PERJODOHAN CEO JEWELERY

PERJODOHAN CEO JEWELERY
Bidadari kecil


__ADS_3

Hari sudah malam. Seorang ibu hamil masih berbaring. Belum ada tanda-tanda dia siuman. Malah terdengar suara yang sedang mengobrol tentang masa silam di luar kamar.


Sedikit demi sedikit akhirnya ibu hamil yang berbaring itu membuka mata. Melihat sekeliling, sunyi. Hanya di sambut dengan sentuhan tangan yang menggenggam erat punggung tangannya. Seolah bahagia dengan kesadarannya.


"Istri ku, akhirnya kamu sudah sadar. Sedari tadi aku mengkhawatirkan mu." Arya mencium punggung tangan istrinya. Bukan seperti biasanya, yang selalu mengejeknya bodoh kali ini. "Bagiamana keadaan mu sekarang, apa kepala mu masih pusing?"


"Kepala ku tidak pusing, aku hanya merasa haus dan lelah. Tolong berikan aku air minum." Arya langsung berdiri menyambar teko kaca, menuangkan airnya ke dalam gelas di meja dekat sofa. Lalu dengan segera dia berikan pada istrinya."Sekarang minumlah."


"Mmm, terimakasih." Tersenyum, lalu meneguknya sampai habis. Setelahnya Arya menyimpan gelasnya lagi di meja."Suamiku, apa kamu masih tidak mau mejelaskan tentang ibu yang membuang ku? Aku tak habis pikir, kenapa selama ini kamu tega menyimpannya dari ku." Langung bicara pada intinya tanpa bertele-tele.


"Istriku maaf, aku terpaksa melakukannya. Ini semua karena demi kebaikan mu." Suara Arya panik terdengar, takut dia. Kalau istrinya merasa kecewa.


"Lalu, apa hubungannya dengan foto waktu kecil ku. Apakah sebelumnya kita pernah bertemu di masa lalu?"


Degh


Entah kenapa tangan Arya bergetar. Dia terlalu takut jika mengatakan yang sebenarnya Yesa membencinya. Padahal ia belum mencoba.


"Istriku, kamu benar. Kita pernah bertemu di masa lalu. Tapi dalam situasi yang berbeda."


"Berbeda?"


"Apa kamu masih ingat saat aku bercerita tentang adik ku yang menyebabkannya lupa ingatan?"


"Ya, aku masih mengingatnya."


"Setelah di selidiki, orang yang di incar sebenarnya adalah ibu kandung mu. Dengan kata lain dia masih hidup."


Degh


"Apa?" Mata Yesa terbelalak "Tidak mungkin! Bukankah ibu ku sudah lama meninggal? Suamiku, kamu juga pernah melihat makamnya kan."


"Itulah sebabnya, kenapa kami semua merahasiakannya pada mu. Kami tidak mau melihat mu terpuruk sayang." Suara Sandra terdengar menjawab dari arah pintu yang terbuka. Ibu! Yesa terkejut. Sementara Sandra langsung datang mendekat lalu duduk di sebelahnya.


"Sejak kapan ibu ada disini?"


"Mendengar kabar kamu pingsan lagi. Ibu segera kemari. Ibu mengkhawatirkan mu."


"Apakah ibu sengaja datang kesini, mau menjelaskannya pada ku?"

__ADS_1


"Benar sayang, Ibu takut jika kamu mendengar dari suami mu. Kamu berpikir suami mu mengkhianati mu. Jadi biarkan ibu saja yang menjelaskannya ya sayang."


"Apa itu, yang menyebabkan ibu berpikir suamiku mengkhianati ku?"


"Karena sesungguhnya dia menantikan mu sejak lama."


"Hah! Maksudnya?" Yesa bingung sebenarnya pembicaraan ini mengarah kemana. Bukankah dia dipertemukan karena perjodohan. Kenapa malah jadi menantikannya.


"Dulu, kedua putra ibu di culik. Dan berkat kamu mereka selamat. Karena kamu datang menolongnya."


Kepala Yesa berdenyut setelah mendengarnya, membuatnya semakin bingung.


"Tapi ibu, perasaan ku mengatakan, aku tidak pernah melakukannya."


