
Perjalanan menuju bali ternyata tidak membosankan bagi Yesa. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh mobil sport hitam nampak tengah menyebrangi Selat bali dan tiba di Pelabuhan Gilimanuk.
Yesa melihat gapura yang bertuliskan welcome to bali. Mobil itu masih terus melaju dan akhirnya sampailah di depan vila.
Vila itu benar-benar megah, dindingnya berwarna classic beserta pilar-pilar yang menyangga. Di teras depannya terdapat taman dan beberapa pohon kelapa. Pasangan suami istri itupun turun dari mobilnya dan memasuki vila itu.
"Suamiku, apa ini benar-benar vila mu?"
Saat ini Yesa sedang merebahkan kepala di atas pangkuan suaminya. Rambutnya juga di belai dengan lembut oleh suaminya.
"Bukan"
"Lalu milik siapa?"
"Milik kita berdua." Setelah bicara Arya mengecup lembut bibir istrinya yang tipis." Istriku, seandainya hari ini masih panjang, apa yang ingin kamu lakukan?"
"Aku tidak tahu." Yesa duduk dari posisinya." Seumur hidup aku baru pertama kali datang ke Bali, tapi saat ini aku hanya ingin jalan-jalan di pesisiran pantai saja."
"Hanya itu?" Arya bertanya gadis yang di tanyai hanya menganggukkan kepalanya.
"Kenapa memangnya?"
Arya diam tidak menggubris namun keningnya mengerut, kedua bola matanya berputar, seolah memikirkan sesuatu. Lalu dalam sekejap dia bangun dari duduk sambil meraih tangan istrinya.
"Hei, Kenapa kamu menarik tangan ku?"
Entah apa yang dipikirkan Arya, siang itu ia mengajak istrinya ke semua tempat yang belum pernah di kunjunginya. Ia mengajak istrinya melihat-lihat pajangan di pasar Sukowati. Jalan-jalan di pasar seni yang terletak di pinggiran pantai Kuta dan tidak lupa ia membelikan satu buah topi pantai beserta gelang khas Bali.
Melihat Yesa kesulitan memakai gelangnya, Arya membantu melingkarkan gelang di tangannya.
"Lucu ya hihi... Terimakasih sayang."
Sayang! Degh, Manisnya. Batin Arya sambil tersenyum bersamaan dengan tatapannya yang tajam mempesona.
"Huh!" Entah kenapa Yesa selalu terkesima saat melihat ekspresi yang langka ini dari wajah suaminya.
Aaaah! Tampannya bocah ini kalau lagi tersenyum.
Sementara Arya saat tersadar wajahnya diperhatikan. Ia langsung membuang muka. Gadis itu hanya tersenyum lagi, setelahnya dia kembali berjalan menyusuri pantai, satu tangannya di genggam erat suaminya.
Baru saja berjalan beberapa meter, dia berhenti saat melihat beberapa sepeda berjejer rapi di pinggir pantai. Yang sepertinya khusus disediakan bagi pengunjung yang hadir disana.
"Suamiku, lihat itu." Arya menoleh
"Kamu mau bersepeda ?"
"Iya, kenapa tidak? Lagi pula perjalan kita ke vila cukup jauh."
"Aku tidak bisa bersepeda" Menjawab cepat "Lebih baik, kita jalan kaki saja." Bukan hanya saran tapi permohonan begitu matanya bicara.
"Hah?" Yesa terkejut "Ternyata bocah dingin sepertimu, tidak bisa menaiki sepeda juga ya ? hehee"
__ADS_1
"Apa? bocah? Kau!" Arya langsung mengigit bibir bawah istrinya karena geram.
"Suamiku kenapa? Kamu malu ya? Hehe "
Yesa malah semakin menggoda dengan wajah manjanya. Laki-laki yang di tanyai hanya membuang muka, telinganya memerah.
Istriku jika kamu berani meledek ku dengan wajah imut mu dalam satu kali lagi. Habis kau malam ini.
Alih-alih Arya bicara dalam hatinya, Yesa setengah berlari, buru-buru mendekati salah satu sepeda yang berjejer rapih itu.
"Naiklah." Yesa menepuk jok belakang, menyuruh suaminya duduk di sana.
"Ciih!" Arya membuang muka, dalam artian dia menolak mentah-mentah. Kekanakan sekali begitu gumamnya dalam hati.
Ckrek Yesa memotret wajah suaminya diam-diam.
Di saat seperti ini, orang yang begitu dingin seperti ini bisa kelihatan seperti bocah. Wajahnya yang sekarang ini. Sungguh sulit membuat orang percaya bahwa dia adalah seorang Presdir hihi.. Terkadang dia juga bersikap manis.
"Ayolah.." Yesa merayu wajahnya mendekat manja sambil mengigit sedikit ujung bibir bawahnya yang tipis.
Istriku habis kau malam ini. Begitu sorot mata Arya bicara. Meski tidak rela ia melangkah maju lalu duduk dibelakang istrinya dengan wajah cemberutnya.
"Suamiku, pegangan yang erat." Arya langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang istrinya.
"Suamiku apa kamu sudah siap?"
"Iya"
"Aduh! Kenapa ini berat sekali ? Suamiku,
"Apa?" Arya marah "Dasar cerewet!"
"Hihihi"
Begitulah akhirnya, selama di perjalanan Yesa terus menggoda suaminya. Tidak terasa matahari pun terbenam di cakrawala. Meski berat, tapi dia berhasil membawa suaminya hingga tiba di vila.
