
Pagi hari di meja taman
Setelah beberapa hari pasangan suami istri itu tinggal sementara di rumah John, sekarang Arya sudah kembali tinggal di kediamannya.
"Kakak ipar." Dery berjalan mendekat ke arah Yesa yang terlihat sedang duduk kursi panjang taman sambil memandangi kolam ikan.
"Dery!" Yesa menoleh
"Bagaimana keadaanmu. Sudah lebih baik sekarang?" Dery bertanya saat sudah duduk bersebelahan, kopi yang tadi di bawanya sudah di letakkan di meja.
"Iya, aku merasa lebih baik."
"Aku rasa Bibi mu sungguh keterlaluan."
Yesa hanya nyengir, karena tidak mau membahasnya lagi.
"Dimana suamiku? Kenapa dia belum turun juga. Aku sudah menunggu nya sedari tadi."
"Aku dengar Kakak ingin cuti hari ini."
"Cuti?"
"Iya, aku merasa Kakak masih sangat khawatir pada mu." Dery menjawab sambil tangannya
mengusap kepala Yesa sebentar.
"Apa itu tidak masalah? Padahal aku sudah merasa lebih baik hari ini." Dery tersenyum
"Kakak ipar, kami tumbuh bersama sejak kecil. Dan baru pertama kali aku melihat Kakak ku seperti ini. Itu membuktikan bahwa dia sangat tulus padamu. Seharusnya kamu menyadarinya, kamu paham maksudku kan ?"
Yesa mengerutkan keningnya bingung, tiba-tiba.
"Dery, tampaknya kalian berdua gembira sekali pagi ini. Aku tidak menyangka. Diam-diam
kalian berdua berbincang sangat serius di belakangku." Suaranya dingin terdengar saat menyampaikannya, membuat Yesa dan Dery menoleh secara bersamaan.
"Suamiku, kau menjenuhkan sekali."
Melihat tatapan dingin yang ditujukan padanya Dery hanya menanggapinya dengan senyuman.
"Baiklah." Dery bangun dari duduk "Pesan yang ingin aku sampaikan padanya, belum aku sampaikan. Kakak tolong sampaikan pesanku padanya. Sekarang aku pergi dulu."
"Pesan?" Yesa bertanya
Sepertinya Kakak ipar, sama persis dengan Kakak, dia melupakan hari ulang tahunnya.
"Kamu bisa mendengarkan pesan ku dari kakak ku. Sampai jumpa." Sahut Dery lalu berjalan meninggalkan Yesa. Tertinggal lah dua orang yang masih duduk di kursinya.
"Ada apa?" Yesa beralih menanyai suaminya.
"Tahukah kamu, tanggal 29 hari ini hari apa?" Arya bicara sambil menyelipkan rambut istrinya kebelakang telinga.
"Hari kamis mungkin, aku tidak tahu. Kenapa memangnya?"
"Kamu tidak tahu?" Terkejut
Yesa menggeleng sambil memutar otaknya mencari-cari jawaban di kepala tapi gagal. Karena terbiasa hidup sendiri, ia memang seperti ini, terkadang ia lupa dengan hari kelahirannya
"Bodoh! ini hari ulang tahun mu." Arya menjawab dengan gemasnya.
"Ulang tahu ku! Ah benar, suamiku bagaimana kamu bisa tahu?"
Arya hanya diam, malu dia kalau sebenarnya dia juga baru di beritahu oleh adiknya tadi pagi.
"Wah, Suamiku, kau luar biasa ya. Aku bahkan tidak ingat dengan hari ulangtahun ku." Yesa bicara antusias.
"Ehem" Berdehem mengusir malu "Istriku, apa yang ingin kamu lakukan di hari ulang tahun mu?"
__ADS_1
"Aku ingin ke pergi taman fantasi hehe" Jawab Yesa sambil nyengir
"Taman fantasi?" Terkejut
"Benar aku ingin kesana, terakhir kali aku ke taman fantasi mengajak dudi pergi bersama. Sudah lama aku tidak berkunjung kesana." Jelas Yesa antusias
"Hanya kalian berdua?" Arya terkejut lagi matanya terbelalak.
"Ya"
Sial! Arya melengos sambil memaki sahabat istrinya dalam hati.
" Suamiku. Sudah beberapa tahun aku tidak pergi kesana. Aku pernah melihat di media sosial. Katanya di sana ada wahana baru. Dan aku penasaran dengan wahananya. Jadi suamiku ayo kita pergi kesana." Ajak Yesa dengan wajah gembiranya. Tidak perduli pada suaminya masih memasang wajah masam
"Cih Istriku, di sana ada banyak orang. Aku tidak akan bisa pergi kesana. Kekanakan sekali."
"Mau pergi kemana ? " Yesa bertanya saat melihat Arya bangun dari duduk. Lalu berjalan meninggalkannya tanpa sedikitpun berpaling
"Dasar orang aneh! Kenapa dia marah." Yesa kesal sendiri lalu bangun dari duduk." Ya Tuhan, sakit sekali rasanya. Ini pasti gara-gara dia menggodaku tadi malam. Pinggang ku masih terasa sakit sampai sekarang. Ya Tuhan, bahkan rasanya aku sulit berjalan."
*****
Di ruang CEO Jewelery Internasional Group
"Kakak, kenapa kau datang kemari. Bukannya kau bilang ingin cuti hari ini?" Dery bicara pada kakaknya yang sudah duduk sambil menengadahkan kepalanya di sofa. Dan saling berhadapan.
Arya menatap Dery.
"Aku datang kemari ingin menanyakan pendapat mu."
