PERJODOHAN CEO JEWELERY

PERJODOHAN CEO JEWELERY
MENYEDIHKAN


__ADS_3


Beberapa jam kemudian, sedikit demi sedikit Yesa menggerakkan jemarinya. Perlahan dia membuka mata, lalu menatap suaminya yang sedang merebahkan kepala sambil menutup mata di bibir tempat tidur.


"Suamiku!" Yesa mengelus rambut suaminya, perlahan Arya membuka matanya


"Istriku, kamu baik-baik saja? Bodoh! Bagaimana bisa kamu pergi begitu saja." Bukan Arya namanya kalau dia tidak dingin begitu. Sedari tadi ia sudah frustasi.


"Maaf suamiku, seharusnya aku meminta izin dulu pada mu sebelumnya."


"Hemm, apa kamu merasa lebih baik sekarang?" Arya bertanya, gadis yang di tanyai hanya menganggukkan kepala." Aku baru saja dengar berita dari Ibuku dan ketua John, bahwa John adalah ayah kandungmu. Bagaimana dengan bibimu? Bagaimana bisa selama hidupnya, dia menyimpan kebohongan besar itu darimu?"


Yesa diam belum mau menjawab, pandangannya menerawang entah kemana.


Hening.


"Suamiku, apabila ayahmu mempunyai sesuatu yang tidak boleh aku lihat. Menurutmu, apa yang akan kamu lakukan?" Yesa bicara sambil menunduk


"Istriku, Orang pada umumnya tidak menyukai barang miliknya di sentuh tanpa izin. Apalagi itu terkait masalah pribadinya."


"Begitu ya, tapi menurutku tetap saja itu agak berlebihan. Suamiku jika ayahmu bertindak seperti itu padaku. Mungkin dia. menyembunyikan sesuatu darimu juga. Memangnya itu tidak pernah membuat mu merasa risih?"


"Pada dasarnya, aku tidak ingin membongkar sesuatu yang ingin di sembunyikan seseorang."


"Suamiku, sungguh kamu tidak merasa buruk? "


"Ayahku pasti punya alasan tersendiri. Jika alasannya bisa ku pahami, aku tidak merasa buruk." Arya tersenyum dengan hangat


"Begitu ya, baiklah." Sesudah menjawab Yesa menunduk, tidak terasa kristal bening menetes di pipinya

__ADS_1


"Bocah tengik, apa kamu mengatakan sesuatu yang buruk pada putriku?" Kata John yang tiba-tiba muncul di hadapannya." Beraninya kau membuat putriku menangis begini."


Yesa menggeleng


"Tidak ayah, tapi aku yang bersalah padanya?"


"Sungguh?" John tidak percaya.


"Ayah, kondisi hatinya kini sedang tidak baik. Jadi ayah jangan menambah masalah." Arya menimpali.


"Itu sebabnya, ibu berharap kamu harus lebih perhatian padanya sayang." Sandra bicara sambil berjalan mendekat lalu duduk di samping menantunya.


"Jadi apakah ayah akan tetap membiarkan istriku berbuat salah?" Arya merasa tidak mau kalah dengan mertuanya


"Putriku sungguh tidak mungkin berbuat salah." John menjawab dengan sikap angkuh karena membela putrinya.


"Yesa sayang, mungkin ada masalah besar yang belum kamu ketahui dari bibimu. Lantas kamu mahu bagaimana?" Sandra meraih tangan Yesa lalu menggenggamnya dengan sangat lembut.


Melihat Yesa menjatuhkan air mata bahagianya, John duduk di sampingnya, meraih kepalanya lalu menyandarkannya di depan dada. Dia belai rambutnya dengan usapan lembut penuh kasih sayang.


"Terimakasih putri ku, ayah bahagia mendengarnya."


*******


Horison ultima bhuvana


Ada sosok laki-laki tampan nan hangat sedang melangkahkan kakinya menuju acara pertemuan rapat antar dewan direksi.


Saat di pertengahan jalan, tidak sengaja dia melihat seorang wanita dari kejauhan. Dia adalah wanita yang katanya dulu pernah meninggalkannya, terlihat sedang berjalan berlawanan arah.

__ADS_1


Penampilan wanita tersebut sungguh elegan, dia memakai gaun mewah diatas lutut yang berwarna hitam. Di lengkapi scarft bulu yang melingkar dilehernya, sungguh membuat wanita itu terlihat mempesona bagaikan aktris bah papan atas.


Melihat laki-laki hangat itu dari di kejauhan, dia merasa sangat senang. Ada beberapa untaian kata yang menanti untuk di sampaikannya.


Sudah tiga tahun lamanya aku tidak berjumpa dengan mu. Dery apa kau masih membenci ku? Sungguh aku sangat merindukan mu.


Begitu batinnya bicara, sambil berharap laki-laki itu menyapa nya. Namun apa yang terjadi? Saat berpapasan, laki-laki itu malah berpura-pura tidak melihatnya. Bahkan setelah melewatinya, dia hanya diam. Membuat hatinya jengkel karena tidak suka di abaikan.


"Kamu menghindari ku karena benci melihat ku?" Dia bertanya seenaknya


Setelah mendengarnya suaranya Dery terlihat berhenti, tapi pandangannya masih membelakanginya.


"Kamu tetap datang kemari, walaupun kamu tahu aku datang kesini. Itu karena.... Kamu berharap bertemu dengan ku. Bukankah begitu?" Dia bertanya lagi dengan seenak hatinya.


Dery hanya diam tangannya terkepal murka. Aura wajahnya menghitam setelah mendengar untaian kata yang tidak pantas, bagi wanita yang pernah mengkhianatinya di masa lalu.


"Kamu jangan berharap terlalu banyak." Dia bicara dengan suara dingin, bahkan melebihi suara dingin kakaknya.


Tapi reaksi wanita itu biasa saja, malah menampakan senyum penuh kemenangan. Meyakinkan diri bahwa laki-laki itu sama-sama merindunya.


"Jika bukan karena itu, abaikan saja." Wanita ini bicara seenaknya lagi lalu tersenyum, besar kepala. Merasa diri yang paling di cintai.


Sementara Dery hanya diam lagi tidak mengatakan apapun. Artinya dia benar-benar mengabaikannya lalu melanjutkan langkahnya.


"Aneh bukan? Hatiku masih berdegup saat melihat mu." Sepertinya dia belum menyerah, meski laki-laki itu mengabaikannya sekalipun.


Karena mendengar pengakuannya Dery berhenti lagi, masih membelakanginya.


"Shinta, aku berharap, kau merasakan hal yang sama, setelah kau bertunangan. Jaga dirimu baik-baik."

__ADS_1


Setelah mendengar kalimat terakhirnya Shinta hanya diam berdiri sambil melihat punggung laki-laki itu yang sudah berjalan meninggalkannya.


Apa yang sebenarnya kuharapkan dahulu untuk temukan wanita yang sudah mengkhianati ku. Menyedihkan.


__ADS_2