*****
Malam hari
Yesa tertegun memandangi pantai yang berombak didepan kamarnya di lantai atas. Indah begitu alami, saat angin malam menerpa wajahnya ia menghirup udara sambil memejamkan mata.
"Istriku kamu sedang apa?" Arya bertanya sambil memeluk istrinya dari belakang, menjatuhkan kepala di bahunya, pipinya saling bersentuhan.
"Aku merindukan kedua orangtuaku." Sahut Yesa pandangannya tidak lepas dari indahnya ombak di malam hari. Arya hanya diam menatap istrinya dengan terharu saat kedua bola matanya sudah menjatuhkan air mata.
"Sudahlah jangan menangis. Istriku, mereka pasti bahagia diatas sana." Arya bicara dengan suara lembut yang menangkan hati. Secara perlahan gadis itu menghentikan tangisannya. Melihat bibirnya kembali tersenyum dia bertanya "Istriku, apa kamu lelah?"
"Lumayan, tapi tangan dan kaki ku terasa sakit, kenapa memangnya?"
"Begitu ya, ayo ikut dengan ku" Arya menarik tangan Yesa agar mengikuti langkahnya menuju tempat tidur. 'Kalau kamu tidak melakukan pererangan setelah berpergian. Lelah mu tidak akan hilang. Duduklah." Menepuk tempat tidur.
"Ah, begitu ya, baiklah." Yesa menurut, menduduki tempat tidur yang ditepuk suaminya barusan. Sementara Arya menyuruhnya berbalik membelakanginya, gadis itu terkejut saat kedua tangannya mendarat dibahunya.
__ADS_1
Aneh kenapa perasaanku jadi tidak tenang begini.
Gumam Yesa dalam hati sambil merasai pijatan lembut di bahunya. Yang semakin lama semakin aneh rasanya. Seperti bagian yang lain ingin dipijat juga.
"Istriku, kenapa kamu gugup begitu?"
"Aku tidak gugup." Katanya dengan bibir yang bergetar, seolah minta diciumnya.
"Sudah ku duga, hanya sebuah pijatan saja bagimu..." Arya tersenyum nakal sekaligus menghentikan pijatannya. "Istriku, lebih baik kamu berbaring saja."
"Ba- baiklah." Yesa melakukan kata Arya.
Ia berbaring di atas tempat tidur sambil meluruskan kakinya. Laki-laki itu tersenyum nakal lagi, tangannya terulur memijat seluruh bagian kakinya dengan sentuhan lembut, yang semakin lama semakin nyaman rasanya.
"Ah sakit!" Erang Yesa saat tangan Arya memutarkan pergelangan kakinya.
"Tubuhmu terlalu kaku, sudahlah di tahan saja"
"Ah, lebih lembut kaki ku sakit!"
"Jagan berteriak, jika didiamkan sakitnya tidak akan hilang."
Setelah bicara Arya kembali fokus memijat kaki istrinya. Sapuan tangannya beralih menelusuri ke area pahanya secara perlahan.
Kenapa perasaanku jadi aneh begini. Aku menjadi semakin gugup. Aku merasa...
Tanpa sadar Yesa melebarkan kakinya, dia mau bagian yang sensitifnya di sentuh juga. Baru saja tangan Arya mau menyusup ke area selangkangannya. Dia tersadar dan langsung memindahkan kakinya.
"Suamiku cukup, aku sudah tidak apa-apa "
"Istriku, ada apa denganmu? Padahal aku sama sekali tidak ada niat untuk meniduri mu "
"Lalu apa ?" Langsung duduk dari tidurnya nafasnya sudah terdengar naik dan turun, energinya juga melemah. Reaksi tubuh yang membuat Arya tersenyum dengan nakal.
"Istriku, jika kamu berpikir kotor seperti itu, maka tidak akan ada pilihan lain bagiku dengan pemikiran kotormu itu.''
"Kotor! Apa maksudmu?"
Melihat wajah istrinya yang merona Arya menyambar bibirnya, menciumnya dengan penuh gairah. Satu tangannya sudah masuk kedalam baju tidur, dia remas-remas lalu kecup dadanya sampai berwarna merah.
"Hemmh."
"Istriku, buka matamu, lihat aku." Yesa perlahan membuka matanya tatapannya nanar, wajahnya semakin merona merah.
"Istriku kamu manis sekali, sudah lama aku ingin melihat ekspresi wajahmu yang indah ini, tatapan mata mu yang seperti ini aku sangat menyukainya."
Melihat Yesa tersenyum malu-malu Arya mencium kembali bibir tipisnya, lalu turun keleher sambil tangannya menyusupi daerah kewanitaan nya.
Ugh..
Kali ini Arya sudah ada di atas tubuh Yesa, kedua lututnya sudah bertumpu di kedua belah pahanya dan wajahnya mendekat
"Istriku aku mencintaimu." Arya berbisik lembut di dekat telinga Yesa lalu menggigitnya.
__ADS_1
"Aah!"
Dan akhirnya gadis ini hanya mampu mencengkram jemari suaminya. Menikmati hentakkan tubuhnya yang semakin kuat dan tahan lama. Sambil sesekali ia menikmati jilatan yang merayap di leher lalu digigit telinganya. Rintihan demi rintihan mulai terdengar hingga larut malam...