"Ya, mana mungkin kamu mengingatnya. Karena waktu itu umur mu masih lima tahun sayang. Memori mu belum tentu kuat mengingat semuanya. Dan ibu sudah lama mau mengucapkan terimakasih pada mu, karena sudah menolong kedua putra ibu. Bahkan di masa itu Ayah mertua mu sudah berjanji mau menikahkan mu dengan putra ibu."


"Hah?" Yesa terkejut "Jadi maksud ibu, sebelumnya Ayah mertua pernah bertemu dengan Nenek ku?"


"Benar sayang tapi rumah Nenek mu yang dulu, saat itu Ayah mertua mu belum tau jika kamu adalah putri kandung ayah mu. Seandainya Nenek mu memakaikan kalung liontin kamu waktu itu. Mungkin Ayah mertua mu langsung membawa mu pada Ayah kandung mu. Tapi, karena saat itu Ayah mertua menemukan foto kamu di tempat penculikan, dia curiga. Jika kamu ada kaitannya dengan penculikan waktu itu. Namun setelah di selidiki ternyata, Manda mengincar ibu kandung mu. Dengan kata lain dia mau menculik mu juga, memancing ibu mu keluar. Tapi ini hanya dugaan sementara sayang. Selama ini kami berusaha mencari keberadaan ibu mu. Walupun belum ada tanda-tandanya tapi kami tetap berusaha menemukan ibu mu."


"Aku tidak peduli jika ibu masih hidup atau tidak, karena dia sudah lama membuang ku." Yesa mengigit bibir bawahnya menahan kelu."Tapi yang ingin aku tau, bagaimana bisa aku yang menolong kedua putra ibu waktu itu. Bisakah kalian menceritakannya pada ku. Sungguh, aku benar-benar ingin tau."


"Dan hari itu juga" Arya menimpali. "Setelah Ayah membeli cincin, aku harus memberikannya pada mu. Cincin yang kamu lihat di meja tadi. Tapi aku tidak berani melakukannya, karena malu. Dan aku takut jika aku mengingkari janji ku, kamu kecewa. Akhirnya aku hanya menyimpannya sampai sekarang."


"Dan setelah menemukan foto mu. Ayah mertua mu yang menyimpannya sampai sekarang. Sebagai tanda ikatan cinta mu dengan suami mu kelak jika di pertemukan lagi. Dan benar, ibu senang Ayah mertua mu menepati janjinya."


"Tapi, kenapa hanya karena menemukan foto ku waktu itu. Kalian menduga bahwa ibu kandung ku masih hidup? Bukankah ini sangat mustahil."


"Ini hanya dugaan sayang. Ayah mertua mu terlalu bodoh waktu itu. Karena tidak dapat mengenali wajah mu. Setelah beberapa tahun, baru tersadar, bahwa kamu ada kaitannya. Saat Ayah mertua mu, mau menemui Nenek mu, menanyakan tentang indentitas mu. Nenek mu sudah pindah rumah. Jadi, Ayah mertua mu tidak tau keberadaan mu dimana. Meski susah payah mencarinya, tetap tidak menemukan alamat mu. Ayah mertua mu berpikir, mungkin ibu kandung mu yang menyuruhnya pindah rumah. Yang membuatnya sulit menemukan mu."


"Jadi, maksud dari kalian sebenarnya adalah bahwa Nenek ku yang mengkhianati ku?"


"Ini tidak sepenuhnya benar sayang, ini hanya dugaan sementara. Tapi kamu harus tau, sebenarnya Nenek mu adalah selingkuhan Kakek mu Dom, waktu ibu mu menyimpan mu di teras rumahnya."


"Selingkuhan Kakek Dom?" Yesa bingung, belum pernah mendengar nama itu. Apalagi saat Sandra bilang Dom adalah Kakeknya, dia tambah pusing.


"Jadi, ibu mau bicara pada mu, coba pikirkan. Bagaimana Nenek mu mampu membiayai hidup mu seorang diri. Jika kesehariannya hanya diam di rumah. Tanpa memiliki usaha apapun. Itu karena Nenek mu bukan orang biasa. Karena Nenek mu berstatus istri kedua Kakek mu Dom saat ini. Tapi tidak mau tinggal satu rumah dengan Kakek mu."


"Yang aku tidak paham, jika kalian sudah tau dengan indentitas asli ku. Kenapa kalian berpura-pura tidak mengenali ku? Padahal jika bilang pada ku sejak awal, mungkin aku tidak merasa terkhianati seperti ini." Yesa menunduk dalam kecewa, Arya meraih tangannya lagi menggenggamnya erat.

