PERJODOHAN CEO JEWELERY

PERJODOHAN CEO JEWELERY
OMONG KOSONG


__ADS_3

Dery baru saja keluar dari ruangan VIP Franks Bar meninggalkan Leon yang sibuk menggoda wanita penghiburnya.


Setibanya di luar dia bertemu sosok wanita yang tidak ingin di lihatnya di muka bumi ini. Wanita itu nampak sedang duduk sambil menikmati minuman di tangannya. Sengaja menunggu seseorang.


Dery tetap melangkahkan kakinya berharap wanita itu tidak menyadari kehadirannya.Tapi sayangnya harapan itu sirna saat Shinta menoleh ke arahnya sambil bangun dari duduk berjalan menghentikan Dery dari langkahnya.


"Dery, Bisa bicara sebentar."


Langkah Dery berhenti tapi jangankan menoleh hanya bertatapan saja sepertinya sudah enggan dan Shinta memahaminya.


"Dery kenapa kau selalu menghindar dariku. Kenapa kau lakukan ini padaku. Apakah kau begitu membenciku. Kenapa begitu sulit bertemu denganmu."


Pertanyaan bertubi-tubi yang sudah lama mengendap dalam hati wanita ini akhirnya berhasil di utarakan


Tubuh Dery seperti terkena aliran lava saat mendengar dia bicara tangannya terkepal


menahan geram.


"Maaf aku tidak suka ada orang asing tiba-tiba mengganggu ku, masa lalu biarlah berlalu. Kelak kau jangan mengungkitnya lagi."


Orang asing! Hemh


Shinta mematung di tempatnya berdiri. Dia tahu makna dari kalimat yang sudah mewakili semuanya bahwa hubungan mereka sudah berakhir.


"Baiklah aku mengerti. Di lain waktu aku tidak akan menganggu mu lagi." Shinta pasrah air mata yang sudah tidak dapat di bendung lagi pun menetes dipipinya.


"Shinta aku tidak ingin mengganggu rencana pertunangan mu. Semoga kau bahagia bersamanya. Jaga dirimu baik baik." Setelah mengeluarkan kalimat ini Dery melanjutkan langkahnya. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.


Shinta masih berdiam diri dan mematung sambil melihat punggung Dery di kejauhan.


Sementara Dery berjalan menuju tempat parkir mobilnya, saat di pertengahan jalan dia berpapasan dengan Dika, saling berjalan berlawanan arah dengannya. Jangankan saling bertukar sapa, bertemu pandang pun sepertinya enggan. Bagaikan tidak mengenal satu sama lain.


Dan akhirnya Dery tiba di mobilnya. Entah apa yang di pikiran kali ini ia melajukan mobilnya menuju Hotel di pertengahan kota milik ayahnya.


"Tuan muda." Para pengawal keamanan di Hotel itu membungkuk saat melihat Dery turun dari mobilnya tepat di depan pintu masuk utama.


''Simpan mobilku."


"Baik Tuan muda."


Dery berjalan lagi memasuki Hotel, para Receptions yang berjaga sedikit terkejut saat melihatnya datang.


"Tuan muda." Sapanya sopan sambil menundukkan kepalanya


Dery hanya tersenyum sambil melanjutkan berjalannya memasuki Pintu lift yang sudah terbuka, saat pintu tertutup ia menekan tombol 30 yakni lantai paling atas di Hotel ini. Lift sudah berhenti di tempat tujuannya lalu dia berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


Setibanya disana Dery membuka pintunya, melepaskan Jass Navy yang masih menempel di tubuhnya, meletakkannya di atas sofa. Mengambil minuman kaleng dalam kulkas, berjalan menuju teras balkon lalu berdiam diri d luar isana. Tatapannya kosong, pikirannya berkecamuk.


Sekarang aku menyadari Cinta adalah perbuatan. Kata-kata dan tulisan indah adalah omong kosong


Dery menarik napas panjang menghirup udara malam di sana, lalu meneguk beberapa kali minuman kaleng sambil memandang deretan lampu dari bangunan tinggi lainnya dan bangunan kecil di pertengahan kota malam.


****


Sementara itu, Arya menggendong tubuh istrinya di balik punggungnya menuruni anak tangga dari atas Bukit Bintang menuju rumah Icha di bawah bukit.


Hampir saja Arya terperosok ke dalam jurang lantaran istrinya tiba-tiba terlelap di balik punggungnya yang hangat.


"Istriku, kau tertidur?"


