesudahnya dia berjalan keluar meninggalkan kamar.
"Ibu, apa yang sebenarnya terjadi dan kau ketua John bagaimana bisa kau bicara bahwa istriku adalah putri mu?"
"Bocah tengik, kenapa kamu tidak tanyakan saja pada ibu mu?" John menjawab acuh
Pandangan Arya beralih pada ibunya yang sedang duduk di samping istrinya
"Ibu apa yang terjadi?" Arya bicara dengan lembut lalu meraih tangan istrinya lagi, menggenggamnya erat.
"Sayang, sebaiknya kita bicarakan masalah ini di luar ya. Biarkanlah istrimu istirahat dulu dengan tenang. Kita tidak boleh membuatnya terganggu."
"Baiklah." Arya bangun dari duduk
***
John Sandra dan Arya terlihat sudah duduk di sofa dekat kamar yang di tempati Yesa berbaring
Saat itu Sandra dan John menceritakan masa lalunya secara detail yang sama persis seperti saat mereka menceritakannya pada Yesa.
Di sela-sela percakapan sepintas Arya teringat dengan kejadian saat istrinya berpapasan dengan John di pemakaman kemarin.
Sampai pada akhirnya.
"Baik ibu, setelah istriku siuman. Kita harus membujuknya supaya kita bisa bertemu dengan bibinya dan menanyakan langsung padanya."
"Tapi aku rasa, sepertinya ayahmu sudah mengetahui masalah ini lebih dalam. Dan aku sangat yakin dia sudah merencanakan ini sebelumnya. Jangan heran jika ayahmu selama ini berusaha membuat putriku di jadikan menantunya." Kata John panjang lebar, dia mulai curiga.
"Kamu benar ketua John, sebaiknya aku menanyakan masalah ini pada ayahku saja."
Mendengar Arya menyebut namanya, John melotot.
"Bocah tengik, karena kau menantu ku. Bukankah seharusnya kau memanggilku ayah saat ini?"
"Hehe.."Arya terkekeh. " Maaf, ayah"
Karena melihat putranya bahagia Sandra tersenyum lalu mengusap kepalanya mengalirkan semua perasaanya.
"Sayang maafkan kesalahan ibu di masa lalu. Sejujurnya alasan ibu pergi ke Amerika dan semua yang ibu lakukan selama ini karena ibu ingin melindungi mu.
Agar wanita licik itu tidak berani menyentuh mu dan adikmu tentunya. Dan sekarang apa kamu sudah tahu? Betapa bahagianya ibu saat mendengar kabar dari ayahmu kalau kamu sudah menikah.
Bahkan ibu senang saat ibu tahu bahwa kamu sudah sah menjadi pemegang saham utama. Itu artinya ayahmu sudah menepati janjinya pada ibu."
"Maksud ibu?" Arya bingung
"Saat ayahmu menyusul ibu di Amerika, ibu berjanji pada ayahmu, jika ayahmu sudah berhasil menyingkirkan rencana jahat Manda dan sudah menempatkan kamu menjadi pemegang saham utama, Ibu akan kembali ke tanah air dan kembali bersatu dengan ayahmu.
Maafkanlah cara hina ibumu ini sayang, selama dua puluh tahun ini ibu sudah meninggalkanmu dan menyakitimu serta adikmu. Apakah kamu dan adik mu mau memaafkan ibu?" Shandra bicara dengan tatapan memohon.
"Jika ibu bersatu kembali dengan Ayah. Lalu bagaimana dengan Robin?"
"Sejujurnya ibu dan Robin adalah saudara sepupu. Selama dua puluh tahu ini kami sudah bekerja sama merencanakan ini sebelumnya. Menjadi suami istri palsu lalu di beritakan pada dunia. Demi meyakinkan Manda untuk tidak berani menyentuh mu dan adikmu." Jelas Sandra.
"Kami membutuhkan waktu yang sangat lama untuk membuktikan bahwa wanita licik itu memang bersalah. Selama dua puluh tahun ini kami menarik ulur waktu demi mengumpulkan semua bukti. Dan akhirnya kami berhasil menjebloskan wanita licik itu ke dalam penjara." John ikut menjelaskan
"Begitu rupanya, ibu maafkanlah aku, karena selama ini aku selalu merendahkan pengorbanan ibu. Dan sekarang, maukah ibu memaafkan aku?" Arya bicara dengan suara lembut yang penuh penyesalan.
"Sayang, ibu yang seharusnya minta maaf padamu dan juga adikmu." Setelah bicara Shandra memeluk putranya melepas rindu membuat John tersenyum melihatnya.
''Sandra, aku rasa kau memang benar, semua yang aku khawatirkan tidak terjadi. Kelihatannya anakmu sudah menerima mu dengan lapang dada. Dan seharusnya aku merasa tenang bukan?"
Sandra hanya tersenyum
__ADS_1
Setelah berbincang lama dengan ibu dan ayah mertuanya, Arya memasuki kamar yang tempati istrinya berbaring. Setelah mendekat ia duduk di sampingnya meraih tangannya lalu mencium keningnya dengan penuh kasih sayang.
Istriku bangunlah, aku sangat mencemaskan mu.