__ADS_1


"Istriku, aku berani bersumpah saat pertamakali aku melihat mu, aku tidak mengenal mu. Aku juga baru mengetahui akhir-akhir ini."


"Sungguh?" Arya mengangguk "Tapi saat kita menikah, apakah kamu sudah tau?"


"Aku belum tau istri ku, tapi setelah tau, aku senang. Ternyata, seorang gadis yang aku nikahi adalah bidadari kecil yang pernah datang menolong ku. Aku bahagia, rasanya aku semakin tidak pernah mau melepaskan mu. Sungguh istriku, percayalah pada ku."


"Baiklah, aku percaya. Mungkin ini takdir ku. Jadi, aku harus menerima apa yang ku alami dan meski menyakitkan mungkin Tuhan yang merencanakan semua ini. Rencana yang mempertemukan jodoh ku dengan keluarga asli ku. Aku harus bahagia."


"Benar sayang, demi kesehatan calon bayi mu. Kamu harus bahagia." Sandra membelai rambut Yesa dengan hangat "Dan selebihnya ibu hanya mau menyampaikan pesan, bahwa Kakek mu Dom sangat ingin bertemu dengan mu. Sudah lama dia menantikan kehadiran mu. Bagaimana, kamu mau kan bertemu dengan Kakek mu."


Ya Tuhan, semakin lama aku berdiam disini, semakin aku tidak paham. Karena keluarga asli ku bermunculan. Sampai sejauh mana sebenarnya aku harus menahan sakit ku. Berpura-pura bahagia. Apalagi saat mengetahui identitas Nenek ku yang sebenarnya, rasanya aku tercekik.


Tapi aku sangat berterimakasih, dibalik menahan sakit ku, masih ada seorang suami yang selalu siaga menemani di samping ku. Membalut luka di hati ku dengan penuh kasih sayang dan perhatiannya.


"Baiklah ibu, aku mau bertemu dengan Kakek. Sekalian ada yang mau aku tanyakan padanya. Kira-kira kapan aku bisa bertemu dengannya?"


"Mungkin lusa, karena suami mu tidak bisa menemani mu. Jadi, ibu yang akan menemani mu nanti, bersama Linda ke rumah Kakek mu."


"Begitu ya. Baiklah."


"Dan sekarang, mari kita makan malam bersama, setelah itu kamu baru minum obat ya sayang. Agar badan mu tidak lemas lagi."


"Obat?"


"Ya istriku, tadi saat kamu pingsan, dokter Reisa memeriksa mu. Namun untungnya tidak ada sakit yang serius. Katanya kamu hanya kelelahan, mungkin akibat kamu berjalan sampai sini. Karena jaraknya cukup jauh. Dan Linda minta maaf atas keteledorannya, karena mengajak mu berjalan kaki menuju sampai sini. Bisa-bisanya dia lupa bahwa kamu sedang hamil."


"Tidak apa, aku sudah memaafkannya. Lagi pula aku yang bersedia datang membantunya. Tentang masalahnya dengan Dery. Tapi ternyata, akulah target yang sebenarnya disini. Aku sudah paham. Dan aku mohon suamiku, kamu jangan terlalu menyalahkannya ya. Agar aku tidak kecewa padamu hehe."


Arya tersenyum tanda setuju.


''Ternyata benar yang di katakan Dery. Hati mu terlalu murni untuk mudah mengampuni dosa seseorang."


Sandra tersenyum melihat reaksi putranya.


"Ya sudah," Sandra bicara "Mari kita menuju meja makan bersama. Pak Ketut sudah menyiapkan semuanya."


"Baik ibu." Yesa menjawab lalu di bantu berdiri oleh suaminya, memapahnya berjalan keluar kamar.


Dan betapa terkejutnya Yesa, saat melihat suana di luar. Dia di sambut dengan keluarga yang sudah berkumpul menunggunya sedari tadi. Hendra, John, Dery, Linda, Rendi Dokter Reisa dan suaminya juga ada, menyambutnya dengan senyuman.

__ADS_1


Ya Tuhan, apakah begitu berharganya aku di hati mereka. Sampai rela menunggu ku seperti ini. Padahal, aku hanya pingsan. Tapi mereka mengkhawatirkan ku berlebihan. Membuat ku terharu melihat kebersamaan ini.


__ADS_2