Hening


Bisa bisanya dia tidur di saat seperti ini. Merepotkan sekali.


Beberapa saat kemudian ia sampai di depan pintu rumah Icha lalu melepaskan sepatunya. Kebetulan sahabat istrinya itu sudah menunggu sambil duduk di kursi teras. Icha terkejut saat melihat Yesa tertidur di balik punggung suaminya itu.


Tanpa menunggu lama Icha menuntunnya ke kamar tamu. Arya mengikutinya dari belakang. Setibanya di sana Icha membuka pintu mempersilahkan tamunya masuk. Arya masuk ke dalam kamar lalu membaringkan tubuh Yesa perlahan di atas tempat tidur lalu melepaskan sepatunya. Arya terkejut saat melihat sedikit darah keluar dari pergelangan kaki istrinya yang sudah lecet.


"Dasar Bodoh. Bagaimana bisa kamu menahannya. Padahal luka ini terlihat sakit dan perih."


Arya berjalan keluar kamar menghampiri Icha, yang tengah serius menonton berita kriminal terkini di Tv.


"Icha, apa kau punya P3K."


"Ada tunggu sebentar ya."


Arya mengangguk, lalu duduk di kursi melihat ke arah tv.


"Bik Minah!" Icha memanggil


"Iya Non." Sahut Bik Minah berjalan mendekat. "Ada perlu apa Non?"


"Tolong ambilkan kotak P3K dong di atas."


"Baik Non." Bik Minah segera berjalan ke lantai atas menaiki anak tangga karena mau mengambil P3K


Sementara waktu menunggu Bik Minah, Icha melihat Arya yang masih duduk sambil menonton berita kriminal di layar kaca. Sesungguhnya ini kali pertamanya laki-laki itu menonton Televisi.


"Cih, di zaman sekarang ini, ternyata masih saja ada orang menyelesaikan masalah pribadi dengan kekerasan fisik. Menggelikan sekali." Ujar Arya dingin pandangannya tidak lepas dari layar kaca sana


Apa dia sedang bicara pada ku

__ADS_1


Icha melongo, wanita yang sedang hamil itu


langsung mengamati Arya dari atas hingga bawah. Wahh dia sangat berkharisma. Aku sangat menghormatinya begitu kata Icha dalam hati.


Beberapa saat kemudian


"Ini Non" Bik Minah menyerahkan kotak P3K nya.


"Makasih ya Bik."


"Sama-sama Non." Sahut Bik Minah lalu


berbalik badan meninggalkan Icha.


"Ini ambilah." Icha langsung menyerahkan kotak P3k pada Arya "Apa kau terluka?"


Arya tersenyum saat meraihnya lalu berdiri


dari duduk." Bukan aku, tapi istriku."


"Yesa! Kenapa dia bisa terluka?" Ekspresi Icha terlihat cemas saat menanyakannya.


"Pergelangan kaki istriku lecet."


"Lecet? Apa lukanya parah? Bagaimana keadaanya sekarang? " Icha bertanya-tanya lagi, masih cemas


"Apa ada yang merasa baik-baik saja, saat dirinya terluka? Jika kamu memahaminya. Maka jangan tanyakan hal itu." Arya bicara dengan suara dingin yang menusuk hati sampai membuat Icha terdiam.


Ya Tuhan. Aku baru saja seperti melihat Laser keluar dari matanya.


"Baik. Maafkan aku." Icha menjawab dengan nada lirih


"Aku akan kembali ke kamar dan mengobati luka istriku dan terimakasih untuk obatnya."


Icha mengangguk "Iya sama-sama."


Arya berjalan menuju kamar tamu, sedangkan


Icha menggelengkan kepala.


"Ya Tuhan. Semakin lama sikapnya semakin mengejutkan ku." Ujar Icha sambil melihat punggung Arya dari kejauhan.


Setibanya di kamar, Arya mengobati luka di pergelangan kaki istrinya secara perlahan. Dia membersikan lukanya dengan menggunakan kapas yang sudah di beri sedikit cairan pembersih. Setelahnya ia mengolesi obat luka


lalu menutupnya dengan plaster.

__ADS_1


Gadis itu masih terlelap dalam mimpi sepertinya. Sampai tidak sadar bahwa suaminya sudah melepaskan jaket yang masih merekat di tubuhnya. Arya berbaring di samping Istrinya. Menarik selimut, tidak lupa dia mengecup kening Istrinya lalu memeluknya hingga ikut terlelap dalam mimpinya.


__ADS_2