Di sela-sela percakapan tiba-tiba Dani muncul sambil membawa secangkir kopi lalu menaruhnya di atas meja. Setelahnya dia berdiri di samping Arya
"Pendapat! Apa itu?" Dery bertanya
"Apa menurutmu, seorang laki-laki bersahabat dengan wanita itu sangat berkompeten."
"Kakak, apa kau diam-diam bersahabat dengan wanita lain selain Kakak ipar?" Dery penasaran
"Bukan aku, tapi istriku. Aku rasa bocah itu sudah lama menyukai istriku. Dia bahkan sempat membawanya pergi ke taman fantasi sebagai hadiah ulang tahunnya."
Melihat Dery terbahak pandangan Arya dingin tidak suka
"Ciih, wajah tertawamu sungguh menjengkelkan." Ketus Arya
"Tapi Kakak, ini sangat lucu" Terbahak lagi.
"Apanya yang lucu?"
Degh
Melihat tatapan Arya yang menusuk Dery langsung berhenti mengunci bibirnya rapat
"Jika aku pikirkan lagi, ini tidak begitu lucu." Ia bicara dengan bibir bergetar
Sekretaris Dani tertawa dalam hati
"Setelah masa-masa yang kami alami bersama. Bisa bisanya dia membuat ku tidak bisa tenang begini." Kata Arya gelisah.
"Kakak, kamu bilang mereka hanya sebatas persahabatan bukan?"
"Aku ingin tahu alasannya. Tapi lupakan, anggap saja aku tidak pernah bertanya. Sekarang beri tahu aku. Hadiah apa yang cocok untuk istriku. Aku ingin memberikan dia hadiah yang bermanfaat dan berkesan."
Mendengar tema ulang tahun dari Kakaknya Dery menghela nafas jengah.
"Kakak, kamu sungguh tidak tahu. Aku dan kekasihku dulu sangat mesra. Dan aku siap menikahinya saat itu."
"Tentu saja." Arya memotong." Aku bahkan lebih ingat dari itu. Bahwa wanita itu jenuh lalu mengkhianati mu. Dan malah membawa laki laki lain, bukan hadiah di ulang tahun mu. Padahal kau berniat melamarnya saat itu."
__ADS_1
Dery menatap Arya sinis.
"Kakak, kamu sungguh tidak sopan. Kau tahu mulanya cinta kami berdua saling membara." Suaranya terkesan sinis saat menyampaikannya.
"Kamu, tidak marah padaku kan?"
"Bolehkah, aku marah pada mu?"
"Tidak!" Arya melengos
"Hhh," Menghela nafas "Kakak, apa aku harus menyiapkan bunga untuk Kakak iparku? Aku tidak tahan lagi. Rasanya aku ingin berhenti dari percakapan ini."
"Apa itu sikap yang kau berikan pada setiap orang yang di mintai pendapat mu? Sungguh tidak sopan. Kalau aku sudah tahu, aku tidak memaksa mu."
Dery hanya nyengir
"Baiklah, sekarang aku beritahu, Kakak jangan meniru orang lain. Kau jangan sok pamer juga dan jangan terlalu berlebihan."
Arya mengerutkan keningnya
"Kalau begitu bagaimana?"
"Fokus pada istrimu, fokus pada paling yang di sukainya. Dan hadiah apa yang paling kau ingin berikan padanya. Saat kau memikirkannya. Kau akan temukan jawabannya."
Paling di sukai? Arya memutar otaknya mencari-cari jawaban di kepalanya. Sekilas ia teringat kebiasaan istrinya yang sering berfoto dengan hp nya.
"Aku rasa akhirnya aku tahu jawabannya." Katanya antusias lalu berdiri dari duduk.
"Kenapa firasat ku buruk tentang pendapat mu."
"Kenapa aku tidak menyadarinya dari awal." Setelah bicara Arya menjatuhkan tangannya di bahu Dery menepuknya pelan. "Dery, aku sungguh bodoh "
"Benar kamu memang bodoh." Dery merinding sendiri saat melihat seringai aneh yang muncul di depan wajahnya. "Jadi apa?" Penasaran
"Alasan pribadi yang selalu ingin dia utarakan."
Brakk
Dery dan Dani terkejut saat Arya mengebrak meja, lalu saling bertukar pandang.
Hening
Melihat Arya masih diam seribu bahasa Dery mengerutkan keningnya. Bingung.
"Kakak, ada apa dengan mu?"
"Kamu tahu apa mau ku bukan? Temani aku sekarang juga."
"Kakak, aku ada urusan saat ini. Jadi kakak bisa minta sekretaris Dani yang ..."
"Cih, bagaimana aku bisa percaya pada pendapatnya?" Arya memotong cepat, melihat Dani sebentar "Bagaimana bisa aku mempercayainya? Kau ikuti aku sekarang juga."
"Kalau begitu kakak bisa hubungi ibu saja. Aku yakin dia lebih memahami situasi Kakak." Dery masih berusaha menolak dengan sopan
"Cepatlah kemari" Arya bicara sambil berjalan
Dery menghela napas panjang menyerah. Sekilas dia melihat Dani. Yang di lihat hanya tersenyum penuh kemenangan.
"Sepertinya Presdir, inginkan anda menemaninya pergi ke suatu tempat Tuan muda." Ujar Dani
"Pantas saja aku merasa buruk tadi. Tidak akan ada yang berani melawannya. Meski Kakak tidak mengancamnya." Dery menghela nafas pelan." Tapi, kenapa dia ingin aku menemaninya?"
"Anda benar Tuan muda. Ini mengejutkan sekali. Ini kali pertama Presdir inginkan pendapat dari orang lain" Ujar Dani
"Aku sama dengan pemikiran mu.
Dia sungguh keras kepala "
__ADS_1